Ketika Aktivis Dakwah Ngeblog

Ketika Aktivis Dakwah Ngeblog…

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya – imam ‘Ali Ibn Abi Thalib

Memasuki zaman global seperti saat sekarang ini, pola dakwah bit at-Tadwin (dakwah melalui tulisan) baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, internet, koran, dan tulisan-tulisan di blog yang mengandung pesan dakwah sangat penting dan efektif. Karena tidak terbatas akan jarak dan waktu.

Keuntungan lain dari dakwah model ini tidak menjadi musnah meskipun sang dai, atau penulisnya sudah wafat. Menyangkut dakwah bit-Tadwim ini Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya tinta para ulama adalah lebih baik dari darahnya para syuhada”.

Apalagi dengan perkembangan teknologi yang berkembang dengan pesatnya, membuat para penggila teknologi memanfaatkan dan bahkan sekedar membelinya untuk gaya-gaya-an. Begitu pula dengan perkembangan dunia internet yang kian hari kian digemari oleh khalayak orang banyak  perkembangan ini ditandai dengan semakin menjamurnya warnet (warung internet) dimana-mana dan instruktur yang sudah merambah ke seluruh Indonesia.

Beragam layanan dan bacaan pun disuguhkan di dunia internet. Layanan dan bacaan itu ada yang baik untuk “dikonsumsi” dan ada juga yang seharusnya tak layak “dikonsumsi”. Yang tidak layak dikonsumsi seperti, situs porno, situs yang menguak fitnah, dan situs yang tidak di isi oleh pemiliknya.

Untuk itulah, kita sebagai aktivis dakwah atau calon aktivis dakwah, seharusnya bisa melihat peluang kebaikan yang tiada habisnya disana. Kita harus jeli dalam berdakwah, wasilah (sarana) apa yang harus digunakan didalam berdakwah secara modern ini. Menurut saya, sarana efektif untuk berdakwah didunia maya adalah dengan menjadi seorang aktivis dakwah blog dan tentunya harus sudah memiliki blog dakwah. Karena aktivis dakwah blog adalah orang yang memiliki blog dakwah!

Blog dakwah pada intinya sama dengan blog yang pada umumnya, namun yang berbeda hanyalah pada tema yang diusung pada blog tersebut dan isinya. Dan ingat juga, blog dakwah tidak hanya berisikan tafsir yang njelimet dan sukar dipahami, blog yang isinya bahasa arab semua. Bukan! Tapi bisa berupa share kisah-kisah hikmah yang membawa kebaikan jika telah membacanya, puisi yang menyeru kepada shalat, puasa, zakat, tolong menolong, berdakwah, dan bahkan jihad, cerpen islami, tips dan trik bermuamalah, dan lain-lain sesuai dengan kapabilitas ilmumu.

“Baliighu annii walau ayyah..!” yang artinya “sampaikanlah walau satu ayat”.

Berdakwah di dunia maya adalah salah satu media efektif. Karena sifat dari internet adalah tidak terbatas akan waktu dan jarak. Walaupun kita berada di Bandung, kita tetap bisa berdakwah lewat blog kita. Walaupun kita telah meninggal dunia, tulisan kita masih bisa menjadi amal jariyah bagi kita. Karena salah satu amal jariyah adalah ilmu yang bermanfaat. Oleh karena itu jangan ragu…

Namun, hambatan-hambatan selalu saja menghantui para blogger, yaitu takut tulisannya tidak dibaca orang lain, jadi blognya atau tulisan-tulisannya menjadi sia-sia. Sebenarnya ada cara untuk mengantisipasi agar bisa dibaca orang dan kalau boleh bermimpi bisa menjadi “seleb blog” yaitu blog yang terkenal dan selalu dibaca oleh para penggemarnya. Caranya adalah:

Untuk yang sudah terkenal, maka akan sangat mudah menjadi seorang blogger terkenal, hanya yang diperlukan adalah promosi kepada para penggemar yang digencarkan. Untuk yang tidak terkenal, Anda harus menjadi seorang blogger terlebih dahulu, setelah itu baru deh menjadi blogger terkenal, caranya gimana? Caranya dalah:

  • Selalu Posting (menulis di blog)

“Posting adalah segalanya”…dengan posting yang bermanfaat dan menarik, pengunjung akan selalu ingin datang lagi ke blog kita untuk mendapatkan informasi yang lebih. Bahkan ia akan mempromosikan blog kita kepada teman-temannya. dengan begitu blog kita akan lebih dikenal oleh pengunjung.

  • Jangan vacum terlalu lama.

Percuma jika posting blog kita menarik namun tidak terupdate bukan? Pengunjung yang datang lagi pun bisa-bisa akan kecewa jika setiap ia membuka blog kita, ia tidak menemukan sesuatu yang baru di blog kita. dan yang lebih parah lagi..bisa-bisa ia menghapus alamat kita dari blog favoritnya. Jika suatu saat kita sibuk dan tidak sempat berposting…minimal kita menjawab setiap komentar yang ada, sehingga blog kita tidak menjadi blog yang mati.

  • Berikan sesuatu yang langka dan baru

Emas begitu mahal karena kelangkaannya. Apapun tema dan topik blog anda, jika materinya unik dan menarik, apalagi jika tidak hasil copaz dari blog lain..blog anda akan menjadi salah satu blog yang paling diminati oleh pengunjung. Keuikan…itu penting sekali.

Dan dapat terlihat bahwa, blog dakwah adalah blog yang langka di kancah maya, oleh karena itu, ini merupakan peluang besar bagi kita semua untuk mengambil peluang disana, apalagi ini adalah peluang kebaikan. So.. jangan ditunda-tunda. Ntar nyesel lo..

  • Jadilah diri sendiri.

Posting kita mencerminkan karakter kita. Beberapa blogger mungkin menyajikan postingannya secara humoris, ada pula yang berbahasa resmi, bahasa gaul, penuh candaan dsb. Kita boleh saja meniru gaya penulisan mereka, namun jika hal itu tidak sesuai dengan diri kita..maka postingan kita akan nampak seperti dibuat2. Dan yang jelas..pembaca menjadi tidak mengenal karakter anda yang sesungguhnya.

  • Beri nama anda disetiap hasil tulisan atau komentar anda.

Anda akan lebih mudah dikenal jika menuliskan “diposting oleh Aldo Al Fakhr, Blogger Pencari Spirit yang Hilang” daripada “diposting oleh admin”. Dengan begitu, setiap pembaca akan tahu, siapa nama anda.

  • Promosikan blog anda dengan giat

Kenalkan blog anda secara giat mealui iklan-iklan gratis ataupun search engine yang ada. Bahkan promosi lewat facebookpun dapat membuat blog dan anda  menjadi lebih mudah dikenal oleh banyak orang.

Atau juga bisa membuat selebaran-selebaran dan difotocopy sebanyak-banyaknya dan dibagikan ke masyarakat dan teman-teman. Solusi ini merupakan solusi efektif namun membutuhkan dana dalam mengaplikasikannya.  Tapi juga diingat, bahwa blognya harus sering diupdate, karena percuma saja, banyak yang mengunjungi namun yang dibaca itu itu aja, tidak ada yang baru.

Cara yang lain, yang juga efektif dan efisien adalah dengan membuat tempelan alamat blog kamu, dan ditempel dibelakang mobil ataupun motor. Coba deh dibuktiin. Oke!!

Bagaimana saudaraku, sudah siapkah engkau menjadi aktivis dakwah blog? Simple aja tidak usah banyak mikir, justru kalau banyak mikir keburu maut menjemput sedangkan kita belum membagi ilmu yang kita punya walau sedikit kepada orang lain. Oke.

Jakarta, 17 Mei 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Iklan

Persiapan Bekal Bagi Aktivis Dakwah

hanya ingin berbagi apa yang saya punya… insy Allah bisa berguna bagi saya pribadi dan anda para pembaca…

Persiapan Bekal Bagi Aktivis Dakwah



Menyeru kepada Allah swt. merupakan kewajiban bagi tiap diri muslim dan muslimat disetiap masa. Dan apa lagi dijaman sekarang ini, ia bahkan menjadi lebih wajib untuk ditunaikan karena umat islam sekarang sedang terjajah dan “ditelanjangi” oleh para musuh-musuh islam yang pastinya berusaha untuk menenggelamkan islam dari muka bumi.

Berdakwah bagi aktifis dakwah adalah suatu kemuliaan yang sangat besar, Allah swt berfirman:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat: 33)

Dan Rasulullah saw bersabda:

“jika Allah swt memberikan hidayah kepada seorang lelaki lantaran anda, itu lebih baik bagimu ketimbang apa yang disinari matahari.” (HR. At Tabrani)

Menyeru kepada agama Allah merupakan keuntungan yang besar bagi setiap insan yang mengerjakannya. Pahala yang besar telah menanti, syahid telah menunggu didepan mata, syurga seakan terbuka dan mempersilahkan masuk, dan Allah pun akan merahmati tiap langkah kita dengan mantab.

Jum’ah Amin Abdul Aziz berkata, “Sesungguhnya dakwah merupakan urusan besar dan agung, karena ia selalu mengawasi manusia, hidup dan matinya, bahagia dan celaka, serta pahala dan siksanya. Yang menjadi masalah, apakah risalah ini telah disampaikan kepada manusia untuk kemudian diterima dan diikuti, sehingga mereka berbahagia di dunia dan di akhirat; atau risalah itu tidak disampaikan, sehingga menjadi alasan bagi manusia dihadapan Rabbnya, dan menjadi penyebab kecelakaannya di dunia. Mereka beralasan bahwa kesesatannya tergantung pada pundak yang diberi amanah untuk menyampaikan risalah, tetapi ia tidak menyampaikannya. Adapun para Rasul Allah, maka sungguh mereka telah menunaikan amanah dan telah menyampaikan risalah, dan mereka terus berjalan menuju Rabbnya dengan tulus ikhlas. Bahkan mereka tidak hanya menyampaikan risalah dengan lisan semata, tetapi juga dengan keteladanan yang tergambar dalam perbuatan dan jihad yang tak kenal henti, siang dan malam. Mereka melakukan itu untuk menghilangkan hambatan dan kendala-kendala, baik berupa syubhat atau berbagai tuduhan yang dilemparkan, atau berbagai penyesatan yang dihiasi, atau berupa kekuatan zalim yang menghalang-halangi manusia dari dakwah dan fitnah orang-orang yang menfitnah mereka. Ini sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah saw penutup para nabi, meskipun beliau seorang penyampai risalah yang terakhir dan risalahnya jufa merupakan risalah terakhir. Beliau merasa tidak cukup dengan menghilangkan hambatan itu dengan lisannya, tetapi juga dengan kekuatan, Allah Swt berfirman,

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 193)

“maka kewajiban berat ini akhirnya, dibebankan kepada generasi setelahnya, yaitu orang-orang yang berimanm dari generasi ke generasi yang datang secara estafet. Tidak satu pun  yang terlepas dari kewajiban berat ini. Itulah kewajiban iqamat hujatillah (menegakkan hokum Allah) kepada manusia, dan kewajiban untuk menyelamatkan manusia dari azab akhirat dan kebinasaan di dunia. Kewajiban ini ditunaikan dengan menyampaikan risalah dan melaksanakannya sesuai manhaj yang dibawa oleh Rasulullah.”

Oleh karena itu, untuk mendapatkan keuntungan, kemuliaan, dan ganjaran yang besar  tersebut diperlukannya sebuah persiapan yang matang dan memadai untuk mengarunginya. Tidaklah boleh bermain-main ataupun setengah-setengah. Karena jalan ini begitu panjang, melelahkan, dan tak terkira kesulitan, kepayahan, hambatan yang akan merintanginya. Karena mustahil orang yang akan berpergian tidak membawa bekal yang memadai, jangan sampai mati konyol ditengah jalan.

“Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!” (QS. An-Nisa: 71)

Secara de facto, banyak dari aktifis dakwah yang kurang memiliki bekal diawalnya harus menahan pil pahit, ia merasa kelelahan, kecapaian, kejenuhan, kebosanan, hingga menepi alias tidak mau melanjutkan perjalanannya lagi. Sungguh ironis melihat realita yang terjadi dilapangan. Mungkin itu sunnatullah. Memang akan ada orang-orang munafik yang tidak mau berperang. Seperti halnya pada saat perang Tabuk, perang yang berlangsung ketika masa yang sedang paceklik, udara panas, jalan ke medan pertempuran yang dilalui jauh, dan matahari yang menyengat dan membakar kulit. Terlihat banyak para sahabat yang tidak ikut berperang dan setibanya Rasul dari perang, mereka sibuk dengan mencari alasan-alasan logis yang bisa diterima oleh akal Rasul, padahal bukankah mereka tahu Tuhannya Rasul tidak bisa “diakali”. Yah.. seperti itulah realitanya, dan pabila kita korelasikan dengan jaman sekarang, para aktifis dakwah pun banyak yang mangkir dari amanahnya. Mereka menggunakan alasan-alasan, “afwan akh, hari hujan!”, afwan akh, ana ketiduran”, “afwan akh, ana lagi pusing karena banyak tugas kuliah dan deadlinennya hari ini”, dan banyak alasan-alasan lainnya, mereka seperti menjadi “ generasi afwan akh”, yang ada hanya afwan akh.. afwan akh… dan afwan akh terus. Jarang sekali keluar dari kerongkongannya kata “siap akh!”, “akan ana kerjakan akh!”. Sangat jarang sekali. Oleh karena itu saudaraku persiapan mutlak untuk kita lakukan dan akan menjadi bekalan kita dalam mengarungi samudera kehidupan dakwah ini, sehingga kita menjadi The Real Da’I atau aktifis dakwah sejati.

Mengarungi samudera kehidupan

Kita ibarat para pengembara

Hidup ini adalah perjuangan

Tiada masa tuk berpangku tangan

(Samudera Kehidupan, Shoutul Harokah)

Aldo Al Fakhr Wilman

MM SKI IT Telkom

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Keep Writing till syahid

Asy Syaja’ah

Asy Syaja’ah ada yang tau artinya..! artinya itu berani… tulisan ini terinspirasi dari bukunya Ust Anis Matta Mencari Pahlawan Indonesia…

siapa yang tak kenal dengan gambar ini… saya rasa semua pernah melihatnya bahkan mengambil ibrah dari gambar ini. seorang anak palestina yang berani melawan tank yang terbuat dari baja hanya dengan 3 modal yaitu: Allah, Batu, dan Keberanian..

this moment, we will talk about asy syaja’ah…

Berani

Pekerjaan-pekerjaan besar hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berani. Ia berani menjawab tantangan. “ Jika gunung nan tinggi menghalangi langkahku maka akan kudaki, jika samudera nan luas menghalangi gerakku maka akan ku selami.” Seperti itulah gambaran orang yang berani. Dalam persejarahan manusia, tantangan-tantangan besar selalu membutuhkan kadar yang sama mungkin lebih dari keberanian didalam dada. Karena tantangan yang besar juga memiliki resiko yang besar. Dan tidak ada keberanian tanpa resiko.

Dan kepada orang-orang Romawi yang berlindung dibalik benteng Kinasrin, Khalid berkata, “Andaikata kalian bersembunyi di langit, niscaya kuda-kuda kami akan memanjat langit untuk membunuh kalian.” Roh keberanian itu pun memadai untuk mematikan semangat perlawanan orang-orang Romawi. Mereka takluk.

Keberanian dapat muncul karena dua hal. Pertama, karena fitrahnya yang sudah memiliki jiwa pemberani. Dan kedua, karena sering dilatih dan dipupuk dalam diri sehingga nantinya akan tumbuh melalui tindakan, perkataan, dan tulisan yang berani. Kedua-duanya baik berasal dari fitrah maupun latihan sama-sama memiliki sandaran yang kuat, pijakan yang kokoh untuk menegakkan kebenaran dan keadilan agar tercipta kesejahteraan. Sejahtera dalam keadilan.

Kondisi fisik tidak bisa dijadikan parameter seseorang apakah ia berani atau tidak. Seperti halnya Abu Bakar dan Ibnu Mas’ud yang postur bandannya tidak sebesar dan segagah Umar, Ali, dan Khalid bin Walid. Kita juga bisa melihat kepemimpinan dan keberanian seorang Jenderal Soedirman dalam melawan penjajah. Saya akan mengajakmu mengenal lebih dekat dengan jenderal Soedirman.

“Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatarbelakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan.

Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI). Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.

Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.

Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945,  pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.

Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.

Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.

Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.

Sudirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan. Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun.

Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.”

Begitulah seorang berani yang tak peduli dengan kondisi tubuhnya, baginya hidup didunia sebagai insane mulia, dan mati membawa gelar syuhada dipudaknya. Semoga kita bisa mengambil ibrah (manfaat) dari kisah-kisah keberanian para pahlawan.

Bandung, 9 Maret 2010

Aldo Al Fakhr Wilman

Blogger Pencari Spirit yang Hilang