Mimpi Waktu Itu

Mimpi Waktu Itu


Pernah nggak sih berada dalam posisi kebingungan dalam mencerna mimpi? bingung apakah mimpi itu buruk atau baik menurut kita.

iseng-iseng ngubek-ngubek folder diary yang -dulunya- sering diisi setiap hari, akhirnya sampai pada judul “Mystery – Hari Kamis, tanggal 9 desember 2010 “, yah.. untuk tanggal tersebut, gw (pake gw ajalah, biar nggak terlalu formal 🙂 ) membuat judul Mystery, hal yang menjadi misteri pada saat itu bagi gw.

dan misteri itu adalah tentang sebuah mimpi, berikut isi tulisan di tanggal tersebut:

O ya,,, gw mau ngelapor ‘bout something .. habis subuh gw tidur lagi [kecapekkan], dan sekitar jam enam pagi gw kebangun.. dengan mata panas sangat sembari mengalirkan bulir-buliran bening air mata.. apa sebab kawan? Sebabnya adalah gw mimpi nenek gw dari pihak ibu yang udah meninggal [semoga Allah merahmatinya dan  meletakkannya disisi yang terbaik] kangen banget gw dengan nenek gw. Baca lebih lanjut

Iklan

Ketika Lelah Dijadikan Alasan

^^ adeknya lucu dan cantik yah^^

Ketika Lelah Dijadikan Alasan

Aku ingin seperti dulu

Namun tertambat pada sebuah lubang

Kelelahan membuat lubang di padang ghirah

Semakin dalam menyentuh perut bumi

Yah benar… aku ingin seperti dulu, dulu ketika masih kuliah, berkumpul-kumpul yang intens dengan para sahabat pecinta qur’an, dakwah dan mesjid, duduk bersama sehabis isya’  dan shubuh bersama-sama memejam memelekkan mata melihat qur’an untuk dihafal, membaca berulang-ulang secara tartil, menghafal-hafal sedikit-sedikit, menerka-nerka ayat selanjutnya, bersaing dalam kebaikan, “dah berapa halaman yang antum hafal?” Tanya seorang sahabat… yah.. HTQ, halaqah tahfidzul qur’an.. dirimu kini menjadi kenangan yang terdalam buatku…

Aku rindu saat itu, saat hafalan belum tergoreskan difikiran dan dihati, sekonyong-konyongnya disetorkan, terlihat sebuah garis perjuangan disana walau hanya sederhana, yah.. aku menikmatinya

Ketika kita bercerita tentang cita, cinta, dan harapan, terkadang terselip guyonan-guyonan khas para ikhwan (yah.. u know what I mean lah..) itu menjadi kesan tersendiri..

Disana ukhuwah pernah berbunga, harum dan berbunga indah

Disana langit terang benderang, cahanya menerangi jalanku

Disana aku berdaya, mengikut berbicara tentang sebuah cita, cinta, dan harapan Baca lebih lanjut

Cerpen- Amar

Sebuah Cerpen yang kurajut dalam tulisan, untuk Bundaku tercinta……

sebuah cerpen yang kubuat sendiri….

Aldo Al Fakhr (blogger pencari spirit yang hilang)

AMAR

Semua terjadi diluar dugaaan ibu. Terjadi begitu cepatnya. Amar pergi sekelip mata. Padahal rasanya baru kemarin ibu menyusui amar sambil menggendongnya dengan penuh kehangatan yang sangat dan kasih sayang. Membawa amar pergi ke pasar untuk membelikan robot-robotan yang disukai oleh amar, padahal pada waktu itu uang belanja bulanan telah habis, tapi ibu merelakan uang tabungannya digunakan untuk membelikan robot-robotan itu. Membawa amar untuk mendaftarkannya di sekolah yang diinginkan oleh amar. Melihat senyuman yang penuh optimis ketika amar menjadi seorang prajurit penjaga perbatasan Malaysia-Indonesia. Tapi kini amar telah pergi untuk selama-lamanya. Amar meninggal bukanlah di medan perang, tapi amar anak ibu meninggal karena menderita sakit setelah pulang dari operasi di hutan. Itu cerita dari menantu ibu. Ibu sangat sedih sekali. Amar yang begitu dicintainya meninggal dengan usia yang masih muda. Ibu mana yang tak sedih, jikalau anak kesayangannya meninggal, dan pada saat amar menghembuskan nafas terakhirnya, ibu tidak ada disampingnya. Ibu hanya bisa menyentuh dan memandangi lekat jenazah anaknya yang terakhir hanya pada saat jenazah telah dikafankan. Itupun hanya tak lebih dari lima menit. Jenazah amar akan dibawa untuk dikebumikan. Hati ibu pada saat itu  sangat pilu bagaikan disayat pisau yang tajam. Sakit sekali. Tapi, wajah ibu memancarkan ketabahan dan kesabaran menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah ini. Ibu sangat yakin ia akan berjumpa kembali dengan anaknya di surga-Nya kelak.

Sudah sangat lama ibu tak menatap wajah amar yang manis, hal ini karena amar telah lima tahun tidak pulang-pulang, karena tugas yang diembannya mengharuskan amar untuk selalu bersiap siaga. Amarpun sampai mempunyai istri disana dua tahun yang lalu. Ibu sangat ingin membawa jenazah amar ke kampung halaman dan disemayamkan disana. Tapi, istri amar menolak. Apalah kuasa ibu. Ibu tahu mungkin istrinya lebih berhak. Tapi, dimana pula hak seorang ibu yang mengandung dan membesarkan amar. Padahal usia perkawinan mereka saja belum seumur jagung. Ibu baru pertama kali ini menyentuh cucu ibu yang berusia lima bulan itu pada hari pemakaman amar. Fikri namanya.

Isteri amar masih sangat muda, fikri pun pasti membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Ibu tidak menghalangi jikalau isteri amar mencari suami lagi walaupun sangat awal hal tersebut untuk difikirkan. Mungkin awal-awal ini, istri amar tidak mempunyai keinginan untuk menikah lagi. Istri mana yang tak sayang suami. Tapi, lambat laun nantinya akan berumah tangga juga, karena tuntutan hidupnya. Dan ibu amat khawatir, jikalau istrinya sudah menikah lagi, ibu takut kuburan amar jarang diurus dan dilayat.

Amar meninggalkan seorang anak yang sama sekali belum sempat melihat dan mengenali amar. Apalah yang diketahui oleh seorang anak yang baru berusia lima bulan itu. Dunia saja belum begitu dikenalnya. Taaan dan senyuman masih terukir dibibir fikri dikala semua keluarga dan tetangga menangisi dan meratapi kepergian ayahnya yang terkenal sholeh lagi baik akhlaknya. Sungguh mereka amat kehilangan amar. Mereka amat kasihan kepada ibu yang begitu mencintai anaknya tatkala jenazah akan dibawa ke liang lahat. Kerinduan yang membuncah tak terlepas dihati ibu. Tiada lagi panggilan ibu dari amar. Tiada lagi suara amar yang akan mengobati rasa rindu yang terpendam. Tiada lagi canda gurau amar. Tiada lagi dinanti kepulangan amar ke kampong. Tiada lagi segala-galanya.

Oh..amar, bergenang air mata ibu jikalau teringat dirimu nak. Lebih-lebih lagi ketika semalam kami sekeluarga menikmati makanan kesukaanmu. Betapa sedih hati ibu disaat mengunyah makanan yang amar gemari. Ayam goreng bumbu rending. Kakak amar tersebut-sebut nama amar di hadapan rezeki itu. Tiada pernah sekalipun kami sekeluarga disini membiarkan walau sehari pun berlalu tanpa mengingat-ingat dirimu amar. Tak terasa muncul juga perasaan menyesal karena membiarkan amar pergi meninggalkan kampong halaman untuk pergi bertugas menjaga di perbatasan Indonesia-malaysia. Jikalau amar ada disisi ibu, pastilah tak sesesal ini yang ibu rasakan sepeninggalmu nak. Setidaknya ibu dapat menjaga dan mengasihi amar sewaktu sisa-sisa hayat amar yang masih ada. Mungkin juga persaan ibu akan lebih tenang dan ridho dengan kepergian amar. Amarku sayang, sampai hari ini pun hati ibu masih bertaut rasa sesal yang sangat walupun sudah ibu coba untuk mengusirnya, tetapi tetap saja rasa itu selalu bertamu dihati ini, seolah-olah tamu yang tak kunjung pergi dari rumah seseorang.

Engkau yang ibu sayang, dan paling ibu cintai. ibu rindu engkau Amar……….

Bermimpilah

Bermimpilah

Bermimpilah dan ubahlah angan itu menjadi kenyataan.

Semua orang didunia ini tak terkecuali diriku pasti punya yang namanya cita-cita atau impian, namun sayang seribu sayang tak semua dari kita dapat mewujudkannya menjadi kenyataan yang berarti. Hal tsb terjadi mungkin karena mimpinya yang terlalu setinggi langit yang sejatinya susah tuk diraih, atau mungkin karena sifat males yang menggerogoti semangatnya sehingga secara perlahan mengikis mimpi menjadi kenyataan, dan atau mungkin juga tidak berani tuk merealisasikannya, menurutnya cobaan dah terpaan masalah akan banyak dan sering akan dihadapinya ketika akan mewujudkan mimpi tersebut, sehingga menjadikin diri sebagai pecundang.

Perlu digaris bawahi mimpi yang aku sampaikan disini bukanlah mimpi dikala kita tertidur. Akan tetapi mimpi disini adalah cita-cita atau angan-angan yang berarti.

Setiap individu pastilah memiliki mimpi ditiap periode hidupnya, dan setiap manusia memiliki mimpi yang berbeda-beda, maka bisa dibayangkan bermilyar-milyar mimpi yang tersebar. Dan sayangnya lagi hanya berapa persen saja yang terwujud.

“lakukanlah perubahan itu walaupun kecil pengaruhnya”

Sebagai seorang muslim, kita harus mempunyai semangat perubahan. Perubahan tuk menjadi dien ini cemerlang kembali, dan kita buktikan bahwa islam itu adalah rahmat untuk mereka dan alam semesta. Semangat perubahan disini harus kita awali dengan mimpi yang berarti, nah untuk memulai perubahan maka hal yang harus dipersiapkan adalah

  • Memiliki iman yang mendalam. Tak mungkin seorang muslim bisa merubah keadaan jika ia tidak memiliki iman yang mendalam.  Ia harus percaya dan mengimani bahwa islam akan kem bali jaya dan ia bertekad untuk mengembalikan izzah islam kembali.
  • Memiliki kemauan yang kuat. Kemauan yang kuat ini didasari dengan jiwa yang menggelora yang selalu up-date dimotivasi.
  • Orientasi hanya Allah. Ini berkaitan dengan keikhlasan. Mintalah kepada Allah agar dijauhi dari syirik kecil yaitu riya’

Seperti Sayyidina Ali, yang pada suatu kesempatan berkumpul dengan sahabat-sahabat yang lain. Ketika itu Ali mengatkan “Bermimpilah…” dan ia mengatkan kepada sahabatnya, “wahai sahabatku, bermimpilah, apa mimpi mu..?” dan sahabat itu menjawab “aku ingin mempunyai harta yang banyak, dan akan ku sedekahkan semua harta itu.” sahabat yang lain juga tak mau ketinggalan “ aku ingin orang sepeti engkau (baca: sayyidina Ali), abu bakar, usman, dan umar banyak didunia ini.” Dan impian2 lain yang diutarakan oleh para sahabat pada saat itu.

Tak mudah memang, tapi tak menutup kemungkinan bisa dilakukan, asalkan punya iman insya Allah akan diberikan jalan.

Butuh pengorbanan dan kerelaan diri dari dirisendiri. Nothing is free, yah tidak ada yang gratis, pasti ada harga yang dibayar untuk hal ini. Oleh karena itu, jangan pernah berharap bahwa mimpi itu akan terealisasi jika hanya terpaku diam tak melakukan apa-apa atau hanya mengharap durian runtuh.

Terwujudnya mimpi tergantung dari sebesar apa kita memimpikan mimpi kita, sejauh mana kita mengkehendaki mimpi itu akan terwujud, dan sejauh mana langkah kita tuk meraih mimpi tersebut.

Nah, pertanyaannya sanggupkah tuk melepaskan diri dari rutinan shari-hari yang mungkin nyaman dan tanpa tantangan! Keluar menjadi pemberani dan siap mengambil resiko.

Jadi, anda harus berani berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian atau bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian

Setelah kita melakukan action yang diperlukan tuk mewujudkan mimpi tersebut dengan cucuran keringat dan bahkan darah sekalipun, maka sejatinya kembalikanlah semua itu kepada Allah, mintalah kepadanya tuk dipermudah. Ikhtiar tanpa do’a menyebabkan diri sombong, do’a tanpa ikhtiar hanyalah omong kosong. Kembalikan kepada Allah, karena baik menurut kamu belum tentu baik bagi Allah.

Oke… bermimpilah…….

Aldo Al Fakhr

Blogger pencari spirit yang hilang