Asy Syaja’ah

Asy Syaja’ah ada yang tau artinya..! artinya itu berani… tulisan ini terinspirasi dari bukunya Ust Anis Matta Mencari Pahlawan Indonesia…

siapa yang tak kenal dengan gambar ini… saya rasa semua pernah melihatnya bahkan mengambil ibrah dari gambar ini. seorang anak palestina yang berani melawan tank yang terbuat dari baja hanya dengan 3 modal yaitu: Allah, Batu, dan Keberanian..

this moment, we will talk about asy syaja’ah…

Berani

Pekerjaan-pekerjaan besar hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berani. Ia berani menjawab tantangan. “ Jika gunung nan tinggi menghalangi langkahku maka akan kudaki, jika samudera nan luas menghalangi gerakku maka akan ku selami.” Seperti itulah gambaran orang yang berani. Dalam persejarahan manusia, tantangan-tantangan besar selalu membutuhkan kadar yang sama mungkin lebih dari keberanian didalam dada. Karena tantangan yang besar juga memiliki resiko yang besar. Dan tidak ada keberanian tanpa resiko.

Dan kepada orang-orang Romawi yang berlindung dibalik benteng Kinasrin, Khalid berkata, “Andaikata kalian bersembunyi di langit, niscaya kuda-kuda kami akan memanjat langit untuk membunuh kalian.” Roh keberanian itu pun memadai untuk mematikan semangat perlawanan orang-orang Romawi. Mereka takluk.

Keberanian dapat muncul karena dua hal. Pertama, karena fitrahnya yang sudah memiliki jiwa pemberani. Dan kedua, karena sering dilatih dan dipupuk dalam diri sehingga nantinya akan tumbuh melalui tindakan, perkataan, dan tulisan yang berani. Kedua-duanya baik berasal dari fitrah maupun latihan sama-sama memiliki sandaran yang kuat, pijakan yang kokoh untuk menegakkan kebenaran dan keadilan agar tercipta kesejahteraan. Sejahtera dalam keadilan.

Kondisi fisik tidak bisa dijadikan parameter seseorang apakah ia berani atau tidak. Seperti halnya Abu Bakar dan Ibnu Mas’ud yang postur bandannya tidak sebesar dan segagah Umar, Ali, dan Khalid bin Walid. Kita juga bisa melihat kepemimpinan dan keberanian seorang Jenderal Soedirman dalam melawan penjajah. Saya akan mengajakmu mengenal lebih dekat dengan jenderal Soedirman.

“Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatarbelakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan.

Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI). Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.

Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.

Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945,  pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.

Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.

Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.

Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.

Sudirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan. Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun.

Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.”

Begitulah seorang berani yang tak peduli dengan kondisi tubuhnya, baginya hidup didunia sebagai insane mulia, dan mati membawa gelar syuhada dipudaknya. Semoga kita bisa mengambil ibrah (manfaat) dari kisah-kisah keberanian para pahlawan.

Bandung, 9 Maret 2010

Aldo Al Fakhr Wilman

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Iklan

Open Your Heard

Open Your Heard

Unzhur maa qaala wa laa tanzhur man qaala

Ada yang tau artinya?

Artinya adalah “Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang berkata”

Kata-kata diatas merupakan pesan dari seorang sahabat Rasul yaitu Ali bin Abi Thalib. Pesan yang sungguh bijak dari seorang sahabat. Terkadang kita jarang sekali mendengarkan suatu ucapan dari seseorang yang kita benci misalnya atau yang kita kurang senangi mungkin karena sifatnya, cara bicaranya, dan lain-lain walaupun itu adalah perkataan yang benar. Disini kita sepakati dulu bahwa perkataan yang benar dari seseorang itu datangnya dari Allah dan kalau tidak benar maka datangnya dari kekhilafan pribadi.oke.. sepakat kan? Aku yakin pastilah sepakat bahkan kita pun juga sering menggunakan kata-kata tersebut diakhir sesi presentasi, ceramah, “ngisi”, dan lain-lain. Nah.. kalau sudah sepakat bahwa perkataan yang benar itu datangnya dari Allah. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, kenapa kita tidak mau mendengarkan perkataan benar dari seseorang yang kita tidak senangi? Nah loh… ayo yang merasa begitu.. jangan Cuma senyam senyum. Ini adalah tamparan yang keras kepada kita yang sedemikiannya egois berlandaskan emosi dalam bertindak. Tahukan anda, bahwa yang anda lakukan itu dipengaruhi oleh syaitan yang tentu saja mengajak kita untuk membenci saudara kita, memprovokasi ukhuwah kita, dan menyuruh untuk tidak menghargai saudara kita, tidak adanya tabayun terlebih dahulu, maunya hanya menghakimi tidak mau mengevaluasi diri terlebih dahulu. Wah..wah.. ini namanya bukanlah pejuang sejati, karena

pejuang sejati itu adalah berani mengkoreksi dirinya.

Jangan mudah terprovokasi atas berita yang belum tentu kebenarannya apalagi menyebarkannya justru itu nantinya akan menjadi fitnah. Sama-sama kita tahu bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Oleh karena itu saudaraku telisik dulu kebenaran berita tersebut, apakah benar ia berbuat demikian? Tanyakan dengan teman dekatnya bahkan kalau perlu tanyakan kepada keluarganya. Sehingga ketsiqahan akan semakin terkikis, prestasi amal pun ikut-ikutan menipis. Janganlah ujung-ujungnya menangis. Na’udzubillah

Allah Swt berfirman

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS, Al-Hujurat: 6)

Ayat diatas menyuruh kita kepada sikap tabayun. Maka sudah sepatutlah bagi tiap-tiap diri manusia itu agar tidak bergosip/ghibah. Apalagi yang dibicarakan itu belum tentu benar perkaranya dan tentu saja dosalah yang akan kita dapatkan.

Cobalah dipikirkan perasaan saudara anda ketika anda tidak menghargai apa-apa yang telah dikerjakannya dan diucapkannya. Ini mengindikasikan bahwa kita belumlah sampai pada tahap tafahum, mungkin tahap ta’aruf pun kita belum lulus, belum begitu mengenal latar belakang keluarganya seperti apa, latar belakang organisasinya seperti apa. Karena kalau kita sudah mengenal latar belakangnya dengan sedetik mungkin –kalau bisa- maka insya Allah tahapan tafahum pun akan menjadi keniscayaan.  Dan pikirkanlah pula bilamana kita berada di posisi sebaliknya. Mungkin kita akan beremosi ria terhadap apa yang telah dilakukan saudaramu sendiri.

Sekali lagi saya ingin mengulang pesan dari sayyidina Ali, “Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang berkata” insya Allah dengan berbuat demikian maka segala ilmu yang didapat dari orang tersebut akan menjadi maksimal didapatkan dan tentunya ukhuwah pun akan semakin erat.

Jangan egois, pintalah maaf kalau bersalah dan tidak bersalah, mungkin kita merasa tidak pernah bersalah tapi mungkin kesalahan kecil acap kali kita lupakan, itulah yang harus kita pintakan maaf ke saudara kita. Bukalah pintu maaf yang sebesar-besarnya kepada saudara kita, Allah saja membuka pintu tobat selebar-lebarnya kepada para hamba-Nya. Kita yang begitu lemah dan hina tidak mau memaafkan saudaraku kita.

Teruntuk saudara/saudariku yang membaca tulisan ini, dengan segenap hati aku meminta maaf atas apa yang telah kulakukan selama ini, perkataan yang kasar, perbuatan yang tak berkenan dihatimu, dan sakitnya hatimu karena diriku yang hina ini. Dan tentu saja wahai saudaraku/saudariku, kesalahan-kesalahanmu pun telah aku maafkan. Kuharap ukhuwah tak layaknya batu, keras dan menyakitkan, tak mengantarkan kita ke syurga karena kerasnya ukhuwah itu.

Syaikhut Tarbiyah, Ustadz Rahmad Abdullah Rahimullah mengatakan bahwa, “ ada dua hal yang harus dilupakan yaitu kesalahan saudara kita dan kebaikan kita kepada orang lain. Dan ada dua hal pula yang harus kita ingat terus yaitu kebaikan saudara kita dan kesalahan kita kepada orang lain.”

Insya Allah ketika telah mengamalkan kata-kata diatas, yakinlah dan sekali lagi yakinlah hidup akan tenang tanpa ada perselisihan yang berarti yang dapat merusak tubuh ukhuwah islamiyah.

Angin kau nyanyikanlah lagu

Dayuhlah sampaikan berita maaf itu

Sampai dihatinya

Lalu selimutkanlah maafku itu dihangatnya malammu

Sehingga menjadi hangat dan bersahabat

Wallahu’alam

Bandung, 11 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Berani Punya Masalah

Aku sangat amat yakin takkan ada yang menolak jikalau ia dilahirkan tanpa masalah sedikitpun dalam hidupnya di dunia dan di akhirat!

But, apakah mungkin? jawabannya tidak mungkin.

“berani punya masalah”

Adalah kalimat yang menantang untuk kita, karena justru dengan adanya masalah membuat kita lebih dewasa dalam berfikir dan bertindak mengambil keputusan.

Yang terpenting adalah berani tuk maju berperang melawan masalah, walaupun perangnya lama, karena masalah yang dihadapi tidak main-main, akan tetapi itulah terapi mental kita menjadi lebih punya taste.

Banyak temanku yang mengeluhkan betapa banyak maslah yang ia hadapi di kampus, sungguh memang luar biasa nih orang. Emang betul sih… masalah yang ditanggungnya amatlah banyak yang dengan maslah itu terkadang membuatnya sakit. Aku salut pada dia. Namun, itu masih area kampus. Betapa tak bisa dipikirkan akan banyaknya masalah yang menanti didunia nyata setelah ia lulus dari kampus. Nah… disinilah perlunya sebuah pembelajaran yang kontinu utk berani punya masalah. Nggak bisa terpikirkan olehku, seseorang didunia kampus saja tidak punya masalah, apa yang akan dihadapinya nanti ya… didunia nyata, aku ragu mentalnya belum siap menghadapi itu semua. Beruntunglah bagi kalian yang selalu diselimuti dengan masalah.

Masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Maka, hadapilah dan ubahlah menjadi kekuatan untuk sukses anda. Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur keberhasilan. Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah.

Betul banget, masalah itu adalah tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. So, jangan takut punya masalah, ambil masalah itu, genggam erat dan selesaikan dengan bijak. Insy Allah kamu menjadi generasi pembaharu tiap peride waktu tertentu.

Apa aja masalahnya? Banyak. Misal, ketidakseimbangannya antara kuliah dan dakwah, staf di organisasi/ kepanitiaan tidak punya komitmen, ketua yang hanya bisa menyuruh, teman yang berkhianat yang mana ia mengumbar-umbarkan kejelakan kita kepada orang lain, nial jeblok, mata kuliahnya sulit, dosennye killer,  dan lain-lain yang tiap kali kamu temui didunia kampus.

Seorang bijak berujar. “Bila busur anda patah dan anak panah penghabisan telah dilontarkan, tetaplah membidik. Bidiklah dengan seluruh hatimu.” Semua tindakan anda bagaikan bumerang yang akan kembali pada anda. Bila anda melempar dengan baik, ia akan kembali dalam tangkapan anda. Namun, bila anda ceroboh melemparkannya, ia akan datang untuk melukai anda. Renungkan bagaimana tindakan anda sekarang ini. Lakukan segala semuanya dengan tulus dan penuh kasih sayang. Tiada yang lebih manis daripada memetik buah atas kebaikan yang anda lakukan.

O.. iya jangan lupa berdo’alah, tapi jangan hanya berdoa’a tapi shalatlah dengan rajin, sahalat sunah juga jangan ditinggalkan, banyak-banyaklah bersedekah, banyak-banyak bersilaturahim, insy Allah akan memudahkan segala urusan kita. jika kita mengembalikan masalah kepada Allah sungguh itulah perbuatan yang bijak.

Di Q.s Al insyirah, telah Allah firmankan bahwa

“sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Ayat ini diulang 2 kali disurat Al-Insyirah tersebut. Ini mengindikasikan penekanan terhadap masalah bahwa jangan takut punya masalah.

beranilah punya masalah

Wallahu’alam