Kembali Ke NOL lagi..

Kembali ke NOL lagi..


Bismillahirrahmanirrahim

Seorang ikhwah yang telah lepas dari kampus dalam artian sudah lulus, sejatinya kembali ke NOL lagi. apa sebab? Sebabnya adalah lingkungan dan pergaulan yang baru akan lama-lama kelamaan akan menggoresi kepribadian kita, seperti yang sering saya katakan bahwasanya tiap orang itu berpotensi untuk berkarakter apa pun.

Ketika dikampus yang sebenarnya kita adalah KADER INSTAN, bagaimana tidak instan. Lembaga tarbiyah ada, tastqif ada, Murabbi difasilitasi, mutarabbi dikasih, tartil materi ada, semua serba enak. Apa tidak instan tuh? Namun masih banyak saja dari kita yang males-malesan dan banyak termakan media. Istilahnya gini: terkecoh media karena ilmu yang masih sangat dangkal. Dah difasilitasi begitu masih aja ada yang males-malesan datang pekanan, datang ngisi pekanan, datang tartil, dll. Pantas saja banyak yang termakan media-media berbau busuk, ilmu tuk menelaah berita pun tak ada. Akhirnya banyak yang kecewa dengan jama’ah lah, kecewa dengan dakwah lah (hebat banget nih anak kecewa dengan dakwah :mad), kecewa dengan system lah (* saya tantang antum yang kecewa untuk buat system yang bagus berdasarkan interpretasi antum.. saya mau lihat), dan lain-lain. Biasanya para kecewa-kecewaers itu punya tabiat:

  1. Ngajak yang lain untuk kecewa juga. Perhatiin aja…!
  2. Udah males dakwah dalam artian individual dalam ibadah.
  3. Budaya tabayun dah nggak ada lagi tuh. Semua info ntah fitnah atau bukan dimakan (kasarnya ditelan, kalau dimakan mah masih ada yang dikunyah) bulat-bulat. Baca lebih lanjut

QS. Al-Fath

QS. Al-Fath

Kali ini saya tidak mentafsirkan QS Al-Fath… tapi ingin membahas yang banyak disuka dikalangan aktivis dakwah

Sering kali kumendengar, kumelihat, dan kurasa.. wew.. lebay kata-katanye.. para akhwat meminta mahar yang salah satunya adalah QS. Al-Fath kepada si ikhwan selain yang lain-lain dan lainnya ( :peace: )… dan akan ditasmi’kan ketika akad nikah dihadapan akhwat tersebut tentunya dihadapan para tamu-tamu undangan dan tak kalah juga antusias para mupeng-mupengers (mupeng=muka pengen) termasuk ane.. wkwkwk Baca lebih lanjut

Ketika Aktivis Dakwah Ngeblog

Ketika Aktivis Dakwah Ngeblog…

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya – imam ‘Ali Ibn Abi Thalib

Memasuki zaman global seperti saat sekarang ini, pola dakwah bit at-Tadwin (dakwah melalui tulisan) baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, internet, koran, dan tulisan-tulisan di blog yang mengandung pesan dakwah sangat penting dan efektif. Karena tidak terbatas akan jarak dan waktu.

Keuntungan lain dari dakwah model ini tidak menjadi musnah meskipun sang dai, atau penulisnya sudah wafat. Menyangkut dakwah bit-Tadwim ini Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya tinta para ulama adalah lebih baik dari darahnya para syuhada”.

Apalagi dengan perkembangan teknologi yang berkembang dengan pesatnya, membuat para penggila teknologi memanfaatkan dan bahkan sekedar membelinya untuk gaya-gaya-an. Begitu pula dengan perkembangan dunia internet yang kian hari kian digemari oleh khalayak orang banyak  perkembangan ini ditandai dengan semakin menjamurnya warnet (warung internet) dimana-mana dan instruktur yang sudah merambah ke seluruh Indonesia.

Beragam layanan dan bacaan pun disuguhkan di dunia internet. Layanan dan bacaan itu ada yang baik untuk “dikonsumsi” dan ada juga yang seharusnya tak layak “dikonsumsi”. Yang tidak layak dikonsumsi seperti, situs porno, situs yang menguak fitnah, dan situs yang tidak di isi oleh pemiliknya.

Untuk itulah, kita sebagai aktivis dakwah atau calon aktivis dakwah, seharusnya bisa melihat peluang kebaikan yang tiada habisnya disana. Kita harus jeli dalam berdakwah, wasilah (sarana) apa yang harus digunakan didalam berdakwah secara modern ini. Menurut saya, sarana efektif untuk berdakwah didunia maya adalah dengan menjadi seorang aktivis dakwah blog dan tentunya harus sudah memiliki blog dakwah. Karena aktivis dakwah blog adalah orang yang memiliki blog dakwah!

Blog dakwah pada intinya sama dengan blog yang pada umumnya, namun yang berbeda hanyalah pada tema yang diusung pada blog tersebut dan isinya. Dan ingat juga, blog dakwah tidak hanya berisikan tafsir yang njelimet dan sukar dipahami, blog yang isinya bahasa arab semua. Bukan! Tapi bisa berupa share kisah-kisah hikmah yang membawa kebaikan jika telah membacanya, puisi yang menyeru kepada shalat, puasa, zakat, tolong menolong, berdakwah, dan bahkan jihad, cerpen islami, tips dan trik bermuamalah, dan lain-lain sesuai dengan kapabilitas ilmumu.

“Baliighu annii walau ayyah..!” yang artinya “sampaikanlah walau satu ayat”.

Berdakwah di dunia maya adalah salah satu media efektif. Karena sifat dari internet adalah tidak terbatas akan waktu dan jarak. Walaupun kita berada di Bandung, kita tetap bisa berdakwah lewat blog kita. Walaupun kita telah meninggal dunia, tulisan kita masih bisa menjadi amal jariyah bagi kita. Karena salah satu amal jariyah adalah ilmu yang bermanfaat. Oleh karena itu jangan ragu…

Namun, hambatan-hambatan selalu saja menghantui para blogger, yaitu takut tulisannya tidak dibaca orang lain, jadi blognya atau tulisan-tulisannya menjadi sia-sia. Sebenarnya ada cara untuk mengantisipasi agar bisa dibaca orang dan kalau boleh bermimpi bisa menjadi “seleb blog” yaitu blog yang terkenal dan selalu dibaca oleh para penggemarnya. Caranya adalah:

Untuk yang sudah terkenal, maka akan sangat mudah menjadi seorang blogger terkenal, hanya yang diperlukan adalah promosi kepada para penggemar yang digencarkan. Untuk yang tidak terkenal, Anda harus menjadi seorang blogger terlebih dahulu, setelah itu baru deh menjadi blogger terkenal, caranya gimana? Caranya dalah:

  • Selalu Posting (menulis di blog)

“Posting adalah segalanya”…dengan posting yang bermanfaat dan menarik, pengunjung akan selalu ingin datang lagi ke blog kita untuk mendapatkan informasi yang lebih. Bahkan ia akan mempromosikan blog kita kepada teman-temannya. dengan begitu blog kita akan lebih dikenal oleh pengunjung.

  • Jangan vacum terlalu lama.

Percuma jika posting blog kita menarik namun tidak terupdate bukan? Pengunjung yang datang lagi pun bisa-bisa akan kecewa jika setiap ia membuka blog kita, ia tidak menemukan sesuatu yang baru di blog kita. dan yang lebih parah lagi..bisa-bisa ia menghapus alamat kita dari blog favoritnya. Jika suatu saat kita sibuk dan tidak sempat berposting…minimal kita menjawab setiap komentar yang ada, sehingga blog kita tidak menjadi blog yang mati.

  • Berikan sesuatu yang langka dan baru

Emas begitu mahal karena kelangkaannya. Apapun tema dan topik blog anda, jika materinya unik dan menarik, apalagi jika tidak hasil copaz dari blog lain..blog anda akan menjadi salah satu blog yang paling diminati oleh pengunjung. Keuikan…itu penting sekali.

Dan dapat terlihat bahwa, blog dakwah adalah blog yang langka di kancah maya, oleh karena itu, ini merupakan peluang besar bagi kita semua untuk mengambil peluang disana, apalagi ini adalah peluang kebaikan. So.. jangan ditunda-tunda. Ntar nyesel lo..

  • Jadilah diri sendiri.

Posting kita mencerminkan karakter kita. Beberapa blogger mungkin menyajikan postingannya secara humoris, ada pula yang berbahasa resmi, bahasa gaul, penuh candaan dsb. Kita boleh saja meniru gaya penulisan mereka, namun jika hal itu tidak sesuai dengan diri kita..maka postingan kita akan nampak seperti dibuat2. Dan yang jelas..pembaca menjadi tidak mengenal karakter anda yang sesungguhnya.

  • Beri nama anda disetiap hasil tulisan atau komentar anda.

Anda akan lebih mudah dikenal jika menuliskan “diposting oleh Aldo Al Fakhr, Blogger Pencari Spirit yang Hilang” daripada “diposting oleh admin”. Dengan begitu, setiap pembaca akan tahu, siapa nama anda.

  • Promosikan blog anda dengan giat

Kenalkan blog anda secara giat mealui iklan-iklan gratis ataupun search engine yang ada. Bahkan promosi lewat facebookpun dapat membuat blog dan anda  menjadi lebih mudah dikenal oleh banyak orang.

Atau juga bisa membuat selebaran-selebaran dan difotocopy sebanyak-banyaknya dan dibagikan ke masyarakat dan teman-teman. Solusi ini merupakan solusi efektif namun membutuhkan dana dalam mengaplikasikannya.  Tapi juga diingat, bahwa blognya harus sering diupdate, karena percuma saja, banyak yang mengunjungi namun yang dibaca itu itu aja, tidak ada yang baru.

Cara yang lain, yang juga efektif dan efisien adalah dengan membuat tempelan alamat blog kamu, dan ditempel dibelakang mobil ataupun motor. Coba deh dibuktiin. Oke!!

Bagaimana saudaraku, sudah siapkah engkau menjadi aktivis dakwah blog? Simple aja tidak usah banyak mikir, justru kalau banyak mikir keburu maut menjemput sedangkan kita belum membagi ilmu yang kita punya walau sedikit kepada orang lain. Oke.

Jakarta, 17 Mei 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Orang Manja tak Berhak Memikul Dakwah

tulisanku satu ini sebenarnya dah lama bersarang di hardisk-ku.. baru ada kesempatan tuk postingnya… semoga tercerahkan.. insya Allah.. saya juga masih belajar tuk tidak menjadi orang-orang manja…

Orang Manja Tak Berhak Memikul Dakwah


Wahai Saudaraku yang kucintai dan yang Allah cintai

Jalan dakwah yang ana dan antum lalui ini bukanlah jalan yang dipenuhi dengan kesilauan permata yang membuat mata mengagumi dan mendekatinya, bukanlah jalan yang dipenuhi keindahan pemandangan yang ketika melihatnya membuat takjud dan seketika berujar “Subhanallah”, bukanlah jalan yang ditaburi dengan kesturi yang wanginya sungguh membuat fikiran melayang kepayang, bukanlah jalan yang langitnya dipenuhi pemandangan indah dimalam hari yang mana firework bertumpah ruah dilangit-Nya dan ketika itu kita bisa berlama-lama melihatnya karena warna-warninya kembang api tersebut, dan bukanlah pula jalan yang disuguhi kesenangan yang pasti digerumuni manusia yang berebut akannya.

Baca lebih lanjut

Cek Motivasi Dulu Yuks…

Cek Motivasi Dulu Yuks…


Sebenarnya tema materi seperti ini sudah sering aku tuliskan, tapi ga pa pa lah, semoga semakin banyak semakin banyak juga yang diambil faedahnya. Dan juga mampu mengingatkan kembali dan meluruskan kembali motivasi berbuat yang terkadang nyeleneh dari kewarasannya….

Let’s start…

Cerita dibawah ini mungkin sering kita dengar dan mungkin juga sering kita baca dan bahkan dituliskan untuk dibagi kepada ikhwah/saudara yang lain…

Ceritenye begene….:::

Seseorang datang kepada Nabi. Seorang badui dari dusun. Ia menghadap Rasulullah, lalu beriman kepada beliau, berhijrah, berjihad dan mengikuti berbagai aktivitas bersama Rasulullah. Setelah perang Khaibar, terjadi pembagian ghanimah atau harta rampasan perang, dia pun mendapat bagian. “Apa-apaan ini?”tanyanya. “Ini bagianmu dari Nabi, “ jawab para sahabat. “Bukan untuk ini aku mengikutimu,” ia menyatakan komitmennya kepada Nabi. “ Aku mengikutimu agar dipanah disini (sambil menunjukkan  bagian tenggorokannya) sehingga aku mati dan masuk syurga.” Rasulullah bersabda, “ Kalau engkau benar-benar jujur kepada Allah, Dia akan benar-benar mewujudkan maksudmu.

Tak selah berapa lama ia kembali berjihad. Tiba-tiba orang dusun tadi telah diusung dan dibawa menghadap Rasulullah. Dia terkena panah pada leher yang telah ditunjukkanya tadi kepada Nabi. “Inikah orang tadi?” “Benar,” Jawab para sahabat. “Dia sungguh telah berjihad dijalan Allah, maka Allah pun sungguh-sungguh mewujudkan  apa yang diinginkannya,” kata Nabi. Nabi pun mengafaninya dengan jubah beliau, mendekati dan menshalatkan jenazahnya. Rasulullah berdo’a untuknya, “ Ya Allah, inilah hamba-Mu yang keluar untuk berjihad, telah mati syahid. Aku menjadi saksi baginya.”

Sungguh luar biasa niat itu, apalagi kalau niat itu didasari atas keikhlasan dan kesucian karena Allah, serta ‘iradah yang kuat dalam mengimplementasikannya menjadi sebuah keniscayaan dalam artian kesunguh-sungguhan. Maka apa yang diniatkan akan menjadi realita dan bukan sebuah utopia belaka, yang terkadang hanya menggayut dibenak sahaja, dan Alhamdulillah menjadi kenyataan. , “ Kalau engkau benar-benar jujur kepada Allah, Dia akan benar-benar mewujudkan maksudmu.” Sabda Rasulullah.

Begitu halus iblis mewarnai hati kita dengan pekatnya dosa dihati kita, sungguh halus, dan terkadang tanpa disadari oleh kita, iblis memfatamorganakan ujub menjadi eksistensi diri. Dan kita sering terjebak dalam hal ini. Begitu pula dengan hal ijtihad (pembaharuan) terkadang kita terlena dengan kemudahan. Atas dasar ijtihad katanya, padahal ilmu kearah disana pun tak ada. Sungguh terjebak dan halus kita dimainkan oleh iblis. Astaghfirullah…

Begitu pula dalam berdakwah, menjadi da’I, dan menjadi Murabbi… iblis akan semalam suntuk mencari cara bagemane caranya nih aktivis dakwah tersungkur daya juangnya, kebersihan niatnya.. mulailah si iblis masuk ke lingkup koordinasi antara ikhwan dan akhwat… menyelusupkan didalam hati kedua ikhwah ini rasa simpati dan empati..

Si ikhwan: “Ukh, jangan lupa besok kita syuro’, jangan lupa qiyamul lail ya… biar syuro’ kita dimudahkan..”

Eh.. si akhwat dibisiki si iblis utk membalas sms si ikhwan, si akhwat terpengaruh, mungkin karena jarang tilawah kali si akhwat ini…

Si akhwat: “Ya akh.. syukran dah dingetkan, akhi juga ya… shalat subuhnya berjama’ah di masjid ya…!”

Karena merasa diperhatiin oleh si akhwat, si ikhwan berbunga-bunga nih hatinya, mulai deh.. menduga-duga. Jangan-jangan si akhwat s*ka lagi dengan ana…. Dan akhirnya saudara-saudara si ikhwan mengirimkan sms “nakal” ke si akhwat

Si ikhwan: O.. ya ukh, Nantikan ana dibatas waktu.. eits.. salah nantikan ana dibelakang hijab besok…he..he… ^_^v”

Dan dibelahan bumi lainnya, si akhwat hanya tersungging-sungging tersenyum, hatinya ikut berbunga-bunga, fikiran jauh melayang membayangkan hal yang nggak-nggak dengan si ikhwan. Padahal seharusnya jam segitu dah jadwalnya halaqah… alhasil si akhwat terlambat 1 jam datang halaqah karena sibuk membayangkan dan tertidur lalu kebawa kemimpi. Segitunya ..

Wah..wah.. kedubrak ,,, sok pengertian banget nih si ikhwan dan si akhwat.. dah kayak apa aja.. dah itu pake acara nantikan ku dibatas waktu lagi… duh—duh–duh

Lagi-lagi atas nama koordinasi, interaksi kurang dijaga… sungguh banyak cerita-cerita yang kek beginian, chatingan, sms-smsan ngasih tausiyah, telepon-teleponan, dan banyak lagi cara si iblis menusuk secara halus dihati para juru dakwah.. dan tahukah kita, si iblis tertawa melihat si korbannya…

Si iblis: “Ha..ha..ha… senengnye aku… bisa menggelincirkan juru dakwah. wah kayaknya bulan ini aku bakal dapat bonus nih dari bos…”

Semoga kita terlindungi.. a ‘uzubillahi minasyaithanirrajim- Aku berlindung pada-Mu ya Allah dari syetan yang terkutuk…

Rasulullah Saw bersabda:

“ Sesungguhnya diterimanya amal itu tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya.” (H.R. Bukhari-Muslim)

Selayaknya bagi kita yang motivasi/niatnya dalam berdakwah khususnya harus senantiasa mengeceknya, jangan-jangan ada yang salah, ada yang bengkok, ada yang mewarnai hitam diputihnya niat itu, coba cek-cek lagi, perbaiki niat ditiap periode waktu hidup. Agar niat tak terhiasi motivasi yang penuh ujub diri…

“Ya Allah kumohon pada-Mu agar diberikan kelurusan niat dalam beramal, keteguhan dalam mengenggam kelurusan niat itu hingga syahid menjemput kami…”

Seperti biasa ingin memberikan nasyid diakhir tulisan, kali ini mencuplik akhir lirik nasyidnya Ar-Royan dengan judul ayo menikah.. (nih lagi saya putar di laptop saya…he..3x ketika tulisan ini dibuat )

Jalan hidup tergantung niatmu

Bila kau yakin kau akan mampu

Ingat lah Allah selalu menyertaimu

Jakarta, 19 April 2010

Aldo Al Fakhr

MM SKI IT Telkom 2010

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Persiapan Bekal Bagi Aktivis Dakwah

hanya ingin berbagi apa yang saya punya… insy Allah bisa berguna bagi saya pribadi dan anda para pembaca…

Persiapan Bekal Bagi Aktivis Dakwah



Menyeru kepada Allah swt. merupakan kewajiban bagi tiap diri muslim dan muslimat disetiap masa. Dan apa lagi dijaman sekarang ini, ia bahkan menjadi lebih wajib untuk ditunaikan karena umat islam sekarang sedang terjajah dan “ditelanjangi” oleh para musuh-musuh islam yang pastinya berusaha untuk menenggelamkan islam dari muka bumi.

Berdakwah bagi aktifis dakwah adalah suatu kemuliaan yang sangat besar, Allah swt berfirman:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat: 33)

Dan Rasulullah saw bersabda:

“jika Allah swt memberikan hidayah kepada seorang lelaki lantaran anda, itu lebih baik bagimu ketimbang apa yang disinari matahari.” (HR. At Tabrani)

Menyeru kepada agama Allah merupakan keuntungan yang besar bagi setiap insan yang mengerjakannya. Pahala yang besar telah menanti, syahid telah menunggu didepan mata, syurga seakan terbuka dan mempersilahkan masuk, dan Allah pun akan merahmati tiap langkah kita dengan mantab.

Jum’ah Amin Abdul Aziz berkata, “Sesungguhnya dakwah merupakan urusan besar dan agung, karena ia selalu mengawasi manusia, hidup dan matinya, bahagia dan celaka, serta pahala dan siksanya. Yang menjadi masalah, apakah risalah ini telah disampaikan kepada manusia untuk kemudian diterima dan diikuti, sehingga mereka berbahagia di dunia dan di akhirat; atau risalah itu tidak disampaikan, sehingga menjadi alasan bagi manusia dihadapan Rabbnya, dan menjadi penyebab kecelakaannya di dunia. Mereka beralasan bahwa kesesatannya tergantung pada pundak yang diberi amanah untuk menyampaikan risalah, tetapi ia tidak menyampaikannya. Adapun para Rasul Allah, maka sungguh mereka telah menunaikan amanah dan telah menyampaikan risalah, dan mereka terus berjalan menuju Rabbnya dengan tulus ikhlas. Bahkan mereka tidak hanya menyampaikan risalah dengan lisan semata, tetapi juga dengan keteladanan yang tergambar dalam perbuatan dan jihad yang tak kenal henti, siang dan malam. Mereka melakukan itu untuk menghilangkan hambatan dan kendala-kendala, baik berupa syubhat atau berbagai tuduhan yang dilemparkan, atau berbagai penyesatan yang dihiasi, atau berupa kekuatan zalim yang menghalang-halangi manusia dari dakwah dan fitnah orang-orang yang menfitnah mereka. Ini sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah saw penutup para nabi, meskipun beliau seorang penyampai risalah yang terakhir dan risalahnya jufa merupakan risalah terakhir. Beliau merasa tidak cukup dengan menghilangkan hambatan itu dengan lisannya, tetapi juga dengan kekuatan, Allah Swt berfirman,

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 193)

“maka kewajiban berat ini akhirnya, dibebankan kepada generasi setelahnya, yaitu orang-orang yang berimanm dari generasi ke generasi yang datang secara estafet. Tidak satu pun  yang terlepas dari kewajiban berat ini. Itulah kewajiban iqamat hujatillah (menegakkan hokum Allah) kepada manusia, dan kewajiban untuk menyelamatkan manusia dari azab akhirat dan kebinasaan di dunia. Kewajiban ini ditunaikan dengan menyampaikan risalah dan melaksanakannya sesuai manhaj yang dibawa oleh Rasulullah.”

Oleh karena itu, untuk mendapatkan keuntungan, kemuliaan, dan ganjaran yang besar  tersebut diperlukannya sebuah persiapan yang matang dan memadai untuk mengarunginya. Tidaklah boleh bermain-main ataupun setengah-setengah. Karena jalan ini begitu panjang, melelahkan, dan tak terkira kesulitan, kepayahan, hambatan yang akan merintanginya. Karena mustahil orang yang akan berpergian tidak membawa bekal yang memadai, jangan sampai mati konyol ditengah jalan.

“Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!” (QS. An-Nisa: 71)

Secara de facto, banyak dari aktifis dakwah yang kurang memiliki bekal diawalnya harus menahan pil pahit, ia merasa kelelahan, kecapaian, kejenuhan, kebosanan, hingga menepi alias tidak mau melanjutkan perjalanannya lagi. Sungguh ironis melihat realita yang terjadi dilapangan. Mungkin itu sunnatullah. Memang akan ada orang-orang munafik yang tidak mau berperang. Seperti halnya pada saat perang Tabuk, perang yang berlangsung ketika masa yang sedang paceklik, udara panas, jalan ke medan pertempuran yang dilalui jauh, dan matahari yang menyengat dan membakar kulit. Terlihat banyak para sahabat yang tidak ikut berperang dan setibanya Rasul dari perang, mereka sibuk dengan mencari alasan-alasan logis yang bisa diterima oleh akal Rasul, padahal bukankah mereka tahu Tuhannya Rasul tidak bisa “diakali”. Yah.. seperti itulah realitanya, dan pabila kita korelasikan dengan jaman sekarang, para aktifis dakwah pun banyak yang mangkir dari amanahnya. Mereka menggunakan alasan-alasan, “afwan akh, hari hujan!”, afwan akh, ana ketiduran”, “afwan akh, ana lagi pusing karena banyak tugas kuliah dan deadlinennya hari ini”, dan banyak alasan-alasan lainnya, mereka seperti menjadi “ generasi afwan akh”, yang ada hanya afwan akh.. afwan akh… dan afwan akh terus. Jarang sekali keluar dari kerongkongannya kata “siap akh!”, “akan ana kerjakan akh!”. Sangat jarang sekali. Oleh karena itu saudaraku persiapan mutlak untuk kita lakukan dan akan menjadi bekalan kita dalam mengarungi samudera kehidupan dakwah ini, sehingga kita menjadi The Real Da’I atau aktifis dakwah sejati.

Mengarungi samudera kehidupan

Kita ibarat para pengembara

Hidup ini adalah perjuangan

Tiada masa tuk berpangku tangan

(Samudera Kehidupan, Shoutul Harokah)

Aldo Al Fakhr Wilman

MM SKI IT Telkom

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Keep Writing till syahid

Asy Syaja’ah

Asy Syaja’ah ada yang tau artinya..! artinya itu berani… tulisan ini terinspirasi dari bukunya Ust Anis Matta Mencari Pahlawan Indonesia…

siapa yang tak kenal dengan gambar ini… saya rasa semua pernah melihatnya bahkan mengambil ibrah dari gambar ini. seorang anak palestina yang berani melawan tank yang terbuat dari baja hanya dengan 3 modal yaitu: Allah, Batu, dan Keberanian..

this moment, we will talk about asy syaja’ah…

Berani

Pekerjaan-pekerjaan besar hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berani. Ia berani menjawab tantangan. “ Jika gunung nan tinggi menghalangi langkahku maka akan kudaki, jika samudera nan luas menghalangi gerakku maka akan ku selami.” Seperti itulah gambaran orang yang berani. Dalam persejarahan manusia, tantangan-tantangan besar selalu membutuhkan kadar yang sama mungkin lebih dari keberanian didalam dada. Karena tantangan yang besar juga memiliki resiko yang besar. Dan tidak ada keberanian tanpa resiko.

Dan kepada orang-orang Romawi yang berlindung dibalik benteng Kinasrin, Khalid berkata, “Andaikata kalian bersembunyi di langit, niscaya kuda-kuda kami akan memanjat langit untuk membunuh kalian.” Roh keberanian itu pun memadai untuk mematikan semangat perlawanan orang-orang Romawi. Mereka takluk.

Keberanian dapat muncul karena dua hal. Pertama, karena fitrahnya yang sudah memiliki jiwa pemberani. Dan kedua, karena sering dilatih dan dipupuk dalam diri sehingga nantinya akan tumbuh melalui tindakan, perkataan, dan tulisan yang berani. Kedua-duanya baik berasal dari fitrah maupun latihan sama-sama memiliki sandaran yang kuat, pijakan yang kokoh untuk menegakkan kebenaran dan keadilan agar tercipta kesejahteraan. Sejahtera dalam keadilan.

Kondisi fisik tidak bisa dijadikan parameter seseorang apakah ia berani atau tidak. Seperti halnya Abu Bakar dan Ibnu Mas’ud yang postur bandannya tidak sebesar dan segagah Umar, Ali, dan Khalid bin Walid. Kita juga bisa melihat kepemimpinan dan keberanian seorang Jenderal Soedirman dalam melawan penjajah. Saya akan mengajakmu mengenal lebih dekat dengan jenderal Soedirman.

“Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Saat usianya masih 31 tahun ia sudah menjadi seorang jenderal. Meski menderita sakit paru-paru yang parah, ia tetap bergerilya melawan Belanda. Ia berlatarbelakang seorang guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan giat di kepanduan Hizbul Wathan.

Ketika pendudukan Jepang, ia masuk tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor yang begitu tamat pendidikan, langsung menjadi Komandan Batalyon di Kroya. Menjadi Panglima Divisi V/Banyumas sesudah TKR terbentuk, dan akhirnya terpilih menjadi Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (Panglima TNI). Ia merupakan Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang tidak perduli pada keadaan dirinya sendiri demi mempertahankan Republik Indonesia yang dicintainya. Ia tercatat sebagai Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik ini.

Sudirman merupakan salah satu pejuang dan pemimpin teladan bangsa ini. Pribadinya teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa di atas kepentingan pribadinya. Ia selalu konsisten dan konsekuen dalam membela kepentingan tanah air, bangsa, dan negara. Hal ini boleh dilihat ketika Agresi Militer II Belanda. Ia yang dalam keadaan lemah karena sakit tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu. Dalam keadaan sakit, ia memimpin dan memberi semangat pada prajuritnya untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Itulah sebabnya kenapa ia disebutkan merupakan salah satu tokoh besar yang dilahirkan oleh revolusi negeri ini.

Setelah Indonesia merdeka, dalam suatu pertempuran dengan pasukan Jepang, ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang di Banyumas. Itulah jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Sesudah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia kemudian diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945,  pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Jadi ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, tapi karena prestasinya.

Ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Karenanya, TKR akhirnya terlibat pertempuran dengan tentara sekutu. Demikianlah pada Desember 1945, pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman terlibat pertempuran melawan tentara Inggris di Ambarawa. Dan pada tanggal 12 Desember tahun yang sama, dilancarkanlah serangan serentak terhadap semua kedudukan Inggris. Pertempuran yang berkobar selama lima hari itu akhirnya memaksa pasukan Inggris mengundurkan diri ke Semarang.

Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya atau yang lebih dikenal dengan Agresi Militer II Belanda, Ibukota Negara RI berada di Yogyakarta sebab Kota Jakarta sebelumnya sudah dikuasai. Jenderal Sudirman yang saat itu berada di Yogyakarta sedang sakit. Keadaannya sangat lemah akibat paru-parunya yang hanya tingggal satu yang berfungsi.

Dalam Agresi Militer II Belanda itu, Yogyakarta pun kemudian berhasil dikuasai Belanda. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet juga sudah ditawan. Melihat keadaan itu, walaupun Presiden Soekarno sebelumnya telah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk melakukan perawatan. Namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Maka dengan ditandu, ia berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Kurang lebih selama tujuh bulan ia berpindah-pindah dari hutan yang satu ke hutan yang lain, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah sekali sementara obat juga hampir-hampir tidak ada. Tapi kepada pasukannya ia selalu memberi semangat dan petunjuk seakan dia sendiri tidak merasakan penyakitnya. Namun akhirnya ia harus pulang dari medan gerilya, ia tidak bisa lagi memimpin Angkatan Perang secara langsung, tapi pemikirannya selalu dibutuhkan.

Sudirman yang pada masa pendudukan Jepang menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Keresidenan Banyumas, ini pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan. Jenderal yang mempunyai jiwa sosial yang tinggi, ini akhirnya harus meninggal pada usia yang masih relatif muda, 34 tahun.

Pada tangal 29 Januari 1950, Panglima Besar ini meninggal dunia di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Ia dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.”

Begitulah seorang berani yang tak peduli dengan kondisi tubuhnya, baginya hidup didunia sebagai insane mulia, dan mati membawa gelar syuhada dipudaknya. Semoga kita bisa mengambil ibrah (manfaat) dari kisah-kisah keberanian para pahlawan.

Bandung, 9 Maret 2010

Aldo Al Fakhr Wilman

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

di Jalan Dakwah Kuteguhkan Langkah


Tsabat bermakna teguh pendirian dan tegar dalam menghadapi ujian serta cobaan di jalan kebenaran. Dan tsabat bagai benteng bagi seorang aktivis. Ia sebagai daya tahan dan pantang menyerah. Ketahanan diri atas berbagai hal yang merintanginya. Hingga ia mendapatkan cita-citanya atau mati dalam keadaan mulia karena tetap konsisten di jalan-Nya. Dalam Majmu’atur Rasail, Imam Hasan Al Banna menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tsabat adalah orang yang senantiasa bekerja dan berjuang di jalan dakwah yang amat panjang sampai ia kembali kepada Allah SWT. dengan kemenangan, baik kemenangan di dunia ataupun mati syahid.

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah SWT. maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah janjinya”. (Al Ahzab: 23).

Sesungguhnya jalan hidup yang kita lalui ini adalah jalan yang tidak sederhana. Jauh, panjang dan penuh liku apalagi jalan dakwah yang kita tempuh saat ini. Ia jalan yang panjang dan ditaburi dengan halangan dan rintangan, rayuan dan godaan. Karena itu dakwah ini sangat memerlukan orang-orang yang memiliki muwashafat ‘ailiyah, yakni orang-orang yang berkarakter berjiwa ikhlas, itqan dalam bekerja, berjuang dan beramal serta orang-orang yang tahan akan berbagai tekanan. Dengan modal itu mereka sampai pada harapan dan cita-citanya.
Baca lebih lanjut

Sadarlah Akhi…

Sadarlah Akhi…

Sebelum membaca tulisan ini, alangkah baiknya kalau saya bertanya satu hal yang insya Allah akan ada erat kaitannya dengan tulisan yang akan dibaca dibawah ini.

  1. Sadar itu apa sih?
  2. Siapa yang menulis buku “Bagaimana Menyentuh Hati”?

Jawab aja dengan hatimu…

Untuk jawaban nomor satu tolong ditulis di form komentar dibawah, ayo bagi ilmu dengan temannya yang lain.

Nah.. untuk yang nomor 2, yang menulis Bagaimana Menyentuh Hati adalah Abbas As Sisi. Ada cerita menari mengenai beliau.

Suatu pagi Hasan al Banna datang menemui sohibnya Abbas as Sisi, dan ternyata mata Abbas sembab dikarenakan sepanjang malam terus menangis. Dan sekita itu juga ditanyalah oleh Hasan al Banna, “ya Akhi, kenapa matamu sembab seperti itu?” Abbas as Sisi pun menjawab, “Aku menangis semalaman karena ada tanah kaum muslimin yang dirampas oleh para komunis.” Dan seketika dijawab oleh Hasan al Banna, “Berarti kamu sudah mulai menapaki jalan dakwah ini.”

Subhanallah. Kesadaran Abbas as Sisi tentang ada tanah kaum muslimin yang dirampas komunis saja barulah dikatakan mulai menapaki jalan dakwah ini. Bagaimana dengan kita ya akhi? Sadarlah! Karena kita sering terleha-leha dalam mengemban amanah dakwah. pabila mau dibandingkan. Wuih… jauh banget kita dengan pendahulu-pendahulu dakwah ini. Kita sekarang sudah enak dan sudah terfasilitasi dengan lengkap apalagi dengan adanya legalitas dalam berdakwah seharusnya semakin kenceng juga dakwahnya. namun yang terjadi tak seindah yang diharapkan. Betullah apa yang dikatakan Hasan al Banna pada Majmu’atur Rasail bahwa,

“Ada di antara pemuda yang tumbuh dalam situasi bangsa yang dingin dan tenang, di mana kekuasaan pemerintah telah tertanam kuat dan kemakmuran telah dirasakan oleh warganya. Sehingga pemuda yang tumbuh dalam suasana ini aktifitasnya lebih banyak tertuju kepada dirinya sendiri daripada untuk umatnya. Dia pun kemudian cendrung main-main dan berhura-hura karena meresa tenang jiwanya dan lega hatinya.”

Mungkin itu yang terjadi pada kita sekarang disaat semua sudah serba enak dalam berdakwah justru berhura-hura, merasa santai, tenang tanpa beban, dia berfikir bahwa akan banyak yang akan mengurusi dakwah ini sehingga ia hanya focus kepada dirinya sendiri, itulah tadi karena jumlah aktivis dakwah yang sudah banyak pada zaman ini. Yang diharapkan sebenarnya adalah semakin banyak aktivis dakwah maka seharusnya dapat me ngisi ruang-ruang yang masih kosong dan harus segera diisi seperti dunia akting, dunia perbankan yang masih sedikit dan belum kuat, dan dunia-dunia yang lain. Masa’ harus kembali ke awal lagi, mulai dari nol lagi, tentulah akan menghabiskan energi dan waktu saja.

Sadarlah Akhi..

Dari kesenangan yang melenakan

Keluarlah dari mihrabmu

Mulailah memikirkan umat

Mulailah berkontribusi nyata untuk dakwah

Janganlah hanya sebagai pengembira dan pengkritik saja

Ambillah posisi terdepan dalam perjuangan

Ambillah penamu lalu goreskan perubahan

Jadikan Islam sebagi soko guru

Tentu dengan adanya andil mu disana

Sehingga kau menjadi orang yang dinanti

Dinanti digerbang peradaban yang gilang-gemilang

Wallahu’alam

Bandung, 11 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Pemuda Berafiliasi Terhadap Dakwah Islamiyah

Pemuda Berafiliasi Terhadap Dakwah Islamiyah

Pabila bicara tentang seorang pemuda, maka yang tergambar begitu banyak rasa dan warna yang tercipta. Ada yang manis, asin, asem, kelet, merah, putih, hitam, hijau, biru, dan lain sebagainya. Dan tiap-tiap orang memiliki argument sendiri-sendiri terhadap opininya mengenai pemuda. Yah begitulah, sungguh masa istimewa dan produktif seorang insan adalah ketika ia berpenampilan dan berjiwa muda.

Dalam Al-Hadist, dikatakan bahwa “pergunakanlah masa mudamu sebelum masa tuamu” ini mengisyaratkan sebuah makna yang dalam bahwa masa muda tidak akan berulang kembali dan harus dimaksimalkan dengan searif dan semaksimal mungkin. Jangan sampai menyesal ketika telah tua. “Kenapa ya sewaktu muda dulu saya tidak begini begitu dan ber-ber lainnya?” pastilah penyesalan itu datang diakhir. Dan ironis lagi ketika penyesalan itu datang ketika sudah berada diperadilan Maha agung. “Ya Allah ku mohon dengan sangat, lindungi kami dari kesia-siaan usia!”

Bahkan ada seorang ustadz yang pernah mengatakan bahwa seorang pemuda itu tidak akan sakit kalau tidak tidur beberapa hari. Yang ada hanyalah kelelahan yang sesaat dan keesokan harinya siap mengemban amanah dengan sebaik-baiknya lagi. Luar biasa.

Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Kahfi:13 mengenai pemuda:

“…Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”

Hasan al Banna menuliskan di majmu’atur rasail (Kumpulan risalah) dalam bab Ila asy Syabab (Kepada Para Pemuda)

“Wahai pemuda!

Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat, danaamal merupakan karekter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang

kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda.”

Oleh karena itu, potensi dan karakteristik pemuda harus diarahkan kearah yang baik. Pabila ia dapat membawanya kedunia sekolah, kampus, profesi, masyarakat, siyasi, dan sebagainya maka kegemilangan islam akan menjadi suatu keniscayaan yang pasti. Karena motor penggeraknya ditopang oleh para pemuda tangguh dengan muwashofat yang luar biasa.

Hasan al Banna juga mengatakan:

“Beranjak dari sini, sesungguhnya banyak kewajiban kalian, besar tanggung jawab kalian, semakin berlipat hak-hak umat yang harus kalian tunaikan, dan semakin berat amanat yang terpikul di pundak kalian. Kalian harus berpikir panjang, banyak beramal, bijak dalam menentukan sikap, maju untuk menjadi penyelamat, dan hendaklah kalian mampu menunaikan hak-hak umat ini dengan sempurna.”

Dakwah Kampus

Dalam tulisan ini, hanya akan disinggung tentang dakwah didunia kampus. Karena penulis merupakan seorang mahasiswa. Dan tentu saja mahasiswa adalah juga seorang pemuda yang biasanya memiliki alur pemikiran dan idealisme yang lebih ketimbang pemuda-pemuda lainnya. Ia cepat tanggap terhadap isu-isu disekitarnya, lebih memiliki jiwa perubahan dan pembaharu didalam dirinya ketimbang pemuda-pemuda lainnya!

Dalam buku RMDK (Risalah Managemen Dakwah Kampus) pada bab pendahuluan dituliskan bahwa:

Dakwah kampus merupakan sebuah tahapan dakwah terpenting dalam dakwah pelajar. Dakwah kampus memiliki kekhas-an tersendiri dalam pergerakannya dan memiliki kesempatan untuk berkontribusi lebih terhadap masa depan suatu bangsa,karena mahasiswa merupakan cadangan masa depan. Ketika dakwah kampus bisa memasok alumni yang berafiliasi terhadap Islam, maka perbaikan umat di masa datang menjadi sebuah niscaya.

Adalah sebuah kemestian dalam beramal harus memiliki ilmu dan pemahaman yang komprehensif terhadap yang tsawabit dan mampu berijtihad (mempebarui) berlandaskan al Qur’an dan as Sunnah. Sungguh kekosongan yang terjadi pabila seorang berfikir tanpa ilmu, berkata tanpa ilmu, beramal tanpa ilmu. Oleh karena itu, dahulukan ilmu atas amal. Itulah pesan yang sering kita dengar dari ulama-ulama dan para ustadz-ustadz dalam kajian-kajiannya. Yakinlah, semangat dan kemauan akan kuat terasa jika pemahaman telah kuat dalam diri, teguh dalam menjalankannya, dan berani untuk memberikannya kepada yang belum mengetahui. Oleh karena itu bagi seorang Aktivis Dakwah Kampus atau sering disingkat ADK memahami karakteristik dakwah itu sendiri pada umumnya dan karakteristik dakwah kampus itu sendiri secara khususnya. Dan harus berpegangan pada pedoman dan aholah yang ada.

Makna Dakwah (Singkat saja)

“Jadilah di antara kamu sebaik-sebaik umat yang mengajak kepada kebaikan,menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-Imran : 104)

Dakwah secara etimologis (bahasa) berarti jeritan, seruan, atau permohonan. Ketika seseorang mengatakan da’autu fulaanan, itu berarti berteriak atau memanggilnya. Adapun menurut syara’ (istilah), dakwah memiliki

beberapa definisi. Di sini akan disebutkan sebagian dari definisi tersebut.

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dakwah adalah mengajak seseorang agar beriman kepada Allah dan kepada apa yang dibawa Rasul-Nya dengan membenarkan apa yang mereka beritakan dan mengikuti apa yang mereka perintahkan.

Sementara itu, Fathi Yakan mengatakan, “Dakwah adalah penghancuran jahiliyah dengan segala bentuknya, baik jahiliyah pola pikir, moral, maupun jahiliyah perundang-undangan dan hukum. Setelah itu pembinaan masyaraka Islam dengan landasan pijak keislaman, baik dalam wujud kandungannya, dalam bentuk dan isinya, dalam perundang-undangan dan cara hidup, maupun dalam segi persepsi keyakinan terhadap alam, manusia dan kehidupan.

Sungguh banyak referensi yang dapat kamu baca untuk mengenal karakteristik dakwah dan dakwah kampus. Seperti RMDK salah satunya yang konsen terhadap pembahasan dakwah kampus.

Begitulah.. pabila seorang pemuda telah berafiliasi terhadap dakwah islamiyah maka tunggulah beberapa saat lagi  izzatul islam akan bersemi kembali dan menduduki singgasananya yang telah lama vakum (Demisioner – Masa-masa kekosongan kekuasaan)

Allahu Akbar

Wallahu’alam

Bandung, 06 January 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang