Please, Start and Finish this!

Please, Start and Finish this!

 

On playing -> Sigma – Istikharah Cinta

“If you don’t start, You’ll never finish then”

Sudah lama betul tak menulis, tak terasa hampir sebulan diri ini lesu akan kegiatan –yang dulunya- sering kali menjadi luahan rasa sebelum tidur. Dulu aku ingat betul, agenda rutin sebelum tidur: 15-30 menit baca buku, 5 menit berfikir dan merenungkan apa aja yang dah didapat dari yang dibaca, selanjutnya menuliskannya. Sangat ingat betul dulu, menyelesaikan tulisan hingga sampai jam satu pagi sangking bersemangatnya, karena dulu takut apa yang sedang difikirkan menjadi hilang.

Waktu ke waktu perlahan ia menggerus semangat itu, naluri semangat itu pun tak pernah berkata-kata lagi. Kebuntuan terus menghantui rasa, terikat melekat menjadi kebiasaan. Vitaminnya seorang penulis pun tak pernah lagi diminum olehku, kalah akan layang persegi empat, kayu kopong, dan perleha-lehaan kaum modern saat ini. Baca lebih lanjut

Berkaca Kepada Waktu

Berkaca Kepada Waktu



Waktu demi waktu yang terjalani dalam kehidupan ini adalah waktu yang akan mendekatkan kita untuk pulang. Setiap desahan nafas yang terhela, sejatinya adalah nafas yang akan mengantarkan kita untuk pulang. Setiap langkah kaki yang kita jalani dikehidupan ini adalah langkah yang akan membawa kita untuk pulang. Dan yang sama-sama kita tahu, perayaan ulang tahun maupun yang tidak merayakan sebenarnya adalah merayakan berkurangnya umur kita dan mengindikasi kedekatan kita kepada maut. Betapa ruginya kita – yang menulis dan yang sedang membaca – ketika waktu diberikan sebagai modal yang berharga untuk perbaikan diri dan memperbaiki yang lain (dalam artian lingkungan) tetapi menyia-nyiakannya bagaikan asap yang berterbangan dari kubangan api yang menyala, hanya bertahan sebentar dan hilang. Sebagaimana pernah dikatakan seseorang, “ Jika engkau ingin tahu manusia mana yang paling bodoh, lihatlah orang yang diberi modal tetapi ia hamburkan sia-sia.”

kamu juga tahu bahwasanya waktu adalah perangkat yang tidak bisa diputar kembali dan dimajukan dengan artian ia akan terus berlalu tanpa bisa distop, apalagi dihentikan untuk sekedar menghela nafas karena kecapekan. Tidak akan bisa. Waktu yang diberikan Allah kepada kita sehari adalah 24 jam saja, dan apabila kita mau membeli atau membuat sendiri jam yang bisa 36 jam, aku jamin tidak akan ada yang menjual dan tidak ada pula yang akan membelinya, karena ini adalah sunnatullah yang sudah digariskan. Tidak bisa diganggu gugat. Aya aya wae,,, mau buat jam yang bisa 36 jam..

permasalah terkait 24 jam inilah yang nantinya akan membedakan mana orang yang sukses dan gagal, orang yang baik dan buruk, orang ahli syurga dan ahli neraka. Bukan waktunya yang menjadi soal, yang menjadi soal adalah kebermanfaatan waktu selama 24 jam itu digunakan untuk apa aja? Apakah 24 jam yang kita lewati hanya untuk maen games, ngobrol dan ghibah, facebook-an wae, tidur, makan, ataukah diisi dengan menulis, tilawah, dzikir, shalat, sedekah, membaca buku, dan lain sebagainya.

Waktu adalah fenomena yang menarik untuk dibahas, karena ini menjadi concern yang menarik untuk dikaji, dan waktu sama-sama digunakan oleh seluruh umat didunia ini, yang sekali lagi akan membedakan orang yang sukses / beruntung dan gagal / rugi. Sebenarnya dalam Al-Qur’an sama-sama sudah kita ketahui dalam surat apa? Pasti kamu menjawab dalam hati, “pasti Q.S. Al-‘Ashr” yups bener.. ini lah yang menjadi acuan banyak orang dalam mengkaitkan kesuksesan dan kegagalan dalam mengelola waktu.  Dan setiap kali kita mentadabburi surat ini maka dapat dipastikan ia bagaikan lautan tak bertepi, memiliki tak terhingga makna yang dapat menuntut kita kepada kesadaran dalam ihwal waktu.

“Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati dalam kesabaran.”

Sebenarnya sudah banyak yang mentadabburi ayat ini, tapi Aku akan coba untuk mentadabburi dalam versiku tentang kategori orang yang beruntung/sukses dalam ayat ini, afwan kalau salah…mohon koreksinya

  1. Orang yang dikategorikan sukses adalah orang yang apabila setiap saat dalam periode waktu kehidupannya berubah kearah yang lebih baik lagi dari waktu semula, ini terkait dengan keimanan. Pabila seseorang yang hidupnya berlalu begitu saja, hanya umur saja yang bertambah namun keimanan dalam diri tidak bertambah, orang seperti ini hidupnya hanya berbuah kepada kesia-siaan saja. Ia tak mengerti arti kehidupan sesungguhnya, dan jika keimanan semakin bertambah, kedekatan kepada Allah pun instens, insya Allah ini adalah orang-orang yang sukses.
  2. Orang yang tak lelah dalam beramal shaleh walaupun kecil dan sederhana. Pernah dengar sahabat Rasul yang memiliki amalan sebelum tidur memaafkan kesalahan dan kekhilafan teman-temannya? Pasti pernah kan, Rasul mengatakan bahwa ia adalah salah seorang penghuni syurga. Ia tetap kontinu melakukan aktivitas full barokahnya itu walaupun sederhana dan kecil, tapi dimata Allah kontinu itu lebih baik walau sederhana, ketimbang banyak namun tak berkesinambungan.
  3. Nafi’un li ghairi. Orang yang bermanfaat bagi khalayak. Ia mendakwahkan kebenaran, ia tidak menyembunyikan kebenaran itu didalam “ketiaknya” saja, tapi ia bagikan dan ia sebarkan nilai-nilai kebaikan melalui berbagai media yang ia sanggupi. Semisal lewat mimbar, buku, artikel, pamphlet, selebaran, mp3, dan lain sebagainya.
  4. Dan, orang yang memiliki kesabaran dalam berdakwah, ia menyadari bahwasanya dakwah memiliki tantangan-tantangan yang luar biasa beratnya, oleh karena itu banyak yang kendur dan akhirnya berpisah “say good bye to dakwah” tapi ia bersabar dengan itu semua karena ia tahu janji Allah dan Allah tidak akan mengingkari janji-Nya.

Semoga Allah senantiasa memberikan kebermanfaatan waktu yang bisa kita gunakan untuk meningkatkan keimanan kita, melakukan amal shaleh tanpa kenal lelah, memberikan manfaat kepada orang lain, dan bersabar dari setiap tantangan-tantangan dakwah yang ada. Sehingga setiap detik, helaan nafas, denyut nadi, aliran darah, dan langkah kaki kita menjadikan kita termasuk golongan orang yang beruntung. Amin ya Rabb..

Tidak hanya itu, usia kita pun insya Allah akan menjadi sangat berarti, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw,

“sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umurnya dan jelek amalannya.”(HR. Ahmad)

Jakarta, 01 juni 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Cek Motivasi Dulu Yuks…

Cek Motivasi Dulu Yuks…


Sebenarnya tema materi seperti ini sudah sering aku tuliskan, tapi ga pa pa lah, semoga semakin banyak semakin banyak juga yang diambil faedahnya. Dan juga mampu mengingatkan kembali dan meluruskan kembali motivasi berbuat yang terkadang nyeleneh dari kewarasannya….

Let’s start…

Cerita dibawah ini mungkin sering kita dengar dan mungkin juga sering kita baca dan bahkan dituliskan untuk dibagi kepada ikhwah/saudara yang lain…

Ceritenye begene….:::

Seseorang datang kepada Nabi. Seorang badui dari dusun. Ia menghadap Rasulullah, lalu beriman kepada beliau, berhijrah, berjihad dan mengikuti berbagai aktivitas bersama Rasulullah. Setelah perang Khaibar, terjadi pembagian ghanimah atau harta rampasan perang, dia pun mendapat bagian. “Apa-apaan ini?”tanyanya. “Ini bagianmu dari Nabi, “ jawab para sahabat. “Bukan untuk ini aku mengikutimu,” ia menyatakan komitmennya kepada Nabi. “ Aku mengikutimu agar dipanah disini (sambil menunjukkan  bagian tenggorokannya) sehingga aku mati dan masuk syurga.” Rasulullah bersabda, “ Kalau engkau benar-benar jujur kepada Allah, Dia akan benar-benar mewujudkan maksudmu.

Tak selah berapa lama ia kembali berjihad. Tiba-tiba orang dusun tadi telah diusung dan dibawa menghadap Rasulullah. Dia terkena panah pada leher yang telah ditunjukkanya tadi kepada Nabi. “Inikah orang tadi?” “Benar,” Jawab para sahabat. “Dia sungguh telah berjihad dijalan Allah, maka Allah pun sungguh-sungguh mewujudkan  apa yang diinginkannya,” kata Nabi. Nabi pun mengafaninya dengan jubah beliau, mendekati dan menshalatkan jenazahnya. Rasulullah berdo’a untuknya, “ Ya Allah, inilah hamba-Mu yang keluar untuk berjihad, telah mati syahid. Aku menjadi saksi baginya.”

Sungguh luar biasa niat itu, apalagi kalau niat itu didasari atas keikhlasan dan kesucian karena Allah, serta ‘iradah yang kuat dalam mengimplementasikannya menjadi sebuah keniscayaan dalam artian kesunguh-sungguhan. Maka apa yang diniatkan akan menjadi realita dan bukan sebuah utopia belaka, yang terkadang hanya menggayut dibenak sahaja, dan Alhamdulillah menjadi kenyataan. , “ Kalau engkau benar-benar jujur kepada Allah, Dia akan benar-benar mewujudkan maksudmu.” Sabda Rasulullah.

Begitu halus iblis mewarnai hati kita dengan pekatnya dosa dihati kita, sungguh halus, dan terkadang tanpa disadari oleh kita, iblis memfatamorganakan ujub menjadi eksistensi diri. Dan kita sering terjebak dalam hal ini. Begitu pula dengan hal ijtihad (pembaharuan) terkadang kita terlena dengan kemudahan. Atas dasar ijtihad katanya, padahal ilmu kearah disana pun tak ada. Sungguh terjebak dan halus kita dimainkan oleh iblis. Astaghfirullah…

Begitu pula dalam berdakwah, menjadi da’I, dan menjadi Murabbi… iblis akan semalam suntuk mencari cara bagemane caranya nih aktivis dakwah tersungkur daya juangnya, kebersihan niatnya.. mulailah si iblis masuk ke lingkup koordinasi antara ikhwan dan akhwat… menyelusupkan didalam hati kedua ikhwah ini rasa simpati dan empati..

Si ikhwan: “Ukh, jangan lupa besok kita syuro’, jangan lupa qiyamul lail ya… biar syuro’ kita dimudahkan..”

Eh.. si akhwat dibisiki si iblis utk membalas sms si ikhwan, si akhwat terpengaruh, mungkin karena jarang tilawah kali si akhwat ini…

Si akhwat: “Ya akh.. syukran dah dingetkan, akhi juga ya… shalat subuhnya berjama’ah di masjid ya…!”

Karena merasa diperhatiin oleh si akhwat, si ikhwan berbunga-bunga nih hatinya, mulai deh.. menduga-duga. Jangan-jangan si akhwat s*ka lagi dengan ana…. Dan akhirnya saudara-saudara si ikhwan mengirimkan sms “nakal” ke si akhwat

Si ikhwan: O.. ya ukh, Nantikan ana dibatas waktu.. eits.. salah nantikan ana dibelakang hijab besok…he..he… ^_^v”

Dan dibelahan bumi lainnya, si akhwat hanya tersungging-sungging tersenyum, hatinya ikut berbunga-bunga, fikiran jauh melayang membayangkan hal yang nggak-nggak dengan si ikhwan. Padahal seharusnya jam segitu dah jadwalnya halaqah… alhasil si akhwat terlambat 1 jam datang halaqah karena sibuk membayangkan dan tertidur lalu kebawa kemimpi. Segitunya ..

Wah..wah.. kedubrak ,,, sok pengertian banget nih si ikhwan dan si akhwat.. dah kayak apa aja.. dah itu pake acara nantikan ku dibatas waktu lagi… duh—duh–duh

Lagi-lagi atas nama koordinasi, interaksi kurang dijaga… sungguh banyak cerita-cerita yang kek beginian, chatingan, sms-smsan ngasih tausiyah, telepon-teleponan, dan banyak lagi cara si iblis menusuk secara halus dihati para juru dakwah.. dan tahukah kita, si iblis tertawa melihat si korbannya…

Si iblis: “Ha..ha..ha… senengnye aku… bisa menggelincirkan juru dakwah. wah kayaknya bulan ini aku bakal dapat bonus nih dari bos…”

Semoga kita terlindungi.. a ‘uzubillahi minasyaithanirrajim- Aku berlindung pada-Mu ya Allah dari syetan yang terkutuk…

Rasulullah Saw bersabda:

“ Sesungguhnya diterimanya amal itu tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya.” (H.R. Bukhari-Muslim)

Selayaknya bagi kita yang motivasi/niatnya dalam berdakwah khususnya harus senantiasa mengeceknya, jangan-jangan ada yang salah, ada yang bengkok, ada yang mewarnai hitam diputihnya niat itu, coba cek-cek lagi, perbaiki niat ditiap periode waktu hidup. Agar niat tak terhiasi motivasi yang penuh ujub diri…

“Ya Allah kumohon pada-Mu agar diberikan kelurusan niat dalam beramal, keteguhan dalam mengenggam kelurusan niat itu hingga syahid menjemput kami…”

Seperti biasa ingin memberikan nasyid diakhir tulisan, kali ini mencuplik akhir lirik nasyidnya Ar-Royan dengan judul ayo menikah.. (nih lagi saya putar di laptop saya…he..3x ketika tulisan ini dibuat )

Jalan hidup tergantung niatmu

Bila kau yakin kau akan mampu

Ingat lah Allah selalu menyertaimu

Jakarta, 19 April 2010

Aldo Al Fakhr

MM SKI IT Telkom 2010

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Hati-hatilah dengan Titik Lemahmu

Hati-hati dengan Titik Lemahmu

Ada apa ya? Kok hati-hati?

Tenang-tenang, kita akan menyaksikan tuturan kata-kata dari Syaikhut Tarbiyah Ust Rahmad Abdullah Rahimullah dalam bukunya “Episode Cinta sang Murabbi”

“Allah ta’ala akan senantiasa menguji antum pada titik terlemah antum. Orang yang lemah dalam masalah uang, namun kuat dalam masalah jabatan dan wanita, tidak diuji dengan wanita dan jabatan. Orang yang senantiasa mudah tersinggung dan pemarah, maka akan diuji oleh Allah dengan dipertemukan dengan orang-orang yang senantiasa membuatnya tersinggung dan marah. Sampai ia berhasil memperbaiki kelemahannya itu dan tidak lagi mudah tersinggung dan marah. Seseorang yang senantiasa berlambat-lambat dalam dakwah karena alasan istri, mertua, tamu akan senantiasa dihadapkan dengan alasan-alasan itu, mertua datang, tamu datang silih berganti, yang akan terus menundanya untuk segera menghadiri liqo’at (pertemuan) dakwah, sampai ia bisa mengutamakan agenda dakwah.”

Sungguh luar biasa. Kita acap kali diuji dengan itu-itu aja dan tak pernah lulus dalam ujian itu. Dakwah  ini seperti kuliah atau sekolah, ada semesteran, ada ujian, ada yang cumlaud, ada yang ngulang, bahkan ada yang drop out. Jikalau saja kita belum lulus dengan ujian keluarga seperti yang diceritakan oleh ustadz Rahmad diatas maka ia tidak akan bisa menghadiri liqo’at dakwah dan tarbawi. Pasti akan selalu ada saja yang menghalangi. Untuk itulah perlunya managemen yang baik dalam pemecahan masalah. Buat waktu, jam segini aku ngerjain PR, jam segini aku ngadiri liqo’at, jam segini aku baca buku, dan seterusnya. Sehingga kelama-lamaan setiap aktivitas akan  terprogram dengan baik. Perlu diingat bahwa, program yang kita buat tersebut bukanlah seperti penjara yang memenjarakan kita atau dengan kata lain nggak bisa ngerjain selain dari program. Makanya diperlukan prioritas dalam beramal. Mana yang lebih penting, semisal belajar atau tilawah. Prioritaskan yang akhirat dulu yaitu tilawah dulu. Setelah tilawah baru deh belajarnya. Kalau gini yang dilakukan, pelajaran akan masuk karena hati telah tentram dan siap untuk dimasukkan ilmu pengetahuan. Untuk referensi lebih detail pembahasan prioritas, saya merekomendasikan untuk membeli atau minjam buku Fiqh Aulawiyat (Fiqh Prioritas) karyanya Yusuf al Qaradhawi. Insya Allah akan tercerahkan disana.

Seperti itulah. Tak ada kata lain, kita harus melawan ujian tersebut, menghadapinya dengan kemauan yang kuat jangan setengah setengah, harus full potensi, tendang tantangannya jauh-jauh biar nggak balik lagi kedalam kehidupan, dan konsistenlah dengan apa yang sudah kamu hadapi dengan artian setelah kamu berhasil dengan satu ujian, jangan-jangan coba-coba untuk meremehkannya kembali. Karena ia akan datang lagi dan akan senantiasa beradi dikakimu hingga engkau melepaskannya. Harus komitmen. Full komitmen. Insya Allah akan dimudahkan.

Bagi kita yang belum bisa lulus dari salah satu ujian, yuks… selesaikan!!! Jangan di remehkan!!! Oke fren.

Bandung, 13 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Orang Bermental Buih

Orang Bermental Buih

Sungguh sedih ketika umat islam yang jumlahnya seperlima dari penduduk bumi harus dilecehkan dan dihinakan. Banyak tapi tak bergerak percuma dan bergerak namun tak berpengaruh adalah sia-sia. Kondisi ini diperparah dengan kehilangan akan basis identitasnya yaitu islam. Dan dimuka bumi ini ia diamanahkan dalam peran sebagai seorang muslim. Tapi kenapa banyak yang menyadari. Coba kita lihat dalam pementasan drama atau dalam sinetron-sinetron yang sering digemari mereka bahwasanya actor dan aktris yang main disana tahu dan ngerti akan perannya. Bagaimana jadinya apabila si actor atau si aktris tak memahami perannya dalam drama tersebut, yang sebenarnya ia berperan sebagai protagonist namun yang terjadi direalita ia menjadi antagonis. Ini sungguh berbalikan dari tujuan semula dan tentu saja akan mengubah bahkan merusak cerita yang dicita-citakan bersama. Seperti itulah pula seorang muslim. Ia berperan sebagai orang yang mengemban amanah dari Allah untuk menjadi khalifah (pejalan) dimuka bumi ini.

Banyaknya orang islam tidak membawa perubahan apa-apa terhadap dunia beberapa decade belakangan ini. Sebagian besar orang umat ini sibuk dengan urusan mereka masing-masing, malas untuk berkontribusi terhadap islam apalagi ke dakwah. baginya “ah… itu urusan ulama saja, bukan urusanku! Who’s Care!” begitu katanya. Bahkan yang terjadi ia taqlid (buta) dengan budaya nashoro dan yahudi la’natullah ‘alaih. ia seakan-akan seperti golongan mereka. Ia berpakaian seperti mereka, ia berstyle seperti mereka, dan ia berkelakuan seperti mereka, serta jangan-jangan pemikirannya sama dengan mereka.

Rasulullah Saw bersabda;

“Kalian (Muslimin) akan diperebutkan oleh umat-umat lain seperti orang-orang yang siap memakan hidangan yang ada dihadapannya.” Kami (para sahabat) bertanya.” Apakah karena jumlah kita yang sedikit pada saat itu, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak, bahkan jumlah kalian banyak. Namun seperti buih di air bah, sungguh Allah mencabut rasa takut dihati musuh-musumnu dan sungguh Allah akan memasukkan penyakit al wahn dalam hatimu.” Kami bertanya, “ Apa itu al wahn ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “ Cinta dunia dan takut mati.”

Ibarat buih yang tak berguna itulah yang digambarkan oleh Rasul melalui hadistnya. Sungguh aku merasa tergerak untuk kebangkitan izzah kembali. Aku tidak mau islam dicampakkan dalam peradaban dunia. Sungguh ngeri ketika itu terjadi. Aku berharap disetiap hembusan nafasku adalah dakwah, ditiap langkah kakiku adalah dakwah, dan ditiap aktivitas hidupku adalah dakwah. dan ini dilakukan hanyalah untuk mencari ridha Allah dan agar izzah islam kembali dengan ikutnya aku sebagai penyokong bangunan izzah tersebut. Bagaimana dengan kamu?

Sebenarnya kalau kita telaah lagi begitu banyak umat islam yang melakukan shalat, puasa, zakat, dan haji. Dan pada saat musim hajipun bisa kita lihat begitu banyak orang di masjidil haram. Tetapi esensi kita apa?

“umat ini hanya bergembira pada eksistensinya dan tak peduli akan esensi dari keberadaannya” (Aldo Al Fakhr)

Sudah barang tentu kita tidak akan diperhitungkan lagi oleh para musuh-musuh islam. Ya iyalah.. ga ada esensinya atau ga ada taringnya. Gampang untuk dimangsa. Dan benarlah sabda Rasulullah diatas bahwa. Musuh-musuh islam itu tidak lagi takut kepada umat muslim bahkan meremehkan bahkan menghinakan.

Tahukah kita, orang bermental buih yang disebutkan oleh Rasulullah dalam sabdanya diatas adalah muslim yang terjangkit penyakit al wahn, cinta dunia dan takut mati. Dunia menjadi indah dipandangannya, ia tidak mengetahui hakikat keindahan dunia sebenarnya. Padahal keindahan dunia itu hanyalah tetesan celupan tangan di samudera yang luas. Bisa dikatakan 0,00000…..1 persennya dari keindahan dunia. Allahu Akbar. Banyak dari mereka pula yang menuhankan dunia. Hanya mengejar dunia, baginya akhirat hanya sebagai tempat pemberhentian kehidupan untuk selama-lamanya, ia tidak mengetahui hidupnya didunia ini akan dipertanggungjawabkan kepada sang Maha Hidup dan Maha Tahu segala sesuatu.

Nggak usah jauh-jauhlah. Coba aja kita lihat dipasar-pasar, supermarket, taman wisata, dan tempat lainnya. Ketika adzan berkumandang, apa yang mereka lakukan! Dapat ditebak, kebanyakan dari mereka masih sibuk dengan perniagaannya, melobi, menawarkan harga kepada konsumen, melenggak lengggok tak karuan di mall, ngeceng, lihat yang tak semestinya, ngangguin orang, sibuk memilah-milih barang di toko, sibuk dengan canda tawa dengan keluarga di taman wisata, dengan tawa yang terbahak-bahak padahal itu sedang adzan, dan dari kebanyakan orang tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa ia belum mengetahu hakikat dirinya mengapa ia diciptakan dihidupkan didunia ini.

Sungguh luar biasa ketika kita melihat zaman kenabian dulu, jumlah mereka yang minoritas justru menjadi kekuatan yang luar biasa. Tidaklah penting seberapa banyak dan seberapa dikitnya umat islam saat itu dan saat ini, tapi yang terpenting adalah jiwa-jiwa yang tertabiyah itulah yang menjadi penting. Sungguh kekuatan ruhiyah akan mengalahkan kekuatan jasadiah.  Mereka dulu bisa bertahan bahkan berekspansi karena mereka tahu betul hakikat hidupnya, tahu amanah yang sedang diembannya, dan tahu konsekuensi ketika melakukan sesuatu perbuatan, sehingga yang ada adalah optimalisasi amal yang menjadi prioritas bukanlah intensitas.

Oleh karena itu, janganlah menjadi muslim bermental buih yang taqlid tidak melakukan improvisasi. Sungguhlah merugi orang-orang yang demikian.

Azzamkanlah dalam diri dengan pernyataan berikut:

Jikalau ada 1000 orang yang berjihad dijalan Allah, maka saksikanlah salah satunya adalah Aku

Jikalau ada 100 orang yang berjihad dijalan Allah, maka saksikanlah salah satunya adalah Aku

Jikalau ada 10 orang yang berjihad dijalan Allah, maka saksikanlah salah satunya adalah Aku

Jikalau ada 1 orang yang berjihad dijalan Allah, maka saksikanlah itu adalah Aku

Jikalau tak ada lagi orang yang berjihad dijalan Allah, maka saksikanlah bahwasanya aku telah syahid dijalan-Nya.

Sungguh ketika kita berazzam demikian, insya Allah kita bukanlah termasuk orang-orang yang bermental buih.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, ada Taujih Robbani terlebih dahulu

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nur: 36-37)

Wallauhu’alam

Bandung 9 januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Untuk Sebuah Cita-cita

Untuk Sebuah Cita-cita

Cita-cita adalah sebuah pengharapan yang ingin dicapai pada suatu periode waktu tertentu. Banyak sekali yang berujar kata cita-cita tersebut. Sewaktu kita masih kecil pun lebih tepatnya balita, kita sering ditanya oleh bapak, ibu, sanak kerabat, dan para tetangga yang “gemes” dengan tingkah laku kita. “Apa cita-cita mu Nak?” begitulah yang sering ditanyakan. Dan si anak tersebut spontan menjawab apa yang sudah didengar sebelumnya dari orang lain. Jikalau sebelum ditanya orang lain tersebut sudah ada yang memberikan statemen bahwa Nak, kamu harus jadi dokter atau pilot atau pun lainnya. Spontan saja si anak tersebut berujar demikian, “A..ku i..ngin me…njadi doktelll” dengan senangnya ia mengucapkannya. Sesungguhnya ia belum mengetahui apa itu profesi dokter dengan sebenarnya.

Beda dengan kita yang sudah dewasa hari ini, kita bukan anak kecil lagi yang dengan sekonyong-konyongya menyebutkan cita-citanya tanpa landasan. Kita harus bisa reaktif terhadap diri sendiri, kita harus bisa mengetahui potensi kita apa tentu saja dengan mengukur potensi tersebut. Tak dapat dipungkiri memang terkadang, cita-cita yang diujarkan jauh banget dari realita atau kata kasarnya “ tidak realistis”. Disinilah peran kita sebagai pribadi yang tentunya mengenal profil pribadi kita sendiri bisa memetakan potensi diri jangan sampai megaloman yang terjadi (apa itu megaloman, baca tulisan saya yang berjudul Megalomania, ada di blog ini juga, cari ya… biar makin mantep)

Untuk sebuah cita-cita yang telah diujarkan atau diazzamkan dalam diri, maka harus ada pencapaian yang harus dibuat, perharinya apa, perminggunya apa, permbulannya apa, dan selanjutnya. Setelah itu, buat catatan kenapa target ini harus hari ini, bulan ini, tahun ini. Jikalau dibuat seperti itu insya Allah cita-cita yang diharapkan cukan suatu hal yang sia-sia untuk diimpikan melainkan akan menjadi suatu keniscayaan, dan ketika telah mencapai bahkan melampaui target tersebut ucapkan rasa syukur yang mendalam kepada sang pemberi Kemudahan. Berhasil atau tidaknya kembalikan kepada Allah

Faidza azzamta, fatawakkal ‘allallah

Ketika kita sudah berazam maka bertawakallah kepada Allah. Itu merupakan cara pengabdian dan penyerahan diri kita kepada Allah.

Ngomong-ngomong masalah cita-cita, Alhamdulillah saya sudah memiliki cita-cita dan insya Allah realistis, saya ingin memiliki suatu perusahaan dan saya sebagai direkturnya, dan Alhamdulillah juga sudah dirumuskan targetan dan cara mendapatkan target tersebut. Do’akan ya fren! Aku bisa merealisasikannya menjadi kenyataan.

Optimis dan percaya diri itu perlu dalam pencapaian cita-cita. Karena dengan optimis maka segala tantangan akan mudah tuk hadapi, tidak terbesit pun dalam fikiran untuk mundur dari perang melawan tantangan tersebut.

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang ‘leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.” (QS. Muhammad: 4)

“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (Al-Anfal: 16)

Oleh karena itu, jangan pernah mundur untuk menghadapi rintangan, hadapai dan tendang.

Ujarkan dalam diri, “Innallah Ma’anna” Allah bersamaku.

Wallahu’alam

Bandung, 10 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Masalah itu Banyak Manfaatnya…

coba-coba lagi.. niruin cara nulis motivator..

belajar terus…


Masalah itu Banyak Manfaatnya…

Sobat punya masalah? Sama dengan saya. Saya juga punya masalah, begitu juga dengan bermilyar-milyar manusia di muka bumi ini. Masalah adalah bagian dari hidup seorang manusia tidak ada manusia yang memiliki masalah, sewaktu kita dilahirkan dibumi ini, kita sudah punya masalah, yaitu tidak bisa berbicara, berjalan, menulis, dan lain-lain. Kalau mau ngga’ ada masalah makanya kudu masuk surga. Beramal yang baik-baik dimuka bumi ‘ni.

Dalam sebuah buku yang berjudul Cracking The Millionaire Code, karangan Mark Victor Hansen (penulis Chicken Soup for the Shoul), dan Robert G. Allen (penulis Creating Wealth) dikatakan bahwa masalah Anda bernilai jutaan. Wow… fantastic bukan! Masalah itu bernilai jutaan, berarti masalah punya manfaat yang luar biasa terhadap diri kita. Jadi semakin banyak Sobat punya masalah maka semakin kaya saja Sobat. Tentu saja kekayaan ini akan mampu Sobat raih, jika mampu mengoptimalkannya.

Apa saja manfaat yang Sobat dapatkan ketika mempunyai masalah:

Sebagai penghapus dosa

Wow… ngga’ salah tuh! Kok bisa masalah bisa menghapus dosa.

Adanya masalah yang Sobat rasakan selama ini mungkin adanya langkah yang bengkok dalam berjalan di dunia ini. Maksudnya kita selalu berbuat salah ditiap periode waktu hidup kita. “ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baikmu, maka akan menghapuskannya” begitulah pesan dari Nabi Muhammad SAW kepada kita. Luar biasa… ketika kita mempunyai masalah akan selalunya kita berbuat salah dalam hidup ini, berarti kita punya masalah dan teruslah berbuat baik agar menghapuskan perbuatan buruk kita.

Jadi lebih dewasa

Dengan masalah akan membuat kita menjadi lebih dewasa. Maksud dari kata dewasa dalam konteks ini adalah bukan dari segi umur dan dari segi tinggi badan namun, dewasa dalam bersikap, dewasa dalam mengambil keputusan, dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bergaul atau berinteraksi, dewasa dalam berbisnis, dewasa dalam menulis, dewasa dalam hal apapun. Kenapa kita bisa jadi lebih dewasa? Jawabannya adalah kita dituntut untuk tidak terjerumus lagi ke lubang sebelumnya sehingga kita pun seharusnya mengambil tindakan untuk tidak terjerumus kembali. Sangat ironis banget, ketika seseorang jatuh di lubang yang sama dikedua kalinya bahkan berkali-kalinya.

Masalah itu nikmat

Masalah itu seperti garam bagi sayur, pupuk bagi tanaman, kecap bagi nasi goreng, keyboard dan monitor bagi computer. Artinya kehidupan pun tidak akan lengkap dan nikmat jikalau ngga’ ada masalah, karena kita merasa tertantang untuk menghadapinya, kalau kita berhasil mengalahkan tantangan itu, maka suatu kenikmatan bagi seseorang tersebut. Sebagai contoh seorang penerjun yang begitu menikmati ketika berhasil turun dan tepat digaris yang ditentukan, seperti penantang maut seperti pesulap Chris Angel yang begitu menikmati ketika ia berhasil keluar dari bahaya permainan sulapnya. Itulah masalah begitu nikmat ketika berhasil dihadapi. Oleh karena itu, setiap ada tantangan ada tiga cara untuk mengalahkannya yaitu: HADAPI, HADAPI, dan HADAPI. Insya Allah kenikmatan telah menanti didepanmu wahai para pejuang.

Bertambahnya ilmu

Masalah juga akan mendatangkan bertambahnya ilmu kita. Kok bisa? Bisa donk.. karena masalah yang kita hadapi terkadang butuh ilmu untuk mengatasinya, sehingga kita pun harus mencari referensi untuk menghadapinya seperti buku-buku, artikel-artikel, ceramah-ceramah, nasehat dari teman, dan lain-lain. Dan pasti, kita pun akan mendapatkan ilmu baru dari referensi tersebut. Misal Sobat mempunyai masalah akan bagaimana cara memulai bisnis, maka carilah referensi yang berkaitan dengan masalah bagaimana cara memulai bisnis, coba Sobat search di mbah google, ketikkan “bagaimana cara memulai bisnis” dan disana akan tersedia ilmu-ilmu untuk dimasuki kedalam otak Sobat. Atau pergi ke toko buku terdekat dan cari buku yang bertemakan bagaimana cara memulai bisnis. Atau juga ikuti seminar-seminar entrepreneurship yang kian hari kian menjamur diseluruh Indonesia, ikuti dan pelajari. Seperti itulah… sehingga ilmu kita akan bertambah disebabkan adanya masalah yang kita hadapi.

Dapat duit

Loh.. kok bisa dapat duit? Maksudnya masalah itu akan mendatangkan keuntungan materi berupa duit, jika kita bisa memanfaatkannya, seperti halnya seorang penulis best sellerThe Way to Win” yaitu Solikhin Abu Izuddin yang juga penulis buku best sellerZero to Hero” . ia membuat buku “The Way to Win” karena ia melihat mengapa para peserta seminar motivasi yang hanya termotivasi ketika seminar itu saja. Bisa dilihat bahwa masalah bisa membawa keuntungan secara materi kepada kita, kalau kita pintar dan cerdas memanfaatkannya.

Sebenarnya banyak manfaat dari masalah. Tergantung bagaimana kita memposisikan masalah tersebut ke manfaat.

Bandung, 19 Des 09

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Bahagia dengan Masalah

Ah.. mau coba cara nulisnya motivator ah…

jangan diketawain kalau garing.. namanya juga lagi belajar

so.. please read it below

Bahagia dengan Masalah

Membaca judul di atas mungkin Sobat bertanya-tanya, apa tidak salah tulis? Sobat mungkin berkata: “Bukankah akan bahagia kalau kita sama sekali tidak punya masalah?” Kalau demikian, Sobat salah besar! Di mana ada kehidupan, di situ pasti ada permasalahan. Namun, tahukah Sobat bahwa di balik setiap masalah terkandung suatu peluang emas dan kesempatan yang besar untuk maju?

Bahagia dengan masalah bukanlah seperti dokter yang bahagia ketika banyak pasien yang sakit menuju berobat kepadanya, bukanlah seperti penggali kubur yang kebagian rejeki yang banyak ketika banyak manusia yang meninggal, bukanlah seperti konsultan yang bahagia ketika banyak orang yang mengalami permasalahan, dan bukanlah seperti pabrik obat maag yang bahagia ketika banyak manusia yang menderita maag, bukanlah seperti itu Sobat. Namun, bahagia dengan masalah itu adalah ketika kita berani bersyukur akan masalah tersebut dan sebagai ajang peningkatan derajat ketaqwaan. Bukankah seseorang yang tidak sekolah namun ia mendapatkan ijazah, orang yang tidak tahu diri. Seperti itulah gambarannya.

Ada kata-kata bijak dari Norman V.  Peale yang patut Sobat renungkan. Dalam bukunya You Can if You Think You Can, ia mengatakan, “Apabila Tuhan ingin menghadiahkan sesuatu yang berharga, bagaimanakah Ia memberikannya kepada Anda? Apakah Ia menyampaikan dalam bentuk suatu kiriman yang indah dalam nampan perak? Tidak! Sebaliknya Tuhan membungkusnya dalam suatu masalah yang pelik, lalu melihat dari jauh apakah Anda sanggup membuka bungkusan yang ruwet itu dan menemukan isinya yang sangat berharga, bagaikan sebutir mutiara yang mahal harganya tersembunyi dalam kulit kerang.”

Pernyatan di atas bukan sekedar kata-kata indah untuk menghibur Sobat yang sedang kalut menghadapi suatu masalah. Ini adalah perubahan paradigma berpikir. Keadaan apapun yang kita hadapi sebenarnya bersifat netral. Kitalah yang memberikan label positif atau negatif terhadapnya. Seperti yang dikatakan filsuf Cina, I Ching,”Peristiwanya sendiri tidak penting, tapi respons terhadap peristiwa itu adalah segala-galanya”.

Berikut ini contoh sederhana. “Sebagai seorang fasilitator yang memberikan pelatihan di berbagai perusahaan, saya pernah menghadapi penolakan dari klien semata-mata karena usia saya yang dianggap terlalu muda. Saya pernah menganggap ini masalah besar.Bagaimana tidak? Ini menyangkut kredibilitas saya. Saya kemudian memikirkannya berhari-hari. Kepercayaan diri saya mulai terganggu.

Lama-lama saya sadar bahwa penolakan semacam ini adalah hal biasa. Justru ini kesempatan untuk berkembang. Karena itu, saya segera menggali kebutuhan klien dan mencari pendekatan yang lebih dapat diterima. Saya terus meningkatkan kompetensi, sampai akhirnya saya dapat diterima oleh perusahaan tersebut. Kalau demikian, penolakan awal itu sama sekali bukan sebuah masalah, tetapi sebuah peluang yang sangat berharga.”

Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh. Sayang, lebih banyak orang yang menganggap masalah sebagai sesuatu yang harus dihindari. Mereka ngga’ mampu melihat betapa mahalnya mutiara yang terkandung dalam setiap masalah. Ibarat mendaki gunung, ada orang yang bertipe Quitters. Mereka mundur teratur dan menolak kesempatan yang diberikan gunung.

Ada orang yang bertipe Campers, yang mendaki sampai ketinggian tertentu kemudian mengakhiri pendakiannya dan mencari tempat yang datar dan nyaman untuk berkemah. Mereka hanya mencapai sedikit kesuksesan tapi sudah merasa puas dengan hal itu.

Tipe ketiga adalah Climbers, yaitu orang yang seumur hidupnya melakukan pendakian dan tidak pernah membiarkan apapun menghalangi pendakiannya. Orang seperti ini senantiasa melihat hidup ini sebagai ujian dan tantangan. Ia dapat mencapai puncak gunung karena memiliki mentalitas yang jauh lebih tinggi, mengalahkan tingginya gunung. Orang dengan tipe ini benar-benar meyakini apa yang dikatakan Dag Hammarskjold, “Jangan pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum Anda mencapai puncaknya. Karena begitu ada di puncak, Anda akan melihat betapa rendahnya gunung itu.”

Dan seperti yang dikatakan oleh Hasan Al Banna, “ Jika jiwa itu besar, maka raga akan lelah mengikutinya.”

Semua masalah sebenarnya adalah rahmat terselubung bagi kita. Mereka “berjasa” karena dapat membuat kita lebih baik, lebih arif, lebih bijaksana dan lebih sabar. Sobat baru dapat disebut mas’ul (ketua) yang baik kalau Sobat mampu memimpin seorang bawahan atau staf yang sulit diatur. Sobat baru menjadi orang tua yang baik kalau Sobat dapat menangani anak yang bermasalah, ataupun menantu yang keras kepala, yang melakukan sesuatu melebihi batas kesabaran Sobat. Sobat baru disebut profesional kalau Sobat mampu menangani kecerewetan para pelanggan ditoko sobat.

Untuk mencapai kesuksesan, Sobat perlu memiliki adversity quotient, yaitu kecerdasan dan daya tahan yang tinggi untuk menghapi masalah. Kecerdasan tersebut dimulai dari mengubah pola pikir dan paradigma Sobat sendiri. Mulailah melihat semua masalah yang Sobat hadapi sebagai peluang, kesempatan dan rahmat. Sobat akan merasa tertantang, namun tetap mampu menjalani hidup dengan tenang dan damai.

Berbahagialah jika Sobat memiliki masalah. Itu artinya Sobat sedang hidup dan berkembang. Justru bila Sobat ngga’ punya masalah sama sekali, saya sarankan Sobat berdoa, “Ya Allah. Apakah Engkau tak percaya lagi padaku, sehingga tidak mempercayakan satu pun kesulitan hidup untuk saya atasi?” Dengan berdoa demikian Sobat tak perlu khawatir. Allah amat mengetahui kemampuan kita masing-masing. Ia tak akan pernah memberikan suatu beban yang kita tak sanggup memikulnya. (Arvan Pradiansyah, Republika).

“ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya “ (Q.S. Al-Baqarah:286)

Berbahagialah jika kita memiliki masalah. Itu artinya kita sedang hidup, tumbuh dan berkembang. Seperti pohon yang semakin tinggi menjulang semakin besar tiupan angin yang menggoyang, memaksa untuk tumbang. Ketika kita tidak mempunyai masalah, jangan-jangan Allah tidak mempercayai kita untuk memecahkannya.

Masalah merupakan lahan untuk meningkatkan kesyukuran. Karena masalah justru akan mendewasakan kita, mematangkan jiwa. Masalah merupakan peluang utnuk menang, kesempatan untuk lebih kuat dan rahmat untuk meraih bahagia dunia akherat.

“ Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. “ (Q.S. Al-Baqarah:45)

Bandung, 19 Des 09

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Megalomanania

Megalomanania

Seharusnya sebagai seorang manusia kita diwajibkan untuk mengenal diri kita sendiri, sungguh jikalau kita mengenal diri sendiri maka kita pun akan mengenal siapa Tuhan kita.

Mengetahui kadar diri atau potensi diri dan kelemahan diri merupakan sebuah keharusan supaya bisa memetakan arah tujuan dan karir. Tujuannya biar tak salah langkah dalam melangkah, tak salah fikir dalam berfikir, tak salah kata dalam berkata, dan lain-lain. Karena setiap manusia tidaklah bisa menjadi segala hal, ia pastilah mempunyai spesialisasi pada bidang tertentu, permasalahannya adalah kebanyakan orang malas untuk mencari kadar diri atau spesialisasinya. Mereka yang hebat dalam karya-karya ilmiahnya dalam medan ilmu pengetahuan belum tentu bahkan tidak mungkin hebat dalam berperang di medan perperangan. Disinilah perlunya suatu keobjektifitan dalam menilai, tidak bisa dibesar-besarkan dan tikurang-kurangkan, kedua-duanya punya resiko dan jebakannya masing-masing.

Sikap membesar-besarkan diri dan merasa besar merupakan hal yang tidak baik, karena akan menyebabkan diri sombong, angkuh, merasa paling benar dan hebat, dan memandang karya-karya orang lain tidak setara bahkan lebih dari karyanya. Menurutnya “nih… karya saya yang paling baik dan monumental”.

“Suatu saat ketika kamu merebut kemenangan demi kemenangan, kekuasaan yang semakin bertumpuk. Musuh sudah kau taklukkan semua. Tak ada lagi yang berani melawan. Semua orang mulai tunduk padamu. Disekililingmu hanya ada para pemuja. Musuhmu menyelinap kedalam bentengmu. Kedalam dirimu sendiri. Halus. Sampai kau bahkan tak mengenalnya. Kau sudah mulai merasa benar.

Itulah awalnya. Kamu mulai merasa benar. Kamu sebenarnya layak merasa begitu. Sebab kemenangan-kemenanganmu. Pengakuan mush-mushmu. Kekaguman sahabat-sahabatmu. Kekuasaanmu yang terbentang luas. Kamu memang hebat. Dan besar. Itu fakta. Tapi itulah jebakannya .merasa besar itu.” (Anis Matta)

Seperti contihnya fir’aun yang merasa besar dan mengaku dan mengatakan kepada penduduknya bahwa aku adalah Tuhan. Sungguh ironis orang yang seperti itu. Tidak mengenal hakikat diri.

Disinilah dibuthkannya seni dalam menilai diri sendiri.

Menilai diri sendiri adalah sebuah seni diantara seni-seni jiwa yang lain, seni yang sangat sensitive akan keadaan dan pergolakan jiwa, mengapa? Karena seni ini membutuhkan reflektifitasi dan refleksisasi dari keadaan jiwa, maksudnya ketenangan jiwa. Sebab disinilah momentum atau jalan untuk menentukan kadar diri dan dimanakah jalan yang akan dilalui setelah ini.

Bagaimana memulainya?

Yang pertama yang harus dilakukan adalah dengan menenangkan pikiran dan jiwa dari amburadulnya kondisi diluar dan keramaian aktifitas. Setelah jiwa merasa aman dan tentram barulah lakukan pengamatan yang mendalam terhadap peta diri dan kadar diri, berikan statemen yang jujur dan kemukakan alas an –alsannya mengapa saya mempunyai kelebihan ini dan mengapa saya mempunyai kekurangan ini. Sudah….! Kalau sudah, temukan letak potensi yang ingin kita perdalami, semisal ingin jadi dokter, maka pabila kita sudah jujur ditahap awal bahwa aku mempunyai potensi menghafal dengan alsasn nilai biologiku disekolah selalu diatas rata-rata, nilai kimiaku jg begitu, aku sangat tertarik akan bidang itu, dukungan dari keluargaku dan lingkunganku. Atau ingin jadi penulis, maka mahar untuk  menjadi penulis apakah sudah terpenuhi, apakah suka membaca, dan menuliskannya , katakan dengan sejujurnya pada diri sendiri, kemukakan alasannya, aku setiap bulan menghabiskan 3-4 buku untuk dibaca, tiap bulan aku menulis 5-8 artikel, tiap hari aku menulis di diaryku, dan lain-lain sehingga statemen ingin menjadi penulis menjadi kuat dan tak tergantikan….

Sperti itulah… dan langkah selanjutnya adalah menentukan secara objektif karya dan perbuatan kita. Ini adalah langkah yang cukup sulit untuk dilalui seseorang yang memetakan dirinya. Setelah ia menjadi dokter, ia harus menilai apakah perbuatan-perbuatanya atau tindak tanduknya sebagai dokter sudah terbilang professional ketimbang teman-temannya yang lain ataukh bagaimana. Dan setelah ia jadi seorang penulis dan telah mencipkan karya tulisan berupa buku, ia harus menilai apakah karya tulisnya sudah layak menjadi best seller ataupun lainnya. Intinya adalah sikap kejujuran dan keadilan pada diri sendiri.

Jangan sampai seperti Khalid bin Walid yang dipecat oleh Umar karena ia membayar 1000 dirham kepada seorang penyair yang membesar-besarkannya karena kehebatannya dalam beperang dan bijaksananya ia sebagai seorang gubernur Qinnasirin.

Menjaga obejektifitas diatas megaloman adalah pekerjaan yang tidak main-main.

 

 

Bandung, 29 Oktober 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Masalah Itu… Tantangan buat Gue….

masalah
Setiap manusia yang hidup didunia ini pasti pernah menghadapi hal buruk yang menimpa dirinya, ngga’ menutup kemungkinan kamuyang sedang baca Tulisan ini dan tentunya Saya yang nulis nih Tulisan. Betul kan? Hal buruk sebenarnya adalah katalisator perubahan dalam hidup kita. Baik, buruk, berbeda, dan selalu ada rintangan yang menghambat laju kehidupan kita. Entah mengapa ya… setiap ada yang berkata “Saya lagi ada masalah nih…!” mereka hampir selalu mengacu ke peristiwa yang sulit dalam hidup mereka.  Hati tidak tenang, gundah gulana, khawatir, ngga’ enjoy, diselimuti perasaan takut, dan lain sebagainya. Kejadian  seperti kehilangan pekerjaan, kehilangan benda, perceraian, hubungan dengan sahabat yang memburuk, ngga’ enjoy dengan pilihan kuliahnya, dengan karirnya, merasa tidak berharga, dan banyak lagi macam masalahnya. Ingat bro.. itu semua tantangan buat kita. Kita ngga’ akan berubah kalau ngga’ ada tantangan. Kita hanya akan stagnan dikondisi dan diposisi tertentu yang lazimnya biasa-biasa aja. Sesungguhnya, tantangan itu seperti pintu. Pintu menarik perhatian kita untuk dibuka, dan kita harus memiliki kuncinya yang pas dan cocok. Pintu itu adalah tantangannya dan kuncinya adalah bagaimana kita menghadapi tantangan tersebut dengan pas dan cocok dengan permasalahannya.

Kalimat “ ada masalah!” biasanya digunakan saat kejadian buruk terjadi. Hal buruk bisa menghalangi, memperlamban, bahkan menghentikan usaha kita dalam meraih tujuan. Namun perlu digaris bawahi bahwa masalah adalah pupuk penyubur kehidupan. Jadi hadapi dan tantang masalah itu. “ woi masalah… gue tantang lu! Kalau berani kesini!”

Ada suatu ilustrasi sederhana tentang kehidupan. Salah satu alat permainan yang menyenangkan sewaktu kita kecil yang biasanya ada di taman bermain mungkin adalah putar dorong. Bentuknya seperti piring datar besar yang melingkat dengan pegangan yang memanjang dari bagian tengah. Permainan ini harus didorong oleh semua anak agar berputar; setelah itu, si anak-anak melompat keatasnya sampai permainan ini berhenti berputar. Begitu permainan ini berhenti maka si anak-anak mendorongnya lagi dan melompat naik keatasnya lagi. Permainan ini sangat menyenangkan , tetapi jika terjatuh selagi permainan ini berputar. Yo wiss, si anak yang terjatuh harus menunggu permainan itu berhenti, tidak ada kesempatan untuk menghentikan sementara permainan itu untuk membersihkan pasir di pakaian anak yang terjatuh tersebut, permainan harus sampai selesai. Intinya jika ada yang terjatuh, tunggu kesempatan berikutnya. Itulah tantangannya!

Begitulah kehidupan yang sebenarnya, seperti permainan putar dorong tersebut. Kehidupan tidak akan berhenti karena kita mengalami masalah. Kehidupan tidak mengenal masalah Cuy. Walaupun kita sakit, gagal masuk universitas idola, ngga’ dapat pekerjaan, kehilangan benda yang dicintai, dan lain-lain. Ingat hidup tak kenal siaran tunda. So, jika ada masalah katakan: “Masalah Itu… Tantangan buat Gue….”

Bandung, 27 Oktober 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Sumber Gambar