Cerpen – Surat Amanah Untukmu, Adikku!

cerpen ini adalah cerpen kedua saya, yang pernah saya buat, dibuat sekitar tahun 2006, cerpen yang pertama nggak tau kemana perginya.

naskah nih cerpen ini pun nggak sengaja ketemu, waktu ngubek-ngubek sertifikat-sertifikat, eh..ternyata ada keselip nih cerpen. senangnya.  ^_____________^

Cerpen – Surat Amanah Untukmu, Adikku!


Aku adalah seorang anak yang terlahir dari latar belakang keluarga yang kurang dari berkecukupan. Semenjak kecil aku telah ditinggalkan oleh ayahku, karena meninggal tertimpa reruntuhan bangunan ditempat kerjanya. Dan semenjak kecil pula, aku telah mendapatkan beban yang berat dalam menjalani kehidupan, karena setelah sepulangnya dari sekolah aku harus berjualan koran dan mengamen di kereta-kereta, di bus-bus kota, di perempatan lampu merah, dan di warung-warung pinggir jalan bersama dengan teman sebayaku.

Aku mempunyai seorang adik yang sangat lucu dan polos, karena ia baru berumur sepuluh tahun. Ia sangat ingin menjadi seorang penyanyi terkenal yang bisa mengubah hidupnya dan keluarganya. Ia sangat senang jika diputarkan  lagu-lagu yang disukainya, jika tidak diputarkan pada hari itu maka ia akan merusak isi rumah. Mengamuk. Aku tidak ingin, ia merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan, yang mana harus memikul beratnya beban kehidupan. Baca lebih lanjut

Iklan

Amplop Merah Maroon

sebenarnya nih cerpen dah lama, rencananya waktu itu mau diikutin lomba cerpen, karena sesuatu hal nggak jadi deh dikirim 🙂

Amplop Merah Maroon

By: InsanKeadilan

Pemuda itu tampak murung dan kecewa -mengerenyitkan dahi- pendapatnya terus ditentang habis-habisan, ia sama kerasnya, tak mau kalah, selalu memberikan argument-argumen yang mematikan, namun perdebatan tiba-tiba itu terhenti, ketika pemuda itu tertegun, seseorang lawan diskusinya mulai sesegukan, suara yang tak ingin didengarnya, suara yang membuat hatinya terenyuh kesakitan pula, suara yang membuatnya seperti orang bersalah. Suara itu lama-kelamaan semakin merendah sembari menjauhkan ganggang telpon sekitar beberapa centi saja, seperti ingin menyembunyikan tangisannya dihadapan pemuda itu, perlahan-lahan air mata itu keluar, pemuda itu dapat merasakannya walau jarak mereka sangat jauh, ribuan kilometer. Tak terasa air mata pemuda itu pun mengalir jua, ia juga tak tahan melihat seseorang wanita menangis, yah..lawan diskusinya itu adalah seorang wanita, dan terlebih lagi wanita itu adalah orang yang melahirkan diri pemuda itu dengan penuh kasih sayang dan cinta, tanpa pernah merasa mengeluh dan meminta balasan kepada pemuda itu. Keduanya hanya diam mematung, mulut mereka terpaku untuk melanjutkan berbicara, keduanya sama-sama  tak tahu harus berbuat apa, si pemuda itu pun tak berani untuk sekedar menanyakan seperti “ibu kok nangis?” kata-kata itu hanya terbesit dan tersimpan dalam hatinya.

*** Baca lebih lanjut

Merantau adalah cita-citaku

Ini adalah cerpen lamaku yang tersimpan di hardisk…

simak ya…

Merantau adalah cita-citaku

Jum’at, 8 Juni

Hatiku sangat gundah, risau, lasak, dan khawatir. Biskuit di piring telah habis, tak ada lagi yang dapat menghibur kesepian ini. Bagaimana tidak, besok pengumuman SPMB. Aku takut, aku tidak lulus. Pilihan pertamaku pada tes kemarin adalah kedokteran UI dan pilihan keduanya adalah kedokteran UNSRI. Memang tak mudah untuk lulus, karena jurusan itu sangat banyak peminatnya, tapi aku yakin dari apa yang telah kudapatkan di bangku SMA akan menjadi bekal yang lebih dari cukup ditambah dengan kursus yang khusus SPMB pun telah aku ikuti. Dan aku yakin Tuhan akan memberikanku kesempatan kuliah di jurusan kedokteran.

Angin berhembus gaduh, membuat suasana malam makin mencekam. Pohon-pohon berdiri dengan gagahnya, daun-daunnya menari mengikuti irama angin malam. Membuatku terhibur akan hal itu.

Kupandangi pemandangan sawah di malam hari lewat jendela kamar. Indah tapi menakutkan. Bulan menyenteri bumi dengan terangnya. Ya, malam ini bulan sedang purnama. Takkan kusia-siakan kesempatan ini untuk menikmatinya. Masih teringat di dalam benakku obrolan dengan papa dan mama di ruang tamu kemarin malam.

“ Bagaimana vid, kamu yakin bisa lulus?” Tanya papa kepadaku.

“Aku sangat yakin sekali pa, percuma aja aku kursus pra SPMB mahal-mahal kalau aku ga lulus.”

“Omongan seorang laki-laki harus dapat di pertanggungjawabkan loh vid!” mama ikut-ikutan.

“Tenang aja ma, aku takkan mengecewakan papa dan mama. Aku akan berikan yang terbaik untuk papa dan mama. Kalaupun aku tak lulus, aku akan kursus lagi untuk mengikuti SPMB tahun depan.”

“Okelah vid, kamu memang anak papa mama yang baik dan bertanggung jawab”ujar mama.

“Ah, mama terlalu memuji. Aku jadi malu.” Dengan sedikit kefua tepi bibir kesamping dan lubang hidung yang mengembang.

“Oh, iya vid, kamu maunya lulus di kedokteran UI atau kedokteran UNSRI?”kata papa.

“Apapun lah pa, karena kedua-duanya sama-sama bagus. “

“Kamu sendiri cenderungnya kemana pinginnya?”

“Aku cenderungnya ke UI pa!”

“oke, papa mama do’ain david agar diterima di UI ya! Dan jangan lupa berdo’a kepada Tuhan!”

“wah, terima kasih banyak ya pa, ma atas do’anya.”

Dari pembicaraan tersebut semakin membuatku yakin aku akan lulus di kedokteran UI. “Yah, semoga saja lah.”ujarku dalam hati.

Ayah adalah seorang petani yang sukses, ladang padi ayah berpuluh-puluh hektar, tak ayal keluargaku adalah termasuk keluarga yang paling berada dikampung ini. Dari segi biaya kuliah,” ah, aku yakin pasti ayah telah menyiapkannya untukku.”

Pernah aku menanyakan kepada ayahku.

“yah, ada uang ga kalau aku kuliah di fakultas kedokteran?”

“tenang aja, Vid. Untukmu apasih yang ga ada!”

Aku menjadi sangat yakin untuk kuliah fakultas kedokteran.

“Ayah merupakan sahabat terbaik dalam hal meminta uang,” ha..ha..ha…

Ayahpun ikut tertawa mendengar ucapanku itu. Giginya yang mulai menguning karena sering merokok pun terlihat dan itu membuatku semakin tertawa.

Dikeluarga ini, yang paling dekat denganku adalah ayah. Aku juga tak tau mengapa. Mungkin karena sama laki-laki kali ya! Jadi kalau ngobrol tuh nyambung. Apalagi kalau dah ngomongin pertanian di Indonesia, wah.. bisa panjang ceritanya satu haripun mungkin gak cukup. Menurut Ayah, jikalau Indonesia ini bisa memanfaatkan sektor pertaniannya, ayah yakin Indonesia akan menjadi Negara terkaya didunia melebihi Amerika. Ah.. ayah terlalu berlebihan. Itulah ayahku. Bangga. Pernah suatu hari ayah menyuruhku untuk masuk ke fakultas pertanian saja. Aku langsung menolaknya, karena aku lebih prefer ke kedokteran. Ayah hanya tersenyum melihatku yang sangat bersemangat masuk fakultas kedokteran.

to be continued

Aldo Al Fakhr

MM SKI IT Telkom

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Cerpen- Amar

Sebuah Cerpen yang kurajut dalam tulisan, untuk Bundaku tercinta……

sebuah cerpen yang kubuat sendiri….

Aldo Al Fakhr (blogger pencari spirit yang hilang)

AMAR

Semua terjadi diluar dugaaan ibu. Terjadi begitu cepatnya. Amar pergi sekelip mata. Padahal rasanya baru kemarin ibu menyusui amar sambil menggendongnya dengan penuh kehangatan yang sangat dan kasih sayang. Membawa amar pergi ke pasar untuk membelikan robot-robotan yang disukai oleh amar, padahal pada waktu itu uang belanja bulanan telah habis, tapi ibu merelakan uang tabungannya digunakan untuk membelikan robot-robotan itu. Membawa amar untuk mendaftarkannya di sekolah yang diinginkan oleh amar. Melihat senyuman yang penuh optimis ketika amar menjadi seorang prajurit penjaga perbatasan Malaysia-Indonesia. Tapi kini amar telah pergi untuk selama-lamanya. Amar meninggal bukanlah di medan perang, tapi amar anak ibu meninggal karena menderita sakit setelah pulang dari operasi di hutan. Itu cerita dari menantu ibu. Ibu sangat sedih sekali. Amar yang begitu dicintainya meninggal dengan usia yang masih muda. Ibu mana yang tak sedih, jikalau anak kesayangannya meninggal, dan pada saat amar menghembuskan nafas terakhirnya, ibu tidak ada disampingnya. Ibu hanya bisa menyentuh dan memandangi lekat jenazah anaknya yang terakhir hanya pada saat jenazah telah dikafankan. Itupun hanya tak lebih dari lima menit. Jenazah amar akan dibawa untuk dikebumikan. Hati ibu pada saat itu  sangat pilu bagaikan disayat pisau yang tajam. Sakit sekali. Tapi, wajah ibu memancarkan ketabahan dan kesabaran menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah ini. Ibu sangat yakin ia akan berjumpa kembali dengan anaknya di surga-Nya kelak.

Sudah sangat lama ibu tak menatap wajah amar yang manis, hal ini karena amar telah lima tahun tidak pulang-pulang, karena tugas yang diembannya mengharuskan amar untuk selalu bersiap siaga. Amarpun sampai mempunyai istri disana dua tahun yang lalu. Ibu sangat ingin membawa jenazah amar ke kampung halaman dan disemayamkan disana. Tapi, istri amar menolak. Apalah kuasa ibu. Ibu tahu mungkin istrinya lebih berhak. Tapi, dimana pula hak seorang ibu yang mengandung dan membesarkan amar. Padahal usia perkawinan mereka saja belum seumur jagung. Ibu baru pertama kali ini menyentuh cucu ibu yang berusia lima bulan itu pada hari pemakaman amar. Fikri namanya.

Isteri amar masih sangat muda, fikri pun pasti membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Ibu tidak menghalangi jikalau isteri amar mencari suami lagi walaupun sangat awal hal tersebut untuk difikirkan. Mungkin awal-awal ini, istri amar tidak mempunyai keinginan untuk menikah lagi. Istri mana yang tak sayang suami. Tapi, lambat laun nantinya akan berumah tangga juga, karena tuntutan hidupnya. Dan ibu amat khawatir, jikalau istrinya sudah menikah lagi, ibu takut kuburan amar jarang diurus dan dilayat.

Amar meninggalkan seorang anak yang sama sekali belum sempat melihat dan mengenali amar. Apalah yang diketahui oleh seorang anak yang baru berusia lima bulan itu. Dunia saja belum begitu dikenalnya. Taaan dan senyuman masih terukir dibibir fikri dikala semua keluarga dan tetangga menangisi dan meratapi kepergian ayahnya yang terkenal sholeh lagi baik akhlaknya. Sungguh mereka amat kehilangan amar. Mereka amat kasihan kepada ibu yang begitu mencintai anaknya tatkala jenazah akan dibawa ke liang lahat. Kerinduan yang membuncah tak terlepas dihati ibu. Tiada lagi panggilan ibu dari amar. Tiada lagi suara amar yang akan mengobati rasa rindu yang terpendam. Tiada lagi canda gurau amar. Tiada lagi dinanti kepulangan amar ke kampong. Tiada lagi segala-galanya.

Oh..amar, bergenang air mata ibu jikalau teringat dirimu nak. Lebih-lebih lagi ketika semalam kami sekeluarga menikmati makanan kesukaanmu. Betapa sedih hati ibu disaat mengunyah makanan yang amar gemari. Ayam goreng bumbu rending. Kakak amar tersebut-sebut nama amar di hadapan rezeki itu. Tiada pernah sekalipun kami sekeluarga disini membiarkan walau sehari pun berlalu tanpa mengingat-ingat dirimu amar. Tak terasa muncul juga perasaan menyesal karena membiarkan amar pergi meninggalkan kampong halaman untuk pergi bertugas menjaga di perbatasan Indonesia-malaysia. Jikalau amar ada disisi ibu, pastilah tak sesesal ini yang ibu rasakan sepeninggalmu nak. Setidaknya ibu dapat menjaga dan mengasihi amar sewaktu sisa-sisa hayat amar yang masih ada. Mungkin juga persaan ibu akan lebih tenang dan ridho dengan kepergian amar. Amarku sayang, sampai hari ini pun hati ibu masih bertaut rasa sesal yang sangat walupun sudah ibu coba untuk mengusirnya, tetapi tetap saja rasa itu selalu bertamu dihati ini, seolah-olah tamu yang tak kunjung pergi dari rumah seseorang.

Engkau yang ibu sayang, dan paling ibu cintai. ibu rindu engkau Amar……….

Cerpen buatan aku: Keberkahan diatas Musibah

Matahari sangat terik di siang hari ini. Tepat pukul satu siang. Membuat keringat melucur dengan derasnya. Perut yang keroncongan menambah derita disiang hari ini. Walaupun begitu, Adit tetap bersemangat untuk memamerkan suara merdunya.

Lampu merah telah menyala. Semua kendaraan telah berhenti. Inilah kesempatan Adit untuk memamerkan suaranya.

”Ayo dit, kita ngamen dibus kota itu!”kata Sani.

Sani adalah teman satu perjuangan dengan Adit, mereka sama-sama mengamen di perapatan ini dan mereka berasal dari desa yang sama. Umur Sani satu tahun lebih tua dibandingkan Adit. Orang tua mereka adalah perantauan dari Solo yang mengadu nasib di Palembang, dan sampai sekarang mereka tetap tinggal di Palembang. Beruntungnya Sani masih mempunyai orang tua yang lengkap. Sedangkan Adit, hanya ibunya saja yang masih hidup, ayahnya meninggal disaat usia Adit masih 5 tahun. Ibunya sangat terpukul dengan kejadian itu. Bagaimana tidak, ibunya harus berjuang sendiri untuk memberikan makan dan membiayai sekolah Adit.

”Oke, kak San”sahut Adit.

Didalam bus tersebut, mereka berdua ‘menjual’ suara mereka. Suara mereka sangat bagus dan merdu. Kolaborasi mereka sangat apik dan bagus. Orang yang mendengar suara mereka pasti akan berdecak kagum dengan mereka. Dengan iringan gitar dan galon sebagai gendangnya telah dapat menghibur para penumpang dibus kota tersebut. Tak heran, uang yang mereka dapatkan cukup banyak. Ini adalah bus ketujuh yang mereka singgahi hari ini.

”Alhamdulillah Dit, kita mendapat uang yang cukup banyak.”

”ya, Alhamdulillah.”

”Sekarang kita pulang saja dit, giliran yang lain lagi untuk ngamen.”

”oke.”

Di perapatan ini, ada aturan waktu dalam mengamen. Sistem ini dikelola oleh pemerintah daerah, dengan tujuan agar tidak membludaknya jumlah pengamen dalam satuan waktu tertentu. Adit dan Sani mendapat giliran dari jam 12.00 sampai jam 15.00.

Dengan hati yang riang mereka melangkah dengan penuh semangat. Perjalanan ke rumah mereka amatlah jauh. Untuk sampai dirumah mereka acap kali mendapatkan kesulitan. Karena dua gang sebelum sampai dirumah mereka, banyak preman yang suka memalak-malak orang yang lewat didepan mereka. Selama ini mereka baru satu kali di palak oleh mereka. Untungnya pada waktu itu mereka tidak membawa uang sepeserpun

Sesampainya dirumah.

”Assalamu’alaikum. Bu, hari ini aku mendapatkan uang yang banyak.”

Tidak ada sahutan dari ibu Adit. Adit bingung, ia mencari ibunya disetiap ruangan dirumahnya. Karena tak menemukan ibunya dirumah. Ia menanyakan keberadaan ibunya pada tetangganya.

”Assalamu’alaikum. Pak, bapak melihat ibu saya.”

”Oh, ibu kamu tadi dilarikan ke rumah sakit, katanya sih jantungnya kumat. Kamu mau kerumah sakit, kalau kamu mau kerumah sakit bapak akan hantarkan kamu.”

”Iya pak, saya mau kerumah sakit.”

Perasaan Adit sangat sedih, gundah, risau, dan khawatir dengan keadaan ibunya.

Sesampainya di rumah sakit. Adit langsung keruang inap dimana ibunya dirawat.

Dari kejauhan, Adit mendengar banyak orang yang menangis. Perasaannya tak enak. Sesampainya di ruangan inap ibunya. Adit terkejut. Ia melihat telah banyak orang-orang yang dikenalnya berada didalam ruangan tersebut. Salah satunya pak RT.

”Ada apa ini pak RT? Apa yang terjadi dengan ibu?”tanya Adit.

”Adit, ibumu….ibumu…telah meninggal dunia. Adit yang sabar ya!”

Mendengar ucapan itu Adit terkejut, hatinya menangis, matanya mulai berlinang, butiran-butiran air membasahi matanya, seketika itu juga butiran-butiran tersebut berubah menjadi air yang deras membasahi pipinya.

Tanpa membuang waktu lagi, ia langsung mendekat ke jenazah ibunya yg telah kaku tak berdaya.

”Ibu………………………………………………………………….”teriaknya kencang.”

”Mengapa kau meninggalkan aku sendiri, bu? Ayah tak ada dan engkaupun tak ada juga. Bagaimana aku akan hidup, bu?”

”Ya Allah, mengapa kau mengambil ibuku, dulu kau juga telah mengambil ayahku, apa kesalahanku ya Allah?”

Ust. Alwi langsung mendekap dan segera menenangkan Adit yang sedang menangis. Ustadz tersebut segera membawa Adit keluar ruangan itu. Adit memberontak, akan tetapi dengan sedikit paksaan dari ustad Alwi, akhirnya adit mau juga untuk keluar dari ruangan itu.

”Dit, ajal seseorang sudah ditentukan oleh Allah, tak ada yang mampu mendekatkan atau menjauhkan waktu kedatangannya. Tabah dan sabarlah dit. Sesungguhnya dengan kesabaranlah hati ini akan tenang. Aku telah lama mengenal orang tuamu, baik ayahmu ataupun ibumu. Mereka berdua adalah orang-orang yang shaleh. Percayalah, Allah akan menempatkan ayah dan ibumu di tempat yang baik.”

”Akan tetapi mengapa harus aku yang mendapatkan cobaan seperti ini, ustadz?”

”Karena engkau mampu untuk menghadapi cobaan ini, sesungguhnya Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hamba-Nya diluar kemampuan hamba-Nya.”

”Ya ustadz, insyaAllah aku sabar dan ikhlas dengan kepergian orangtuaku.”

”Alhamdulillah, engkau telah ikhlas untuk kepergian orangtuamu. Yakinlah, dibalik cobaan ini, pasti ada berkah dari Allah.”

Keesokan harinya, jenazah ibu Adit di semayamkan di pemakaman umum di daerah tempat tinggal Adit.

*****

Hari-hari nan sepi menyelimuti hari-hari Adit. Semenjak kepergian ibunya, ia semakin sering untuk shalat malam dan lebih sering mengaji, dan tak henti-hentinya memanjatkan do’a yang tulus untuk orang tuanya.

*****

“Dit, ayo kita mengamen lagi sehabis sekolah!”kata Sani.

”Oke, aku telah lama tak mengamen lagi.”

Pulangnya dari sekolah, Adit langsung pulang kerumah dan segera mengganti baju. Sani sudah datang dengan membawa galonnya.

”Ayo ,dit. Sudah jam dua siang.”

”Sebentar lagi aku akan siap.”

Akhirnya mereka sampai juga diperapatan tempat mereka biasa mengamen.

”Dit, lampu merah tu. Ayo langsung aja kita ke bus kota itu.”

”Oke.”

Seperti biasanya, Adit melantunkan suaranya serta memainkan gitar dan Sani menabuh galonnya dan sekali-kali ia ikut untuk menyanyi.

Ada seorang laki-laki setengah baya melihatnya menyanyi. Laki-laki tersebut kagum dengan suara Adit dan Sani. Setelah Adit dan Sani menyanyi. Adit dan Sanipun keluar dari bus tersebut. Dan laki-laki tersebut ikut turun dan memanggil mereka.

”Assalamu’alaikum, nak.”kata bapak itu.

”Wa’alaikumussalam, ada apa ya pak?”

“Saya sangat mengagumi suara kalian berdua. Perkenalkan, nama saya Wahyu Soeparno, saya adalah seorang pencari bakat. Dan saya lihat kalian sangat berbakat. Mau ga saya biayai kalian untuk menjadi penyanyi terkenal?”

”Wah, mau sekali pak.”

”Oke besok kalian datang kekantor saya, sehabis shalat idul adha. Dan kalian langsung menandatangani kontrak kerja.” Bapak tersebut memberikan alamat kantornya kepada Adit dan Sani.

”Siap, pak.”

Keesokan harinya.

Sehabisnya shalat idul adha. Adit dan Sani langsung pergi kekantor pak Wahyu. Sesampainya disana, mereka disambut oleh pak Wahyu. Dan mereka segera menandatangani kontrak kerja mereka.

Adit ingat akan kata-kata ust. Alwi.”Dibalik cobaan ini, pasti ada berkah dari Allah.”Ia pun semakin yakin akan kemaha kasih dan penyayangnya Allah kepadanya.

”Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Engkau telah memberikan secercah berkah di hari raya idul adha ini.”