9 juni 2010

jujur… sebenarnya, aku malu untuk mempublish nih curhatan pada tanggal 9 Juni 2010.. tapi, insya Allah bisa diambil ibrahnya dari apa yang kurasa.. ente semua bisa pada belajar dari kehidupanku.. insya Allah

ceritanya agak panjang.. 9 halaman 2 spasi..jadi yg sabar ye mbacanye.. ^^

oh ya.. pada bingungkan kok ada gambar gitar.. nih gitarku.. nih die tersangkanye..

Cekiprot gan….

9 juni 2010

Bismillahirrahmanirrahim

Kakiku bergerak lincah hari ini, langkahnya melebar tak seperti biasanya, velocity-nya lebih cepat dari biasanya. Orang-orang yang melihatku berjalan keheran-heranan melihat polah tingkah berjalanku yang aneh. Betapa riangnya hari ini, semangat memuncak, bibirku tak henti-hentinya tersenyum kepada semua ciptaan-Nya,  hatiku tak lelah tuk melafadzkan hamdalah, dan raga yang jujur saja sakit 2-3 hari kemarin menyurut tertelan keriangan jiwa yang bahagia.

Baca lebih lanjut

Iklan

Curhat Hari Ini

Tulisan dibawah ini adalah curhatan hati sekaligus apa yang terpikir begitu saja dipikiran ini. Tulisan ini dibuat sekitar jam 22.30-23.30, sehingga banyak yang dipikirkan terkadang tak karuan perginya kemana, tapi disini aku meyakinkan diri bahwasanya tulisan ini dipandu oleh Allah Swt jikalau berisi kebenaran. Insya Allah.

_————————||||||————————_

) | (

Hari ini begitu melelahkan. Seharian full energy dilimpahkan. Tapi apakah benar demikian. Jika bisa ditelaah dalam sehari ini, masih banyak waktu yang digunakan untuk emikirkan hal-hal yang tidak penting bahkan yang haram untuk dipikirkan, masih banyak waktu yang digunakan untuk bersantai-santai sambil mendengarkan music. Terbawa dengan lantunan musik yang merdu padahal sering menipu. Lirik yang mengajak kepada kesesatan. Lirik yang mengajak kepada prilaku syirik. Bergantung kepada makhluq bukan kepada Allah. Padahal dalam sehari minimal 17 kali dibaca perjanjian dengan Allah bahwasanya, “iyya kana’budu wa iya kanas ta’in” hanya pada-Mulah kami menyembah dan hanya pada-Mu lah kami meminta pertolongan. Sungguh jelas ada perjanjian disini. Kita bersandar hanya kepada Allah saja. Tapi kenapa diri ini sering tak sadar akan perjanjian yang telah dibuat ini, mungkin memang tak mengerti bahasa arab, atau mungkin tak pernah mentadaburrinya, atau mungkin bahkan tak pernah menganggapnya sebagai janji. Sungguh diri ini keterlaluan dan lancang. Tak selayaknyalah diri ini begitu. Sejatinya memang seperti itu tak boleh lancang.

Banyak persoalan yang menyapa tak mendapat sapaan. Padahal itu urgent untuk dilaksanakan. Bahkan dengan enaknya dan sekonyong-konyong menyepelekannya dihadapan muka sendiri. Bersikap acuh tak acuh. Tunggulah nanti akibat yang akan didapat. Pastilah ada sebab dan ada akibat, semua tak terlepas begitu saja, pastilah intervensi antar keduanya. Makanya harus waspada dengan apa yang akan dilakukan, pikirkan sebelum berbuat, apakah ini bermanfaat buatku ataukah hanya membuang waktuku. Haruslah selektif dalam hal waktu. Sebenarnya banyak kerja-kerja besar yang harus diselesaikan. Tapi apalah daya diri ini, kerja kecil saja tak mampu tuk dilakukan dengan baik dan optimal, sebagai akibat dari itu semua, diri ini jauh dari akan menjadi orang yang besar. Sungguh ironis, sungguh diri ini mengingini posisi tersebut menjadi orang besar (baca: mulia) dihadapan Allah.

Kelalaian yang dilakukan terkadang dibuat-buat atau direkayasa seperti sedang melakukan aktivitas yang berguna. Tahukah engkau yang bisa membaca, sungguh telah mendzalami yang harus dikerjakan tersebut. Karena diabaikan, hati mana yang tak sedih dan murung pabila diabaikan atau dicuekkan. Bête rasanya. Cobalah berkaca pada diri sendiri, seandainya ketika diri ini sedang berkhutbah atau berbicara dengan orang banyak, yang terjadi orang-orang tersebut tidak mendengarkan, ada yang mencat-mencet Hp, ada yang bisik-bisikkan dengan teman sebelahnya, ada yang garuk-garuk kegatalan, ada yang usilin teman disekelilingnya, bahkan ada yang tidur karena khutbah atau bicaraanmu. Apa yang diri ini rasakan, pastilah jengkel dan ingin rasanya keluar dari tempat itu dan maunya menggerutu tak jelas juntrungannya. Sungguh luar biasa ketika diri ini bisa bersabar atas tindakan saudaranya yang seperti itu, ia justru memandang kepada dirinya sendiri. Sungguh sejatinya semangat yang menggelora mendengarkan dari seorang pendengar berkorelasi positif terhadap semangat yang menggelora penyampaian dari seorang penyampai risalah. Seperti itulah, ia langsung mengkoreksi dirinya, jangan-jangan semangat menyampaikan dalam diri ini masih kurang. Langsung memperbaiki diri dengan engoptimalkan potensi. Tiada ingin sejejak pun potensi itu hilang dari pencarian. Harus ketemu, karena kalau jejak itu hilang maka tersesat adalah suatu keniscayaan.

Semangat belajar sepertinya harus dikembangkan, jangan malas-malasan dan nggak mau membaca apalagi menulis. Apa jadinya suatu bangsa yang mana penduduknya malas membaca atau dengan kata lain malas menuntut ilmu. Bisa dipastikan negar itu selamanya akan menjadi pengekor si diktatoris, aggressor, dan predator itu. Apa yang diucapkan si predator itu dimakan mentah-mentah, bagaimana pula mau dicerna, ilmu untuk mengunyah tak punya. Sungguh kecelakaan dan kerugian yang akan diderita. Didunia sengsara apalagi diakhirat menjadi hina. Na’udzubillah. Jadilah seorang pembelajar, tak ada kata berhenti untuk belajar dan menuntut ilmu, apalagi dunia mencari ilmu sungguh terbentang luas bahkan gratis dan tidak usah berpergian jauh-jauh dari kursi, tinggal connect internet, selesai, ilmu-ilmu banyak bertebaran disana. Tinggal dipilah-pilih saja yang mana yang baik, karena tidak semuanya yang di internet itu baik untuk dikonsumsi. Permasalahan yang terpenting dalam masalah ini adalah apakah kita mau memanfaatkannya untuk bahan peningkatan diri? Kalau saja itu hanya dijadikan sebuah angan-angan lebih baik kamu mengkafani diri, ambil cangkul, gali tanah dalam-dalam, lalu kuburlah dirimu. Timbun dirimu, karena dengan diri sendiri saja tidak peduli, tak peduli untuk peningkatan diri, tak peduli dengan amal diri, tak peduli dengan keluarga, dan bahkan tak peduli dengan lingkungannya sendiri, boro-boro ikut memedulikan dakwah dan berkontribusi dengan dakwah adalah suatu ketidakmungkinan. Ia hidup tapi tidak bergerak, jika ia bergerak tak memberi pengaruh apa-apa. Itulah yang namanya mati jiwa. Pabila jiwa telah mati maka akan merambat ke potensi-potensi lainnya, sehingga yang seharusnya suatu potensi bisa mucul kepermukaan peradaban namun karena kematian jiwa mengakibatkan tidak terlibatkanlah potensi tersebut. Saying-sayang seribu saying kita ucapkan kepada orang tersebut. Eits.. jangan-jangan diri yang menulis dan membaca termasuk orang yang seperti itu juga. Hati-hati. Ambil cermin dan lihat diri ini sendiri. Apa yang sudah diperbuat dengan potensi-potensi yang telah diberikan, apakah sudah dimanfaatkan dengan baik, ataukah ada penyombongan dan pengangkuhan diri didalam sikap tersebut. Jawab dengan jujur. Bisa jadi “iya” kan jawabannya. Mungkin memang benar “iya”

Apa yang ingin dilakukan terkadang susah untuk dilakukan dan terkadang terkesan merasa tak akan bisa melakukan sesuatu perbuatan tersbt, padahal telah mengetahui bahwasanya perbuatan  yang akan dilakoni tersebut merupakan ganjaran yang luar biasa. Mungkin ingin membela diri dengan mengatakan bahwa “ saya belum memiliki ilmu akan hal itu” ia berdalih dengan dasar ilmu diatas amal. Memang benarlah kata demikian, apakah tidak terlihat proses learning by doing disana, artinya sambil belajar sambil dikerjakan juga, sehingga disorientasi teori dan praktek tidak pernah terjadi jikalau mengamalkan learning by doing ini.  Artinya kita belajar teori sedikit langsung dipraktekkan, sedikit demi sedikit. Seperti pepatah sedikit demi sedikit lama kelamaan menjadi bukit. Kata kelama-lamaan ini mengindikasikan bahwa proses pembelajaran terhadap seuatu itu menjadi tantangan tersendiri hingga ajal menjemput kelak. Walaulah ketika ajal menjemput belum selesai proses pembelajaran tersebut, namun bisa dilihat kita sudah sedikit lebih maju ketimbang kita tak pernah mengambil keputusan untuk aksi. Berani mengambil keputusan adalah sesuatu yang sangat susah, karena akan banyak faktor yang memengaruhi, biasanya faktor yang sering dominan menghiasi adalah faktor analisa dan faktor perasaan. Oleh karena itu, analisa ini juga membutuhkan ilmu, dan perasaan harus dikelola dengan baik. Kalau bahasa anis matta “seni jiwa”. Yah… seni jiwa, kita dan Allah lah yang mengetahui isi hati kita, sejatinya kita tidak bisa berbohong dengan diri sendiri dan pastinya dengan Allah terhadap apa yang ada dalam hati kita. Sehingga “apa nih yang harus dilakukan agar perasaan ini siap mengambil keputusan?” jawabannya adalah dekat kepada sang pemberi jiwa yaitu Allah Swt.tak lain dan tak bukan, mintalah kepada Dia saja.

Dalam hidup ini memanglah banyak rintangan yang akan menghadang, tapi bagaiman rintangan dan tantangan yang ada bisa ditendang dengan sekali tendangan saja. Permasalahannya terletak pada sekuat apa tendangan tersebut. Jikalau lah kuat maka dengan sekali tendangan bisa mental dan tak kembali lagi, namun yang terjadi bila lemah maka yang akan terjadi memang juga akan mental tapi akan kembali lagi, kembali lagi, dan kembali lagi, tak bosan-bosannya menganggu dengan masalah yang sama. Seperti itulah yang sering terjadi. Banyak dari manusia yang diuji dengan satu kesulitan saja, dan ia tidak bisa menyelesaikannya, oleh karenanya ia tidak pernah lulus dengan ujian tersebut sehingga ujian kehidupannya yah.. itu itu saja, bagaimanalah mau naik tingkat sedangkan tingkat dibawah sja belum bisa dilalui. Yah.. sama kasusnya seperti kalau kita sekolah, setiap kita akan diuji di UN diakhir-akhir studi, ketika kita bisa lulus maka kita bisa ke jenjang pendidikan berikutnya, namun justru bila kita tidak lulus maka kita akan diuji dengan UN it uterus sampai kita naik/lulus. Saya ngerti bahwa anda paham yang saya maksud. Karena saya husnudzon dengan anda bahwa anda yang membaca tulisan hingga kebagian ini adalah orang-orang yang cerdas mencari manfaat. Bagi anda yang sampai baca kesini, saya do’akan agar dimudahkan hidupnya didunia dan diakhirat “ ya Allah mudahkanlah saudaraku yang sedang baca ini dengan limpahan rahmat di dunia dan di akhirat.”

Oke… jangan mudah putus asa karena menyerah bukanlah tindakan para pejuang. Ia adalah tindakan para pecundang yang tak berani melawan masalah dengan ilmu dan tsabat (ketguhan) serta kesabaran.

NEVER GIVE UP my Friends! I believe you can do what you want!

Saya ucapkan terima kasih, Jazakumullah Khairan Katsira… kepada Anda karena telah bersedia mendengarkan curhatan hati dan penggalan-penggalan kata dari pemikiran orang seperti saya.

Barakallahu fik…

Jam 23.39 WIB

Bandung, 09 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

ingin membuat Ortu bahagia

ingin membuat orang tua bahagia, pasti… semua orang menginginkan hal itu. karena semua orang menganggap bahwa jika telah membuat orang tua bahagia setidaknya telah membayar sepermiliar dari apa yang mereka lakukan ke kita.

subhanallah banget, ketika melihat orang dengan hati yang tulus dan ikhlas bisa membuat ortunya bahagia, baik itu dengan perbuatan/ akhlak, prestasi, kepedulian, nampil di TV mungkin (hi..hi.. jadi inget waktu ikut democrazy di Metro TV), atau dengan yang lainnya yang tentunya positif.

hal inilah yang membuatku semakin termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi dari segi apapun. dengan memanfaatkan momentum UTS keesokan harinya (duh… lum blajar!!) dan sedang menyusun proposal TA membuat semakin bersemangat tuk menapakinya dengan gigih.

waktu yang ad sangat ku manfaatkan. seperti belajar tuk UTS, ngeblog, ngerjain proposal (alhamdulillah bab II sedang berjalan…^_^), agenda2 tarbiyah, aktifitas2 dakwah, dll. waktu tidur pun semakin sedikit. tak mengapa bagiku. mumpung masih muda. betul ga!

” seorang mujahid muda tak peduli akan waktu tidurnya dan waktu mainnya, tetapi ia peduli akan waktu ibadahnya dan waktu militansinya.”

besok insya Allah UTS siskom 2, yah lumayan ngerti… semoga besok bisa jawab dengan bener.

========================

ingin rasanya membuat bahagia orang tua ketika wisuda nanti, ketika namaku tertera di spanduk kuning dan namaku disebut di acara wisuda dan ketika itu orang tua bersangkutan diharapkan utk berdiri, betapa bahagianya mereka!! aq yakin pasti semua orang tua mhsswa menginginkan itu.

walaupun nanti namaku tidak tertera di spanduk kuning yang senantiasa menggantung di gdg D,  mengagungkan nama-nama mahsiswa berprestasi. lulus tercepat, ip cumlaude, dll. dan namaku tak disebut ketika acara wisuda berlangsung, aku tidak sama sekali sedih dibuatnya, karena menurutku

“apalah artinya membuat bahagia orang tua dunia, tapi tidak membuat bahagia orang tua di akhirat dihadapan sang Khalik.”

yang terpenting adalah membuat mereka selalu tersenyum indah didunia dan di akhirat. itu aj………

malam terasa sunyi

ketika mata ini tak mampu terpejam

apa gerangan

pikiran menjadi tertuju ke 2 orang

yang slalu memikirkan diri ini

memikirkan si kecil yang kini sudah besar

apa yg sudah kuberikan pada mereka

ayah…ibu…

maafkanlah ananda yg lum bisa membahagiakanmu didunia

tapi

akan kubuat engkau tersenyum bahagia di syurga-Nya kelak

Alhamdulillah

Alhamdulillah

segala puji hanya untuk Mu ya Robbi

Betapa seringnya engkau memberikan keberkahan kepadaku, hamba yang hidupnya selalu di penuhi dengan dosa yang acap kali pada waktu aku melakukan dosa tersebut, aku lupa kepada-Mu.

Belakangan hari ini dan sampai hari inipun Engkau masih mengingatkan aku ketika aku futur.

Aku malu kepada Mu ya Rahman, betapa seringnya diriku ini memohon pintaan-pintaan yang berlebihan kepada Mu, padahal diriku sendiri sering berbuat zalim terhadap diriku sendiri, diri ang seharusnya aku cintai.

Duhai Alloh, tambahkan lagi cinta Mu kepadaku, jadikanlah diriku ini mencintai Mu lebih dari apapun, memang seharusnya begitu.

Dikala hati ini lapar akan kasih sayang, Engkau hujankan air kasih sayang kepadaku

Dikala mata ini buta akan kehidupan, Engkau terbelalakkan pandangan surga kepadku didalam Quran

Dikala badan ini kelelahan akan semua akktivitasku, Engkau basuh diriku dengan kelembutan

Dikala lidah ini sering mengucapkan ghibah, Engkau ingatkan aku dan akupun lalu berucap ‘Astaghfirullah’

terima kasih ya Alloh

terima kasih