Merantau adalah cita-citaku

Ini adalah cerpen lamaku yang tersimpan di hardisk…

simak ya…

Merantau adalah cita-citaku

Jum’at, 8 Juni

Hatiku sangat gundah, risau, lasak, dan khawatir. Biskuit di piring telah habis, tak ada lagi yang dapat menghibur kesepian ini. Bagaimana tidak, besok pengumuman SPMB. Aku takut, aku tidak lulus. Pilihan pertamaku pada tes kemarin adalah kedokteran UI dan pilihan keduanya adalah kedokteran UNSRI. Memang tak mudah untuk lulus, karena jurusan itu sangat banyak peminatnya, tapi aku yakin dari apa yang telah kudapatkan di bangku SMA akan menjadi bekal yang lebih dari cukup ditambah dengan kursus yang khusus SPMB pun telah aku ikuti. Dan aku yakin Tuhan akan memberikanku kesempatan kuliah di jurusan kedokteran.

Angin berhembus gaduh, membuat suasana malam makin mencekam. Pohon-pohon berdiri dengan gagahnya, daun-daunnya menari mengikuti irama angin malam. Membuatku terhibur akan hal itu.

Kupandangi pemandangan sawah di malam hari lewat jendela kamar. Indah tapi menakutkan. Bulan menyenteri bumi dengan terangnya. Ya, malam ini bulan sedang purnama. Takkan kusia-siakan kesempatan ini untuk menikmatinya. Masih teringat di dalam benakku obrolan dengan papa dan mama di ruang tamu kemarin malam.

“ Bagaimana vid, kamu yakin bisa lulus?” Tanya papa kepadaku.

“Aku sangat yakin sekali pa, percuma aja aku kursus pra SPMB mahal-mahal kalau aku ga lulus.”

“Omongan seorang laki-laki harus dapat di pertanggungjawabkan loh vid!” mama ikut-ikutan.

“Tenang aja ma, aku takkan mengecewakan papa dan mama. Aku akan berikan yang terbaik untuk papa dan mama. Kalaupun aku tak lulus, aku akan kursus lagi untuk mengikuti SPMB tahun depan.”

“Okelah vid, kamu memang anak papa mama yang baik dan bertanggung jawab”ujar mama.

“Ah, mama terlalu memuji. Aku jadi malu.” Dengan sedikit kefua tepi bibir kesamping dan lubang hidung yang mengembang.

“Oh, iya vid, kamu maunya lulus di kedokteran UI atau kedokteran UNSRI?”kata papa.

“Apapun lah pa, karena kedua-duanya sama-sama bagus. “

“Kamu sendiri cenderungnya kemana pinginnya?”

“Aku cenderungnya ke UI pa!”

“oke, papa mama do’ain david agar diterima di UI ya! Dan jangan lupa berdo’a kepada Tuhan!”

“wah, terima kasih banyak ya pa, ma atas do’anya.”

Dari pembicaraan tersebut semakin membuatku yakin aku akan lulus di kedokteran UI. “Yah, semoga saja lah.”ujarku dalam hati.

Ayah adalah seorang petani yang sukses, ladang padi ayah berpuluh-puluh hektar, tak ayal keluargaku adalah termasuk keluarga yang paling berada dikampung ini. Dari segi biaya kuliah,” ah, aku yakin pasti ayah telah menyiapkannya untukku.”

Pernah aku menanyakan kepada ayahku.

“yah, ada uang ga kalau aku kuliah di fakultas kedokteran?”

“tenang aja, Vid. Untukmu apasih yang ga ada!”

Aku menjadi sangat yakin untuk kuliah fakultas kedokteran.

“Ayah merupakan sahabat terbaik dalam hal meminta uang,” ha..ha..ha…

Ayahpun ikut tertawa mendengar ucapanku itu. Giginya yang mulai menguning karena sering merokok pun terlihat dan itu membuatku semakin tertawa.

Dikeluarga ini, yang paling dekat denganku adalah ayah. Aku juga tak tau mengapa. Mungkin karena sama laki-laki kali ya! Jadi kalau ngobrol tuh nyambung. Apalagi kalau dah ngomongin pertanian di Indonesia, wah.. bisa panjang ceritanya satu haripun mungkin gak cukup. Menurut Ayah, jikalau Indonesia ini bisa memanfaatkan sektor pertaniannya, ayah yakin Indonesia akan menjadi Negara terkaya didunia melebihi Amerika. Ah.. ayah terlalu berlebihan. Itulah ayahku. Bangga. Pernah suatu hari ayah menyuruhku untuk masuk ke fakultas pertanian saja. Aku langsung menolaknya, karena aku lebih prefer ke kedokteran. Ayah hanya tersenyum melihatku yang sangat bersemangat masuk fakultas kedokteran.

to be continued

Aldo Al Fakhr

MM SKI IT Telkom

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

kita adalah perantau

berlabuh kita adalah seorang perantau pren! banyak dari kita termasuk aku pun belum menyadari hakikat ini. kita terlalu sibuk untuk mengurusi hal-hal lain yg lebih penting dibandingkan hal ini.

coba bayangkan deh pren! jika kita dalam perjalanan menuju kampung halaman kita naik kapal laut. kemudian, kapal melewati sebuah pulau kecil, dan seketika itu juga, si nakhoda nyuruh kita tuk turun dan menyiapkan bekal selama 7 hari di pulau tersebut dikarenakan perjalanan akan sangat membutuhkan bekal yang cukup untuk sampai di kampung halaman. si Nakhoda memerintahkan agar, masing-masing membawa bekal sendiri, dan tidak dpt diwakilkan. semua penghuni kapal turun dari kapal menuju pulau tersebut.

pertanyaan yg ingin saya sampaikan kpd kamu, apa yg akan kamu siapkan untuk bekal kamu? pertanyaan ini sudah pasti terjawab dengan mudah oleh kamu kan! bahwasanya kamu akan menjawab:” aku akan mencari buah-buahan segar untuk dimakan dan air tawar yg segar untuk diminum, karena tidak mungkin minum air laut, kebayang ga kalau lg aus  minum air laut, bisa-bisa kamu muntah. ga percaya! buktiin aja ndiri! tau ga’ bahwa tidak semua penghuni kapal itu, tau ap yg akan mereka siapkan. mereka malah membuat rumah yg mewah disana, peternakan, dan bersenang-senang disana hingga mereka lupa bahwa tujuan mereka ke pulau itu apa. mereka lupa membawa bekal untuk perjalanan jauh setelah ini.

7 hari kemudian

sang Nakhoda mengumumkan kepd mereka untuk segera naik ke kapal karena dah waktunya tuk berangkat. diantara mereka, ada yang membawa bekal yg cukup, ada yang membawa bekal yg sedikit, dan bahkan ada yang lupa untuk pulang karena bersenang-senangnya mereka di pulau itu, ya udah ditinggal aj tuh penumpang. di perjalanan orang yg membawa bekal yg cukup akan sampai dikampung halaman dengan selamat dan sehat, karena bekal cukup yang dibawanya. orang yg membawa bekal yg sedikit, mungkin akan sampai, tapi dengan kondisi yg sakit. sedangkan orang yg ketinggalan tadi tidak akan pernah nyampe ke kampung halamannya. ya iyalah… wong dia ga ikut naik ke kapal. dan telah dpt kabar bahwa pulau tersebut diterjang oleh tsunami, dan menenggelamkan pulau itu.

nah…. apa ibroh yg kita dpt dr cerita diatas! sejatinya kita adalah perantau, dan kita hanya singgah sebentar saja di dunia ini, dan kita akan pulang ke kampung halaman kita, yaitu surga. karena Nabi Adam tinggal di surga pertama kali. sudah jelaslah bahwa sejatinya surgalah kampung halaman kita. kalau kita tidak dpt menuju halaman kita, maka kita diibaratkan seperti orang yg bersenang-senang dipulau itu yang mati juga akhirnya, jadi ia tidak dpt ke kampung halamannya yaitu surga.

so, prepare ur self well, okay!