[Cerbung] Dua Kuas Episode 4 Part 2

sambungan dari Episode 4 Part 1

happy reading

Episode 4: Rumah Sekolah Part 2

sekolah

sekolah

 

Mobil ayahnya Lintang melaju dengan sedikit kencang, seirama dengan laju denyut jantungku yang ikut-ikutan kencang. Aku yakin sekali kak Hasan pun serupa denganku. Kulihat air mukanya begitu khawatir. Benar-benar telak, kami lupa mengerjakan PR bahasa indonesia. Mau menyalin teman dikelas nanti dipastikan nggak akan sempat, pelajaran Bahasa Indonesia adalah pelajaran pertama hari ini. Sedangkan PR tulisan tegak bersambung sungguh sangat menyita waktu untuk diselesaikan. Dari pribadiku pun cuma bisa pasrah saja. Baca lebih lanjut

[Cerbung] Dua Kuas Episode 4 Part 1

akhirnya bisa nulis lagi…

ini sambungan dari episode 3: Pekerjaan Rumah dan Ibu

happy reading…:)

Episode 4: Rumah Sekolah Part 1

sekolah
sekolah

Ttteeetttt… nnnneeettt……. tttteeetttt…….. nnnnneeettttt

“bunyi apaan sih ini? Nganggu tau!” kesal kak Hasan.

“ish dah.. budak sikok ini!” batinku. “Oi kak, bangun! Dah mau subuh nih!” teriakku kepada kak Hasan yang masih masih nyaman dengan ilerannya.

Aku dan kak Hasan memang sudah sepakat untuk menyetel alarm sekitar lima menit sebelum adzan subuh dengan tujuan agar bisa shalat subuh berjama’ah di mushalla. Tapi, sering juga -alarm hanya tinggal alarm- kami kebablasan dan ketinggalan shalat di mushalla. Baca lebih lanjut

[Cerbung] Dua Kuas Episode 3 Part 3

akhirnya part 3 selesai juga

this episode, I proud to present this for my beloved mom…

ini lanjutan dari episode 3 part 2

Episode 3: Pekerjaan Rumah  dan Ibu Part 3

Ibu

Wajah ibu itu kebanyakan seperti wajahnya orang melayu, kasarnya pasarann (Ups! Maaf ya Ma!), kulitnya putih bersih, tingginya setelinga ayah, jadi nggak terlalu pendek untuk ukuran seorang wanita. Berbeda dengan kami semua, ibu sedikit agak berisi badannya, tapi waktu mudanya dulu ibu tuh kurus, mungkin karena dampak setelah melahirkan atau apa yang menjadikan ia agak berisi sedikit. Namun, aku dengan berani mengatakan bahwa ibu adalah wanita yang cantik, itu terlihat dari komentar teman-temanku disekolah ketika ibu datang ke sekolah karena masalah kak Hasan (akan kuceritakan nanti..^^). Apalagi teman-temanku yang cewek sedikit iri kepadaku karena aku memiliki ibu yang cantik. Mereka bilang, “Oi.. cantik nian ibu kau sen!” aku yang mendengarnya sangat senang bukan main, mereka pun pernah bilang kepadaku “kapan-kapan boleh kan main kerumah kau?” Baca lebih lanjut

[Cerbung] Dua Kuas Episode 3 Part 2

this episode, I proud to present this for my beloved mom…

ini lanjutan dari episode 3 part 1

Episode 3: Pekerjaan Rumah  dan Ibu Part 2

Ibu
Ibu

Seperti halnya Ayah, Ibu juga bukan asli palembang. Ibu lahir di Medan dan besar di Duri (Riau). Keluarga Ibu pindah ke Duri sewaktu Ibu masih sangat kecil karena kakek –ayahnya Ibu- dipindahtugaskan ke markas TNI di Duri. Kakek saat itu menjabat sebagai Sersan Mayor, bisa dibilang keluarga Ibu saat itu keluarga yang berada. Namun, maut tak tebang pilih, apakah muda ataukah tua, miskin ataukah kaya, beriman ataukah ingkar, maut pun menjemput kakek disaat usia Ibu masih kecil, dan itu tentu saja berdampak bagi kesejahteraan keluarga Ibu, perlahan-lahan keluarga ibu yang sebelumnya berada menjadi bisa dikategorikan susah. Baca lebih lanjut

[Cerbung] Dua Kuas Episode 3 Part 1

Alhamdulillah, in the midst of working, i can finish episode 3 part 1…

Happy reading!!

this episode, I proud to present this for my beloved mom…

ini lanjutan dari episode 2

Episode 3: Pekerjaan Rumah  dan Ibu Part 1

Ibu

Ibu


            “San, Sen, sepatu dah diangkat belum?” teriak ibu dari lantai atas, sepertinya ibu sedang nyetrika. Suara Ibu mengagetkanku dan kak Hasan yang sedang asyik nonton bersama ayah diruangan TV dilantai bawah. Aku melihat kak Hasan dan kak Hasan pun melihatku, kami saling pandang. “Sudah belum ya??”

“San, Sen, sepatuh dah diangkat belum?” teriak ibu lagi, kali ini makin keras dari sebelumnya.

“Sudah apo belum Kak?” tanyaku kepada kak Hasan.

“Mano gue tahu! Cubo lu jingok-lah” jawab kak Hasan. Kami dari kecil memang sudah terbiasa dengan ‘lu’ dan ‘gue’. Kami pun lupa karena apa kami menggunakan ‘lu’ dan ‘gue’. Baca lebih lanjut

[Cerbung] Dua Kuas Episode 2 Part 2

Sambungan dari Episode 2 part 2

Episode 2: Buya Part 2

Buya

Matahari sudah benar-benar hampir tenggelam, perlahan-lahan kembali keperaduannya, langit dihiasi warna merah marun yang sangat eksotis, burung-burung gereja lalu lalang terbang sesuka mereka menambah keramaian kami berangkat ke mushalla. Subhanallah, betapa luar biasa ciptaan-Mu ya Rabb.

Aku dan kak hasan bergegas ke mushala dengan stelan khas kami, baju koko, sarung, dan peci. kalau stelan seperti itu mah bukan khas tapi sudah umum. He..he.. Selesai menunaikan shalat magrib berjama’ah, buya tersenyum melihat kami, senyum yang sangat damai dan kami rindukan , dan kami pun langsung mendekatinya, menyalami sambil mencium tangannya dengan penuh takzim. Baca lebih lanjut

[Cerbung] Dua Kuas Episode 1 Part 2

ini part 2nya…:) lanjutan dari Episode 1: Jembatan Ampera Part 1

Episode 1: Jembatan Ampera Part 2

ampera
Akhirnya, kami turun dimuka pasar 16, nyebrang ke arah masjid agung yang gagah dengan arsitek cina yang menawan dan lalu nyebrang lagi ke BKB (Benteng Kuto Besak). Tangan ayah yang kanan memegang tangan kiriku dan tangan kiri ayah memegang erat tangan kak Hasan. lalu lintas hari ini tidak padat seperti biasanya, sehingga kami tak menemukan hambatan yang berarti ketika menyebrang hingga sampai di BKB ini. BKB sore ini sudah begitu rame dipadati masyarakat Palembang untuk berwisata ringan melepaskan penat bersama keluarga. penjual mpek-mpek, pedagang kelontongan, penjual mie tek-tek, tukang foto keliling, orang-orang pacaran, orang yang lagi mancing, remaja-remaja yang cekikikan dengan teman-temannya, dan kapal-kapal getek didermaga yang siap mengangkut masyarakat kalau mau melintasi atau sekedar jalan-jalan disungai musi telah siap menyambut kedatangan Kami. Baca lebih lanjut

[Cerbung] Dua Kuas Episode 1 Part 1

Assalamu’alaykum,

sekedar mau coba buat cerita bersambung, biar seru dan rame aja nih blog. Juga saya belum ada ide untuk tulisan-tulisan berat.. 🙂

cerita ini sedikit diambil dari kehidupan keluargaku, so ada dramatisasi-dramatisasi dibagian-bagian tertentu..:) you know lah..

selamat menikmati..

Episode 1: Jembatan Ampera Part 1

ampera

“Nak, kalian tahu kenapa jembatan itu disebut Jembatan Ampera” Ayah bertanya kepada kami berdua sambil menelunjukkan jarinya keluar kaca bus kota kearah Jembatan Ampera yang berada diatas sungai musi itu yang menghubungkan seberang hilir dan hulu kota Palembang. Tangannya dengan sigap kembali keperaduannya seketika selesai memberikan pertanyaan singkat tersebut.

Kami yang duduk manis persis disamping ayah sibuk memperhatikan riuhnya bus kota yang sedang kami naiki ini. “Bus kotanya aneh!” gumamku dalam hati sambil celingak-celinguk kesegala penjuru bus kota. Mulai dari kacanya, kursinya, penumpangnya, lantainya, dan aksesoris-aksesoris yang nggak karuan seperti lampu sorot berwarna-warni, kain-kain bergambarkan bob marley, merah kuning hijau, dan poster kain bergambar daun, aku tak tau itu daun apa dan bertuliskan RASTA yang aku juga tak tahu apa itu artinya”RASTA” yang bergelantungan dilangit-langit bus, dan rambut supir dan keneknya yang bikin perut menggelitik hebat dan terpana dengan rambut yang botak didepan dan panjang dibelakang, kayak vokalis Pas Band aja, atau lebih mirip wong fei hung jago kungfu dari cina itu.  Serta yang tak kalah seru adalah sound systemnya yang begitu menggelegar dan membahana keseantero bus kota ini dengan menyetel musik-musik OT (Organ Tunggal) yang membuatnya seperti diskotik berjalan. Kakakku pun seperti itu, begitu antusias dengan bus kota satu ini. Ada rasa yang menarik dari bus ini yang membuat kami tidak terlalu mendengarkan pertanyaan ayah barusan, hanya terdengar sayup-sayup saja ditelinga kami berdua. Seperti angin lalu saja. Baca lebih lanjut