Pantaskah Aku diCintai?

Pantaskah Aku diCintai?

Aldo Al Fakhr Wilman

MM SKI IT Telkom

Dibulan februari ini, banyak orang merayakan hari valentine yang erat dengan kaitannya dengan hari kasih sayang, bagi kita umat islam, hari kasih sayang tidaklah hanya hari valentine saja, namun semua hari yang menghiasi hidup kita adalah hari kasih sayang, setiap hari yang kita lewati adalah wujud kasih sayangnya Allah kepada kita karena kita masih diberikan kehidupan, sepantasnyalah kita bersyukur kepada Allah.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.. (Segala puji hanya untuk Engkau ya Allah Tuhan semesta Alam)

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas sejarah valentine, haramkah valentine, atau dampak dari hari valentine itu sendiri. Sekali lagi tidak! Dalam tulisan ini, saya mengajak Anda untuk bertanya kepada diri masing-masing,. Sejenak saja. Sekarang juga. Tentang sebuah simbol keberartian dan eksistensi diri yaitu kepantasan diri untuk dicintai,  “Pantaskah Aku dicintai?”

Mencintai diCintai

Fitrah Manusia

Setiap insan didunia

Akan merasakannya

Indah ceria kadang merana

Itulah rasa cinta..

(Cinta – The Fikr)

Ya, pantas untuk dicintai adalah bentuk dari keberartian dan eksistensi diri. “ Karena cinta tak dipersembahkan untuk padang jiwa yang hampa. Tidak juga untuk karya-karya yang tak bermakna.” Kata Ust. Ahmad Zairofi. Hanya bila kita berguna saja, maka kita layak untuk dicintai. Nafi’un li ghairi.  Sehingga pabila diri ini tidak berguna maka yang kemudian terjadi adalah kita tak pantas untuk dicintai!

Kepantasan untuk dicintai adalah output dari kapasitas diri. Sudah sejauh mana diri ini bermanfaat dan sudah sejauh mana kontribusi diri ini untuk ummat. Kontribusi benar-benar nyata yang terlihat dalam aktivitas dan gerak-gerik bukan hanya sebuah status agar diketahui orang yang akhir-akhirnya mengharapkan pujian dari sana.

Kepantasan untuk dicintai adalah milik semua manusia yang menhirup nafas dimuka bumi ini terlebih lebih seorang kafir sekalipun. Ada sebuah rasa keberhakkan akan ingin dicintai. Apalah arti dunia ini pabila tak ada yang mencintai. Hanyalah kesepian yang menemani hari-hari yang penuh masalah. Tak ada teman tuk berbagi, tak ada sahabat yang menguatkan tancapan tombak semangat hidup, dan tak ada yang mau untuk dimintai pertolongan. Oleh karena itu, semua manusia pasti ingin dicintai oleh satu atau lebih manusia lain yang hidup dipermukaan bumi ini.

Kehidupan didunia ini tersebar dalam berbagai aspek. Dan dari tiap manusia memiliki peran-perannya masing-masing. Ada yang di sekolah, di universitas, di kantor, di rumah tangga, di pemerintahan, dan lain sebagainya. Semua memiliki peran. Dan seharusnya peran itu harus dimainkan dengan maksimal, mencerminkan sikap penuh kemanfaatan, tidak mengeruk manfaat. Menebar manfaat bukan memanfaatkannya. Siapa yang tidak memanfaatkan perannya itu maka yang kemudian muncul adalah ketidakberartian dalam kehidupan dan dengan kata lain tidak berguna, pabila sudah tak berguna maka sebuah pertanyaan muncul, “Pantaskah orang ini dicintai?” Engkau sajalah menjawabnya.

Sumber dari kepantasan untuk dicintai adalah kejujuran. Kejujuran itulah yang menjadi sumber kekuatan dalam menebar manfaat didalam peran kita masing-masing. Siapa yang tak tahu kekuatan kejujuran. Aku yakin yang membaca tulisan ini pasti mengetahuinya. Pengaplikasiannya lah yang susah, tergopoh-gopoh meraup kejujuran muncul dalam diri. Sulit untuk dikeluarkan. Karena justru ketidakjujuran itulah yang akan membawa seseorang untuk “memanfaatkannya” untuk kepentingan pribadi. Dapat terlihar dari para penguasa diktatoris yang memanfaatkan jabatannya untuk meraup keuntungan pribadi. Seorang pemilik tender yang memanfaatkan  tendernya itu untuk meraup keuntungan dari pengikut tender yang mau “ngasih lebih”. Dan lain sebagainya yang sering merusak ukiran kejujuran dalam kehidupan.

Ust Ahmad Zairofi menuliskan bahwa” pada setiap jengkal wilayah sosial kita, selalu ada tempat untuk bertanya itu: layakkah kita dicintai? Seperti bila kita seorang suami. Ada banyak karunia pada status itu. Tapi bukan karena statur itu semata kita layak dicintai. Tapi pada apa yang kita ciptakan dengan status itu, pada kejujuran kesuamian kita. Ketulusan untuk berkorban berupa manfaat untuk orang-orang yang ada di rumah kita sendiri: anak-anak, istri, atau keluarga lainnya. Begitupun  menjadi seorang istri juga status. Pada fungsi dan daya manfaatnya status itu menjadi landasan kelayakan untuk dicintai.”

Maka sebaik-baik seorang mukmin adalah paling banyak bermanfaat bagi orang lain dan lingkungannya. Keberartian akan sempurna pabila seorang mukminlah yang menebar manfaat tersebut. Karena seorang mukmin mengetahui betul manfaat dari ia menebar manfaat. Untuk itulah ia tidak menyia-nyiakan waktunya agar waktunya senantiasa terisi penuh oleh kemanfaatan bagi orang lain dan tentunya akan kembali ke empunya penebar manfaat tersebat. Ini mengindikasikan bahwa untuk menbar manfaat penuh keberartian maka keimanan harus senantiasa dipupuk agar mekar pada momentumnya. Dan tentunya untuk meningkatkan keimanan adalah dengan cara ber-taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah). Raih cinta-Nya, maka engkau pantas untuk dicintai. Karena dalam peraihan cinta Allah tersebut, amal-amal kebaikan lantas tersebar dan memiliki kemanfaatan bagi orang lain dan lingkungannya. Insya Allah.

Diakhir tulisan ini Aku ingin berujar bahwa pabila mulai sekarang hidupmu penuh kebermanfaatan maka Anda layak untuk dicintai dan Aku pun akan mencintai Engkau!

Hamasah Akhi wa Ukhti..

Wallahu’alam

Bandung, 13 February 2010

Iklan

Potensi Seorang Insan Bernama Manusia

Potensi Seorang Insan Bernama Manusia

“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin:4)

Begitu luar biasanya seorang manusia yang diberikan bentuk dan potensi yang sebaik-baiknya. Lebih baik ketimbang makhluq Allah lainnya. Sudah sepatutnyalah bagi kita insan bernama manusia mensyukuri atas apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Jangan sekali-kali kita dustai dan kufuri. Karena adzab Allah pedih bagi orang-orang yang tak mau bersyukur.

Generally, manusia itu memiliki 3 potensi dasar dalam dirinya dan tiap-tiap manusia memiliki akan hal itu. Dan potensi ini merupakan potensi penting bagi keberlangsungan hidupnya.

Pertama, potensi fisik. Kita akan menjadi manusia yang memiliki karya yang produktif dan mobilitas yang tinggi manakala kita mampu memanagemen potensi fisik kita dengan baik dan teratur.

Rasulullah Saw bersabda

Al mu’minuun Qowiyyun khoirun wa ahabbu illah minal mu’minin dho’ifa. Mu’min yang kuat lebih dicintai ketimbang mu’min yang lemah.”

Cobalah kita tengok qudwah kita nabi Muhammad yang hingga usia 63 tahun masih memiliki postur badan yang atletis dan bugar. Dan menurut riwayat bahwa Beliau memulai peperangan ketika usianya 53 Tahun. Tahukah sahabat? Ternyata Rasulullah memakai baju besi sebanyak 2 lapis dan tentu 1 lapis saja sudah berat. Dan perjalanan menuju medan perang pun juga tak kalah jauhnya berkilo-kilo meter. Sungguh luar biasa, itu mengindikasikan bahwa fisik Beliau sangat-sangat prima. Bagaimana dengan kita?

Inti yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah bahwa tidak selamanya fisik yang baik membawa seseorang kepada kemuliaan dihadapan Allah selayaknya Rasulullah Saw. Justru yang sering terjadi adalah banyak manusia yang memiliki badan tegap, berotot, kekar, macho, seksi, langsing, gitar spanyol, putihm dan lain-lain menjadikannya hina akan keindahan fisiknya tersebut. Adakalanya seorang wanita yang berpenampilan seolah-olah sempurna tidaklah juga identik dengan kemuliaannya. Bahkan menjadikannya hina karena kegemarannya yang sering mempertontonkan tubuhnya ke khalayak banyak tanpa rasa malu dan takut sedikitpun. Seperti bintang iklan sampo, sabun mandi, cream pelembab dan penghalus kulit dan artis-artis bermental mesum. Baginya ini adalah bentuk pengeksistensian diri. Wajar saja ketika UU Pornografi dan Pornoaksi di sahkan oleh DPR beberapa tahun yang lalu, dia adalah orang yang pertama kali kontra akan UU tersebut. Astaghfirullah.

Dan tak sedikit pula yang stress dengan fisiknya. Bagaimana tidak. Ia harus menjaga keseimbangan kecantikan tubuhnya dan harus menjalankan program-program diet sehingga selera makan terbatasi, hidup terasa sempit, dan terkesan pemaksaan dan pendzaliman diri.

Tapi, intinya adalah potensi fisik haruslah ditempatkan sesuai dengan kepentingan syar’I bukan untuk duniawi. Dan potensi fisik ternyata tidak identik dengan kemuliaan seseorang.

Kedua, Potensi akal. Akal adalah potensi yang begitu istimewa. Dan akal ini hanya terdapat pada seorang makhluq saja, yaitu insan bernama manusia. Itulah yang membedakan antara manusia dengan binatang, tumbuhan, setan, jin, dan malaikat sekalipun. Akal yang diberikan oleh Allah untuk kita seharusnya dimanfaatkan dengan baik dengan memikirkan ayat-ayat kauliyah (tersurat) dan ayat-ayat kauniyah (tersirat). Sehingga tercipta suatu letupan-letupan karya karenanya. Tapi realita yang terjadi tak seindah tujuan awal. Banyak dari manusia menggunakan akalnya untuk mencuri, membunuh, bersilat lidah di pengadilan, memikirkan cara-cara untuk menyingkirkan seorang yang dianggap musuhnya. Dalam benaknya hanya kejahatan, kedengkian, dan keirian terus-menerus. Sehingga menyebabkan orang seperti ini dikatakan sebagai orang yang kerdil. Sungguh pabila akal digunakan dengan baik pada tiap-tiap manusia rasa sakinah akan memayungi bumi dari kerusakannya.

Sebenarnya banyak orang pintar dan cerdas didunia ini, jangankan didunia, diindonesia saja bertaburan orang-orang pintar. Mereka lulus dengan predikat cumlaud juga banyak. Pemenang-pemenang olimpiade sains dan matematika bertaburan di Indonesia. Tapi kenapa negeri justru terpuruk akan moralnya. Korupsi merajalela diberbagai sektor. Korupsi yang dilakukan pun tidak tanggung-tanggung berkisar ratusan juta hingga triliunan rupiah. Kalau kita bisa telaah tidak mungkinlah orang bodoh melakukan itu. Kalau menurut saya orang bodoh palingan bermain dikisaran jutaan rupiah saja. Pastilah ia orang yang pintar mencari alasan atau pintar melobi pihak ketiga dan pintar mengkalkulasi kecurangan, dan lain sebagainya. Dan pula seorang anak yang pintar justru berani melawan orang tuanya yang secara pendidikan jauh dibawahnya. Ia berani menipu orang tuanya dengan alasan untuk duit kursus namun digunakan untuk hura-hura bersama teman-temannya. Na’udzubillah.

Sehingga semakin jelaslah akal yang pintar dan cerdas tidak identik dengan kemuliaan seseorang.

Dari kedua potensi yang disebutkan diatas yaitu potensi fisik dan potensi akal tidak identik dengan kemuliaan seseorang. Tak berlaku hokum, semakin bagus fisik seseorang dan semakin pintar seseorang maka mendapatkan kemuliaan. Dan sebaliknya. Tak akan berlaku hokum seperti itu. Walaupun didunia ia merasa angkuh, merasa paling besar, merasa hebat, merasa kuat, tapi tidak nanti ketika diakhirat. Dan perlu diingat juga bahwa fisik itu lama-kelamaan akan kendor, keriput,tak tampak bagus lagi dilihat. Begitu juga akal yang pintar akan hilang dengan semakin menuanya seseorang, kualitas berfikirnya lama-kelamaan akan terkikis. Seperti itulah. Janganlah bersandar kepada kedua potensi tersebut kecuali digunakan dengan syar’I  sesuai tuntunan al-Qur’an dan as Sunnah.

Terus.. potensi yang terakhir adalah potensi yang semua manusia memilikinya dan mampu untuk diarahkan. Tergantung dari manusia itu sendiri. Pabila ia baik maka seluruh anggota tubuhnya dan amalnya akan baik dan pabila ia buruk maka keburukan pula yang akan terjadi. Potensi tersebut adalah qalbu (hati).

Aa Gym mengatakan bahwa ada 3 kategori hati

  1. Qalbu Maridh (Hati yang sakit)

Ciri-ciri orang memiliki hati yang sakit, tak ubahnya seperti gelam kusam yang berisikan air keruh. Jangankan sebutir debu yang mencemarinya, paku payung, jaru, silet atau patahan cutter sekalipun yang masuk, tidak akan terlihat.

Orang yang menderita qalbun maridh akan sulit menilai secara jujur apa pun yang Nampak didepannya. Ia terkena virus megaloman.

Intinya adalah dalam qalbun maridh ini terdapat dua sisi yang beriringan. Sisi kecintaan kepada Allah dan keimanan dan juga sisi rasa cinta terhadap hawa nafsu, mementingkan kehidupan dunia, ketamakan terhadap kesenangan.

  1. Qalbu Mayyit (Hati yang mati)

Hati yang mati tak ubahnya seperti jasad yang mati. Kendati dicubit, dipukul, digorok, di tusuk, tidak akan terasa karena sudah mati. Ciri utama hati mati ini adalah penolakan kebenaran dan ayat-ayat Allah serta berlaku dzalim terhadap diri sendiri dan lingkungan disekitarnya.

“Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (QS. Al-Kahfi: 57)

“Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (QS. Al-Baqarah: 7)

Oleh karena itu orang yang memiliki hati seperti ini tidak mengenal Tuhan dan hakikat dari ma’rifatullah. Karena hawa nafsu sudah menjadi masinisnya, ia hanya duduk digerbong VIP yang mewah tanpa memperdulikan dibawa kemana oleh si masinis tersebut.

  1. Qalbu Shahih (Hati yang sehat)

Hati yang sehat sama halnya dengan tubuh dan akal yang sehat. Ia akan berfungsi dengan optimal tanpa ada gangguan yang berarti. Diantara cirri orang yang hatinya sehat adalah hidupnya diselimuti mahabbah dan tawakkal kepada Allah. Dengan begitu, ia tidak akan berlebihan dalam mencintai makhluq. Ia bisa menempatkan cinta pada porsinya. Dan ia bersikap adil terhadap cintanya. Dan begitu pula ketika ia membeci sesuatu ia berlandaskan pada kebencian sesuatu tersebut karena Allah.

Hati yang semakin bersih hidup akan selalu diselimuti rasa syukur terhadap semua kondisi. Walaupun bertubi-tubi bencana, musibah, dan rintangan menghadang dirinya, ia tetap tsabat (teguh) akan prinsipnya dijalan Allah. Tak sedikitpun keinginan untuk jauh dari jalan tersebut.

Teringat dengan nasyid “Jagalah Hati” yang populer beberapa tahun yang lalu.

Bila hati kian bersih, pikiran pun akan jernih, semangat hidup nan gigih, prestasi mudah diraih, tapi bila hati busuk, pikiran jahat merasuk, akhlaq kian terpuruk, jadi makhluq terkutuk. Bila hati kian lapang, hidup susah tetap senang, walau kesulitan menghadang, dihadapi dengan tenang, tapi bila hati sempit, segalanya jadi rumit, seakan hidup terimpit, lahir batin terasa sakit.

Sungguh luar biasa ketika hati bersih kan! Semuanya jadi enak dan lapang, sakinah terasa dekat, rahmah berlimpah didapat, rezeki insya Allah datang tanpa terduga-duga.

Ingat, potensi dalam diri ini adalah amanah yang harus dijaga dan dikembang biakkan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Pintalah kepada Allah. Dialah yang telah memberikan potensi itu. Pintalah agar potensi-potensi itu dapat dioptimalkan dengan semaksimal mungkin agar tak menyesal didunia dan tentu saja diakhirat.

Wallahu’alam

Bandung 7 dan 8 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

saya sedih dengan insan bernama wanita

saya sedih dengan insan bernama wanita

betul banget nih adanya. saya sangat sedih dengan insan bernama wanita. sekarang mereka dizhalami, sekarang mereka diperlakukan tidak adil oleh laki-laki, sekarang mereka terhina dihadapan laki-laki.

betapa tidak, cobalah kau tengok iklan-iklan sekarang bahkan dari dulu, hampir 80 persen tokoh utamanya adalah wanita, dan hanya 20 persen laki-laki.

aku sedih karena aku peduli, peduli dengan saudariku.

aku sedih karena aku kasihan, kasihan dengan saudariku

aku sedih karena aku tak mau mereka terhina

aku sedih karena aku sayang pada mereka

wanita sekarang menjadi perhiasan biadapnya laki-laki, tubuhnya ditampakkan, diumbar-umbarkan sehingga syahwat laki-laki membuncah karenanya.

aku kemarin membaca sebuah buku, bahwa laki laki senang dengan wanita -maaf- telanjang, akan tetapi wanita jijik dengan laki2- maaf sekali lagi- telanjang.

untuk para wanita yang belum berhijab, berhijablah, karena dengan berhijab engkau akan merasa aman, nyaman, dan terbebas dari pandangan penuh syahwat laki-laki.

aku tahu engkau mau memamerkan wajah cantikmu, putih kulitmu, langsingnya tubuhmu kepada semua orang, agar engkau merasa eksis didunia yang tidak berkeadilan ini. tapi itu hanya berhak kau pamerkan ke suamimu. sungguh di ujung dunia sana, insan bernama laki2 sedang menantimu, ia berharap engkau adalah wanita sholihah yang diberikan Allah untuknya. ia senantiasa mendo’akanmu dipertiga malamnya. malukah engkau saudariku… ketika ia begitu peduli denganmu, tapi engkau tak peduli dengannya.

tiap laki-laki dan wanita itu ada pembagiannya masing2. cobalah engkau lihat di QS. An-Nisa:32. disana engkau akan mendapatkan bahwa Allah telah berbuat adil kepadamu

sungguh Allah menyanjungmu. cobalah engkau lihat, didalam Al-Qur’an ada surat yang bernama An-Nisa yang artinya wanita, betapa istimewanya engkau saudariku, apakah engkau tak menyadarinya, betapa Allah mengistimewakan dirimu.

kalau engkau mau berhijab, betapa senangnya Allah kepadamu, betapa senangnya calon suamimu (ups!) kepada dirimu, betapa senangnya keluargamu kepada dirimu.

memang butuh proses dalam taqarrub kepada Allah, walaupun amal2 sholih masih sedikit engkau kerjakan, tak apa. jika engkau mati didalam jalan itu,, sesungguhnya itulah jihadmu, dan balasan jihad adalah jannah Allah.

aku yakin engkau bisa saudariku, bangkit dari masa jahilyah menuju jalan terang yang penuh kenikmatan.

aku yakin engkau bisa saudariku, menjauhi maksiatmu dulu

aku yakin engkau bisa saudariku, membuat cemburu para bidadari, sungguh wanita sholihah itu lebih baik dibandingkan para bidadari syurga.

tahukah engkau saudariku, Rasulullah bersabda bahwa, ” dunia adalah perhiasan, dan perhiasan dunia yang terbaik adalah wanita sholihah,”

betapa istimewanya dirimu saudariku.

dan jika kamu mau berubah menjadi lebih baik lagi

maka

diakhir tulisan ini aku mau mengatakan

“saya bangga dengan insan bernama wanita.”