[Cerbung] Dua Kuas Episode 2 Part 2

Sambungan dari Episode 2 part 2

Episode 2: Buya Part 2

Buya

Matahari sudah benar-benar hampir tenggelam, perlahan-lahan kembali keperaduannya, langit dihiasi warna merah marun yang sangat eksotis, burung-burung gereja lalu lalang terbang sesuka mereka menambah keramaian kami berangkat ke mushalla. Subhanallah, betapa luar biasa ciptaan-Mu ya Rabb.

Aku dan kak hasan bergegas ke mushala dengan stelan khas kami, baju koko, sarung, dan peci. kalau stelan seperti itu mah bukan khas tapi sudah umum. He..he.. Selesai menunaikan shalat magrib berjama’ah, buya tersenyum melihat kami, senyum yang sangat damai dan kami rindukan , dan kami pun langsung mendekatinya, menyalami sambil mencium tangannya dengan penuh takzim. Baca lebih lanjut

[Cerbung] Dua Kuas Episode 2 Part 1

mumpung nafsu nulis lagi menggila…:)

Episode ke-2 Cerbung Dua Kuas akhirnya dirilis, sebelumnya silahkan dibaca episode 1 part 1 dan episode 1 part 2

silahkan menikmati

Episode 2: Buya Part 1

Buya


Sore yang indah, anak-anak disekitaran rumahku sudah pada menghilang dari bermain dipanggil orang tua masing-masing menyuruh mereka mandi tuk bersiap-siap ke mushala, waktu sudah mendekati magrib, lantunan ayat suci al-qur’an yang mendayu indah, lembut, dan tentram seakan-akan menyuruh kami untuk pergi kemushala, bapak-bapak terlihat berjalan dengan mengenakan baju koko, sarung, dan tak terlupa tersampirkan sorban dibahu kanannya menuju mushala Al-Misbah. Kebetulan letak mushala Al-Misbah tepat dibelakang rumahku, mushala kecil hasil swadaya masyarakat, walaupun terlihat sederhana dan kecil namun begitu ramai ketika shalat fardhu dilaksanakan dan makmur dalam artian bapak-bapak mengadakan pengajian, ibu-ibu juga mengadakan pengajian, remaja-remaja pun juga mengadakan pengajian. Termasuk aku dan kakakku yang sering ikut pengajian itu. Baca lebih lanjut

Itu Suara Apa?(Episode Kejadian)

Itu Suara Apa?(Episode Kejadian)


sebenarnya saya males nyeritain ini, tapi karena ingin berbagi pengalaman seru.. ya udah deh..

Cerita berikut ini adalah kejadian yang saya alami kalau nggak salah pada tahun 2007 akhir, sewaktu si saya masih tingkat 2 kuliah di ITT. Kalau ada hikmah dibaliknya sok mangga’ diambil, kalau nggak ada terserah anda.. ^^

Cekidot guys!!..

Sehabis makan malam dengan menu ayam goreng didepan mesjid PGA, si saya dan abang langsung beranjak pulang kekosan yang nggak terlalu jauh dari tempat makan ini, hanya sekitar 200 meter. Sambil jalan kami pun cerita-cerita khas kami yaitu membicarakan masa depan, banyak banget deh yang dibahas dan nggak terasa udah nyampe dikosan…

Clek, pintu kosan dah terbuka. Si saya langsung mengemasi barang kayak mau mabit gitu.. sarung, jaket, mushaf, dan lain-lain. Si abang langsung nanya:

“nak kemano lu do?” Tanya abangku dengan bahasa Palembang yang artinya ‘mau kemana lu do?’

“nak ke MSU (MSU adalah mesjid kampus ), shalat isya’ disano”kujawab

“banyak nian bawa’an tuh? Nak nginep lu?”

“iyo, lah lamo dak nginep di LAB lagi”

“ai.. baguslah men cak itu, pacak lego gw tiduk malam ni!” *artinya tau nggak? He..he.. , artinya ‘ai.. baguslah kalau kayak gitu, bisa lapang gw tidur malam ini’

“is dah budak sikok ni!” ujarku dalam hati, *gimana yah mau ngartiinya, intinya sama kayak ‘busyet dah nih bocah’ kalau bahasa betawinye.

Udah deh tanpa basa-basi si saya cap cus keluar kos menuju kampus, oh.. tentunya tak lupa mengucapkan salam ketika mau pergi ke si abang saya.

Udara malam ini tidak terlalu dingin seperti biasanya, tau sendiri dong bandung kayak apa dinginnya, dan juga tak terlalu panas malam ini. Yah .. biasa-biasa saja. Kupandangi malam, terlihat rembulan malu-malu menampakkan dirinya, menggunakan awan sebagai tabir untuk menutupi sebagian tubuhnya…

Allahu Akbar.. Allahu Akbar… Baca lebih lanjut

Di Gerbong Itu (Episode Kereta)

Di Gerbong Itu (Episode Kereta)

Kereta itu menjejalkan rodanya dibatangan rel yang telah rapuh

Hujan membasahkuyupkan gerbong-gerbong kereta kelas ekonomi Jakarta-Depok

Kududuk hampa tak melakukan apa-apa selain duduk dan mengamati sekitar, ini adalah pengalaman pertamaku naik kereta kelas ekonomi, stasiun tebet kali ini tidak begitu ramai karena baru jam 16.00…

Sesosok tubuh mungil belari mengejar-ngejar pintu masuk kereta

Aku hanya terpaku dan terdiam sahaja melihat tingkah lucunya dari kejauhan sambil menunggu kereta benar-benar berhenti

Hujan masih berduyung-duyung membasahi bumi Jakarta, ketika kakiku melangkah dengan sigap masuk ke kereta, hujan mengenai jaket dan rambutku sedikit.

Tapi tidak dengan anak itu, ia begitu semangat menghantam hujan, peluh keringat terhapus air hujan yang membasahi, wajahnya tetap tersenyum sembari menenteng kardus yang sudah dipermak sedemikian rupa untuk menampung barang dagangannya..

Aku sudah masuk didalam gerbong yang tak layak disebut gerbong, bagiku ini adalah kaleng berjalan, sesak dan bising, munkin semua orang setuju akan pendapatku..

Dari kejauhan kulihat sesosok mungin yang telah lama tadi kuperhatikan perlahan-lahan mendekati tempatku berdiri, ia meneriakkan barang dagangannya, berusaha untuk tidak mengemis atau meminta-minta, ia berusaha, aku suka anak ini, ia terlihat keberatan mengangkat dagangannya itu, tapi terlihat tidak masalah berarti baginya..

Ketika akan 1 gerbong lagi menuju kearahku, kereta berhenti di stasiun cawang, ia turun tak berpamit dulu denganku, dengan sekonyong-konyong saja keluar gerbong…

Beberapa detik kemudian, kereta perlahan bergerak kembali, menjejalkan roda-roda besi “rongsokan” ke rel jaman belanda ini..

Aku hanya bisa merenung dan mengambil hikmah apa saja yang barusan kulihat, fikiranku focus pada satu sosok, yah.. anak kecil itu, memberikanku pelajaran luar biasa dalam menjalani hidup, walaupun banyak halangan tapi ia tetap tenang, dan berani menendang masalah, bersedia keluar dari cengkraman hidup yang mudah, yaitu dengan meminta-minta, ia tidak mau, kepercayaan diri, dan kesabaran ketika tidak ada yang mau membeli barang dagangannya, ia terlihat tetap senang menjalani hari-harinya..

Aku berdo’a untuknya, agar diberikan kemudahan dan kesuksesan dalam hidup didunia dan diakhirat.. bisa membawa dirinya, keluarganya, agamanya, dan negaranya kepada kemuliaan karena Allah…

Amin ya RABB

Nb: tulisan ini kupersembahkan untuk seseorang yang memintaku menuliskan hikmah orang-orang biasa yang mempunyai kerja yang luar biasa, diketahui atau tidak diketahui.. afwan tulisannya acak kadut kayak begene.. nggak terbiasa soalnya..

Jakarta, 16 Juli 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Merantau adalah cita-citaku

Ini adalah cerpen lamaku yang tersimpan di hardisk…

simak ya…

Merantau adalah cita-citaku

Jum’at, 8 Juni

Hatiku sangat gundah, risau, lasak, dan khawatir. Biskuit di piring telah habis, tak ada lagi yang dapat menghibur kesepian ini. Bagaimana tidak, besok pengumuman SPMB. Aku takut, aku tidak lulus. Pilihan pertamaku pada tes kemarin adalah kedokteran UI dan pilihan keduanya adalah kedokteran UNSRI. Memang tak mudah untuk lulus, karena jurusan itu sangat banyak peminatnya, tapi aku yakin dari apa yang telah kudapatkan di bangku SMA akan menjadi bekal yang lebih dari cukup ditambah dengan kursus yang khusus SPMB pun telah aku ikuti. Dan aku yakin Tuhan akan memberikanku kesempatan kuliah di jurusan kedokteran.

Angin berhembus gaduh, membuat suasana malam makin mencekam. Pohon-pohon berdiri dengan gagahnya, daun-daunnya menari mengikuti irama angin malam. Membuatku terhibur akan hal itu.

Kupandangi pemandangan sawah di malam hari lewat jendela kamar. Indah tapi menakutkan. Bulan menyenteri bumi dengan terangnya. Ya, malam ini bulan sedang purnama. Takkan kusia-siakan kesempatan ini untuk menikmatinya. Masih teringat di dalam benakku obrolan dengan papa dan mama di ruang tamu kemarin malam.

“ Bagaimana vid, kamu yakin bisa lulus?” Tanya papa kepadaku.

“Aku sangat yakin sekali pa, percuma aja aku kursus pra SPMB mahal-mahal kalau aku ga lulus.”

“Omongan seorang laki-laki harus dapat di pertanggungjawabkan loh vid!” mama ikut-ikutan.

“Tenang aja ma, aku takkan mengecewakan papa dan mama. Aku akan berikan yang terbaik untuk papa dan mama. Kalaupun aku tak lulus, aku akan kursus lagi untuk mengikuti SPMB tahun depan.”

“Okelah vid, kamu memang anak papa mama yang baik dan bertanggung jawab”ujar mama.

“Ah, mama terlalu memuji. Aku jadi malu.” Dengan sedikit kefua tepi bibir kesamping dan lubang hidung yang mengembang.

“Oh, iya vid, kamu maunya lulus di kedokteran UI atau kedokteran UNSRI?”kata papa.

“Apapun lah pa, karena kedua-duanya sama-sama bagus. “

“Kamu sendiri cenderungnya kemana pinginnya?”

“Aku cenderungnya ke UI pa!”

“oke, papa mama do’ain david agar diterima di UI ya! Dan jangan lupa berdo’a kepada Tuhan!”

“wah, terima kasih banyak ya pa, ma atas do’anya.”

Dari pembicaraan tersebut semakin membuatku yakin aku akan lulus di kedokteran UI. “Yah, semoga saja lah.”ujarku dalam hati.

Ayah adalah seorang petani yang sukses, ladang padi ayah berpuluh-puluh hektar, tak ayal keluargaku adalah termasuk keluarga yang paling berada dikampung ini. Dari segi biaya kuliah,” ah, aku yakin pasti ayah telah menyiapkannya untukku.”

Pernah aku menanyakan kepada ayahku.

“yah, ada uang ga kalau aku kuliah di fakultas kedokteran?”

“tenang aja, Vid. Untukmu apasih yang ga ada!”

Aku menjadi sangat yakin untuk kuliah fakultas kedokteran.

“Ayah merupakan sahabat terbaik dalam hal meminta uang,” ha..ha..ha…

Ayahpun ikut tertawa mendengar ucapanku itu. Giginya yang mulai menguning karena sering merokok pun terlihat dan itu membuatku semakin tertawa.

Dikeluarga ini, yang paling dekat denganku adalah ayah. Aku juga tak tau mengapa. Mungkin karena sama laki-laki kali ya! Jadi kalau ngobrol tuh nyambung. Apalagi kalau dah ngomongin pertanian di Indonesia, wah.. bisa panjang ceritanya satu haripun mungkin gak cukup. Menurut Ayah, jikalau Indonesia ini bisa memanfaatkan sektor pertaniannya, ayah yakin Indonesia akan menjadi Negara terkaya didunia melebihi Amerika. Ah.. ayah terlalu berlebihan. Itulah ayahku. Bangga. Pernah suatu hari ayah menyuruhku untuk masuk ke fakultas pertanian saja. Aku langsung menolaknya, karena aku lebih prefer ke kedokteran. Ayah hanya tersenyum melihatku yang sangat bersemangat masuk fakultas kedokteran.

to be continued

Aldo Al Fakhr

MM SKI IT Telkom

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Cerpen- Amar

Sebuah Cerpen yang kurajut dalam tulisan, untuk Bundaku tercinta……

sebuah cerpen yang kubuat sendiri….

Aldo Al Fakhr (blogger pencari spirit yang hilang)

AMAR

Semua terjadi diluar dugaaan ibu. Terjadi begitu cepatnya. Amar pergi sekelip mata. Padahal rasanya baru kemarin ibu menyusui amar sambil menggendongnya dengan penuh kehangatan yang sangat dan kasih sayang. Membawa amar pergi ke pasar untuk membelikan robot-robotan yang disukai oleh amar, padahal pada waktu itu uang belanja bulanan telah habis, tapi ibu merelakan uang tabungannya digunakan untuk membelikan robot-robotan itu. Membawa amar untuk mendaftarkannya di sekolah yang diinginkan oleh amar. Melihat senyuman yang penuh optimis ketika amar menjadi seorang prajurit penjaga perbatasan Malaysia-Indonesia. Tapi kini amar telah pergi untuk selama-lamanya. Amar meninggal bukanlah di medan perang, tapi amar anak ibu meninggal karena menderita sakit setelah pulang dari operasi di hutan. Itu cerita dari menantu ibu. Ibu sangat sedih sekali. Amar yang begitu dicintainya meninggal dengan usia yang masih muda. Ibu mana yang tak sedih, jikalau anak kesayangannya meninggal, dan pada saat amar menghembuskan nafas terakhirnya, ibu tidak ada disampingnya. Ibu hanya bisa menyentuh dan memandangi lekat jenazah anaknya yang terakhir hanya pada saat jenazah telah dikafankan. Itupun hanya tak lebih dari lima menit. Jenazah amar akan dibawa untuk dikebumikan. Hati ibu pada saat itu  sangat pilu bagaikan disayat pisau yang tajam. Sakit sekali. Tapi, wajah ibu memancarkan ketabahan dan kesabaran menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah ini. Ibu sangat yakin ia akan berjumpa kembali dengan anaknya di surga-Nya kelak.

Sudah sangat lama ibu tak menatap wajah amar yang manis, hal ini karena amar telah lima tahun tidak pulang-pulang, karena tugas yang diembannya mengharuskan amar untuk selalu bersiap siaga. Amarpun sampai mempunyai istri disana dua tahun yang lalu. Ibu sangat ingin membawa jenazah amar ke kampung halaman dan disemayamkan disana. Tapi, istri amar menolak. Apalah kuasa ibu. Ibu tahu mungkin istrinya lebih berhak. Tapi, dimana pula hak seorang ibu yang mengandung dan membesarkan amar. Padahal usia perkawinan mereka saja belum seumur jagung. Ibu baru pertama kali ini menyentuh cucu ibu yang berusia lima bulan itu pada hari pemakaman amar. Fikri namanya.

Isteri amar masih sangat muda, fikri pun pasti membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Ibu tidak menghalangi jikalau isteri amar mencari suami lagi walaupun sangat awal hal tersebut untuk difikirkan. Mungkin awal-awal ini, istri amar tidak mempunyai keinginan untuk menikah lagi. Istri mana yang tak sayang suami. Tapi, lambat laun nantinya akan berumah tangga juga, karena tuntutan hidupnya. Dan ibu amat khawatir, jikalau istrinya sudah menikah lagi, ibu takut kuburan amar jarang diurus dan dilayat.

Amar meninggalkan seorang anak yang sama sekali belum sempat melihat dan mengenali amar. Apalah yang diketahui oleh seorang anak yang baru berusia lima bulan itu. Dunia saja belum begitu dikenalnya. Taaan dan senyuman masih terukir dibibir fikri dikala semua keluarga dan tetangga menangisi dan meratapi kepergian ayahnya yang terkenal sholeh lagi baik akhlaknya. Sungguh mereka amat kehilangan amar. Mereka amat kasihan kepada ibu yang begitu mencintai anaknya tatkala jenazah akan dibawa ke liang lahat. Kerinduan yang membuncah tak terlepas dihati ibu. Tiada lagi panggilan ibu dari amar. Tiada lagi suara amar yang akan mengobati rasa rindu yang terpendam. Tiada lagi canda gurau amar. Tiada lagi dinanti kepulangan amar ke kampong. Tiada lagi segala-galanya.

Oh..amar, bergenang air mata ibu jikalau teringat dirimu nak. Lebih-lebih lagi ketika semalam kami sekeluarga menikmati makanan kesukaanmu. Betapa sedih hati ibu disaat mengunyah makanan yang amar gemari. Ayam goreng bumbu rending. Kakak amar tersebut-sebut nama amar di hadapan rezeki itu. Tiada pernah sekalipun kami sekeluarga disini membiarkan walau sehari pun berlalu tanpa mengingat-ingat dirimu amar. Tak terasa muncul juga perasaan menyesal karena membiarkan amar pergi meninggalkan kampong halaman untuk pergi bertugas menjaga di perbatasan Indonesia-malaysia. Jikalau amar ada disisi ibu, pastilah tak sesesal ini yang ibu rasakan sepeninggalmu nak. Setidaknya ibu dapat menjaga dan mengasihi amar sewaktu sisa-sisa hayat amar yang masih ada. Mungkin juga persaan ibu akan lebih tenang dan ridho dengan kepergian amar. Amarku sayang, sampai hari ini pun hati ibu masih bertaut rasa sesal yang sangat walupun sudah ibu coba untuk mengusirnya, tetapi tetap saja rasa itu selalu bertamu dihati ini, seolah-olah tamu yang tak kunjung pergi dari rumah seseorang.

Engkau yang ibu sayang, dan paling ibu cintai. ibu rindu engkau Amar……….