Komen ke-1000

alhamdulillah, segala puja-puji hanya untuk Allah, komentar di blog ini sudah berjumlah 1000 buah, dan juga komentatornya yang ke-1000 ntu adalah diriku sendiri he..he..he..

lengkap juga site stats sudah nyampe angka > 40.000 hits

 

walau blog ini kadang semangat kadang males-malesan, namun blog ini adalah oase tersendiri bagi diriku.

kerena menulis adalah seperti nafas dalam kehidupan, terkadang nafas itu lancar, terkadang juga tersengal.

so, dimaklumin aja sekarang-sekarang ini nafas menulis saya sedang tersengal, do’akan saja lancar kembali ya 🙂

 

Jakarta, 17 januari 2012

Aldo Wilman

@aldowilman

Iklan

Menulis Itu Pekerjaan Hati

Menulis Itu Pekerjaan Hati


menulis

“Karya-karya legendaris menyimpan makna dalam untaian kalimat sederhana.”

“Karya-karya sederhana menyembunyikan makna dalam kata-kata yang susah dikunyah.”

(Muhammad Fauzil Adhim dalam bukunya Inspiring Words for Writers)

Bagiku, seorang manusia yang mengabdikan dirinya kepada dunia kepenulisan. Insya Allah tetap istiqamah dalam dunia ini. Ingin hidup penuh kebermanfaatan. Memberi dan membagi. Bukan meminta dan mengemis. Dari dalam relung hatiku, kuyakin bahwasanya menulis itu adalah pekerjaan hati seorang pujangga. Melukiskan gambaran-gambaran indah kehidupan melalui kata-kata mengalir penuh makna. Menggoreskan tinta warna-warni kehidupan dalam sebuah huruf, kata, kalimat, paragraph, dan tulisan utuh. Pabila tulisan itu penuh makna, ia akan abadi, tak lekang dihadang masa, petang tak menyilaukan malam bahkan menurutinya, ia sebagai bukti cinta suci dihadapan sang Khalik. Sungguh beruntung pujangga itu. Tulisannya seharum setanggi  syurga. Sekali lagi kuujarkan bahwasanya menulis itu pekerjaan hati.

Segumpal darah. Qalbu. Hati. Apapun namanya. Ia penentu dari segala potensi yang ada pada manusia. Oleh karena itu, hati inilah yang harus ditujukan kepada kebersihan dari kotoran dan debu yang menghiasinya. Sungguh tak ada yang mau kaca hiasnya berlumuran debu, tentu akan menganggu pemandangan keindahan wajahnya, dengan penuh rasa syukur penuh takzim tatkala melihat anugerah Allah bernama wajah. Seperti itulah jua hati, pabila hati ini penuh debu, ia akan menghalangi dari pandangan iman dan islam. Buta akan kebaikan. Terlena akan kemaksiatan. Merasa nyaman akan dosa. Dan ironis bangga ada dosa. Na’udzubillah.

Hati akan menggerakkan seorang pujanggan menggoreskan penanya. Mengalirkan huruf-huruf penuh tanda, kata-kata penuh makna, kalimat-kalimat penuh hikmah, pargraf-paragraf penuh berkah, dan tulisan yang penuh manfaat perubahan. Hati akan membawa seorang pujangga kepada kemudahan dalam mengalirkan kata-kata yang indah. Tak kesusahan dalam merangkai kata, tak kepayahan memilah-memilih kata-kata yang pas untuk digoreskan. Karena hatilah yang akan menggoreskan. Ia langsung keluar dalam benak, tak perlu waktu lama untuk berfikir. Semua yang ada di outside dirinya adalah ide, ia merubah ide itu kepada tulisannya, sehingga menjadi lebih kaya akan gagasan dan kemampuan mempengaruhi. Dalam heningnya pun ia menggoreskan hikmah tuk dituliskan. Sakit yang dirasakannya pun menjadi  penuh kebermanfaatan. Intinya adalah ia mampu menggerakkan kepada sinar cahaya tulisan. Menerangi lorong-lorong penuh gegap gempita. Menjadi pelita dikala tak ada cahaya. Ia juga adalah lambang teman sejati sang pujangga. Menemaninya untuk tegar dalam meniti dunia kepenulisan. Ia tetap setia walau air mata berlinang membasahi. Bersama-sama mengenggam panji kemenangan kemuliaan islam (izzatul islam).

Setiap sudut dalam episode kehidupan ini menceritakan kisah. Kisah seorang pujangga yang memiliki hati bersih yang karyanya begitu luar biasa merubah arahan dunia dan jiwa manusia. Menjadi penuntun, peringatan, pencerahan, penggembira, dan lain-lain. Pujangga itu adalah Ibnu Sina yang menulis sebuah kitab kedokteran yang begitu mencengangkan dunia dan menjadi rujukan fakultas kedokteran seluruh dunia. Ibnu Qayim al Jauzi, seorang ulama yang tak henti-hentinya berdakwah termasuk lewat tulisan, karya-karyanya sungguh mengunggah, bahasa yang digunakan sungguh menyentil para pembaca untuk segera berubah. Diantara kitabnya adalah: Jangan dekati zina, Mawaridul Aman, Kunci Kebahagiaan, Tamasya ke Syurga, Samudera air mata, dan lain sebagainya. Pujangga kontemporer yang lain adalah Hasan al Banna dengan risalah-risalah dakwahnya, Sayyid Qutb dengan tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Dr. Yusuf Al Qaradhawi dengan ratusan karyanya yang berjiwa harakah, Sayyid Sabiq dengan fiqih sunnahnya, dan lain-lain. Mereka telah membawa islam muncul kepermukaan, tak takut apa lagi gentar berhadapan dengan musuh. Mereka tahu bahwa umat ini sudah jauh dari kesucian islam, sehingga mereka mengambil langkah perubahan melalui karya-karya mereka dengan mengajak tuh berjuang bersama-sama dalam memperbaharui dan meningkatkan komitmen, tsaqafah, fikrah, bahkan aqidah. Semoga Allah memuliakan mereka dengan tulisan-tulisan mereka. Yah.. mereka menulis memakai hati. Lalu, apa yang kita ambil dari mereka? Apakah hanya sebagai penggembira saja, penikmat saja, atau bahkan menjadi sang pengkritik ulung tanpa berbuat apapun.

Menulis itu pekerjaan hati. Seorang penulis yang memiliki qalbun salim. Hati yang bersih. Pastilah akan melahirkan karya-karya tulis yang memiliki pengaruh kuat dan makna yang mendalam. Tak usang dimakan usia. Tak merasa sendiri dikala sepi akan karya. Ia selalu tetap hidup. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah kita memiliki qalbun salim?

Menulis itu pekerjaan hati. Seseorang penulis yang tidak memiliki qalbun salim. Tulisannya tidak akan berpengaruh besar terhadap perubahan peradaban. Singkat dan tak mampu bertahan diinterversi keadaan. Lemah lelah tak punya gairah dalam merubah. Kalaupun merubah palingan Cuma bertahan sementara. Tidak mengakar dan berbuah.

Berubahlah saudaraku! Menulislah dengan hati yang bersih. Bersih dari orientasi yang melukai dan orientasi yang memprovokasi. Sudah saatnya menulis penuh kemanfaatan dan sudah saatnya menjadi penulis besar, besar bukan karena banyaknya pembaca, namun besar karena tulisan yang dilandasi oleh hati yang bersih.

Oh.. my friends

Take my hand and take my heart

We can change the world with our written

I believe, we can!!!

Insya Allah… Innallah ma’ana

Bandung, 1 Maret 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger dan Penulis Pencari Spirit yang Hilang

Megalomanania

Megalomanania

Seharusnya sebagai seorang manusia kita diwajibkan untuk mengenal diri kita sendiri, sungguh jikalau kita mengenal diri sendiri maka kita pun akan mengenal siapa Tuhan kita.

Mengetahui kadar diri atau potensi diri dan kelemahan diri merupakan sebuah keharusan supaya bisa memetakan arah tujuan dan karir. Tujuannya biar tak salah langkah dalam melangkah, tak salah fikir dalam berfikir, tak salah kata dalam berkata, dan lain-lain. Karena setiap manusia tidaklah bisa menjadi segala hal, ia pastilah mempunyai spesialisasi pada bidang tertentu, permasalahannya adalah kebanyakan orang malas untuk mencari kadar diri atau spesialisasinya. Mereka yang hebat dalam karya-karya ilmiahnya dalam medan ilmu pengetahuan belum tentu bahkan tidak mungkin hebat dalam berperang di medan perperangan. Disinilah perlunya suatu keobjektifitan dalam menilai, tidak bisa dibesar-besarkan dan tikurang-kurangkan, kedua-duanya punya resiko dan jebakannya masing-masing.

Sikap membesar-besarkan diri dan merasa besar merupakan hal yang tidak baik, karena akan menyebabkan diri sombong, angkuh, merasa paling benar dan hebat, dan memandang karya-karya orang lain tidak setara bahkan lebih dari karyanya. Menurutnya “nih… karya saya yang paling baik dan monumental”.

“Suatu saat ketika kamu merebut kemenangan demi kemenangan, kekuasaan yang semakin bertumpuk. Musuh sudah kau taklukkan semua. Tak ada lagi yang berani melawan. Semua orang mulai tunduk padamu. Disekililingmu hanya ada para pemuja. Musuhmu menyelinap kedalam bentengmu. Kedalam dirimu sendiri. Halus. Sampai kau bahkan tak mengenalnya. Kau sudah mulai merasa benar.

Itulah awalnya. Kamu mulai merasa benar. Kamu sebenarnya layak merasa begitu. Sebab kemenangan-kemenanganmu. Pengakuan mush-mushmu. Kekaguman sahabat-sahabatmu. Kekuasaanmu yang terbentang luas. Kamu memang hebat. Dan besar. Itu fakta. Tapi itulah jebakannya .merasa besar itu.” (Anis Matta)

Seperti contihnya fir’aun yang merasa besar dan mengaku dan mengatakan kepada penduduknya bahwa aku adalah Tuhan. Sungguh ironis orang yang seperti itu. Tidak mengenal hakikat diri.

Disinilah dibuthkannya seni dalam menilai diri sendiri.

Menilai diri sendiri adalah sebuah seni diantara seni-seni jiwa yang lain, seni yang sangat sensitive akan keadaan dan pergolakan jiwa, mengapa? Karena seni ini membutuhkan reflektifitasi dan refleksisasi dari keadaan jiwa, maksudnya ketenangan jiwa. Sebab disinilah momentum atau jalan untuk menentukan kadar diri dan dimanakah jalan yang akan dilalui setelah ini.

Bagaimana memulainya?

Yang pertama yang harus dilakukan adalah dengan menenangkan pikiran dan jiwa dari amburadulnya kondisi diluar dan keramaian aktifitas. Setelah jiwa merasa aman dan tentram barulah lakukan pengamatan yang mendalam terhadap peta diri dan kadar diri, berikan statemen yang jujur dan kemukakan alas an –alsannya mengapa saya mempunyai kelebihan ini dan mengapa saya mempunyai kekurangan ini. Sudah….! Kalau sudah, temukan letak potensi yang ingin kita perdalami, semisal ingin jadi dokter, maka pabila kita sudah jujur ditahap awal bahwa aku mempunyai potensi menghafal dengan alsasn nilai biologiku disekolah selalu diatas rata-rata, nilai kimiaku jg begitu, aku sangat tertarik akan bidang itu, dukungan dari keluargaku dan lingkunganku. Atau ingin jadi penulis, maka mahar untuk  menjadi penulis apakah sudah terpenuhi, apakah suka membaca, dan menuliskannya , katakan dengan sejujurnya pada diri sendiri, kemukakan alasannya, aku setiap bulan menghabiskan 3-4 buku untuk dibaca, tiap bulan aku menulis 5-8 artikel, tiap hari aku menulis di diaryku, dan lain-lain sehingga statemen ingin menjadi penulis menjadi kuat dan tak tergantikan….

Sperti itulah… dan langkah selanjutnya adalah menentukan secara objektif karya dan perbuatan kita. Ini adalah langkah yang cukup sulit untuk dilalui seseorang yang memetakan dirinya. Setelah ia menjadi dokter, ia harus menilai apakah perbuatan-perbuatanya atau tindak tanduknya sebagai dokter sudah terbilang professional ketimbang teman-temannya yang lain ataukh bagaimana. Dan setelah ia jadi seorang penulis dan telah mencipkan karya tulisan berupa buku, ia harus menilai apakah karya tulisnya sudah layak menjadi best seller ataupun lainnya. Intinya adalah sikap kejujuran dan keadilan pada diri sendiri.

Jangan sampai seperti Khalid bin Walid yang dipecat oleh Umar karena ia membayar 1000 dirham kepada seorang penyair yang membesar-besarkannya karena kehebatannya dalam beperang dan bijaksananya ia sebagai seorang gubernur Qinnasirin.

Menjaga obejektifitas diatas megaloman adalah pekerjaan yang tidak main-main.

 

 

Bandung, 29 Oktober 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

inginkah jadi penulis!

tulisan dibawah ini terinspirasi dari blog penulis cerpen.

inginkah jadi penulis? aku sangat yakin sebagian besar dari kamu yang membaca tulisan ini menginginkah dirimu menjadi penulis! baik itu penulis cerpen, novel, buku, atau mungkin buku Tugas Akhir (kembali inget TA nih…)

kita mulai pembahasan yang agak serius! sok banget ya…

konon di negeri cina sana tuh, seorang pelukis master mengajar melukis kepada muridnya dengan cara menyuruh anak muridnya tuk melukis ulang lukisan sang master tersebut, satu selesai, lanjut kedua, ketiga, keempat, dan begitu seterusnya hingga si murid bisa melukis sendiri dengan gayanya sendiri, dan bahkan lukisan si murid lebih baik dan cantik ketimbang lukisan sang master. hal itu memang bisa terjadi. teknik seperti ini dikenal dengan istilah copy to master.

copy to master, opo sih maksute. orang ngerti aku. jadi maksudnya seperti yang diceritakan diatas, kita meniru gaya orang lain atau dengan kata lain meniru metoda sang ahli untuk diterapkan dalam gaya kita. seperti itu.

gimana? so far so good, kalau ga good kita goreng so good aja!! (jadi sombong nih… kayak banyak ilmu aja… astaghfirullah)

hubungannya apa dengan penulis? ada donk, tinggal ganti aja n dengan l dan l dengan k. udah gitu aj… penulis dan pelukis. hanya dua kata yang berbeda tapi memiliki metoda yang sama untuk menjadi sang master.

kita ke penulis ya….

dalam pembelajaran menulispun mengenal dengan metoda tersebut, jadi tirulah gaya penulisan penulis-penulis terkenal, yah… ga usah jauh-jauh lah… seperti Asma Nadia, Kang Abik, Gola Gong, Pipiet Senja, Biru Laut, dan banyak yang lainnya. nah… coba kamu tiru tuh gaya mereka dalam menulis, dengan latihan terus-menerus maka kamu akan bisa menjadi penulis yang mungkin bisa lebih dari mereka.

tentu saja metode ini, dituntut untuk membaca, bagi kamu semua yang males membaca, wah… sulit tuk menerapkan metoda ini atau mungkin ga bakal jadi penulis sukses, penulis yang baik adalah penulis yang sering membaca, yah… gimana kita mau niru gaya tulisan orang lain, melainkan diri kita males tuk membaca. tul ga’?

J.K Rowling pernah mengatakan bahwa “Bacalah buku apa saja untuk menangkap gaya setiap penulis” seorang J.K Rowling pun menerapkan metoda ini. dan hasilnya bisa kita lihat, betapa novel-novel yang dibuatnya menjadi super super luar biasa best seller (maksa banget ya…). tujuannya apa kalau kita membaca (dalam konteks belajar menulis ya..) yaitu kita dapat beberapa kata-kata unik yang bisa digunakan dalam tulisan kita atau dengan kata lain perbendaharaan kata kita menjadi banyak. dan mengasah otak ini untuk berfikir positif sehingga menjadi cerah pemikiran kita, dari awalnya tak tau menjadi tau.

ada yang mengatakan termasuk saya, bahwa menulis itu gampang, nulis aja ga usah mikir, hal itu tidak selamanya benar, dan tidaklah pula bisa dikatakan salah. dalam kehidupan sehari-sehari sering kita jumpai orang bisa berenang tanpa latihan. coba lebih kita telaah lagi, bahwa ia bisa berenang karena tempat tinggalnya dekat dengan sungai, pantai, waduk, parit (jijik banget ya..), ataupun yang lainnya. ia cenderung bisa karena ia meniru temannya dalam berenang, dan tanpa sadar ia menjadi bisa berenang.

jadi, mnulis itu gampang, itu memang bener kalu kita sering latihan, karena latihan itulah yang akan selalu mengasah otak kita untuk berfikir. dan membacalah, karena membaca adalah suplemennya para penulis.

pertanyaan saya, apakah anda telah membaca?

dan diakhir tulisan ini aku ingin mengucapkan SELAMAT kepada kamu yang telah membaca tulisan ini, karena kamu telah memulai langkah baik menjadi seorang penulis. dan buktinya kamu membaca kan!!!

sekali lagi aku ucapkan SELAMAT

wallahu’alam

Aldo Al Fakhr