Bahagia dengan Masalah

Ah.. mau coba cara nulisnya motivator ah…

jangan diketawain kalau garing.. namanya juga lagi belajar

so.. please read it below

Bahagia dengan Masalah

Membaca judul di atas mungkin Sobat bertanya-tanya, apa tidak salah tulis? Sobat mungkin berkata: “Bukankah akan bahagia kalau kita sama sekali tidak punya masalah?” Kalau demikian, Sobat salah besar! Di mana ada kehidupan, di situ pasti ada permasalahan. Namun, tahukah Sobat bahwa di balik setiap masalah terkandung suatu peluang emas dan kesempatan yang besar untuk maju?

Bahagia dengan masalah bukanlah seperti dokter yang bahagia ketika banyak pasien yang sakit menuju berobat kepadanya, bukanlah seperti penggali kubur yang kebagian rejeki yang banyak ketika banyak manusia yang meninggal, bukanlah seperti konsultan yang bahagia ketika banyak orang yang mengalami permasalahan, dan bukanlah seperti pabrik obat maag yang bahagia ketika banyak manusia yang menderita maag, bukanlah seperti itu Sobat. Namun, bahagia dengan masalah itu adalah ketika kita berani bersyukur akan masalah tersebut dan sebagai ajang peningkatan derajat ketaqwaan. Bukankah seseorang yang tidak sekolah namun ia mendapatkan ijazah, orang yang tidak tahu diri. Seperti itulah gambarannya.

Ada kata-kata bijak dari Norman V.  Peale yang patut Sobat renungkan. Dalam bukunya You Can if You Think You Can, ia mengatakan, “Apabila Tuhan ingin menghadiahkan sesuatu yang berharga, bagaimanakah Ia memberikannya kepada Anda? Apakah Ia menyampaikan dalam bentuk suatu kiriman yang indah dalam nampan perak? Tidak! Sebaliknya Tuhan membungkusnya dalam suatu masalah yang pelik, lalu melihat dari jauh apakah Anda sanggup membuka bungkusan yang ruwet itu dan menemukan isinya yang sangat berharga, bagaikan sebutir mutiara yang mahal harganya tersembunyi dalam kulit kerang.”

Pernyatan di atas bukan sekedar kata-kata indah untuk menghibur Sobat yang sedang kalut menghadapi suatu masalah. Ini adalah perubahan paradigma berpikir. Keadaan apapun yang kita hadapi sebenarnya bersifat netral. Kitalah yang memberikan label positif atau negatif terhadapnya. Seperti yang dikatakan filsuf Cina, I Ching,”Peristiwanya sendiri tidak penting, tapi respons terhadap peristiwa itu adalah segala-galanya”.

Berikut ini contoh sederhana. “Sebagai seorang fasilitator yang memberikan pelatihan di berbagai perusahaan, saya pernah menghadapi penolakan dari klien semata-mata karena usia saya yang dianggap terlalu muda. Saya pernah menganggap ini masalah besar.Bagaimana tidak? Ini menyangkut kredibilitas saya. Saya kemudian memikirkannya berhari-hari. Kepercayaan diri saya mulai terganggu.

Lama-lama saya sadar bahwa penolakan semacam ini adalah hal biasa. Justru ini kesempatan untuk berkembang. Karena itu, saya segera menggali kebutuhan klien dan mencari pendekatan yang lebih dapat diterima. Saya terus meningkatkan kompetensi, sampai akhirnya saya dapat diterima oleh perusahaan tersebut. Kalau demikian, penolakan awal itu sama sekali bukan sebuah masalah, tetapi sebuah peluang yang sangat berharga.”

Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh. Sayang, lebih banyak orang yang menganggap masalah sebagai sesuatu yang harus dihindari. Mereka ngga’ mampu melihat betapa mahalnya mutiara yang terkandung dalam setiap masalah. Ibarat mendaki gunung, ada orang yang bertipe Quitters. Mereka mundur teratur dan menolak kesempatan yang diberikan gunung.

Ada orang yang bertipe Campers, yang mendaki sampai ketinggian tertentu kemudian mengakhiri pendakiannya dan mencari tempat yang datar dan nyaman untuk berkemah. Mereka hanya mencapai sedikit kesuksesan tapi sudah merasa puas dengan hal itu.

Tipe ketiga adalah Climbers, yaitu orang yang seumur hidupnya melakukan pendakian dan tidak pernah membiarkan apapun menghalangi pendakiannya. Orang seperti ini senantiasa melihat hidup ini sebagai ujian dan tantangan. Ia dapat mencapai puncak gunung karena memiliki mentalitas yang jauh lebih tinggi, mengalahkan tingginya gunung. Orang dengan tipe ini benar-benar meyakini apa yang dikatakan Dag Hammarskjold, “Jangan pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum Anda mencapai puncaknya. Karena begitu ada di puncak, Anda akan melihat betapa rendahnya gunung itu.”

Dan seperti yang dikatakan oleh Hasan Al Banna, “ Jika jiwa itu besar, maka raga akan lelah mengikutinya.”

Semua masalah sebenarnya adalah rahmat terselubung bagi kita. Mereka “berjasa” karena dapat membuat kita lebih baik, lebih arif, lebih bijaksana dan lebih sabar. Sobat baru dapat disebut mas’ul (ketua) yang baik kalau Sobat mampu memimpin seorang bawahan atau staf yang sulit diatur. Sobat baru menjadi orang tua yang baik kalau Sobat dapat menangani anak yang bermasalah, ataupun menantu yang keras kepala, yang melakukan sesuatu melebihi batas kesabaran Sobat. Sobat baru disebut profesional kalau Sobat mampu menangani kecerewetan para pelanggan ditoko sobat.

Untuk mencapai kesuksesan, Sobat perlu memiliki adversity quotient, yaitu kecerdasan dan daya tahan yang tinggi untuk menghapi masalah. Kecerdasan tersebut dimulai dari mengubah pola pikir dan paradigma Sobat sendiri. Mulailah melihat semua masalah yang Sobat hadapi sebagai peluang, kesempatan dan rahmat. Sobat akan merasa tertantang, namun tetap mampu menjalani hidup dengan tenang dan damai.

Berbahagialah jika Sobat memiliki masalah. Itu artinya Sobat sedang hidup dan berkembang. Justru bila Sobat ngga’ punya masalah sama sekali, saya sarankan Sobat berdoa, “Ya Allah. Apakah Engkau tak percaya lagi padaku, sehingga tidak mempercayakan satu pun kesulitan hidup untuk saya atasi?” Dengan berdoa demikian Sobat tak perlu khawatir. Allah amat mengetahui kemampuan kita masing-masing. Ia tak akan pernah memberikan suatu beban yang kita tak sanggup memikulnya. (Arvan Pradiansyah, Republika).

“ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya “ (Q.S. Al-Baqarah:286)

Berbahagialah jika kita memiliki masalah. Itu artinya kita sedang hidup, tumbuh dan berkembang. Seperti pohon yang semakin tinggi menjulang semakin besar tiupan angin yang menggoyang, memaksa untuk tumbang. Ketika kita tidak mempunyai masalah, jangan-jangan Allah tidak mempercayai kita untuk memecahkannya.

Masalah merupakan lahan untuk meningkatkan kesyukuran. Karena masalah justru akan mendewasakan kita, mematangkan jiwa. Masalah merupakan peluang utnuk menang, kesempatan untuk lebih kuat dan rahmat untuk meraih bahagia dunia akherat.

“ Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. “ (Q.S. Al-Baqarah:45)

Bandung, 19 Des 09

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

ingin membuat Ortu bahagia

ingin membuat orang tua bahagia, pasti… semua orang menginginkan hal itu. karena semua orang menganggap bahwa jika telah membuat orang tua bahagia setidaknya telah membayar sepermiliar dari apa yang mereka lakukan ke kita.

subhanallah banget, ketika melihat orang dengan hati yang tulus dan ikhlas bisa membuat ortunya bahagia, baik itu dengan perbuatan/ akhlak, prestasi, kepedulian, nampil di TV mungkin (hi..hi.. jadi inget waktu ikut democrazy di Metro TV), atau dengan yang lainnya yang tentunya positif.

hal inilah yang membuatku semakin termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi dari segi apapun. dengan memanfaatkan momentum UTS keesokan harinya (duh… lum blajar!!) dan sedang menyusun proposal TA membuat semakin bersemangat tuk menapakinya dengan gigih.

waktu yang ad sangat ku manfaatkan. seperti belajar tuk UTS, ngeblog, ngerjain proposal (alhamdulillah bab II sedang berjalan…^_^), agenda2 tarbiyah, aktifitas2 dakwah, dll. waktu tidur pun semakin sedikit. tak mengapa bagiku. mumpung masih muda. betul ga!

” seorang mujahid muda tak peduli akan waktu tidurnya dan waktu mainnya, tetapi ia peduli akan waktu ibadahnya dan waktu militansinya.”

besok insya Allah UTS siskom 2, yah lumayan ngerti… semoga besok bisa jawab dengan bener.

========================

ingin rasanya membuat bahagia orang tua ketika wisuda nanti, ketika namaku tertera di spanduk kuning dan namaku disebut di acara wisuda dan ketika itu orang tua bersangkutan diharapkan utk berdiri, betapa bahagianya mereka!! aq yakin pasti semua orang tua mhsswa menginginkan itu.

walaupun nanti namaku tidak tertera di spanduk kuning yang senantiasa menggantung di gdg D,  mengagungkan nama-nama mahsiswa berprestasi. lulus tercepat, ip cumlaude, dll. dan namaku tak disebut ketika acara wisuda berlangsung, aku tidak sama sekali sedih dibuatnya, karena menurutku

“apalah artinya membuat bahagia orang tua dunia, tapi tidak membuat bahagia orang tua di akhirat dihadapan sang Khalik.”

yang terpenting adalah membuat mereka selalu tersenyum indah didunia dan di akhirat. itu aj………

malam terasa sunyi

ketika mata ini tak mampu terpejam

apa gerangan

pikiran menjadi tertuju ke 2 orang

yang slalu memikirkan diri ini

memikirkan si kecil yang kini sudah besar

apa yg sudah kuberikan pada mereka

ayah…ibu…

maafkanlah ananda yg lum bisa membahagiakanmu didunia

tapi

akan kubuat engkau tersenyum bahagia di syurga-Nya kelak