Berkaca Kepada Waktu

Berkaca Kepada Waktu



Waktu demi waktu yang terjalani dalam kehidupan ini adalah waktu yang akan mendekatkan kita untuk pulang. Setiap desahan nafas yang terhela, sejatinya adalah nafas yang akan mengantarkan kita untuk pulang. Setiap langkah kaki yang kita jalani dikehidupan ini adalah langkah yang akan membawa kita untuk pulang. Dan yang sama-sama kita tahu, perayaan ulang tahun maupun yang tidak merayakan sebenarnya adalah merayakan berkurangnya umur kita dan mengindikasi kedekatan kita kepada maut. Betapa ruginya kita – yang menulis dan yang sedang membaca – ketika waktu diberikan sebagai modal yang berharga untuk perbaikan diri dan memperbaiki yang lain (dalam artian lingkungan) tetapi menyia-nyiakannya bagaikan asap yang berterbangan dari kubangan api yang menyala, hanya bertahan sebentar dan hilang. Sebagaimana pernah dikatakan seseorang, “ Jika engkau ingin tahu manusia mana yang paling bodoh, lihatlah orang yang diberi modal tetapi ia hamburkan sia-sia.”

kamu juga tahu bahwasanya waktu adalah perangkat yang tidak bisa diputar kembali dan dimajukan dengan artian ia akan terus berlalu tanpa bisa distop, apalagi dihentikan untuk sekedar menghela nafas karena kecapekan. Tidak akan bisa. Waktu yang diberikan Allah kepada kita sehari adalah 24 jam saja, dan apabila kita mau membeli atau membuat sendiri jam yang bisa 36 jam, aku jamin tidak akan ada yang menjual dan tidak ada pula yang akan membelinya, karena ini adalah sunnatullah yang sudah digariskan. Tidak bisa diganggu gugat. Aya aya wae,,, mau buat jam yang bisa 36 jam..

permasalah terkait 24 jam inilah yang nantinya akan membedakan mana orang yang sukses dan gagal, orang yang baik dan buruk, orang ahli syurga dan ahli neraka. Bukan waktunya yang menjadi soal, yang menjadi soal adalah kebermanfaatan waktu selama 24 jam itu digunakan untuk apa aja? Apakah 24 jam yang kita lewati hanya untuk maen games, ngobrol dan ghibah, facebook-an wae, tidur, makan, ataukah diisi dengan menulis, tilawah, dzikir, shalat, sedekah, membaca buku, dan lain sebagainya.

Waktu adalah fenomena yang menarik untuk dibahas, karena ini menjadi concern yang menarik untuk dikaji, dan waktu sama-sama digunakan oleh seluruh umat didunia ini, yang sekali lagi akan membedakan orang yang sukses / beruntung dan gagal / rugi. Sebenarnya dalam Al-Qur’an sama-sama sudah kita ketahui dalam surat apa? Pasti kamu menjawab dalam hati, “pasti Q.S. Al-‘Ashr” yups bener.. ini lah yang menjadi acuan banyak orang dalam mengkaitkan kesuksesan dan kegagalan dalam mengelola waktu.  Dan setiap kali kita mentadabburi surat ini maka dapat dipastikan ia bagaikan lautan tak bertepi, memiliki tak terhingga makna yang dapat menuntut kita kepada kesadaran dalam ihwal waktu.

“Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati dalam kesabaran.”

Sebenarnya sudah banyak yang mentadabburi ayat ini, tapi Aku akan coba untuk mentadabburi dalam versiku tentang kategori orang yang beruntung/sukses dalam ayat ini, afwan kalau salah…mohon koreksinya

  1. Orang yang dikategorikan sukses adalah orang yang apabila setiap saat dalam periode waktu kehidupannya berubah kearah yang lebih baik lagi dari waktu semula, ini terkait dengan keimanan. Pabila seseorang yang hidupnya berlalu begitu saja, hanya umur saja yang bertambah namun keimanan dalam diri tidak bertambah, orang seperti ini hidupnya hanya berbuah kepada kesia-siaan saja. Ia tak mengerti arti kehidupan sesungguhnya, dan jika keimanan semakin bertambah, kedekatan kepada Allah pun instens, insya Allah ini adalah orang-orang yang sukses.
  2. Orang yang tak lelah dalam beramal shaleh walaupun kecil dan sederhana. Pernah dengar sahabat Rasul yang memiliki amalan sebelum tidur memaafkan kesalahan dan kekhilafan teman-temannya? Pasti pernah kan, Rasul mengatakan bahwa ia adalah salah seorang penghuni syurga. Ia tetap kontinu melakukan aktivitas full barokahnya itu walaupun sederhana dan kecil, tapi dimata Allah kontinu itu lebih baik walau sederhana, ketimbang banyak namun tak berkesinambungan.
  3. Nafi’un li ghairi. Orang yang bermanfaat bagi khalayak. Ia mendakwahkan kebenaran, ia tidak menyembunyikan kebenaran itu didalam “ketiaknya” saja, tapi ia bagikan dan ia sebarkan nilai-nilai kebaikan melalui berbagai media yang ia sanggupi. Semisal lewat mimbar, buku, artikel, pamphlet, selebaran, mp3, dan lain sebagainya.
  4. Dan, orang yang memiliki kesabaran dalam berdakwah, ia menyadari bahwasanya dakwah memiliki tantangan-tantangan yang luar biasa beratnya, oleh karena itu banyak yang kendur dan akhirnya berpisah “say good bye to dakwah” tapi ia bersabar dengan itu semua karena ia tahu janji Allah dan Allah tidak akan mengingkari janji-Nya.

Semoga Allah senantiasa memberikan kebermanfaatan waktu yang bisa kita gunakan untuk meningkatkan keimanan kita, melakukan amal shaleh tanpa kenal lelah, memberikan manfaat kepada orang lain, dan bersabar dari setiap tantangan-tantangan dakwah yang ada. Sehingga setiap detik, helaan nafas, denyut nadi, aliran darah, dan langkah kaki kita menjadikan kita termasuk golongan orang yang beruntung. Amin ya Rabb..

Tidak hanya itu, usia kita pun insya Allah akan menjadi sangat berarti, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw,

“sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umurnya dan jelek amalannya.”(HR. Ahmad)

Jakarta, 01 juni 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Iklan

Banyak Amanah Ngga’ Masalah

Banyak Amanah Ngga’ Masalah

Banyak dari teman2 saya ketika diberikan olehnya amanah baru, mereka menolaknya. Dengan alas an yang macem2. Ada yang bilang “ntar ngga’ bisa optimal”, “ntar ngga’ bisa membagi waktu”, dan alasa-alsan lainnya.

Nah, kalau menurut saya, justru dengan banyaknya amanah membuat kita semakin menjadi lebih dewasa dalam bertindak, semakin cerdas dalam menentukan keputusan, semakin bisa mengurangi waktu malas, semakin bijak, semakin keren, dan semakin banyak pahala, dll.

Memang saya mengakui bahwa sangat berat kalau mengemban banyak amanah. Butuh energy dan waktu yang banyak. Tapi, lihatlah hasil positifnya seperti yang diatas. Kau tidak akan kecewa nantinya ketika telah tua.

Kiat-kiatnya tidak lain dan tidak bukan adalah manajemen waktu yang baik. Ilmu manajemen waktu ini membutuhkan latihan. Latihan dari yang kecil dulu aja, misal: catatlah aktifitas2mu hari ini, seperti kuliah, rapat, tilawah, belajar, dll. Tentukan waktunya masing-masing. Mungkin hal pertama itu dulu yang kita lakukan, dan dilakukan dengan istiqomah. Saya sekarang juga lagi belajar…

Banyak amanah, no problem…

“tulisan ini kupersembahkan kepada temanku yang telah memberikan amanah baru buatku, semoga aku bisa menjalaninya dengan ikhlas dan penuh totalitas.”