Untuk Sebuah Cita-cita Besar

Untuk Sebuah Cita-cita Besar

Cita-cita adalah sebuah pengharapan yang ingin dicapai pada suatu periode waktu tertentu. Banyak sekali yang berujar kata cita-cita tersebut. Sewaktu kita masih kecil pun lebih tepatnya balita, kita sering ditanya oleh bapak, ibu, sanak kerabat, dan para tetangga yang “gemes” dengan tingkah laku kita. “Apa cita-cita mu Nak?” begitulah yang sering ditanyakan. Dan si anak tersebut spontan menjawab apa yang sudah didengar sebelumnya dari orang lain. Jikalau sebelum ditanya orang lain tersebut sudah ada yang memberikan statemen bahwa Nak, kamu harus jadi dokter atau pilot atau pun lainnya. Spontan saja si anak tersebut berujar demikian, “A..ku i..ngin me…njadi doktelll” dengan senangnya ia mengucapkannya. Sesungguhnya ia belum mengetahui apa itu profesi dokter dengan sebenarnya.

Beda dengan kita yang sudah dewasa hari ini, kita bukan anak kecil lagi yang dengan sekonyong-konyongya menyebutkan cita-citanya tanpa landasan. Kita harus bisa reaktif terhadap diri sendiri, kita harus bisa mengetahui potensi kita apa tentu saja dengan mengukur potensi tersebut. Tak dapat dipungkiri memang terkadang, cita-cita yang diujarkan jauh banget dari realita atau kata kasarnya “ tidak realistis”. Disinilah peran kita sebagai pribadi yang tentunya mengenal profil pribadi kita sendiri bisa memetakan potensi diri jangan sampai megaloman yang terjadi.

Seharusnya sebagai seorang manusia kita diwajibkan untuk mengenal diri kita sendiri, sungguh jikalau kita mengenal diri sendiri maka kita pun akan mengenal siapa Tuhan kita. Baca lebih lanjut

Masalah Itu… Tantangan buat Gue….

masalah
Setiap manusia yang hidup didunia ini pasti pernah menghadapi hal buruk yang menimpa dirinya, ngga’ menutup kemungkinan kamuyang sedang baca Tulisan ini dan tentunya Saya yang nulis nih Tulisan. Betul kan? Hal buruk sebenarnya adalah katalisator perubahan dalam hidup kita. Baik, buruk, berbeda, dan selalu ada rintangan yang menghambat laju kehidupan kita. Entah mengapa ya… setiap ada yang berkata “Saya lagi ada masalah nih…!” mereka hampir selalu mengacu ke peristiwa yang sulit dalam hidup mereka.  Hati tidak tenang, gundah gulana, khawatir, ngga’ enjoy, diselimuti perasaan takut, dan lain sebagainya. Kejadian  seperti kehilangan pekerjaan, kehilangan benda, perceraian, hubungan dengan sahabat yang memburuk, ngga’ enjoy dengan pilihan kuliahnya, dengan karirnya, merasa tidak berharga, dan banyak lagi macam masalahnya. Ingat bro.. itu semua tantangan buat kita. Kita ngga’ akan berubah kalau ngga’ ada tantangan. Kita hanya akan stagnan dikondisi dan diposisi tertentu yang lazimnya biasa-biasa aja. Sesungguhnya, tantangan itu seperti pintu. Pintu menarik perhatian kita untuk dibuka, dan kita harus memiliki kuncinya yang pas dan cocok. Pintu itu adalah tantangannya dan kuncinya adalah bagaimana kita menghadapi tantangan tersebut dengan pas dan cocok dengan permasalahannya.

Kalimat “ ada masalah!” biasanya digunakan saat kejadian buruk terjadi. Hal buruk bisa menghalangi, memperlamban, bahkan menghentikan usaha kita dalam meraih tujuan. Namun perlu digaris bawahi bahwa masalah adalah pupuk penyubur kehidupan. Jadi hadapi dan tantang masalah itu. “ woi masalah… gue tantang lu! Kalau berani kesini!”

Ada suatu ilustrasi sederhana tentang kehidupan. Salah satu alat permainan yang menyenangkan sewaktu kita kecil yang biasanya ada di taman bermain mungkin adalah putar dorong. Bentuknya seperti piring datar besar yang melingkat dengan pegangan yang memanjang dari bagian tengah. Permainan ini harus didorong oleh semua anak agar berputar; setelah itu, si anak-anak melompat keatasnya sampai permainan ini berhenti berputar. Begitu permainan ini berhenti maka si anak-anak mendorongnya lagi dan melompat naik keatasnya lagi. Permainan ini sangat menyenangkan , tetapi jika terjatuh selagi permainan ini berputar. Yo wiss, si anak yang terjatuh harus menunggu permainan itu berhenti, tidak ada kesempatan untuk menghentikan sementara permainan itu untuk membersihkan pasir di pakaian anak yang terjatuh tersebut, permainan harus sampai selesai. Intinya jika ada yang terjatuh, tunggu kesempatan berikutnya. Itulah tantangannya!

Begitulah kehidupan yang sebenarnya, seperti permainan putar dorong tersebut. Kehidupan tidak akan berhenti karena kita mengalami masalah. Kehidupan tidak mengenal masalah Cuy. Walaupun kita sakit, gagal masuk universitas idola, ngga’ dapat pekerjaan, kehilangan benda yang dicintai, dan lain-lain. Ingat hidup tak kenal siaran tunda. So, jika ada masalah katakan: “Masalah Itu… Tantangan buat Gue….”

Bandung, 27 Oktober 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Sumber Gambar

Tantangan Untuk Kita

tantangan

Tantangan Untuk Kita (Para Da’i)

Sekarang Indonesia berada dalam masa-masa sulit disegala aspek kehidupan. Masa-masa sulit yang ingin ditonjolkan dalam tulisan ini adalah adanya transformasi nilai, budaya, dan akhlak. Yang kita lihat semakin mengalami dekadensi moral terutama para remajanya –yang menurutku- ini terjadi karena arus globalisasi yang sedemikian rupa mempunyai dua mata pedang, antara menguntungkan dan tidak. Menguntungkannya salah satunya adalah semakin terbukanya informasi sehingga wawasan akan ilmu pengetahuan dan teknologi. Merugikannya salah satunya adalah adanya pemasukan alur budaya luar (baca: barat) yang memasuki Indonesia, ironisnya sebagian masyarakat Indonesia belum lihai dalam hal memilah-milah budaya yang sesuai dengan agama dan budayanya.

Masa-masa sulit ini juga diperparah dengan tidak tahunya masyarakat (khususnya muslim) akan basis indetitasnya. Basis indetitas disini adalah Ia sebagai seorang muslim yang mempunyai nilai-nilai dan aturan-aturan yang harus dipenuhi pada dirinya. Ketidak tahuan ini sungguh sangat berpengaruh besar bagi tindak taring nya dalam bermuamalah. Karena jika ia tidak mengetahui basis identitasnya, maka ia akan kehilangan nilai-nilai luhur islam pada dirinya yang semula telah terpaut pada dirinya. Jikalau mereka sadar akan basis identitasnya maka akan terciptanya imunitas bagi dirinya.

Ada beberapa hal yang menyebabkan Umat ini kehilangan jati dirinya sehingga secara tak sengaja membuat suasana yang sulit untuk Negara ini

  • Kurangnya pemahaman masyarakat akan jati dirinya yaitu muslim. Hal ini juga diperparah dengan tidak dekatnya mereka dengan dua sumber hukum atau dua wasiat yang diberikan oleh Rasulullah yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist. Umat hanya bisa mengenal namun tak bisa merasakan dan menghayati isi yang terkandung dalam kedua sumber tersebut. Jikalau saja, umat dekat dan mengamalkan isi kandungan dari kedua sumber itu, niscaya imunitas akan semakin besar dan terhindar dari fatamorgana dunia yang pastinya menipu
  • Kurangnya peran ulama dalam hal yang strategis. Hal ini terlihat dari missal: dalam masalah ekonomi, ulama tak diikutsertakan justru pemerintah mengikutsertakan bangsa asing dalam permasalahan ekonomi, hal ini tentu saja akan mengikis peran ulama yang seharusnya bisa mengarahkan negeri ini sesuai ajaran Rasulullah dan aturan-aturan Allah SWT. Namun, dalam relaitas itulah yang terjadi. Mungkin, ulama-ulama sekarang tidak ada yang memahami permasalahan ekonomi, politik, budaya, dan militer. Sungguh aku amat yakin, jika kendali pemerintah ada ditangan para ulama –insya Allah- Indonesia dalam keadaaan adil lagi sejahtera.
  • Adanya gerakan sistematis dari para orang-orang kafir untuk mendominasi Negara-negara islam dan memasukkan budaya mereka ke negeri islam tersebut. Tentu tak asing lagi terdengar budaya hedonisme-matrealis yang terjangkit pada pemuda-pemudi kita. Dari segi pergaulan, style, akhlak yang sangat miris untuk difikirkan. Sejak awal orang-orang kafir mengetahui cara untuk menghancurkan islam adalah dengan memasukkan budaya mereka kepada generasi muda islam atau yang sering disebut dengan Al-Ghawzul Fikr (perang pemikiran).  Namun, pengaruh budaya hedonism-matrealis sangat terlihat jelas di kaum mengengah keatas (agak elit – elit). Sehingga sebenarnya masih banyak yang belum terjangkit yang bisa diarahkan.
  • Suksesnya kaum imprealis mengangkat para pemimpin dari Negara-negara islam. Hal ini terlihat dari pada saat Negara palestina, Iraq, Afghanistan, dll. Para pemimpin Negara islam justru mendukung agresi kaum kafir ke Negara terjajah tersebut. Misal Negara mesir dan arab Saudi yang hanya duduk terpaku melihat saudaranya terbunuh tak berdaya. Namun, masyarakat dinegeri tersebut mengutuk keras agresi tersebut. Ini sangat jelas adanya pemisahan pemikiran antara pemerintah (yang teracuni) dengan rakyatnya.

Kerja Nyata

Apa kerja nyata kita untuk menghadapi tantangan ini.

Semula kita pilah-pilah masyarakat berdasarkan segemennya. Ada orang yang sangat tebal daki hedonism-matrealis dalam dirinya, ada yang sedang ketebalannya, dan ada yang yang belum sama sekali.

Nah.. setelah dipilah-pilah berdasarkan segmennya. Tentukan prioritas yang akan di arahkan. Kalau menurut saya, cara yang paling efektif adalah dengan memulainya dengan mengarahkan yang belum terkena dengan memperkuat imunitasnya berikan seminar, penyuluhan, tarbiyah, buku, dlll yang bisa memperkuat imunitas mereka. Namun, orang seperti mereka sangat jarang ditemui.

Umat yang setengah-setengah inilah yang harus dikuatkan kembali. Karena ia baru sedikit terkontaminasi budaya hedon dan jiwanya pun masih bersih. Kita ambil contoh dalam kehidupan nyata, ada orang yang tidak pernah berbuat zina, mencuri, dan membunuh. Nah.. mulailah dari orang yang seperti ini karena aku sangat yakin bahwa orang seperti inilah yang banyak di masyarakat kita.

Setelah itu… kata Anis Matta, “pilihlah dari mereka yang mempunyai dua bakat, yaitu yang bisa berubah dan bisa mengubah.”

Kenap justru demikian, karena pabila orang yang hanya bisa berubah saja namun ia tidak bisa mengubah orang lain maka ia akan kerja sendirian dan itu akan memakan waktu yang sangat banyak dan panjang serta energy yang dikeluarkan pun sangat banyak apalagi kalau ia hanya berada di satu daerah yang hanya ia sendiri yang benar…. Sehingga ada efek mulipliernya… orang-orang yang seperti ini umumnya para siswa smp, smu dan mahasiswa yang cenderung bisa berubah dan mengubah.

Setelah itu…

Mengikatkan mereka ke pelbagai agenda-agenda dakwah. Sebenarnya Indonesia mempunyai potensi yang sangat luar biasa yang diberikan Allah, potensi itu adalah adanya momentum keagamaan tiap tahunnya seperti ramadhan. Agenda-agenda dakwah bisa dimaksimalkan disana. Coba deh dilihat, pada bulan ramadhan orang yang tidak pernah shalat jadi sholat, orang yang tak pernah shalat di masjid jadi shalat di masjid, yang tidak pernah membaca al-qur’an jadi membaca al-qur’an, orang yang membaca al-qur’an saja jadi membaca terjemahannya juga. Nah… momen inilah yang sangat dimanfaatkan bagi para aktifis dakwah. Baik itu aktifis dakwah sekolah (ADS), aktifis dakwah kampus (ADK), dan aktifis dakwah kantor(ADK juga…), dan aktifis dakwah masyarakat (ADM). Buatlah agenda dakwah untuk masyarakat, untuk eksekutif, untuk mahasiswa, dan untuk siswa sekolah.  Diagenda tersebut, serukan permasalahan yang terjadi dan solusi yang efektif untuk mereka, berikan pemahaman yang benar tentang Islam yang kaffah, dan rangkul mereka dengan kasih sayang dan penuh kelembutan. Insya Allah Indonesia akan menjadi lebih baik lagi kedpannya.

Tapi… juga diingat oleh para aktifis dakwahnya. Mereka juga harus mengagendakan diri mereka sendiri. Seperti targetan-targetan yang harus dicapai dibulan ramdhan ini. Jangan sampai kita menjadi aktifis lilin yang mampu menyinari namun mengikis potensi diri, naudzubillah.

Satu momen lagi yang tak kalah penting yaitu, pada saat Afghanistan, Iraq, dan Palestine  diserang oleh kaum kafir. Itu adalah momen yang tepat untuk mengaplikasikan ilmu ukhuwah… ajak masyarakat, siswa, mahasiswa, dan para eksekutif untuk memberikan sumbangsih seperti uang, turun kejalan, dll. Hal itu tentu akan membuat ukhuwah islamiyah akan terjalin, sehingga jikalau ada tragedy umat islam dilecehkan di negeri sendiri misal di Ambon, maka seharusnya solidaritas kita jauh lebih besar pada Ambon. Karena harus mengutamakan yang terdekat terlebih dahulu…

Oke my friends… semoga kita bisa mengoptimalkan potensi besar yang ada pada diri dan bangsa ini untuk dijadikan wasilah (sarana) kebangkitan umat khususnya umat islam di Indonesia….

Bandung, 30 Juli 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang