Tangisan yang dibolehkan dan tidak (Bagian 2)

ini lanjutan artikel sebelumnya Tangisan yang dibolehkan dan tidak (Bagian 1)

 

Tangisan yang dibolehkan dan tidak (Bagian 2)

3.  Tangisan wujud dari rasa syukur

Seorang muslim itu seharusnya ketika diberi nikmat ia bersyukur dan ketika diberi musibah ia bersabar.

Seorang yang bertaqwa dan beriman akan senantiasa selalu bersyukur atas apa saja nikmat yang diberikan oleh Allah kepadanya, tak dilihatnya bentuk apakah nikmat itu, bukan, bukan itu yang dilihatnya, yang dilihatnya adalah kasih sayang-Nya Allah kepadanya, tak henti-henti Allah memberikan nikmat kepadanya. Seorang tersebut tidak pernah mengeluh sedikitpun akan kondisi yang ada padanya, walau ia secara zahir terlihat begitu kekurangan, namun tak tampak cemberut akan nasib yang tergores diwajahnya. Ia senantiasa ridha dan ta’at atas apa yang telah ia dapatkan dari Tuhan-Nya. Oleh karena itu, sering kita lihat, orang-orang seperti ini menangis ketika mendapatkan nikmat.

Tak terlalu susah untuk menemukan orang-orang seperti itu, carilah oleh kita seorang yang sedang tertimpa musibah, sedang kekurangan, atau baru saja kehilangan namun ibadahnya tak terkikis akan musibah, kekurangan, dan kehilangan tersebut. Datanglah ke rumah orang tersebut, berilah bantuan semaksimal yang bisa anda berikan, dan rasakanlah getaran itu, getaran yang membawa anda pada harumnya kesyukuran. Baca lebih lanjut

Iklan

Tangisan yang Dibolehkan dan Tidak (1)

Tangisan yang dibolehkan dan tidak (Bagian 1)


Secara umum tangisan bisa kita bagi menjadi dua, yakni; tangisan yang dibolehkan dan tidak dibolehkan. Jadi, menangis pun harus tepat alasannya, tidak boleh sembarang menangisi sesuatu.

Tangisan yang tidak dibolehkan adalah tangisan yang meraung-raung seperti dunia ini akan berhenti saja sehingga harus ditangisi, tangisan yang menjerit-jerit tak jelas, meracau tak jelas macam orang gila saja, dan tangisan yang melolong sekuat hati akibat penderitaan yang dinilainya begitu dahsyat. Tangisan seperti itu sangat dilarang oleh Allah, menangisi penderitaan adalah wujud putus asa dalam menerima takdir Allah, padahal cirri orang beriman adalah percaya kepada takdir yang diberikan oleh Allah kepadanya. Menangisi kehilangan pun sama, Allah pun melarangnya, begitu banyak dari manusia yang menangisi kehilangan orang yang dikasihinya, padahal Allah adalah pemilik semua manusia didunia ini termasuk orang yang dikasihinya itu, ketika Allah meminta untuk ia kembali, maka ia akan kembali kepada Allah sesuai kehendak-Nya, tak ada yang dapat menahannya dan menundanya.

“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (Al-Baqarah:156)

Tangisan yang diperbolehkan adalah tangisan yang terjadi ketika alasan tangisan tersebut karena cinta dan takutnya kita kepada Allah. Kekasih kita –Rasulullah- pun sangat sering menangis didalam sholat dan do’anya, Ia pula menangisi kesengsaraan dan kesusahan yang akan dihadapi oleh Ummat sepeninggal dirinya.

Marilah kita lihat satu-satu uraian beberapa diantara tangisan yang diperbolehkan: Baca lebih lanjut

Kadang Kita Butuh Menangis

Kadang Kita Butuh Menangis


Siapa yang tidak tahu dengan kata “menangis”. Saya yakin, semua manusia yang hidup dan memiliki akal sehat (waras) pasti mengetahui arti dari menangis. Tapi, pertanyaan yang kemudian muncul adalah, “Apakah kita tahu apa itu menangis sesungguhnya?” seseorang menjawab, “menangis itu mengeluarkan air mata!” apakah hanya itu saja pembatasan makna dari menangis? ketika kita menguap bukankah kita mengeluarkan air mata? ketika mata kita termasuki debu bukankah kita mengeluarkan air mata?. Saudaraku, menangis tidaklah segampang itu pemaknaannya, ia bukanlah hanya sekedar pembuangan air mata saja, tapi juga melibatkan segumpal darah yang bernama hati. Hati yang mengiringi mengalirnya bulir-bulir air mata disudut matamu.

Aktivitas menangis sebenarnya sama-sama kita ketahui bahwasanya sejak awal kita lahir didunia ini, kita sudah menangis dan apabila kita tidak menangis sesungguhnya ada yang menangis pula, yaitu ibu, ayah, saudara, tetangga, dan manusia-manusia lain yang mengenal kelahiran kita. Tangisan kitalah yang justru ditunggu-tunggu oleh mereka, betapa tak bisa dibayangkan raut muka mereka ketika kita tidak bisa menangis, tak bisa pula dibayangkan betapa khawatirnya mereka, betapa pilu hati mereka, dengan bibir begetar mereka akan menanyakan hal tersebut kepada dokter atau bidan yang membantu persalinan ibu kita, “Dok, kenapa anakku tidak menangis?” Tentu dokter atau bidan akan menenangkan dan melakukan tindakan medis, karena sebenarnya ini hanyalah peristiwa yang biasa terjadi di dunia persalinan. Subhanallah. Baca lebih lanjut