Belajar tak Mengenal Usia

Belajar tak Mengenal Usia

Di Lembaga Tahsin & Tahfidz dimana saya belajar tahsin, ada begitu beragam usia yang menjadi peserta, dimulai dari anak-anak mulai dari SD, SMP, dan SMA, sampai kakek-kakek pun tak mau kalah menjadi peserta Tahsin atau Tahfidz. Bahkan di kelompok saya yaitu kelompok Al-‘Alaq (Tahsin 2), ada anak yang masih SD, mungkin masih sekitar 8 tahunan tapi bacaannya tak kalah dari kami-kami yang udah dewasa, duh jadi merasa malu…dan dikelompok saya juga, ada kakek-kakek yang umurnya saya taksir sekitar 65 tahunan.

Dan beberapa pertemuan yang lalu, selagi nunggu giliran tallaqi ke ustadz, saya diajak ngobrol oleh si kakek tersebut yang kebetulan duduk disamping saya. Ada banyak yang kita obrolkan, seputar tempat tinggal, kerjaan, status, dan lain-lain. Disela-sela obrolan si Kakek bilang kayak gini:

“Terlambat saya belajarnya  mas, dari dulu sampai sekarang selalu merasa benar bacaan Qur’annya, ternyata banyak salahnya..he.he..” kata si Kakek.

“Nggak Pak, nggak ada istilah terlambat dalam belajar mah..yang terlambat tuh kalau nyawa udah dikerongkongan.”

“hehehe.. bener juga ya..”

Baca lebih lanjut

Belajar Pada Umar

Belajar Pada Umar

Kita sebagai umat islam, pasti kenal dengan kebesaran nama Umar, kebesaran namanya tidaklah muncul begitu saja, ia muncul karena sejarah yang menorehkan tinta kearifan, ketegasan, kesederhanaan ketika menjabat sebagai khalifah, ketegasan, pantang menyerah, pemberani, dan begitu banyak tinta yang dikeluarkan untuk menuliskan kepribadiannya.

Tapi, ehm.. saya tidak membahas tentang Umar bin Khatab, Umar bin Abdul Aziz, ataupun Umar tetangga sebelah rumah saya..

He..he..

Kali ini saya akan menuliskan sedikit goresan sejarah Umar bin al Ash. Ada yang pernah tahu sebelumnya, siapa itu Umar bin al Ash?

Begini goresan sejarahnya,.. simak ye!

Bersama kaumnya, Umar bin al Ash menghadap kepada Rasulullah Saw. Namun, kaumnya berebutan untuk lebih dulu berhadapan dengan Rasulullah. Setelah negoisasi disepakati bahwa Umar bin al Ash bersedia menjaga kendaraan-kendaraan kaumnya. Dan mereka menemui Rasulullah lebih dahulu. Baca lebih lanjut

[Cerbung] Dua Kuas Episode 5 Part 2

Alhamdulillah, setelah sekian lama, cerbung ini kembali hidup :).

Sila menikmati walau sedikit hehehe…..

part ini sambungan dari Episode 5 part 1..

Episode 5: Benci part 2


Hujan tentu membuat baju kami basah kuyup, walaupun hujan tak terlalu deras lagi, tetapi jarak dari sekolah ke rumah yang lumayan agak jauh, butiran-butiran lembut hujan sedikit demi sedikit menyebabkan baju kami basah.

Hari sudah menjelang ashar, dan kami belum sholat dzuhur, kami percepat langkah, berlari-lari kecil, memecah larik hujan, dan dengan cekatan menghindari genangan-genangan hujan dijalanan.

“Alhamdulillah sampai rumah juga” gumamku dalam hati, kulihat kak hasan tampak ngos-ngosan, “oi..capek benar tampaknya abangku ini” sedikitku tersenyum melihat tingkahnya.

“Assalamu’alaykum” ujarku dan kak hasan berbarengan. Baca lebih lanjut

Untuk Sebuah Cita-cita Besar

Untuk Sebuah Cita-cita Besar

Cita-cita adalah sebuah pengharapan yang ingin dicapai pada suatu periode waktu tertentu. Banyak sekali yang berujar kata cita-cita tersebut. Sewaktu kita masih kecil pun lebih tepatnya balita, kita sering ditanya oleh bapak, ibu, sanak kerabat, dan para tetangga yang “gemes” dengan tingkah laku kita. “Apa cita-cita mu Nak?” begitulah yang sering ditanyakan. Dan si anak tersebut spontan menjawab apa yang sudah didengar sebelumnya dari orang lain. Jikalau sebelum ditanya orang lain tersebut sudah ada yang memberikan statemen bahwa Nak, kamu harus jadi dokter atau pilot atau pun lainnya. Spontan saja si anak tersebut berujar demikian, “A..ku i..ngin me…njadi doktelll” dengan senangnya ia mengucapkannya. Sesungguhnya ia belum mengetahui apa itu profesi dokter dengan sebenarnya.

Beda dengan kita yang sudah dewasa hari ini, kita bukan anak kecil lagi yang dengan sekonyong-konyongya menyebutkan cita-citanya tanpa landasan. Kita harus bisa reaktif terhadap diri sendiri, kita harus bisa mengetahui potensi kita apa tentu saja dengan mengukur potensi tersebut. Tak dapat dipungkiri memang terkadang, cita-cita yang diujarkan jauh banget dari realita atau kata kasarnya “ tidak realistis”. Disinilah peran kita sebagai pribadi yang tentunya mengenal profil pribadi kita sendiri bisa memetakan potensi diri jangan sampai megaloman yang terjadi.

Seharusnya sebagai seorang manusia kita diwajibkan untuk mengenal diri kita sendiri, sungguh jikalau kita mengenal diri sendiri maka kita pun akan mengenal siapa Tuhan kita. Baca lebih lanjut

4 Peluang Kebaikan

Akhirnya bisa nulis lagi, setelah sekiaaaan lamanyo…

4 peluang kebaikan

image

Jumat, 24 may 2013..

Alhamdulillah wasyukurillah, Allah memberikan 4 peluang kebaikan hari ini, kurang dari dua jam saja..
Oke, tak perlu berlama-lama, berikut 4 peluang kebaikannya..
Pertama,
Sepulang kerja, keluar kantor, berjalan kedepan gedung untuk menunggu kopaja, sembari jalan, dari arah depan, ada seorang pengendara motor menegur saya..
‘Mas, kalo mau ke rekind kemana ya?’ Tanya orang itu.
‘Rekind??’ Saya tau, rekind itu apa, rekind itu perusahaan epc migas lokal, singkatan dari  rekayasa industri..
‘Rekayasa industri mas..’
Itu gw juga tau masbro, dalam hati..
Berhubung saya nggak tau gedung rekind tuh dimana,
‘Daerah mana mas?’
‘Daerah kalibata, dekat taman makam pahlawan’
‘ owh’ kalau ini saya tau, jelas, tiap hari rute kerja lewat sana mulu dari/ke stasiun duren kalibata.
‘ masnya terus aja, lampu merah kedua, mas belok kiri, luruuss aja, ngikutin jalan gede, sampe ketemu lampu merah, ambil kanan, lurus, terus, sampe ketemu lampu merah lagi, ambil kiri.., oke?’
‘ oke mas..’
Sengaja saya ulangi sekali lagi, biar ga cepet hilang ingatan masnya..
Sekali lagi, saya bilang
‘Oke?’
‘Oke mas, makasih ya..’
‘Yaps…’ sambil senyum.

Baca lebih lanjut

Sore di Halte Itu

Sore di Halte Itu
Cuaca belakangan ini sungguh panas dan panasnya itu pakai banget. Matahari masih menyinari dengan cuek sore hari ini, sepertinya belum mau pulang kayaknya dia.

Disudut bangku salah satu halte bis di Jakarta, aku duduk dengan termangu, memandangi para pejalan kaki yang lewat melintasi halte ini. Tujuanku ke halte ini tidak seperti orang yang lain yang menunggu kedatangan bis untuk menjemput mereka dan segera menghantarkan mereka ke daerah yang ingin mereka tuju, sedangkan aku, seorang yang dengan berkepribadian unik kata teman-temanku, datang ke halte hanya untuk memandangi para pejalan kaki yang melintasi halte ini dan mengajak bicara apa saja kepada orang yang kebetulan sedang menunggu bis. Baca lebih lanjut

Ramadhan yang Berbeda

Ramadhan yang Berbeda


Assalamu’alaykum para netizen,

wuiih udah lama pisan ternyata diriku nggak nulis lagi, udah kaku euy..

seperti yang pernah saya tuliskan bahwasanya menulis itu seperti nafas dalam kehidupan, kadang tersengal kadang lancar. Itu biasa #pembenaran 🙂

lagi dengerin Richard Marx – Now and Forever

Ramadhan tahun ini memang sungguh berbeda buat saya, nggak seperti ramadhan-ramadhan sebelumnya yang kerja hanya dikantoran, kali ini harus kerja dilapangan, lapangan minyak lagi, terus di Minas (riau) lagi.. (katanya tempat terpanas di Chevron field).

Baca lebih lanjut

Gengsi dan Ngeri

Gengsi dan Ngeri

 

Cinta masih bisa tersenyum, mesti hati terluka, juga walau tiada penawarnya..

Kata-kata diatas sebenarnya sih nggak ada hubungannya dengan nih tulisan, tuh kata Cuma iseng aja dan nggak ada sangkut pautnya juga dengan diriku he..he..

Gengsi dan Ngeri merupakan dua cerita yang saya alami satu minggu kebelakang.  Please, jangan ketawain diriku ya!

Sip, cerita pertama Baca lebih lanjut

Puisi: Sisi

wah…dah lama tak bertypo-typo ria diblog ini..dikarenakan LCD Laptop pecah.

untuk sekedar penyegaran kembali, ijinkan saya berpuisi ria.he..he..

puisinya singkat saja,

SISI

Redup sinar rembulan

Bintang jatuh dipandangan

Kemaren malam hujan rintik-tintik menyapa

Hangat ia terasa

Kumerasakan rinainya dengan sederhana

 Malam kemaren dan sekarang adalah milikmu

Biarlah esok, sama-sama kan kita nanti

Sejuk, panas, hujan, bahkan badai

Tenanglah, aku ada disisi tuk menemani

Jakarta, 24 April 2012

Aldo Wilman

source gambar: http://www.flickr.com/photos/al-insyirahlensa/6276166571/