Kadang Kita Butuh Menangis

Kadang Kita Butuh Menangis


Siapa yang tidak tahu dengan kata “menangis”. Saya yakin, semua manusia yang hidup dan memiliki akal sehat (waras) pasti mengetahui arti dari menangis. Tapi, pertanyaan yang kemudian muncul adalah, “Apakah kita tahu apa itu menangis sesungguhnya?” seseorang menjawab, “menangis itu mengeluarkan air mata!” apakah hanya itu saja pembatasan makna dari menangis? ketika kita menguap bukankah kita mengeluarkan air mata? ketika mata kita termasuki debu bukankah kita mengeluarkan air mata?. Saudaraku, menangis tidaklah segampang itu pemaknaannya, ia bukanlah hanya sekedar pembuangan air mata saja, tapi juga melibatkan segumpal darah yang bernama hati. Hati yang mengiringi mengalirnya bulir-bulir air mata disudut matamu.

Aktivitas menangis sebenarnya sama-sama kita ketahui bahwasanya sejak awal kita lahir didunia ini, kita sudah menangis dan apabila kita tidak menangis sesungguhnya ada yang menangis pula, yaitu ibu, ayah, saudara, tetangga, dan manusia-manusia lain yang mengenal kelahiran kita. Tangisan kitalah yang justru ditunggu-tunggu oleh mereka, betapa tak bisa dibayangkan raut muka mereka ketika kita tidak bisa menangis, tak bisa pula dibayangkan betapa khawatirnya mereka, betapa pilu hati mereka, dengan bibir begetar mereka akan menanyakan hal tersebut kepada dokter atau bidan yang membantu persalinan ibu kita, “Dok, kenapa anakku tidak menangis?” Tentu dokter atau bidan akan menenangkan dan melakukan tindakan medis, karena sebenarnya ini hanyalah peristiwa yang biasa terjadi di dunia persalinan. Subhanallah.

Bayi yang waktu itu baru dilahirkan di dunia hanya bisa menangis, entah apa yang ditangiskan. Apakah tangisan kebahagian karena lahir didunia, ataukah tangisan itu mengisyaratkan kesedihan tiada tara yang karena kelahirannya didunia. Banyak yang beranggapan bahwa tangisan seorang bayi ketika ia dilahirkan adalah simbol dari takutnya ia dari ketidakberdayaannya dalam memikul amanah sebagai khalifah yang berjalan dimuka bumi ini. Takut tidak bisa menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Jika secara medis, menangisnya bayi sewaktu dilahirkan karena untuk membuka rongga pernapasan dan menghirup oksigen ke dalam paru-parunya. Wallahu’alam.

“Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.” (Q.S. Faathir: 39)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”  (Q.S. Al-Anfal:27)

Ketika bayi dilahirkan, menurut saya, wajar saja kita menangis, “mengapa?” karena diawal kita tak tahu akan berbuat apa, ini adalah alam baru kita yang sebelumnya dari alam rahim yang penuh dengan kenikmatan berada didalamnya. Dan mulai dari saat itu, belajar dan terus belajar adalah kunci dalam menjalani hidup. Kita belajar dan diajarkan membuka mata, menegak air asi dari ibunda kita, menelungkupkan badan, merangkak, berbicara, berjalan, berlari, menghitung, dan lain-lain sampai sekarang yang masih belajar dalam mengarungi kehidupan didunia ini, hingga nanti sampai ke Jannah-Nya insya Allah. Aktivitas belajar itulah yang setiap periode kehidupan selalu dilakukan oleh kita, disadari atau tidak. Intinya adalah kita belajar untuk berperan sebagai manusia yang sesungguhnya, the real man. Dan apabila kita terengah dan berlalai-lalai ria dari aktivitas ini, sungguh kerugian akan mendera dan menjadi sebuah keniscayaan. Telah jelas dalam Q.S. Al-‘Ashr yang sama-sama sudah kita hafal.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, nasehat-menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati dalam kesabaran.”

Kemudian muncul sebuah pertanyaan, “Saudaraku, aktivitas menangis kita yang dulu kemana lagi?”

Dulu saat kecil, ketika mau makan kita menangis, ketika ingin buang air kita menangis, ketika haus kita menangis, ketika kita mau sesuatu kita menangis, ketika ditinggalkan orang tua sebentar saja kita menangis, ketika terjatuh sedikit saja kita menangis, ketika badan demam sedikit saja kita menangis didekapan sang ibunda, ketika kita ditinggal sendiri disekolah hari-hari pertama kita menangis, dan banyak ketika-ketika yang lainnya. Seiring bertambahnya usia memang terkadang menangis menjadi aktivitas yang jarang dilakukan, mungkin gengsi atau malu. Sifat inilah yang cenderung muncul dalam diri kita. Sehingga kemudian yang terjadi adalah menyebabkan kita bingung dan dibingungkan dengan kapan seharusnya kita menangis dan tangisan apa yang seharusnya kita tangisi. Ini menjadi renungan bagi kita bersama.

Sebuah keironisan terjadi pada kebanyakan manusia sekarang yang terlihat, bahwasanya mereka lebih banyak menangis keliru, menangis yang tidak seharusnya ditangisi. Ada yang menangisi karena cintanya bertepuk sebelah tangan, menangis karena ditinggal sang pendamping hidup, menangis karena kehilangan barang berharga, menangis karena kelaparan, menangis karena nonton drama cinta Korea dan banyak tangisan-tangisan keliru lainnya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, “pernahkan kita menangis karena meninggalkan shalat? Pernahkah kita menangis karena mendurhakai orang tua? Pernahkah kita menangis karena tidak bisa baca Al-Qur’an? Pernahkah kita menangisi karena kaki kita yang selalu melangkah ditempat-tempat yang haram? Pernahkah kita menangis karena tangan yang selalu dibuat untuk hal-hal yang diharamkan? Pernahkah kita menangisi mata yang selalu melihat yang haram? Pernahkah kita menangisi mulut yang selalu berbicara ghibah dan tidak penting? Dan pernahkah kita menangisi hati kita yang keras seperti batu yang tidak mempan menerima kebaikan dan hikmah?”

Saudaraku yang kucintai, tangisilah hal-hal yang seharusnya ditangisi, hindarkan diri dengan tangisan-tangisan yang keliru. Karena wahai saudaraku, ketika kita tidak bisa menangisi hal-hal yang sepatutnya ditangisi, jangan-jangan kita yang digambarkan dalam Q.S. Al-Baqarah: 74 dan Q.S. Al-Hajj: 46

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.”

“maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”

Saudaraku, aktivitas menangis bukan hanya sekedar sebagai eksistensinya sebuah pelampiasan perasaan saja. Tapi, aktivitas menangis kita justru sering terjadi karena adanya aksi-reaksi terhadap sebuah atau lebih perbuatan yang kita lakukan dan orang lain lakukan.

Kita sebagai kaum muslimim dan mukminin meyakini bahwasanya akan datang dimana hari kita dikumpulkan di Padang Mahsyar,      hari dimana kita akan diadili dengan seadil-adilnya terhadap apa yang kita lakukan di dunia. Allah telah secara terang benderang menceritakan melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an perihal hari kiamat dan hari pembalasan, salah satunya terdapat pada QS. Al-Ghassiyah:1-16. Dalam surah itu, digambarkan bahwa tidak semua wajah akan ketakutan. Ada wajah-wajah yang pada hari itu cerah ceria. Mereka merasa bahagia dikarenakan perilakunya di dunia. Dia ditempatkan pada surga yang tinggi. Itulah kelompok orang yang di Hari Kiamat memperoleh kebahagiaan.

Rasulullah pernah bersabda, “Semua mata akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga hal. Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah Swt. Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah. Ketiga, mata yang tidak tidur karena mempertahankan agama Allah.”

Sungguh Saudaraku, apakah mata kita nanti diakhirat akan menangis atau tidak? Minta mohonlah kita kepada Sang Khaliq agar mata ini selalu menangis di dunia bukan menangis menderu-menderu di akhirat sana. Mintalah agar kita dikelompokkan menjadi orang yang tidak menangis pada hari kiamat nanti karena mata ini selalu menangis karena takut pada-Nya. Astaghfirullahal’adzim.

Dahulu, dalam suatu riwayat, ada seorang yang kerjanya hanya mengejar-ngejar hawa nafsu, bergumul dan berkelana di teinpat-tempat maksiat, dan pulang larut malam.Dari tempat itu, dia pulang dalam keadaan sempoyongan. Di tengah jalan, di sebuah rumah, lelaki itu mendengar sayup-sayup seseorang membaca Al-Quran. Ayat yang dibaca itu berbunyi: “Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kenudian berlalulah masa yang panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang yang fasik (Qs 57: 16).

Sepulangnya dia di rumah, sebelum tidur, lelaki itu mengulangi lagi bacaan itu di dalam hatinya. Kemudian tanpa terasa air mata mengalir di pipinya. Si pemuda merasakan ketakutan yang luar biasa. Bergetar hatinya di hadapan Allah karena perbuatan maksiat yang pemah dia lakukan. Kemudian ia mengubah cara hidupnya. Ia mengisi hidupnya dengan mencari ilmu, beramal mulia dan beribadah kepada Allah Swt., sehingga di abad kesebelas Hijri dia menjadi seorang ulama besar, seorang bintang di dunia tasawuf.

Orang ini bernama Fudhail bin Iyadh. Dia kembali ke jalan yang benar kerena mengalirkan air mata penyesalan atas kesalahannya di masa lalu lantaran takut kepada Allah Swt. Berbahagialah orang-orang yang pernah bersalah dalam hidupnya kemudian menyesali kesalahannya dengan cara membasahi matanya dengan air mata penyesalan. Mata seperti itu insya Allah termasuk mata yang tidak menangis di Hari Kiamat.

Bogor, 30 Desember 2013

Aldo Wilman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s