Belajar Pada Umar

Belajar Pada Umar

Kita sebagai umat islam, pasti kenal dengan kebesaran nama Umar, kebesaran namanya tidaklah muncul begitu saja, ia muncul karena sejarah yang menorehkan tinta kearifan, ketegasan, kesederhanaan ketika menjabat sebagai khalifah, ketegasan, pantang menyerah, pemberani, dan begitu banyak tinta yang dikeluarkan untuk menuliskan kepribadiannya.

Tapi, ehm.. saya tidak membahas tentang Umar bin Khatab, Umar bin Abdul Aziz, ataupun Umar tetangga sebelah rumah saya..

He..he..

Kali ini saya akan menuliskan sedikit goresan sejarah Umar bin al Ash. Ada yang pernah tahu sebelumnya, siapa itu Umar bin al Ash?

Begini goresan sejarahnya,.. simak ye!

Bersama kaumnya, Umar bin al Ash menghadap kepada Rasulullah Saw. Namun, kaumnya berebutan untuk lebih dulu berhadapan dengan Rasulullah. Setelah negoisasi disepakati bahwa Umar bin al Ash bersedia menjaga kendaraan-kendaraan kaumnya. Dan mereka menemui Rasulullah lebih dahulu.

Usai sudah hajat mereka, sekarang giliran Umar bin al Ash pun tiba, “Wahai Rasulullah,” kata Umar bin al Ash, “Berdo’alah kepada Allah agar saya paham dan mengerti agama islam.” “Apa yang engkau katakana?” Tanya Rasul. Setelah Umar bin al Ash mengulangi pertanyaannya, Rasulullah pun bersabda, “Engkau meminta sesuatu yang tidak diminta oleh salah seorang pun dari mereka sahabatmu. Berangkatlah, engkau adalah pemimpin mereka dan orang-orang yang mendatangimu dari kaummu” (HR Thabrani).

Pada umumnya, manusia yang hidup didunia ini pada ingin didahulukan kepentingannya, ingin diprioritaskan, ingin ddikedepankan, dan lain sebagainya tanpa melihat ikhwah atau saudaranya yang lain yang lebih membutuhkan. Ia tak sabar untuk menunggu apalagi untuk mengalah, malahan yang sering terjadi adalah saling berebut akibat dari keegoisan diri, hingga ia mengambil hak-hak orang lain untuk memenuhi nafsunya itu. Na’udzubillah.

Tingkatan ukhuwah yang tertinggi adalah itsar, yaitu mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang dirinya, kecuali dalam hal beribadah seperti shalat, shaum, zakat, haji, sedekah, menikah, dan lain-lain. Kalau yang seperti itu, kita diperintahkan untuk fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.

Belajarlah kita kepada Umar bin al Ash, ia mendahulukan sahabat-sahabatnya. Ia tidak berebut, ia bersedia untuk bernegoisasi, dan ia mengalah untuk menang dan bukan berarti pecundang. Ternyata, ia mendapatkan hal yang luar biasa, atas bimbingan Allah, ia meminta untuk dipahamkan tentang agama islam.

Banyak fenomena-fenomena terjadi dan itu fakta bahwa para pemimpin terlalu rakus dalam menggeruk harta padahal kedudukannya adalah amanah yang disematkan padanya adalah dari rakyat. Ia lupa, ia mementingkan dirinya dulu, “Urusan rakyat itu belakangan aja , yang penting gue balik modal dulu”, karena ia sudah mengeluarkan duit yang banyak untuk pemenangan dirinya menjadi pemimpin.

Umar bin abdul aziz pernah mengatakan, “kalau pemimpinnya kurus maka gemuklah rakyatnya. Kalau pemimpinnya gemuk maka kuruslah rakyatnya.”

Kurus dalam hal ini tidak sebatas fisik saja, tapi bermakna yang jamak. Bisa kita artikan menurut kita sendiri. Sejatinya pemimpin itu harus adil, dan adil itu proporsional, ini jatah untukku dan ini jatah untuk rakyatku. Harus proporsional dengan tentunya mendahulukan kepentingan rakyatnya terlebih dahulu.

Wahai saudaraku, apa kabar pada diri kita, kurus atau gemukkah kita sekarang?

Semoga Allah mengaruniakan jiwa kepemimpinan kepada masing-masing kita dan para qiyadah atau pemimpin kita. Amin

Wallahu’alam

 

Tulisan lama yang belum di upload🙂

Bogor

Insankeadilan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s