Untuk Sebuah Cita-cita Besar

Untuk Sebuah Cita-cita Besar

Cita-cita adalah sebuah pengharapan yang ingin dicapai pada suatu periode waktu tertentu. Banyak sekali yang berujar kata cita-cita tersebut. Sewaktu kita masih kecil pun lebih tepatnya balita, kita sering ditanya oleh bapak, ibu, sanak kerabat, dan para tetangga yang “gemes” dengan tingkah laku kita. “Apa cita-cita mu Nak?” begitulah yang sering ditanyakan. Dan si anak tersebut spontan menjawab apa yang sudah didengar sebelumnya dari orang lain. Jikalau sebelum ditanya orang lain tersebut sudah ada yang memberikan statemen bahwa Nak, kamu harus jadi dokter atau pilot atau pun lainnya. Spontan saja si anak tersebut berujar demikian, “A..ku i..ngin me…njadi doktelll” dengan senangnya ia mengucapkannya. Sesungguhnya ia belum mengetahui apa itu profesi dokter dengan sebenarnya.

Beda dengan kita yang sudah dewasa hari ini, kita bukan anak kecil lagi yang dengan sekonyong-konyongya menyebutkan cita-citanya tanpa landasan. Kita harus bisa reaktif terhadap diri sendiri, kita harus bisa mengetahui potensi kita apa tentu saja dengan mengukur potensi tersebut. Tak dapat dipungkiri memang terkadang, cita-cita yang diujarkan jauh banget dari realita atau kata kasarnya “ tidak realistis”. Disinilah peran kita sebagai pribadi yang tentunya mengenal profil pribadi kita sendiri bisa memetakan potensi diri jangan sampai megaloman yang terjadi.

Seharusnya sebagai seorang manusia kita diwajibkan untuk mengenal diri kita sendiri, sungguh jikalau kita mengenal diri sendiri maka kita pun akan mengenal siapa Tuhan kita.

Mengetahui kadar diri atau potensi diri dan kelemahan diri merupakan sebuah keharusan supaya bisa memetakan arah tujuan dan karir. Tujuannya biar tak salah langkah dalam melangkah, tak salah fikir dalam berfikir, tak salah kata dalam berkata, dan tak salah amal dalam beramal. Karena setiap manusia tidaklah bisa menjadi segala hal, ia pastilah mempunyai spesialisasi pada bidang tertentu, permasalahannya adalah kebanyakan orang malas untuk mencari kadar diri atau spesialisasinya. Mereka yang hebat dalam karya-karya ilmiahnya dalam medan ilmu pengetahuan belum tentu bahkan tidak mungkin hebat dalam berperang di medan perperangan. Disinilah perlunya suatu keobjektifitan dalam menilai, tidak bisa dibesar-besarkan dan tikurang-kurangkan, kedua-duanya punya resiko dan jebakannya masing-masing.

Sikap membesar-besarkan diri dan merasa besar merupakan hal yang tidak baik, karena akan menyebabkan diri sombong, angkuh, merasa paling benar dan hebat, dan memandang karya-karya orang lain tidak setara bahkan lebih dari karyanya. Menurutnya “nih… karya saya yang paling baik dan monumental”.

“Suatu saat ketika kamu merebut kemenangan demi kemenangan, kekuasaan yang semakin bertumpuk. Musuh sudah kau taklukkan semua. Tak ada lagi yang berani melawan. Semua orang mulai tunduk padamu. Disekililingmu hanya ada para pemuja. Musuhmu menyelinap kedalam bentengmu. Kedalam dirimu sendiri. Halus. Sampai kau bahkan tak mengenalnya. Kau sudah mulai merasa benar.

Itulah awalnya. Kamu mulai merasa benar. Kamu sebenarnya layak merasa begitu. Sebab kemenangan-kemenanganmu. Pengakuan mush-mushmu. Kekaguman sahabat-sahabatmu. Kekuasaanmu yang terbentang luas. Kamu memang hebat. Dan besar. Itu fakta. Tapi itulah jebakannya .merasa besar itu.” (Anis Matta)

Seperti contohnya fir’aun yang merasa besar dan mengaku dan mengatakan kepada penduduknya bahwa aku adalah Tuhan. Sungguh ironis orang yang seperti itu. Tidak mengenal hakikat diri.

Disinilah dibutuhkannya seni dalam menilai diri sendiri.

Menurut Ust Anis Matta, menilai diri sendiri adalah sebuah seni diantara seni-seni jiwa yang lain, seni yang sangat sensitive akan keadaan dan pergolakan jiwa, mengapa? Karena seni ini membutuhkan reflektifitasi dan refleksisasi dari keadaan jiwa, maksudnya ketenangan jiwa. Sebab disinilah momentum atau jalan untuk menentukan kadar diri dan dimanakah jalan yang akan dilalui setelah ini.

Bagaimana memulainya?

Yang pertama yang harus dilakukan adalah dengan menenangkan pikiran dan jiwa dari amburadulnya kondisi diluar dan keramaian aktifitas. Setelah jiwa merasa aman dan tentram barulah lakukan pengamatan yang mendalam terhadap peta diri dan kadar diri, berikan statemen yang jujur dan kemukakan alas an –alsannya mengapa saya mempunyai kelebihan ini dan mengapa saya mempunyai kekurangan ini. Sudah….! Kalau sudah, temukan letak potensi yang ingin kita perdalami, semisal ingin jadi dokter, maka pabila kita sudah jujur ditahap awal bahwa aku mempunyai potensi menghafal dengan alsasan nilai biologiku disekolah selalu diatas rata-rata, nilai kimiaku jg begitu, aku sangat tertarik akan bidang itu, dukungan dari keluargaku dan lingkunganku. Atau ingin jadi penulis, maka mahar untuk  menjadi penulis apakah sudah terpenuhi, apakah suka membaca, dan menuliskannya , katakan dengan sejujurnya pada diri sendiri, kemukakan alasannya, aku setiap bulan menghabiskan 3-4 buku untuk dibaca, tiap bulan aku menulis 5-8 artikel, tiap hari aku menulis di diaryku, dan lain-lain sehingga statemen ingin menjadi penulis menjadi kuat dan tak tergantikan….

Seperti itulah… dan langkah selanjutnya adalah menentukan secara objektif karya dan perbuatan kita. Ini adalah langkah yang cukup sulit untuk dilalui seseorang yang memetakan dirinya. Setelah ia menjadi dokter, ia harus menilai apakah perbuatan-perbuatanya atau tindak tanduknya sebagai dokter sudah terbilang professional ketimbang teman-temannya yang lain ataukah bagaimana. Dan setelah ia jadi seorang penulis dan telah mencipkan karya tulisan berupa buku, ia harus menilai apakah karya tulisnya sudah layak menjadi best seller ataupun lainnya. Intinya adalah sikap kejujuran dan keadilan pada diri sendiri.

Jangan sampai seperti Khalid bin Walid yang dipecat oleh Umar sebagai gubernur karena ia membayar 1000 dirham kepada seorang penyair yang membesar-besarkannya karena kehebatannya dalam beperang dan bijaksananya ia sebagai seorang gubernur Qinnasirin.

Menjaga obejektifitas diatas megaloman adalah pekerjaan yang tidak main-main.

Hati-hati!!!

Untuk sebuah cita-cita besar yang telah diujarkan atau diazzamkan dalam diri, maka harus ada pencapaian yang harus dibuat, perharinya apa, perminggunya apa, perbulannya apa, dan selanjutnya. Setelah itu, buat catatan kenapa target ini harus hari ini, bulan ini, tahun ini. Jikalau dibuat seperti itu insya Allah cita-cita yang diharapkan bukan suatu hal yang sia-sia untuk diimpikan melainkan akan menjadi suatu keniscayaan, dan ketika telah mencapai bahkan melampaui target tersebut ucapkan rasa syukur yang mendalam kepada sang pemberi Kemudahan. Berhasil atau tidaknya kembalikan kepada Allah

Faidza azzamta, fatawakkal ‘allallah

Ketika kita sudah berazam maka bertawakallah kepada Allah. Itu merupakan cara pengabdian dan penyerahan diri kita kepada Allah.

Ngomong-ngomong masalah cita-cita, cita-cita besar kita adalah mengembalikan izzah islam ke singgasananya lagi dengan adanya kontribusi kita didalamnya. Oleh karena itu saudaraku, sudah saatnya mulai sekarang kita memulai, jangan menunggu datangnya panggilan, tapi cepat tanggaplah terhadap kondisi, sehingga cita-cita besar kita akan menjadi terealisasi.

Optimis dan percaya diri itu perlu dalam pencapaian cita-cita. Karena dengan optimis maka segala tantangan akan mudah tuk hadapi, tidak terbesit pun dalam fikiran untuk mundur dari perang melawan tantangan tersebut.

“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang ‘leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.” (QS. Muhammad: 4)

“Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (Al-Anfal: 16)

Oleh karena itu, jangan pernah mundur untuk menghadapi rintangan, hadapai dan tendang.

Ujarkan dalam diri, “Innallaha Ma’ana” Allah bersamaku.

Wallahu’alam

Bogor, 17 September 2013

Insan Keadilan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s