Cerpen – Surat Amanah Untukmu, Adikku!

cerpen ini adalah cerpen kedua saya, yang pernah saya buat, dibuat sekitar tahun 2006, cerpen yang pertama nggak tau kemana perginya.

naskah nih cerpen ini pun nggak sengaja ketemu, waktu ngubek-ngubek sertifikat-sertifikat, eh..ternyata ada keselip nih cerpen. senangnya.  ^_____________^

Cerpen – Surat Amanah Untukmu, Adikku!


Aku adalah seorang anak yang terlahir dari latar belakang keluarga yang kurang dari berkecukupan. Semenjak kecil aku telah ditinggalkan oleh ayahku, karena meninggal tertimpa reruntuhan bangunan ditempat kerjanya. Dan semenjak kecil pula, aku telah mendapatkan beban yang berat dalam menjalani kehidupan, karena setelah sepulangnya dari sekolah aku harus berjualan koran dan mengamen di kereta-kereta, di bus-bus kota, di perempatan lampu merah, dan di warung-warung pinggir jalan bersama dengan teman sebayaku.

Aku mempunyai seorang adik yang sangat lucu dan polos, karena ia baru berumur sepuluh tahun. Ia sangat ingin menjadi seorang penyanyi terkenal yang bisa mengubah hidupnya dan keluarganya. Ia sangat senang jika diputarkan  lagu-lagu yang disukainya, jika tidak diputarkan pada hari itu maka ia akan merusak isi rumah. Mengamuk. Aku tidak ingin, ia merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan, yang mana harus memikul beratnya beban kehidupan.

Aku menderita suatu penyakit mematikan yang aneh, yang para dokter pun belum mengerti penyakit apa yang aku derita, kata mereka, penyakitku ini sangat langka dan pun belum ada yang meneliti  tentang penyakit ini. Hal yang membuatku terpuruk (lagi) adalah dokter memvonis bahwa aku tidak akan bisa bertahan hidup dalam hitungan tahun lagi, sekitar 3-5 tahun lagi. Dalam suasana hening dimalam hari dimana jangkrik dan burung hantu melantunkan syair-syair nan indah dan angin bertiup kencang seolah marah kepada bumi, aku kemudian berfikir apakah yang harus kuperbuat agar aku tetap bisa menemani adikku hingga ia tumbuh besar dan dewasa walau aku sudah meninggal nantinya.

Atas pertolongan Allah, aku kemudian menemukan apa yang harus kuperbuat, yaitu memberi surat amanah. Aku meminta kepada ibu untuk memberikan surat amanah ini kepada adikku tersayang setelah aku meninggal dan adikku telah dewasa. Dengan air mata ibu yang mengucur deras bak air terjun yang menghempaskan bebatuan, ibuku akhirnya setuju (walau berat) dengan tawaranku. Isi surat itu adalah sebagai berikut:

 

Assalamu’alaykum

Apakabar adikku yang lucu, abang rindu sekali dengan cara merengekmu kepadaku. Semoga engkau dalam keadaan yang baik-baik saja. Dibawah ini, adalah sedikit tulisanku yang bisa diartikan mengganti peranku sebagai abang yang harus memberi nasehat kepada adiknya. Jangan males bacanya ya…! awas!

 

Disaat engkau sudah lancar untuk membaca surat amanah abangmu ini adikku, yang bisa membuat sendu hati dan harimu, mungkin keadaan bumi sedikit lebih baik. Dimana tidak ada lagi polusi udara, air, dan tanah dan tidak ada lagi bencana-bencana yang silih berganti menghujani bumi serta tidak ada lagi kekacauan yang diakibatkan oleh penyimpangan prilaku-prilaku manusia yang bisa menyebabkan Allah murka kepada manusia. Dan tidak ada lagi masa dimana kejahiliyahan pada zaman sebelum datangnya Rasulullah itu terjadi kembali, yang contohnya dalah orang membunuh anaknya hidup-hidup, meminum minuman yang memabukkan, dan dimana pula zina menyebar luar dengan pesatnya. Disaat engkau membaca surat amanah ini adikku, mungkin engkau tidak perlu lagi untuk mengalami beban berat kehidupan, dimana untuk mencari uang sebesar 5.000 perak saja perlu waktu dua belas jama, dimana untuk tidur malam kami hanya tidur dengan beralaskan tanah dan berselimutkan langit yang dihujani kilau-kilau bintang, dan seonggok rembulan yang indah, dan dimana bencana alam yang menyebabkan teman-teman abangmu ini mati bagaikan bangkai yang tersapu alam, beruntunglah engkau adikku.

Pada hari abangmu menulis surat amanah ini adikku, hari dimana hari yang paling bermakna dalam hidupku, karena pada hari inilah abang merayakan ulang tahun yang ke-19 tahun, dimana goreng pisang sebagai kuenya dan obor sebagai lilinnya.

Disaat engkau membaca surat amanah ini adikku, mungkin kini engkau telah menjadi seorang penyanyi terkenal atau orang yang berada. Dimana engkau dipuja-puja oleh sekelompok anak muda dan dimana uang 100 juta sangat mudah engkau dapatkan dalam dua belas jam saja. Dimana engkau jalan-jalan ke pelbagai kota untuk pertunjukkanmu, itu sangat mudah bagimu.

Sangat kebetulan sekali, kemarin abang bertemu dengan teman lama yang senasib seperjuangan ketika mengamen di kereta api dulu. Ia sekarang telah menjadi orang yang sukses karena bisnis haramnya, yaitu mengedarkan narkoba. Sempat pada waktu ia akan memulai bisnisnya itu, ia mengajak abang untuk bersamanya mengedarkan narkoba, alhamdulillah dik, ketika itu Allah menguatkan iman abang. Sebenanya, ia berasal dari latar belakang keluarga yang kaya, karena orang tuanya terlalu memaksanya menjadi sesuatu yang diinginkan orang tuanya, menyebabkan ia muak dengan segala fasilitas yang telah diberikan orang tuanya. Sehingga membuat ia kabur dari rumah dan menjadi liar. Pada hari kemain, abang berbincang-bincang dengan dia.

“pekerjaanmu apa sekarang, Mat?” tanya teman abang.

“penjual martabak depan kampus diseberang jalan itu.”

Teman abang kemudian tertawa terbahak-bahak akan nasib yang abang jalani selama ini. Akan tetapi, abang yakin dalam hati bahwa inilah takdir yang terbaik yang telah diberikan oleh Allah kepada abang yang menjadi penjual martabak.

“dengan hasil menjual martabak, kau gunakan apa Mat?”

“hasil penjualan martabak saya berikan sepenuhnya untuk Ibu dan dengan uang itu pula kebutuhan rumah dan sekolah adikku bisa terpenuhi. Alhamdulillah. Adikku sangat ingin menjadi seorang penyanyi, aku berniat untuk membelikannya sebuah gitar, makanya untuk dapat membeli gitar, aku berjualan sampai larut malam hampir setiap hari.”

“Oke lah kalau begitu, Mat. Semoga cita-cita adikmu terwujud ya…”

“makasih kawan, insya Allah”

Dan ia pun berpamitan untuk pulang.

Pada keesokan harinya (hari ini), abang mendapatkan kabar bahwa teman abang tersebut telang meninggal dunia subuh tadi. Menurut kabarnya, ia meninggal bunuh diri dengan terjun dari apartemen 25 tingkat. Menurut kabar yang abang terima, ia bunuh diri, karena sudah tidak tahan dengan utang yang menggunung akibat bisnis haramnya tersebut.

Yang ingin aku amanahkan kepada engkau adikku tersayang adalah jadilah hamba Allah yang taat, umat Rasul yang mantab, anak Ibu yang berbakti, adek abang yang selalu tersenyum, dan insan yang penuh  kebermanfaatan kepada sesama. Jadi apapun kamu sekarang adikku, abang tidak peduli, yang terpenting engkau bisa tetap bersyukur dan berbagi.

Dan apapun yang engkau lakukan saat ini adikku, lakukanlah karena Allah, ambillah yang halal dan tinggalkan jauh-jauh yang haram dan banyak mudharatnya.

Jadikan Al Qur’an dan As-Sunnah sebagai peganganmu adikku, karena Rasul kita tercinta menyuruh demikian, agar kita tak tersesat selama-lamanya didunia yang sejatinya hanya sementara.

Jangan engkau terlena akan indahnya dunia, indahnya dipuja, indahnya harta, indahnya istri yang cantik jelita, percayalah kepada abangmu ini, itu tidak akan membantumu sama sekali kelak di akhirat. Perbanyaklah membaca buku, perbanyaklah mengikuti pengajian-pengajian, dan perbanyaklah istighfar, agar hati dan akhlaqmu selalu terjaga.

Jikalau nanti, cita-citamu tak tersampai, cintailah prosesnya adikku, karena itulah yang menentramkan hatimu yang berkecamuk, lalu tersenyumlah dan bangkitlah, songsong perubahan yang lebih berarti. Biar Allah, Rasul, dan orang-orang beriman saja yang melihat kerjamu.

Jikalau nanti, hatimu tersayat perih mungkin karena ada yang mengecewakanmu, anggaplah itu suatu langkah mendewasakan dirimu, lebih dewasa, dan lebih bijaksana.

Jikalau nanti, dirimu sendiri dan dikucilkan karena suatu hal, ingatlah adikku, engkau tidaklah sendirian, Allah terus bersamamu, Allah selalu disisimu. Apalah arti dipuja manusia namun dimurkai oleh Allah. Lebih baik menderita di dunia ketimbang menderita selamanya di akhirat. Tetaplah istiqamah dengan keyakinanmu, buktikan, buktikan, dan buktikan bahwa engkau pantas. Memantaskan diri menjadi seorang yang penuh kebermanfaatan adalah suatu modal besar untuk merubah adikku.

Pesan terakhir abang untukmu adalah: jaga Ibu. Kalau engkau tahu apa yang telah dilakukannya padamu, dua bola matamu pun tak bisa menggantikan kasih sayangnya kepadamu, jangan sampai ia menangis sedih karena perbuatanmu yang melukai hatinya. Sering abang lihat, setiap malam, ia bangun untuk shalat malam, dengan tersedunya ia berdo’a untuk kesembuhanku dan untuk masa depanmu, setiap malam abang perhatikan, itu saja do’a yang dilantunkannya. Ingat adikku, hanya engkau sajalah yang tinggal ia punya didunia ini setelah abangmu ini meninggal, ia tak ingin hartamu, ia tak ingin rumahmu, ia tak ingin apapun darimu, tapi hanya satu yang ia inginkan, yaitu cinta berbalas darimu yang terwujud dari baktinya engkau kepadanya.

 

Ketika engkau telah selesai membaca surat amanah ini adikku, mungkin abangmu sudah tidak ada lagi di dunia, namun cintaku kepadamu, Ibu juga ayah, akan selalu bersemayam ditempat yang sama,yaitu di hatiku.

Semoga kelak kita sekeluarga dipertemukan oleh-Nya di Syurga yang penuh akan kenikmatan, kebahagian, dan kelapangan yang abadi.

 

Wassalamu’alaykum

 

Salam,

Dari Abangmu tercinta yang setiap malam tak lepas mencium keningmu, mungkin aku akan merindukan hal itu ketika di “sana” ^_^

 

Jakarta, 07 Februari 2012

Aldo Wilman / Insan Konayuki / Insan Keadilan

source gambar:http://www.dhewy.com/wp-content/uploads/2011/11/Surat-Buat-Sahabat.jpg

4 thoughts on “Cerpen – Surat Amanah Untukmu, Adikku!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s