[Cerbung] Dua Kuas Episode 4 Part 2

sambungan dari Episode 4 Part 1

happy reading

Episode 4: Rumah Sekolah Part 2

sekolah

sekolah

 

Mobil ayahnya Lintang melaju dengan sedikit kencang, seirama dengan laju denyut jantungku yang ikut-ikutan kencang. Aku yakin sekali kak Hasan pun serupa denganku. Kulihat air mukanya begitu khawatir. Benar-benar telak, kami lupa mengerjakan PR bahasa indonesia. Mau menyalin teman dikelas nanti dipastikan nggak akan sempat, pelajaran Bahasa Indonesia adalah pelajaran pertama hari ini. Sedangkan PR tulisan tegak bersambung sungguh sangat menyita waktu untuk diselesaikan. Dari pribadiku pun cuma bisa pasrah saja.

Biasanya, perjalanan menuju sekolah, aku, kak Hasan, dan Lintang selalu bersenda gurau, membahas hal-hal yang tidak penting, ketawa terbahak-bahak sampai ayahnya Lintang menegur karena itulah tujuan kami dan si Lintang pun tak keberatan ayahnya dijahili oleh kami. He..he.. Namun, perjalanan kali ini hanya diisi kebisuan antara kami semua.

Mobil ayahnya Lintang berhenti digerbang SMP negeri tempat yuk Eni sekolah. Yuk Eni adalah kakak perempuannya Lintang. memang seperti biasa, yuk Eni terlebih dahulu yang diantarkan ke sekolah oleh ayahnya, setelah itu barulah mengantarkan kami, karena arah kantor ayahnya Lintang sejalan dengan ke sekolah kami.

Akhirnya, mobil ayahnya lintang benar-benar sudah berhenti. Aku yang sedari tadi hanya melamun, tak menyadari bahwa kami sudah sampai ditujuan, itupun aku tersadar dengan tepukan yang cukup keras dari kak Hasan, “Oi..Sen, ngelamun aja kerjaan lu!”

“’ah, dah sampai ya?” tanyaku dengan bodohnya sambil menahan sakit dibahuku.

***

Ttteeennngggg…ttteeennggg

Lonceng sekolah pun berbunyi tepat saat aku meletakkan tas dimeja. Ibu Norma sudah sedari tadi berdiri didepan pintu kelas dengan penggaris kayu besar ditangannya. Sebelum masuk kelas, kami terlebih dahulu berbaris di teras kelas dan dipimpin oleh Rian. Rian adalah ketua kelas kami, badannya lebih besar ketimbang murid laki-laki yang lain termasuk aku, aku fikir dia dipilih jadi ketua kelas oleh Bu Norma hanya karena badannya saja yang gede. Ah..tau ah..

Setelah acara baris-berbaris, sebelum masuk ke kelas, kuku kami para murid akan dicek satu per satu, siapa yang panjang dan kotor, telapak tangannya akan dipukul pakai penggaris. Tapi nggak terlalu sakit, cukuplah untuk sedikit membuat jera.

Beruntungnya hari ini tidak ada yang kena.

“SIAP! BERI HORMAT!” Ujar Rian lantang sembari berdiri.

“ASSALAMU’ALAYKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH!” Ujar kami tak mau kalah lantangnya.

“Wa’alaykumussalam anak-anak, silahkan duduk!” Jawab Ibu Norma dengan tenang dan memperilahkan kami duduk kembali.

Kulihat wajah teman-teman begitu ceria seperti tidak ada kekhawatiran sama sekali. Sekali lagi kulihat kak Hasan, ekspresinya tetap sama seperti di mobil ayahnya Lintang. Aku dan kak Hasan tidak duduk sebangku. Dipisahkan bahkan jauh oleh Bu Norma. Aku duduk di bangku nomor tiga paling belakang sebelah kiri, dan kak Hasan duduk di bangku nomor 2 paling depan sebelah kanan. Walaupun dengan jarak segitu, aku masih bisa melihat wajahnya.

Aku yakin, diruangan kelas ini, hanya aku dan Kak Hasan yang mukanya sangat kusut dan sangat terlihat khawatir. Bagaimana tidak? Kami tidak mengerjakan PR tegak bersambung.

“Sebelum pelajaran Bahasa Indonesia kita mulai, silahkan PRnya dikumpul! Tolong Rian dan Agus ambil buku PR teman-temannya!” Perintah Bu Norma. Saat-saat seperti ini, yang kuinginkan adalah agar waktu terhenti sementara untukku. Satu jam saja! Tapi apalah daya, waktu tak kenal tombol “pause” yang bisa menghentikan permainan video games untuk sementara. “Hadapi, hadapi, dan hadapi!” itulah kata-kata yang terbisik ditelingaku.

“Bertanggung jawab terhadap sesuatu yang sudah kita lakukan merupakan jiwa seorang pemberani”begitu kata kak Yusuf saat pengajian.

Agus dan Rian pun secara serampangan mengambil buku PR, yang tidak cepat memberikan kepada mereka, akan mereka hardik, “Hei! Mana PR kau?” begitu hardik mereka. Mentang-mentang berbadan besar, mereka dengan seenaknya saja berbuat senioritas kepada kami semua. Ini tidak bisa didiamkan, suatu saat akan aku bungkam mulut besar mereka. Lihat saja nanti. Tapi tidak saat ini. Saat ini, aku dalam posisi yang sangat lemah dan tidak punya daya apa-apa melihat teman-temanku diperlakukan kasar oleh mereka.

Di ujung sana, kak Hasan sudah pasrah ketika Agus meminta buku PRnya. Dan kini, tibalah saatku, Rian sudah ada disampingku,

“Oi..Sen! Mana buku PR kau? Sini cepat!” pintanya.

“Aku nggak bawa Yan.” Jawabku. Rian tersenyum sinis menatapku. Aku pun walau dalam posisi lemah tak mau kalah, aku pun menatap tajam kearahnya.

“Selamat ya..!” begitu bisiknya ketelingaku. Sungguh-sungguh sangat menyebalkan.

Setelah semua buku PR terkumpul dan ditaruh dimejanya Bu Norma, Bu Norma pun bertanya,

“Siapa yang tidak buat PR?”

Dengan lantang Agus berujar, “Hasan, Bu!”

Disusul dengan lantang pula Rian berujar, “Husen, Bu!”

“Hasan, Husen, kalian sudah tau konsekuensinya kan? cepat berdiri didepan kelas!” perintah Bu Norma. Memang seperti inilah konsekuensi tak mengerjakan PR, kami akan berdiri didepan kelas. Tak cukup hanya disitu. Satu kaki diangkat dan menjewer telinga secara bersilangan. Lintang hanya menatap sayu kepadaku dan sedikit terbaca dia ingin mengatakan bahwa “Kau kuat Sen!” dan sebaliknya Rian dan Agus menutup mulut mereka dengan dua tangan, aku yakin dan sangat yakin, mulut besarnya itu sedang tertawa melihat penderitaanku dan kak Hasan.

“San, Sen, kenapa kalian tidak mengerjakan PR Bahasa?” tanya Bu Norma penuh selidik kepada kami.

“Saya lupa, Bu! Benar-benar lupa!” jawab kak Hasan dengan jujur.

“Dan Kamu, Sen?”

“Sama, Bu!  Saya juga benar-benar lupa ada PR Bahasa!”

“Kalian ini benar-benar kembar ya? Satu lupa, yang satu juga lupa”

Kalimat barusan bu Norma membuat Agus dan Rian tertawa terbahak-bahak. Dan pelak, Bu Norma pun melotot kearah mereka. Mereka pun bungkam. Aku sedikit senang, setidaknya lotot-an bu Norma ke mereka sedikit menjadi pelipur lara bagi kekesalanku pada mereka.

Hari ini, aku belajar untuk lebih disiplin dan teliti lagi. Aku tidak mau kejadian memalukan ini terulang lagi, terlebih dibuat kesal lagi oleh Agus dan Rian. Alhasil, dua jam sampai lonceng istirahat tiba kami pun harus berdiri dengan satu kaki dengan menjewer telinga secara bersilangan. Sungguh sangat susah menyeimbangkan badan dengan satu kaki. Tapi, aku harus bertanggung jawab terhadap apa yang sudah aku lakukan.

“Bertanggung jawab terhadap sesuatu yang sudah kita lakukan merupakan jiwa seorang pemberani” kembali kata-kata kak Yusuf terngiang ditelingaku.

Aku dan kak Hasan pun tak berkata-kata satu sama lain, kami hanya diam, menyadari kesalahan masing-masing.

***

Bersambung…

-Insan Konayuki-

Iklan

3 thoughts on “[Cerbung] Dua Kuas Episode 4 Part 2

  1. hujan sebening mata air berkata:

    he teringat aku dulu jadi kapten kelas, mengomandai kelas….ce tomboy serampangan dan jahiliyyahnya minta ampun, astgafirullah, ..
    masa kecil=masa lalu =kaca spion yang berarti seklias di tengok, hanya untuk dijadikan pembelajaran..

    senangnya masa kecilmu indah kang aldo…pantas saja karkatermu begini kuat….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s