[Cerbung] Dua Kuas Episode 4 Part 1

akhirnya bisa nulis lagi…

ini sambungan dari episode 3: Pekerjaan Rumah dan Ibu

happy reading…:)

Episode 4: Rumah Sekolah Part 1

sekolah
sekolah

Ttteeetttt… nnnneeettt……. tttteeetttt…….. nnnnneeettttt

“bunyi apaan sih ini? Nganggu tau!” kesal kak Hasan.

“ish dah.. budak sikok ini!” batinku. “Oi kak, bangun! Dah mau subuh nih!” teriakku kepada kak Hasan yang masih masih nyaman dengan ilerannya.

Aku dan kak Hasan memang sudah sepakat untuk menyetel alarm sekitar lima menit sebelum adzan subuh dengan tujuan agar bisa shalat subuh berjama’ah di mushalla. Tapi, sering juga -alarm hanya tinggal alarm- kami kebablasan dan ketinggalan shalat di mushalla.

Subuh ini, seperti biasa kak Hasan paling susah untuk dibangunkan dan seperti biasa juga aku pun melayangkan tamparan kecil (nggak keras kok !) ke pipi kak Hasan. Dan juga seperti biasa, dia akan marah dibangunkan seperti itu. Aku sih cuek bebek aja kalau dianya marah. Salah sendiri kenapa susah dibangunin. Wkwkwk. Akhirnya, setelah acara marah-marah, kak Hasan pun bangun juga dengan iler yang masih menempel disamping mulut dan dengan cueknya, diisapnya tuh iler.

“Ish..ish.. jijik nian oi..!” ujarku ke kak Hasan dengan sedikit melotot. Kak hasan yang dipelototin hanya membalas senyum terjelek sedunia.

Allahu Akbar..Allahu Akbar..

Adzan pun berkumandang nan syahdunya, sungguh sangat sejuk dihati ini, mengisi kekosongan jiwa yang hampa, panggilan-panggilan itu mengalir ke seluruh pembuluh darah dan membuat diri ini semangat menyambut panggilan-panggilan nan agung tersebut.

Dari suaranya, aku tahu siapa yang lagi adzan, siapa lagi kalau bukan Buya. Buya memang terbiasa shalat malam di mushalla. Itu aku ketahui sewaktu kami –anggota pengajian- mengadakan mabit bersama.

aku dan kak Hasan pun segera bergegas ke kamar mandi untuk wudhu sambil membawa baju koko dan sarung. Kamar mandi dirumahku cuma ada satu, dan adanya di lantai bawah. Letaknya dekat dengan dapur dan bagasi mobil ayah.

“ayo cepetan wudhunya San, Sen, keburu iqamat!” perintah ibu agar kami lebih cepat dan nggak bertele-tele. Kami ditegur ibu karena kak Hasan bukannya segera wudhu malah main-mainin air. Katanya kak Hasan, airnya dingin, jadinya ia mau nunggu airnya sampai nggak dingin. Polosnya. Ckckck. Aku yang melihat tingkah lakunya, cuma bisa tertawa geli.

Setelah ditegur ibu tadi, kak Hasan pun memberanikan dirinya untuk menyentuh air yang –katanya- sedingin salju. “Ah, berlebihan” batinku.

Setelah wudhu, mengenakan koko dan sarung, kami pun bergegas ke mushalla.

“San, kuncinya dibawa aja ya..!” perintah Ibu ke kak Hasan.

“Siap, Bu!”

Baru saja kak Hasan mengunci pintu, iqamat dilantunkan, kami pun buru-buru ke mushalla.

***

Selepasnya shalat, ibu menyuruh kami mandi.

“Sen, mandi duluan sana!” suruh kak Hasan.

“Ah.. napa harus gw yang duluan, lu kan kakak, harusnyo lu yang mandi duluan.”

“Nah.. justru gw kakak, makonyo lu yang mandi duluan, gw ngalah dan mempersilahkan lu untuk mandi dulu!”

“San, Sen, kalian mau mandi atau mau berdebat, hah!” marah ibu, sepertinya ibu mendengar ‘perdebatan’ kami barusan. “Terserah mau siapa yang duluan mandi, cepat mandi! Ibu hitung sampai tiga, kalau belum ada yang dikamar mandi, siap-siap aja kalian!” ancam ibu.

Aku pun memandang kak Hasan, terlihat dari air mukanya, ia tenang-tenang saja, sepertinya ia bakal yakin aku yang akan mandi duluan. Terlihat sekali senioritas diantara kami kali ini. Ckckck.

“Satu…!” hitung ibu.

Aku yang nggak mau cari masalah pagi-pagi gini, kasihan ayah yang sedang tidur akan terganggu. Aku pun mengalah dan buru-buru ke kamar mandi sebelum hitungan ketiga. Sekilas aku melihat kak Hasan dan dia membalas dengan senyum kemenangan.

“Ish dah.. budak sikok ini!” batinku.

***

BBUUMMM

KKKRRRSS

BBUUMMM

Kilau petir menyambar samar-samar terbiaskan ke jendela ruang TV, disusul gemerutuk yang keras dari suara guntur, ku tengok sedikit dari jendela, langit menghitam pekat padahal sudah jam setengah tujuh pagi.

Dua minggu belakangan, hujan terus menghantam bumi sriwijaya pada pagi hari. Bagiku hujan itu punya dua makna. Pertama, hujan bisa menjadi sahabat yang baik yaitu pada saat sedang sendiri, ia bisa mengisi kesepian yang ada dengan alunan gemericik-gemericiknya yang menghantam genteng, lantai, tanah, dan benda padat lainnya. Juga aku suka baunya hujan yang sangat khas, nggak tau kenapa, setiap kali hujan turun, aku akan keluar dan menghirup dalam-dalam udara ke paru-paru lalu melepaskannya secara perlahan-lahan, dan baunya hujan menempel dihidung, dan itu punya kesan untukku. Makna yang kedua, hujan bisa menjadi sahabat yang buruk, yaitu pada saat-saat seperti ini, hujan menganggu aktivitasku yang mau berangkat ke sekolah. Dan dua minggu belakang ini yang paginya selalu hujan, aku dan kak Hasan biasanya numpang dengan temanku yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Kebetulan kami sekelas. Kami diantar pakai mobil ayahnya ke sekolah.

Kriiinggg…Krrrriiinggg

Suara telpon rumah berdering, aku yakin itu pasti itu Lintang. Benar saja, itu Lintang.

“Sen, tunggulah didepan rumah kau, sebentar lagi aku jemput!”

“Siap Komandan!” jawabku dengan tegas lagaknya seorang prajurit yang diperintah untuk memata-matai musuh.^^

Aku pun menyuruh kak Hasan untuk mempercepat minum susunya, yang sedari tadi belum habis-habis juga.

“bareng Lintang lagi, Sen?” tanya Ibu.

“Iyo, Bu.”

Tak lama, terdengar suara klakson mobil ayahnya Lintang, kami pun bergegas, salam cium tangan Ibu, ucapkan salam, dan bergegas dengan berlari-larian kecil menghindari hujan ke mobil ayahnya Lintang. Lintang pun langsung membukakan pintu mobil dan mempersilahkan kami masuk dengan tak ketinggalan senyum lesung pipitnya yang selalu diperlihatkannya ke semua orang.

“San, PR bahasa dah selesai?” tanya Lintang ke kak Hasan.

“Hah.. PR, emang ada?”tanya kak Hasan spontan. Sekilas menatapku, aku pun hanya mengangkat bahu pertanda tak tahu menahu ada PR atau nggak.

“ASTAGHFIRULLAH…!” teriakku dan kak Hasan kompak.

***

Bersambung ke part 2…

-Insan Konayuki-

Iklan

9 thoughts on “[Cerbung] Dua Kuas Episode 4 Part 1

  1. siluet putih berkata:

    “Nah.. justru gw kakak, makonyo lu yang mandi duluan, gw ngalah dan mempersilahkan lu untuk mandi dulu!”

    hhaha ini teh bodor pisan (lucu banget..)
    aku negbayangin laga bocah bernama hasan kocak pisan.. menggunakan otoritas sebgai kakak…dan nasib husen yang mengenaskan menjadi korban, dan selalu mengalah… ckckck…

    he….kaya cerpen dan bukan kisah nyata, dengan tokoh hasan husen ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s