[Cerbung] Dua Kuas Episode 3 Part 3

akhirnya part 3 selesai juga

this episode, I proud to present this for my beloved mom…

ini lanjutan dari episode 3 part 2

Episode 3: Pekerjaan Rumah  dan Ibu Part 3

Ibu

Wajah ibu itu kebanyakan seperti wajahnya orang melayu, kasarnya pasarann (Ups! Maaf ya Ma!), kulitnya putih bersih, tingginya setelinga ayah, jadi nggak terlalu pendek untuk ukuran seorang wanita. Berbeda dengan kami semua, ibu sedikit agak berisi badannya, tapi waktu mudanya dulu ibu tuh kurus, mungkin karena dampak setelah melahirkan atau apa yang menjadikan ia agak berisi sedikit. Namun, aku dengan berani mengatakan bahwa ibu adalah wanita yang cantik, itu terlihat dari komentar teman-temanku disekolah ketika ibu datang ke sekolah karena masalah kak Hasan (akan kuceritakan nanti..^^). Apalagi teman-temanku yang cewek sedikit iri kepadaku karena aku memiliki ibu yang cantik. Mereka bilang, “Oi.. cantik nian ibu kau sen!” aku yang mendengarnya sangat senang bukan main, mereka pun pernah bilang kepadaku “kapan-kapan boleh kan main kerumah kau?”

“ngapain kerumah?”

“kami nak lihat ibu kau yang cantik itu nah!” jawab mereka malu-malu.

“Ada-ada saja” batinku. Kembali aku senang ibuku dipuji, anak mana yang tidak senang ketika ibunya dipuji oleh orang lain.

Ibu itu tempat yang terbaik untuk minta uang atau minta sesuatu, aku dan kak hasan hanya meminta duit kepada ibu saja, tidak berani untuk meminta kepada ayah, kasihan ayah dipusingkan dengan permintaan kami, makannya kami hanya berani melalui ibu saja, dan ibu lah yang kan ‘merayu’ ayah untuk memberikan kami uang atau membelikan sesuatu. Pernah suatu saat aku dan kak hasan dibeliin bola, soalnya teman-teman disekolah pada punya bola dirumahnya, jujur kami pun sangat iri. Kami pun bilang ke ibu, “Bu, minta beli bola boleh ga?” ibu pun mengusahakannya dengan catatan selama seminggu kami harus mengurut ibu mulai dari kepala, tangan, dan kaki. Selama seminggu, aku dan kak hasan mengurut ibu pada sore hari. Ternyata, usaha kami berbuahkan hasil, tepat seminggu kami minta dibeliin bola, bola sudah ada dikamar kami. Kami pun memeluk ibu yang saat itu sedang masak didapur. “makasih ya Bu!” ujar kami berdua. Belakangan kami tahu, bahwa ibu tidaklah meminta kepada ayah melainkan pakai uangnya sendiri yang ia tabung selama seminggu itu dari uang belanja yang diberikan ayah kepadanya.

Juga, Ibu itu orangnya sangat disiplin, ini dapat dimengerti dari didikan orang tua dan abang-abangnya dulu. Ibu adalah anak kedelapan dari sembilan, dan itu menjadikan ia secara tidak langsung adalah anak bungsu bersama adiknya. Dari kesembilan itu, enam laki-laki dan tiga perempuan termasuk Ibuku.

Sifat disiplin itu, ia tularkan kepada kami anak-anaknya. Misalnya, seperti tidur siang dan tidur malam. Selepas pulang dari sekolah, sholat, makan siang, kami akan langsung disuruh tidur oleh ibu, tidak ada yang boleh membantah perintahnya itu walau teman-teman lingkungan rumah manggil-manggil untuk main gambar, benteng-bentengan, layangan, kelereng, dan apalah permainan lainnya. Ibu pun dengan cueknya menjawab panggilan teman-temanku diluar, “Hasan Husen lagi tidur, nggak boleh main!!” aku dan kak hasan yang sudah ada dikamar hanya menggerutu dalam hati.

Pernah suatu saat bahkan sering, aku dan kak hasan hanya pura-pura tidur saja, oi.. sungguh-sungguh nggak ngantuk kami saat itu. Yang kami lakukan hanya ngobrol ngarul ngidul nggak jelas dikasur, kadang kak hasan ceritain cerita lucu, kami pun ketawa-ketawi renyah, alhasil ibu pun tahu bahwa kami nggak tidur, udah deh..ibu langsung ke atas (kamar kami ada dilantai dua), buka pintu kamar, melihat mata kami yang masih melek, dan akhirnya cubitan ibu mendarat dikaki-kaki kami yang kecil. Pernah juga aku nggak bisa tidur, kali ini kak hasan ntah kenapa nggak seperti biasanya, dia langsung tertidur pulas, mungkin kecapekan lari-larian disekolah. Ntah ada angin apa, ibu mendadak membuka pintu kamar, aku kaget bukan main, lantas kupejamkan mata berat-berat dan berpura-pura tidur. Rupanya ibu tau aku pura-pura tidur.

“Sen, jangan bohongi Ibu, cepat tidur!!” aku yang tadi pura-pura tidur dengan begoknya ngejawab pertanyaan ibu, “yo..bu! akan husen usahakan.”

“Nah kan! Nggak tidurkan?” walhasil lagi-lagi cubitan ibu mendarat dikakiku. Nasib-nasib.. aku pun hanya bisa menahan sakitnya cubitan ibu tadi.

Begitulah, tidur siang dikeluargaku adalah suatu keharusan, aku nggak tau alasannya apa. Ketika berlibur ke Duri, nenek pun menyuruh kami tidur selepas makan siang. Mungkin tidur siang adalah kebiasaan keluarga ibuku yang diturunkannya kepada kami. # Dan sekarang, jujur saja, tidur siang adalah hal-hal yang sangat diinginkan. Ah.. kangen waktu itu..!

Untuk tidur malam pun ibu sangat disiplin, mau ada acara apapun di rumah, mau ada film apapun yang bagus di siaran TV, mau ada acara apapun di mushalla, mau ada PR yang belum diselesaikan atau belum, kalau sudah jarum jam menunjukkan tepat pukul sembilan, maka kami harus sudah ada di kasur dengan sebelumnya minum air putih satu gelas dan cuci kaki. Kalau kami bilang, “bentar Bu, lagi seru nih filmnya” atau “PRnya belum siap nih, Bu” Siap-siap aja cubitan akan mendarat dikaki. Makanya, kami pun menurut saja dan dengan tertib ke atas langsung ke kamar lantar ambil posisi tidur dan kemudian tertidur.

Tapi, aku yakin bahwa yang dilakukannya kepada kami semata-mata hanyalah untuk kebaikan kami karena ia tahu apa yang terbaik untuk kami. Kembali aku mengatakan bahwasanya,

“Ibu itu insan yang luar biasa, terkadang kasih sayangnya tak dapat dicerna akal sehat.”

 

Mulanya ku tiada menyadari

Segala perjuanganmu yang sangat mulia untukku

Engkau rela korbankan hidupmu untukku

Hari berganti dan musim pun telah berubah

Mampu menunjukkan arti kasih sayangmu

Dihati terus bersemayam rindu terus terpatri

Oh angin, nyanyikanlah lagu rindu pada Ibuku

Oh malam, selimutkanlah buaian cinta pada Ibuku

***

Bersambung…

Insan Konayuki-


Iklan

2 thoughts on “[Cerbung] Dua Kuas Episode 3 Part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s