[Cerbung] Dua Kuas Episode 3 Part 2

this episode, I proud to present this for my beloved mom…

ini lanjutan dari episode 3 part 1

Episode 3: Pekerjaan Rumah  dan Ibu Part 2

Ibu
Ibu

Seperti halnya Ayah, Ibu juga bukan asli palembang. Ibu lahir di Medan dan besar di Duri (Riau). Keluarga Ibu pindah ke Duri sewaktu Ibu masih sangat kecil karena kakek –ayahnya Ibu- dipindahtugaskan ke markas TNI di Duri. Kakek saat itu menjabat sebagai Sersan Mayor, bisa dibilang keluarga Ibu saat itu keluarga yang berada. Namun, maut tak tebang pilih, apakah muda ataukah tua, miskin ataukah kaya, beriman ataukah ingkar, maut pun menjemput kakek disaat usia Ibu masih kecil, dan itu tentu saja berdampak bagi kesejahteraan keluarga Ibu, perlahan-lahan keluarga ibu yang sebelumnya berada menjadi bisa dikategorikan susah.

Ibu pernah cerita tentang kakek, itupun karena kami memaksa untuk diceritain tentang kakek, hal yang wajar ketika seorang cucu ingin tahu tentang kakeknya terlebih sang cucu tak pernah sama sekali melihat kakeknya. Ibu bilang bahwa kakek itu orang yang sangat bersahaja, sayang kepada anak-anaknya, rajin beribadah, dan juga sangat derma kepada kaum dhuafa. Dalam kehidupan bertetangga pun kakek sangat disegani dan dihormati. Kakek meninggal diusianya masih sangat muda. Kata ibu, kakek terkena stroke dan menyebabkannya lumpuh, sholat pun cuma bisa dengan duduk. Pada saat kakek meninggal, ibu sedang asyik main kelereng disekolahnya. Ketika dijemput di sekolah dan diberitahu tentang meninggalnya kakek oleh kerabatnya, ibu langsung meninggalkan kelerengnya yang saat itu ibu sedang menang besar, ibu meninggalkannya begitu saja lantas loncat dan langsung berlari sembari menyeka air matanya yang tak mau berhenti mengalir, bagaimana tidak,  ia kehilangan sesosok ayah ketika usianya masih kecil, usia yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Ketika sampai di rumah, ia langsung menjerit histeris ketika melihat seonggok jasad yang sudah kaku diranjang kamar ayahnya. Sudah tak tertahan lagi air mata ibu begitu juga abang-abang, kakak, dan adiknya, juga tentu nenek yang sangat-sangat terpukul akan meninggalnya kakek.

Sesudah ditinggal kakek, keluarga ibu yang susah membuat ia pun ikut membantu dalam keuangan keluarga dengan menjual kue keliling kampung. Otomatis masa kekanak-kanakkannya sedikit hilang, tapi itu tidak membuatnya kecewa, meratapi nasib menjadi orang susah, dan mengutuk takdir yang tidak berpihak padanya. Ia dan keluarganya menghadapi takdir dengan legowo dan saling kerja sama antar anggota keluarga. Ibu pernah cerita, ia pernah bantu jagain kandang ayam tetangganya dengan dibayar perhari, tugasnya saat itu hanyalah memberikan makan ayam, mengambil telurnya dan mengawasi ayam-ayam tersebut jangan sampai hilang apalagi sampai dicuri orang lain. Pernah suatu hari, ibu kecolongan karena ada satu ayam yang hilang, alhasil ia dimarahi dan dihukum oleh si empunya kandang dengan upahnya tidak akan dibayar selama satu bulan, tentu itu akan sangat berdampak bagi Ibu. Bagaimana tidak, uang jaga kandang perhari itu adalah juga jajan untuk sekolahnya. Tidak cukup hanya disitu, tentu dirumah hukuman juga sudah menanti dari nenek. Yang aku tahu dari ibu, nenek itu orangnya pemarah dan sering pake tangan kalau marah (sama banget sama Ibu..Ups!). Semenjak saat itu, Ibu berjanji tidak akan teledor lagi.

Terus ada lagi cerita ibu yang bandel, saat itu Ibu sudah beranjak remaja. Bersama dengan temannya yang perempuan, mereka pergi nonton layar tancap didaerah yang tidak terlalu jauh dari rumah. Dengan nenek, mereka izinnya untuk belajar dirumah teman yang lain dan diizinkan oleh nenek dengan catatan pulang sebelum jam sembilan malam, mereka pun mengiyakan, mereka pun akhirnya bisa memuluskan rencana mereka untuk nonton layar tancap. Sesampainya disana, ternyata layar tancap belum datang, dengan perasaan kesal, mereka pun mendatangi panitia layar tancap dan mereka mendapat jawaban bahwasanya layar tancap baru bisa datang sekitar satu jam lagi dan itu berarti secara hitung-hitungan, film akan selesai pada jam setengah sepuluh lebih. Mereka cemas dan akhirnya sepakat untuk langsung pulang sebelum jam sembilan walaupun nontonnya belum habis, soalnya mereka takut dimarahin sama orang rumah.

Setelah satu jam menunggu si-layar tancap, akhirnya datang juga, mereka senang bukan kepalang karena ini adalah pertama kalinya mereka menonton layar tancap. Film pun diputar, mereka pun asyik menonton film yang disuguhkan. Mungkin sangking menariknya film tersebut, mereka jadi lupa waktu. Nenek dirumah sudah cemas, anak gadisnya belum pulang dan takut ada apa-apa karena jam dinding di rumah sudah menunjukkan jam sembilan lewat sepuluh menit. Dan nenek pun akhirnya menyuruh Uak Nang –anak kedua- untuk menjemput dirumah temannya Ibu, Uak pun bergegas kesana dan tidak menemukan ibu disana, dengan segala cara Uak mencari ibu dengan bertanya kepada semua orang, akhirnya ada satu orang yang melihat ibu tadi selepas isya’ berjalan kearah lapangan layar tancap. Dengan senter ditangannya, Uak Nang pun bergegas ke lapangan layar tancap. Sesampainya disana, Uak Nang pun menyenter satu-satu muka orang disana, karena Uak Nang yang badannya super besar membuat semua orang yang disenternya takut untuk marah. Akhirnya… pas giliran muka ibu yang disenter, ibu kaget bukan main dan sebaliknya, Uak Nang tidak kaget lagi namun sangat marah besar.

“Ternyata disini kau yah..!!” Uak Nang dengan sangat emosinya kepada Ibu. Pelak, rambut ibu yang dikuncir kuda pun ditarik oleh Uak Nang sampai rumah, Ibu malu bukan main diperlakukan seperti itu, sementara ibu pun tak punya daya untuk melawan abangnya satu itu. Akhirnya ibu pun pasrah saja rambutnya ditarik sampai ke rumah. Sesampainya di rumah, Uak Nang langsung mengambil gunting dan dengan cueknya memotong rambut ibu yang dikuncir kuda itu, tentu saja rambut ibu menjadi colak dan sangat hancur. Nenek hanya diam dan memperhatikan saja saat itu. Tak ada satupun yang berani kalau Uak Nang sudah marah. Alhasil, setelah kejadian itu, ibu menggunakan kerudung kalau kemana-mana dan (lagi) ia bertekat untuk tidak akan berbohong lagi. Aku yang mendengar cerita ini, langsung terbahak-bahak begitu pun Ibu juga ikut tertawa, senang banget lihat kalau Ibu ketawa, kalau bisa dibilang, hal terindah dalam hidupku saat ini adalah melihat ibu tertawa. Ha..ha…#Peace Ma!! ^^v

Bagiku, Ibu, orang yang sangat luar biasa. Ia sangat begitu bisa dekat dengan semua orang, dimanapun kami tinggal, Ibu selalu punya tempat dihati para tetangga dan para tetangga pun sangat berat untuk melepas kepindahan Ibu bahkan sampai para tetangga menangis tersedu-sedu. Sifat luwes, mudah berbagi, dan tidak pilah-pilih teman menjadikan ia begitu populer di lingkungan rumah kami. Tentu saja itu membuat aku dan kak Hasan menjadi populer juga dikalangan anak perempuannya teman-teman Ibu. He..he..

***

karena udah malem, bersambung ke part 3…

don’t miss it guys!!…

-Insan Konayuki-


Iklan

One thought on “[Cerbung] Dua Kuas Episode 3 Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s