[Cerbung] Dua Kuas Episode 3 Part 1

Alhamdulillah, in the midst of working, i can finish episode 3 part 1…

Happy reading!!

this episode, I proud to present this for my beloved mom…

ini lanjutan dari episode 2

Episode 3: Pekerjaan Rumah  dan Ibu Part 1

Ibu

Ibu


            “San, Sen, sepatu dah diangkat belum?” teriak ibu dari lantai atas, sepertinya ibu sedang nyetrika. Suara Ibu mengagetkanku dan kak Hasan yang sedang asyik nonton bersama ayah diruangan TV dilantai bawah. Aku melihat kak Hasan dan kak Hasan pun melihatku, kami saling pandang. “Sudah belum ya??”

“San, Sen, sepatuh dah diangkat belum?” teriak ibu lagi, kali ini makin keras dari sebelumnya.

“Sudah apo belum Kak?” tanyaku kepada kak Hasan.

“Mano gue tahu! Cubo lu jingok-lah” jawab kak Hasan. Kami dari kecil memang sudah terbiasa dengan ‘lu’ dan ‘gue’. Kami pun lupa karena apa kami menggunakan ‘lu’ dan ‘gue’.

Akhirnya aku mengalah, karena posisiku tersudutkan, mau nyuruh siapa lagi. Masa’ nyuruh ayah ngecek sepatu dah diangkat atau belum, nyuruh Refi kayaknya nggak mungkin juga, dia masih kecil, Leni?? Hmm ya pasti nggak mungkin, wong dia aja belum dilahirkan. He..he.. jadilah aku yang mengecek sepatu apakah sudah diangkat atau belum.

“San, Sen.. dah diangkat atau belum hah..!!” kali ini Ibu benar-benar akan berang, aku langsung loncat untuk ngecek dan sekenanya menjawab pertanyaan Ibu, “Yo..Bu, ini lagi mau diangkat.”Ayah hanya tersenyum saja melihat kejadian kali ini. “Ah.. ayah, senang nian lihat anaknya dimarahin” gerutuku.

Sesampainya di tempat jemur sepatu, ternyata sepatuku dan kak Hasan masih berdiri disana dengan sombongnya. Pantas saja belum diangkat, tadi sore kan kami baru pulang dari jembatan ampera, nyampe rumah langsung mandi dan segera ke musholla tuk sholat maghrib. Untung Ibu ingetin, kalau nggak, bisa nggak sekolah besok soalnya malam ini langit mendung, mana sepatu cuma satu-satunya. Benar saja, baru saja sekitar lima menit aku angkat sepatu, hujan membasahi bumi sriwijaya. Ibu itu memang luar biasa, kecintaan terhadap anak-anaknya terkadang tak dapat dicerna akal sehat.

“San, Sen, sepatu lah diangkat kan?” tanya Ibu.

“Sudah Ibuku yang cantik…!”jawabku dengan manja. Kak Hasan memberikan dua jempolnya kepadaku pertanda sangat setuju atas apa yang baru saja aku ucapkan ke Ibu.

***

Begitulah, setiap hari minggu pagi memang sudah langganan kami mencuci sepatu, dasi, topi, kaus kaki, dan tas sekolah. Ibu nggak mau nyuciin dengan alasan itu adalah barang kami sehari-hari, jadi kamilah yang harus bertanggung jawab untuk mencucinya.

Tau sendirikan, hari minggu adalah harinya anak-anak, hari yang penuh dengan kartun dari jam 6-11 pagi. Terkadang, mencuci alat-alat sekolah adalah hal yang sangat berat untuk dilakukan, dan sering juga kami kena marah karena sudah jam sembilan belum juga sepatu dan kawan-kawannya itu belum dicuci. “Mau kapan kering, kalau kalian belum juga nyuci barang-barang sekolah kalian hah!!” marah Ibu. Alhasil, TV pun dimatikan paksa dan dengan sedikit cubitan dikaki dan pinggang kami berjalan ke kamar mandi untuk nyuci. #kenangan yang indah..he..he..

Selain nyuci barang-barang sekolahan kami sendiri, kami juga berperan sebagai pembantu rumah tangga, bukan arti pembantu secara harfiah melainkan hanya membantu tugas-tugas kerumahtanggan. Mulai dari bantu ngebilas cucian Ibu, bantu ngebilas piring-piring yang lagi dicuci ibu, bantu merapikan piring-piring ke rak piring, bantu melipat kain yang sudah diangkat dari jemuran, bantu meletakkan pakaian yang sudah digosok Ibu, bantu ngelap perabotan sebelum lantai disapu, terkadang bantu nyapu dan kalau masih ada debu sedikitpun siap-siap kena ceramah dan diajarin nyapu yang benar, , bantu merapikan perabotan-perabotan yang lantai dibawahnya sudah disapu Ibu, kebiasaan ibu kalau lagi nyapu, semua lantai harus kena disapu jangan sampai ada ubin yang ketinggalan disapu

“terus apalagi ya??” owh iya, bantu ngerapihin tempat tidur kami, bantu ngerapihin tempat tidur ibu yang kalau belum dirapihin oleh ibu dan juga kalau belum rapi dan masih ada kusut disana sini, kami akan diajari cara yang benar untuk merapikan tempat tidur , yang sudah kami kerjakan tadi dibongkar dan disuruh merapikan lagi sesuai dengan arahan-arahan ibu tadi, dan ibu disamping melihati kami bak pengawas lapangan yang galak. terus bantu ibu masak,metik toge, metik cabai, belah ikan teri dan dibuang kotorannya, kupas bawang yang sering buat mata berair seperti nangis, dan masih banyak deh. #Mama.. kangen saat-saat itu.. love u mom!

Namun dibalik semua itu, aku tau ibu sangatlah cape ngurusin ayah dan anak-anaknya yang bandel-bandel kayak kami. Kalau tidak kami yang membantu siapa lagi? Tidak ada lagi, walaupun jiwa kanak-kanak kami yang suka main sering kali membuat kami malas untuk membantu ibu walaupun akhirnya juga dikerjakan tentunya diselingi oleh nasehat-nasehat Ibu yang sampai sekarang aku ingat, “Kalau kalian nanti sudah punya istri, kalian sudah tau bahwa jadi istri tuh cape, jadinya kalian bisa bantu-bantu istri kalian nyapu, masak, nyuci, dan pekerjaan lainnya.” Kami yang waktu kecil tidak mengerti akan hal itu hanya menganggap nasehat itu menjadi angin lalu.

***

Besambung….

-Insan Konayuki-

Iklan

2 thoughts on “[Cerbung] Dua Kuas Episode 3 Part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s