[Cerbung] Dua Kuas Episode 2 Part 2

Sambungan dari Episode 2 part 2

Episode 2: Buya Part 2

Buya

Matahari sudah benar-benar hampir tenggelam, perlahan-lahan kembali keperaduannya, langit dihiasi warna merah marun yang sangat eksotis, burung-burung gereja lalu lalang terbang sesuka mereka menambah keramaian kami berangkat ke mushalla. Subhanallah, betapa luar biasa ciptaan-Mu ya Rabb.

Aku dan kak hasan bergegas ke mushala dengan stelan khas kami, baju koko, sarung, dan peci. kalau stelan seperti itu mah bukan khas tapi sudah umum. He..he.. Selesai menunaikan shalat magrib berjama’ah, buya tersenyum melihat kami, senyum yang sangat damai dan kami rindukan , dan kami pun langsung mendekatinya, menyalami sambil mencium tangannya dengan penuh takzim.

“Mana ayahmu, san?” Buya bertanya kepada kak hasan.

Kak hasan menjawab “Ayah capek, mau istirahat”

“Oh.. begitu, sampaikan salamku untuknya selepas isya’!”

“Sipp..!” jawabku dan kak hasan sambil mengacungkan jempol. Buya hanya tersenyum lepas melihat kami yang kompak mengancungkan jempol.

Selepas magrib, kami tidak langsung pulang, seperti biasa, mengaji dengan kak bayu dan kak yusuf. Aku pernah menanyakan kepada mereka disela-sela mengaji, “Kak, mau nanya dong, kenapa sih jadwal pengajian kita nggak sore aja, jam lima sampai magrib?” mereka hanya tertawa melihatku, aku nggak ngerti mereka bisa ngejawab atau nggak. Tiba-tiba buya mendatangi kami, ia bangun dari zikir petangnya, aku rasa ia mau menjawab pertanyaanku. Benar saja, buya ternyata menjawab pertanyaanku dengan jelas dan runut. Buya menjawab, “Anak-anakku Diriwayatkan dalam Kasyf Al-Ghummah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, Siapa saja yang mengerjakan i’tikaf mulai dari Maghrib sampai dengan ‘Isya’, dan tidak melakukan sesuatu apa pun kecuali shalat serta tilawah Al-Qur’an, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah istana di surga. Kalian kan tadi sudah shalat maghrib berjama’ah terus dilanjutkan ngaji, nah.. yang kalian lakukan sekarang ini adalah ‘itikaf. Nah sekarang, siapa yang mau punya istana di Syurga?” tanya buya dengan penuh senyum.

Sontak saja tanpa perlu aba-aba, kami lantang berujar “MAAUUUUU Buya…!!” sekejab aku lihat wajah teman-teman yang sangat bersemangat.

“Nah..kalau gitu, jangan males dateng ngaji yeh..!”

“Iya Buya…!”

Walaupun hari libur termasuk hari ini yang hari minggu, kami tetap mengaji. Kak bayu pernah mengatakan kepada kami, “Tidak ada istilah libur untuk mengaji!” akan tetapi hari libur, mengajinya, lebih asik, membaca Al-Qur’an hanya dua baris yang biasanya lima sampai sepuluh baris, setoran hafalan Al-Qur’an semampunya yang penting ada yang dihafal, dan ini yang membuat menarik yaitu cerita. Kalau sudah urusan cerita maka kak yusuf lah yang akan menghandle, kak bayu biasanya langsung pulang setelah anak-anak menyetorkan hafalannya, kata kak yusuf dia mau ngisi pengajian ditempat lain.

Kali ini kak yusuf akan cerita yang penuh hikmah. Kami sudah mengambil posisi duduk senyaman mungkin, aku mengambil posisi disamping kak Yusuf karena menurutku inilah posisi nyaman ketika kak Yusuf sedang bercerita. Dan kami pun sudah sangat siap untuk mendengar kisah yang penuh akan hikmah.

“Assalamu’alaykum adek-adek yang imut-imut kayak marmut, hati-hati nanti digigit semut kalau nggak nurut” khas kak Yusuf kalau mau mulai cerita.

“WA’ALAYKUMUSSALAM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH” seru kami semua dengan lantang.

“Insy Allah hari ini kakak mau cerita tentang kisah hikmah dari seseorang anak-anak seperti kalian, yang lucu-lucu dan masih polos. Mau denger nggak?”

“MAAAUUU KAAAKKK!!” lantang kami lagi. Lagi-lagi kak Yusuf tertawa melihat semangat kami. Memang, setiap hari minggu, sesi cerita adalah sesi yang sangat-sangat ditunggu oleh kami semua, tak ayal semangat mendengarkan adalah sebuah kepastian dari kami. He..he..

“Nah.. cerita begini:

“Semilir angin yang berhembus cukup membuat anak gembala itu males-malesan menjalani tugas sebagai penggembala kerbau. Tidak tanggung-tanggung, kerbau yang digembalainya berjumlah 10 kerbau padahal usianya baru 12 tahun, yah.. sekitar kelas 1 SMP lah.

Sudah 3 jam berlalu

Semilir angin yang dengan lembut menerpa nih anak, membuat lama-kelamaan anak tersebut mengantuk, terbuai oleh kelembutan angin yang menyentuhnya. Akhirnya nih anak nggak tahan akan kantuknya, eh.. tertidurlah dia.

2 jam kemudian.

Anak itu terbangun, ia lihat arloji kura-kura ninja yang menempel ditangan kanannya  (yang berarti kalau ditangan kanan menunjukkan “KEREN”) pemberian majikannya. “Waduh, astaghfirullah..pake acara tertidur lagi, mana dah jam segini lagi, jam segini teh aku dah seharusnya balikin kerbau-kerbau ini ke kandang.”

Si anak bersiap-siap untuk mengembalikan kerbau ke kandangnya. Ia hitung satu persatu kerbau-kerbaunya. “1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9… waduh kok 9 kerbau” gelisah nih ceritanya. Ia hitung lagi sampai beberapa kali “1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9..iya tetep 9 kerbau”

Dari arah yang berbeda, seorang kakek tua melintasi padang rumput tersebut. Si anak menaruh curiga pada tuh kakek tua karena dari penampilannya yang sangat-sangat mencurigakan. Terlihat seperti pencuri. Kemudian dengan sekonyong-konyongnya tuh anak ngomong:

“Eh.. Kek, kakek yang nyuri kerbau saya ya??” dengan nada yang sinis dan mata yang penuh telisik kepada kakek itu.

Kakek tua itu hanya tersenyum melihat anak itu. “mana mungkin aku mencuri kerbaumu anak muda, fisikku lemah begini mana kuat membawa kerbaumu yang berat gitu” jawab kakek itu dengan tenang, “emang kerbau hilang berapa?”lanjutnya

“satu Kek!” masih dengan mata yang penuh selidik

“dan jumlah kerbaumu ada berapa?” Tanya kakek itu dengan sangat tenang

“10 Kek.!” Kali ini udah agak tenang nada bicaranya

“owh…” kakek itu pun menghitung dalam hati dan kemudian tersenyum geli kepada anak itu.

“hei anak muda, tahukah engkau dimana kerbau yang hilang itu?”

“mana ku tahu lah Kek! Kakek ini ada-ada saja, kalau aku tahu mana mungkin aku kehilangan!”

Kakek itu tersenyum lagi lalu dengan setengah tertawa ia berkata, “Hei .. anak muda, kerbau itu ada dibawah pantatmu!!”

Sontak saja tuh anak kaget, langsung melihat kebawah, memastikan apa benar kerbau yang hilang itu ada dibawah pantatnya. Ternyata oh ternyata saudara-saudara, si kerbau “bandel” yang hilang itu memang berada di bawah pantatnya, yah.. kerbau yang hilang itu sedang ditunggangi oleh si anak tersebut.

Dengan wajah melas kemerah-merahan, tuh anak tersipu malu dan kemudian meminta maaf kepada kakek tersebut karena telah menuduh yang bukan-bukan.”

Kami tertawa mendengar cerita kak Yusuf, ketawa kak Hasan yang paling menggelegar terus ditegur sama Buya, “di rumah Allah, kita harus sedikit tertawa dan banyak menangis.” Kak Hasan yang ditegur seperti itu langsung bungkam, bisu seribu bahasa, dan menunduk nggak jelas, serta menggaruk kepala yang tidak gatal. Kembali, aku lucu ngelihatnya. Ha..ha..”Ups! nggak boleh ketawa berlebihan diatas penderitaan orang lain terlebih didalam rumah Allah”

“Nah.. sekarang waktunya ambil ibrah dari cerita yang baru kakak ceritain, ada yang mau menyampaikan pendapatnya?”

“Saya kak!” Nindya menunjukkan jarinya dengan semangat dan tercepat diantara anak-anak lainnya termasuk aku. Nindya adalah adik kelasku di SD tempatku sekolah. Ia memang dikenal sangat aktif dan berani mengemukakan pendapat. Aku, kak Hasan, dan Nindya memang sering bersiteru menjadi yang terbaik. Terlebih kami –aku dan kakakku- nggak mau kalah dari adik kelas terlebih juga dia cewek. Mau taruh dimana nih muka kami?

“Ya.. apa Nindya?”

“Tidak boleh lalai dalam amanah karena amanah sejatinya adalah tanggung jawab kita kepada Allah.”

“Ah.. padahal itu baru mau kusebut tuh tentang amanah..!” aku dongkol dalam hati.

“Yups.. bagus sekali Nindya” Puji kak Yusuf. Ku lihat kepala Nindya semakin tegak pertanda ia sangat percaya diri sekali. “Ada lagi?”

Kali ini aku nggak mau kalah, aku harus kasih pendapatku tentang cerita kak Yusuf tadi. “Ish dah budak sikok ini, curang oi…!” kali ini aku kalah lagi oleh saingan terberatku, siapa lagi kalau bukan kak Hasan. Ia sangat cepat tunjuk jari bahkan sebelum kak Yusuf berujar “Ada lagi?”

“Teliti. Sikap teliti itu hati-hati dengan penuh perhitungan dan cermat dalam menentukan.” Jawab kak Hasan

“Sip Hasan, bagus sekali!” Puji kak Yusuf ke kak Hasan, tentunya pujian ini setidaknya menjadi obat pelipur lara setelah ditegur oleh buya tadi. Terlihat dari air mukanya sedikit lebih cerah dari sebelumnya.

“Nah siapa lagi?” Tanya kak Yusuf ke kami lagi.

“SSAAYYAA KKKAAAKK!!” Jawabku dengan lantang. Buya disudut sana hanya sedikit melotot melihatku yang berteriak dan kak Yusuf hanya tersenyum simpul saja melihat tingkah polosku.

“Ya..Husen, apa pendapatmu?”

“Terima kasih kak Yusuf, ibrah yang kudapat ada tiga; pertama,  Tidak boleh asal menyalahi orang lain. Koreksi diri sendiri dulu, apakah aku yang menyebabkan kesalahan ini, jangan mencari-cari kambing hitam atas kesalahan atau kelalaian yang kita buat sendiri. Sungguh tak pantas menyalahkan orang lain diatas kesalahan sendiri. Kedua,  Sikap sopan santun kepada yang tua. Dalam bersikap kepada orang tua harus memiliki akhlaq yang santun. Matinul khuluq. Jangan seperti anak gembala diatas yang seenaknya dalam bertutur sapa kepada yang lebih tua. Ketiga,  Sabar. Ini ditunjukkan oleh kakek tua itu, bagaimana ia bisa bersabar atas kelakuan orang lain kepada dirinya.” Betul-betul tidak mau kalah aku kali ini, tiga poin langsung kunyatakan, unggul dua poin dari kak Hasan dan Nindya. Kepala saya kali ini lebih tegak dari yang lain.

Teman-teman yang lain seperti: Isa, Fachrie, Anwar, Mari, Siti, dan teman yang lain juga mengemukakan pendapatnya akan cerita kak Yusuf tadi.

Tak terasa, adzan isya’ pun berkumandang dengan syahdunya, panggilan-panggilan Allah tersebut menyentuh hati-hati yang hanya terisi keimanan didalamnya untuk datang menyambut panggilan tersebut.

***

Bersambung….

-Insan Konayuki-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s