[Cerbung] Dua Kuas Episode 1 Part 2

ini part 2nya…:) lanjutan dari Episode 1: Jembatan Ampera Part 1

Episode 1: Jembatan Ampera Part 2

ampera
Akhirnya, kami turun dimuka pasar 16, nyebrang ke arah masjid agung yang gagah dengan arsitek cina yang menawan dan lalu nyebrang lagi ke BKB (Benteng Kuto Besak). Tangan ayah yang kanan memegang tangan kiriku dan tangan kiri ayah memegang erat tangan kak Hasan. lalu lintas hari ini tidak padat seperti biasanya, sehingga kami tak menemukan hambatan yang berarti ketika menyebrang hingga sampai di BKB ini. BKB sore ini sudah begitu rame dipadati masyarakat Palembang untuk berwisata ringan melepaskan penat bersama keluarga. penjual mpek-mpek, pedagang kelontongan, penjual mie tek-tek, tukang foto keliling, orang-orang pacaran, orang yang lagi mancing, remaja-remaja yang cekikikan dengan teman-temannya, dan kapal-kapal getek didermaga yang siap mengangkut masyarakat kalau mau melintasi atau sekedar jalan-jalan disungai musi telah siap menyambut kedatangan Kami.

BKB memang menjadi salah satu tempat favorit keluarga masyarakat Palembang, karena memiliki nilai historis yang tinggi. Sebenarnya Benteng Kuto Besak adalah bangunan keraton yang pada abad XVIII menjadi pusat Kesultanan Palembang. Gagasan mendirikan Benteng Kuto Besar di prakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758 dan pelaksanaan pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya yaitu Sultan Mahmud Bahauddin yang memerintah pada tahun 1776-1803. Sultan Mahmud Bahauddin ini adalah seorang tokoh kesultanan Palembang Darussalam yang realistis dan praktis dalam perdagangan Internasional serta seorang agamawan yang menjadikan Palembang sebagai pusat sastra agama di Nusantara. Menandai perannya sebagai sultan ia pindah dari Keraton Kuto Lamo ke Kuto Besak. Belanda menyebut Kuto Besak sebagai nieuwe keraton alias keraton baru.

Benteng ini mulai dibangun pada tahun 1780 dengan arsitek yang tidak diketahui dengan pasti dan pelaksanaan pengawasan pekerjaan dipercayakan pada seorang Tionghoa. Semen perekat bata dipergunakan batu kapur yang ada di daerah pedalaman Sungai Ogan ditambah dengan putih telur. Waktu yang dipergunakan untuk membangun Kuto Besak ini kurang lebih 17 tahun. Ditempati secara resmi pada hari Senin pada tanggal 21 Feburari 1797.

Berbeda dengan letak keraton lama yang berlokasi di daerah pedalaman, keraton baru berdiri di posisi yang sangat terbuka, strategis, dan sekaligus sangat indah. Posisinya menghadap ke Sungai Musi. Pada masa itu, Kota Palembang masih dikelilingi oleh anak-anak sungai yang membelah wilayah kota menjadi pulau-pulau. Kuto Besak pun seolah berdiri di atas pulau karena dibatasi oleh Sungai Sekanak di bagian barat, Sungai Tengkuruk di bagian timur, dan Sungai Kapuran di bagian utara.

Sekarang BKB dipakai oleh KODAM (Komando Daerah Militer) Sumatera Selatan. Alasan-alasan historical inilah yang membuat masyarakat mencintai dan sering mendatangi BKB, dan juga kalau malam suasana yang disuguhkan begitu romantis dan dramatis, juga mistis. Cahaya dari deretan lampu- lampu taman menciptakan refleksi warna kuning pada permukaan sungai. Sungguh-sungguh romantis.

****

“yah, ada tulisan AMPERA di jembatan itu!” sambil menunjuk kearah Jembatan yang berdiri kokoh dan membisu dihadapannya, “ itu nama jembatannya yah!” “terus, kenapa dikasih nama Jembatan Ampera yah?” Tanya Hasan begitu antusias dan tak lelahnya bertanya. Hasan adalah kakakku yang selalu cerewet, selalu mau tahu apapun, tak bosan-bosannya bertanya sampai-sampai yang ditanya pun kadang-kadang kesel kalau sudah meladeninya, dan anehnya dia males untuk mencari tahu dulu, pokoknya nanya! Begitulah saudara kembarku yang satu ini cukup berbeda denganku yang pendiam dan sekali-kali saja bertanya dan berpendapat, itu pun kalau perlu-perlu amat. Jelas sekali, pertanyaan yang diajukan oleh ayah tadi, sama sekali tak terdengar olehnya. Sedangkan aku, walaupun sayup-sayup mendengar karena terpesonanya melihat bus kota “aneh” ini, tetap tahu bahwa ayah mempertanyakan kenapa jembatan itu disebut Jembatan Ampera.

Cepatku sergap pertanyaan kak Hasan, hanya sepersekian detik dari ia mengakhiri pertanyaan-pertanyaannya itu. Ligat sekali.

oi kak, .. bukannyo ayah lah nanyo ke kito tadi?” sergahku dalam bahasa Palembang.

Walaupun aku baru satu tahun di Palembang, tapi kami anak beranak sudah lancar berbahasa Palembang dan dari segi logat pun sudah terasah dengan baik. Logat melayu khas Palembang. Begitu kata temanku.

dak denger aku tadi, mano tau!” langsung cepat dijawab kakakku dengan logat melayu khas palembangnya yang lebih faseh ketimbang diriku. Mungkin karena ia sering ngomong ketimbang aku.

Ish.. dah.. budak sikok ini!”gerutuku dalam hati.

Ayah kembali hanya tersenyum melihat tingkah laku kami yang saling berbantah-bantahan satu sama lain. Itu menjadi kegembiraan tersendiri buatnya, bisa menemani putranya yang lucu-lucu dan memiliki polah tingkah yang unik-unik. Dua anak kembar yang memiliki kepribadian yang berbeda. Ia sangat bersyukur kepada Allah atas dianugerahkannya ia anak kembar. Ia mengatakan kepada ibuku, “Bu, mereka adalah anugerah terindah buat kita. Mereka bagaikan dua kuas yang melukis di kanvas langit. Begitu indah dan mempesona” Ibuku yang mendengar kata-kata sok puitis bapak itu terpingkal-pingkal ketawa karena baru kali ini semenjak mereka menikah, ayah berpuisi.

“Sudah-sudah,  sini!” pinta ayah kepada kami yang mengekspresikan muka kesal satu sama lain, “Duduk samping ayah sini cepat! ayah nak ceritoke ke kamu beduo, tentang sejarah Jembatan Ampera ni!”

“Asyik!!” ujar kami berdua kompak dan segera langsung mendekat ke ayah yang sudah mengambil posisi duduk didekat dermaga BKB ini. Dalam hati ayahku berkata, “Dasar anak kembar!”

“Nah.. ceritanya begini, dengerkan ayah baik-baik yeh! Menurut buku yang ayah baca dan cerita-cerita dari temen-temen, pada awalnya, jembatan sepanjang Ampera ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Ada yang tahu siapa bung Karno itu?” ayah memberi pertanyaan mendadak dalam penjelasannya.

Kakakku Hasan malah balik nanya, “emangnya siapa yah?” ayahku kembali hanya tersenyum melihat kak Hasan. “Mana ada pertanyaan dijawab pertanyaan nak!” ujar ayahku. Kak Hasan menyeringai, menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, pipinya memerah memendam rasa malu dan sedikit kesal atas pernyataan ayah barusan. “Yah.. ini adalah pelajaran buatnya karena seenaknya saja bertanya tanpa berfikir terlebih dahulu”kata ayahku. Kak Hasan memandang sekilas kepadaku, takku hiraukan pandangan sekilasnya, ku hanya melihat Jembatan Ampera itu dari kejauhan sembari mengingat-ingat, ‘siapa itu Bung Karno?’ sabil mencubit bibir…

Ayah langsung menyeletuk, “ah.. masa’ kalian nggak tahu, Bung Karno itu presiden pertama kita.”

“Loh, bukannya Soekarno yah? Bukan bung Karno?” sergahku cepat sambil penasaran, seingatku dipelajaran sejarah, guruku mengatakan presiden pertama Indonesia adalah Soekarno. “nih yang bener ayah atau pak guru?”

Kak Hasan hanya terdiam mendengarkan, ia tak mau salah lagi, kesalahan telak tadi, ia tak mau mengulanginya lagi. Ayah langsung menjawab, “Bung Karno itu adalah nama kerennya Soekarno, anakku!”

“Owh…..!!!”  ujar kami berdua lagi-lagi serempak sambil mengangguk-anggukkan kepala. Namun, Kak Hasan yang paling lantang suaranya.

semangat nian budak sikok ini oi!” Ujarku dalam hati..

“Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi”

“Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965 tepatnya pada tanggal 30 September 1965 Oleh Letjend Ahmad Yani ( sore hari Pak Yani Pulang dan subuh 1 Oktober 65 menjadi Korban Gestok), sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Akan tetapi, setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, ketika gerakan anti-Soekarno sangat kuat, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera. tetapi masyarakat palembang lebih suka memanggil jembatan ini dengan sebutan “Proyek Musi”
Bagian tengah Jembatan Ampera, ketika baru selesai dibangun, sepanjang 71,90 meter, dengan lebar 22 meter. Bagian jembatan yang berat keseluruhan 944 ton itu dapat diangkat dengan kecepatan sekitar 10 meter per menit.”

“Dua menara pengangkatnya berdiri tegak setinggi 63 meter. Jarak antara dua menara ini 75 meter. Dua menara ini dilengkapi dengan dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton.” Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.”

“Sejak tahun 1970, Jembatan Ampera sudah tidak lagi dinaikturunkan. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini, yaitu sekitar 30 menit, dianggap mengganggu arus lalu lintas antara Seberang Ulu dan Seberang Ilir, dua daerah Kota Palembang yang dipisahkan oleh Sungai Musi.”

“Alasan lain karena sudah tidak ada kapal besar yang bisa berlayar di Sungai Musi. Pendangkalan yang semakin parah menjadi penyebab Sungai Musi tidak bisa dilayari kapal berukuran besar. Sampai sekarang, Sungai Musi memang terus mengalami pendangkalan .
Pada tahun 1990, dua bandul pemberat untuk menaikkan dan menurunkan bagian tengah jembatan, yang masing-masing seberat 500 ton, dibongkar dan diturunkan karena khawatir jika sewaktu-waktu benda itu jatuh dan menimpa orang yang lewat di jembatan.”

Begitu panjang ayahku menjelaskan, sampai-sampai kakakku Hasan dan aku mengangguk-anggukkan kepala, kali ini bukan karena mengerti tapi karena ngantuk. Ayahku kembali lagi hanya tersenyum melihat kami berdua yang sudah bermata 5 watt.

“Sudah waktunya pulang, sudah mau maghrib! Ayo.. berdiri San, Sen!” kami pun berdiri dengan lemah, ayah menggaet tanganku dan tangan kak Hasan seperti tadi, mengajak kami pulang.

Ketika baru jalan beberapa langkah, kami tertarik melihat gerumunan nenek-nenek dari panti jompo Dermaga Ayu sedang jongkok melingkari tukang mpek-mpek yang sering berjualan disini. Terdengar ayik sekali. Kamipun tertarik mencicipi mpek-mpek itu. Ketika menyeruput cuka mpek-mpeknya, tiba-tiba terdengar “pppprrreeeett…!!” sontak kami kaget. Ternyata nenek disebelah kami kentut mungkin perutnya sudah los karena makan cuka mpek-mpek yang begitu banyak. Kami hanya menyengir tak karuan. “ai, busuknyo!” Tak lama berselang, nenek-nenek yang lain yang sedang makan mpek-mpek ketawa-ketiwi seru banget.. eh tau-taunya mereka juga kentut bareng tak ketulungan, mungkin perut nenek-nenek yang lain juga ikut-ikutan los, kali ini bukan karena makan cuko mpek-mpek yang banyak, melainkan karena terlalu semangat tertawa, -“can you imagine that!”- orang-orang disekitaran BKB ikut terpingkal-pingkal ketawa melihat tingkah para nenek-nenek “gaul” itu. Sungguh suguhan komedi yang terlucu yang pernah aku lihat. Ada-ada saja.

Ayah pun ikut-ikutan terpingkal-pingkal sembari menggaet tangan kami berdua untuk langsung pulang. Kami pun mengikuti arah gerak tangannya. Aku yang tadinya ngantuk, setelah kejadian itu, mataku segar lagi. ^^

Sore ini, burung layang-layang mengerubuni langit diatas sungai musi, seakan-akan malu-malu untuk menyuruh kami pergi. Matahari sudah menyingsing pergi dari hadapan kami, tenggelam ditutup awan yang perlahan-lahan pekat, menyisakan kehangatan yang sedikit dan berubah dengan hembusan-hembusan lembut angin dari sungai musi. Langit yang menguning disore ini, menjadi daya tarik pandangan tersendiri. Melukiskan berbagai bentuk rupa dan manusia berhak dengan tafsirannya masing-masing. Mungkin suatu hari nanti aku dan kakak bisa melukis dilangit. Yah.. insya Allah.

Sungguh pengalaman luar biasa hari ini, ditemani ayah pertama kali untuk jalan-jalan yang biasanya bareng Ibu dan tragedi nenek-nenek panti jompo lucu yang susah dilupakan. Ternyata ayah adalah sosok yang begitu menyayangi anak-anaknya. Walupun hanya beberapa jam saja, namun begitu berarti buatku dan kakak. Untunglah hari ini hari libur nasional. Pengalaman berharga dan berkesan di Jembatan Ampera. “Terima kasih ya Allah” gumamku dalam hati sembari melihat kearah luar jendela bus kota, rambutku terkibas-kibas terkena angin yang masuk, kutolehkan pandangan kearah kiri, kulihat kak Hasan sudah tertidur dipangkuan ayah. Dasar petidur! Kulihat pula ayah, bibirnya tersenyum kecil, kuyakin ia berbahagia.

Bersambung

-Insan Konayuki-

Iklan

3 thoughts on “[Cerbung] Dua Kuas Episode 1 Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s