[Cerbung] Dua Kuas Episode 1 Part 1

Assalamu’alaykum,

sekedar mau coba buat cerita bersambung, biar seru dan rame aja nih blog. Juga saya belum ada ide untuk tulisan-tulisan berat.. 🙂

cerita ini sedikit diambil dari kehidupan keluargaku, so ada dramatisasi-dramatisasi dibagian-bagian tertentu..:) you know lah..

selamat menikmati..

Episode 1: Jembatan Ampera Part 1

ampera

“Nak, kalian tahu kenapa jembatan itu disebut Jembatan Ampera” Ayah bertanya kepada kami berdua sambil menelunjukkan jarinya keluar kaca bus kota kearah Jembatan Ampera yang berada diatas sungai musi itu yang menghubungkan seberang hilir dan hulu kota Palembang. Tangannya dengan sigap kembali keperaduannya seketika selesai memberikan pertanyaan singkat tersebut.

Kami yang duduk manis persis disamping ayah sibuk memperhatikan riuhnya bus kota yang sedang kami naiki ini. “Bus kotanya aneh!” gumamku dalam hati sambil celingak-celinguk kesegala penjuru bus kota. Mulai dari kacanya, kursinya, penumpangnya, lantainya, dan aksesoris-aksesoris yang nggak karuan seperti lampu sorot berwarna-warni, kain-kain bergambarkan bob marley, merah kuning hijau, dan poster kain bergambar daun, aku tak tau itu daun apa dan bertuliskan RASTA yang aku juga tak tahu apa itu artinya”RASTA” yang bergelantungan dilangit-langit bus, dan rambut supir dan keneknya yang bikin perut menggelitik hebat dan terpana dengan rambut yang botak didepan dan panjang dibelakang, kayak vokalis Pas Band aja, atau lebih mirip wong fei hung jago kungfu dari cina itu.  Serta yang tak kalah seru adalah sound systemnya yang begitu menggelegar dan membahana keseantero bus kota ini dengan menyetel musik-musik OT (Organ Tunggal) yang membuatnya seperti diskotik berjalan. Kakakku pun seperti itu, begitu antusias dengan bus kota satu ini. Ada rasa yang menarik dari bus ini yang membuat kami tidak terlalu mendengarkan pertanyaan ayah barusan, hanya terdengar sayup-sayup saja ditelinga kami berdua. Seperti angin lalu saja.

Ayah hanya tersenyum melihat polah tingkah laku kami yang begitu antusias kayak orang begok dan begitu polos. Senyum itu menampakkan giginya yang menguning akibat isapan rokok dan ngopi yang sudah menjadi langganan ayah setiap hari, kalau nggak nge-rokok dan ngopi pusing kepalanya, maybe. Dia sudah menduga bahwa kami pasti tidak akan mendengarkan ucapannya, boro-boro didengarkan, sayup-sayup aja mungkin dianggap angin lalu. Dia paham bahwasanya ini adalah kali pertama ia mengajak kami untuk berjalan-jalan ke kota. Dengan alasan waktu kerja yang cukup menguras tenaga, bayangkan dalam sehari ia bisa bekerja hingga 12 jam yang normalnya orang kantoran kerja 8 jam. 4 jam lebih banyak. Ia terus dikerjar deadline dari bosnya yang tak mau tahu, pokoknya harus dikerjakan tidak ada kompromi sedikitpun, kalau nggak dikerjakan sesuai waktu maka pemecatan pun akan menjadi jawaban atas keterlambatan itu. Hari sabtu pun harus bekerja, ketika keluarga lain bertamasya ketempat-tempat rekreasi, bercanda tawa dengan keluarga, makan bareng disuguhi dengan cerita-cerita seminggu belakangan. Ayahku malah banting tulang untuk mengejar deadline karena saking takutnya dengan kata “PECAT” yang selalu didengung-dengungkan oleh bosnya. Kalau hari minggu, jujur kami kasihan dengan beliau, ia hanya bisa tertidur dan tertidur dikamar saking capeknya kerja banting tulang untuk menghidupi kami. Dan kami pun dipahamkan oleh ibu untuk tidak meminta yang macam-macam ke ayah. Untuk itulah kami tidak pernah meminta mainan, meminta untuk jalan-jalan ke kebun binatang, jalan-jalan ke mall, berenang, dan lain-lain. Kami hanya bisa menunggu tangan dingin ayah untuk memegang tangan kami untuk pergi kesuatu tempat, yah.. seperti hari ini. Itulah resiko menjadi orang bawahan dan ayah sudah siap dengan segala resiko tersebut. Mau nggak mau. Ia harus tetap bertahan dengan kondisi tersebut untuk menafkahi istri dan anak-anaknya yang masih kecil.

Ayah bukanlah orang Palembang asli, ia lahir dipekanbaru. Ia adalah keluarga minang, karena kedua orangtuanya yaitu kakek nenekku berasal dari pariaman, sumatera barat. Orang tuanya hijrah ke pekanbaru sewaktu ia masih balita. Ia anak ketiga dari lima bersaudara, sebetulnya anak keempat dari enam bersaudara, karena kakaknya meninggal ketika dilahirkan sehingga ia “menjabat” sebagai anak ketiga. Di Palembang ini ia dimutasikan oleh kantornya, karena divisi regional sumatera selatan membutuhkan karyawan baru, dan ayah harus siap untuk dimutasikan. Kalau kata kantor bilang harus mutasi, maka harus mutasi. Ayah pun rela pindah dari kantornya di Dumai, kabupaten di provinsi Riau merangkak-rangkak ke Palembang. Kota yang tak pernah sekalipun ia kunjungi. Ia hanya mengenal nama kota itu dikoran dan mendapat predikat, kota penuh kejahatan. “Ah.. apa benar?” gumamnya dalam hati. Di Palembang, kami tak punya sanak keluarga satu pun. Hidup keluarga sebatangkara yang “terusir” dari rezim kantor tempat ayah bekerja. Kami sekeluarga hanya bisa ikhlas untuk meninggalkan Riau, tempat keluarga besar kami berada. Keluarga kecil kami seperti seorang pemuda yang harus merantau berpisah dengan orang-orang terkasih dan mencintainya untuk menggapai cita-citanya menjadi orang yang berguna kelak ketika pulang membuat bahagia orang tua.

Ayahku berperawakan etnis cina, karena kakekku adalah keturunan orang cina. Pada waktu SMA dulu, adiknya papa, om Nal pernah bercerita,”Ayahmu dulu waktu SMA sering disebut si Aseng” karena begitu cinanya ia dimasa mudanya. “Waktu “perang” etnis dipekanbaru dulu antara etnis cina dan minang, ayahku nggak dibolehkan ke sekolah oleh nenek, karena takut terjadi apa-apa. permusuhan antar etnis itu terjadi karena etnis cina di Pariaman memperkosa anak gadis minang sehingga membuat marah keluarga minang yang terkenal dengan solidaritasnya yang tinggi. Sejak saat itu, orang-orang etnis cina banyak mengurung diri, toko-toko mereka yang biasanya berselieweran dimana-mana, hanya menjadi tempat bersarang hantu karena tidak pernah ditempati lagi.

Om Nal melanjutkan ceritanya, “ ayahmu dulu nekat walaupun sudah diperingatin nenek nggak boleh sekolah, tapi ia tetap aja dia pergi, dasar anak bandel membuat nenek selalu dikalungi kerisauan ketika ayahmu pergi ke sekolah. Pernah suatu hari ia main-main dipasar kodim, ia bersama-sama teman-temannya yang kebetulan temannya itu termasuk jajaran preman di pasar Kodim. Dengan lagaknya ia petantang-petenteng dipasar tersebut sekadar untuk nongkrong dan ngeceng-ngeceng, tiba-tiba dihadapan mereka sekitar 200 meter, sudah ada sekelompok pemuda berpakaian preman, betul-betul preman, mereka membawa samurai dan parang ditangannya, karena ada mangsa empuk “orang cina” dihadapan mereka. Mereka pun memanggil ayah dengan bentakan yang kuat, “Oi.. orang cina sini kau!” bentak mereka. Ayahku yang merasa bukan orang cina, mengabaikan saja bentakan barusan. Ia melanjutkan tongkrongannya dengan mengobrol-ngobrol bareng temannya. Sekali lagi mereka memanggil ayahku sambil menunjuk kearah ayahku, kali ini dengan bentakan yang lebih kuat dari sebelumnya. Ayahku kaget, karena bentakan itu ternyata mengarah kepadanya. Dengan gagah berani dan pantang untuk takut, ayahku berjalan kearah mereka, menghadapi mereka yang pakai samurai dan parang ditangannya masing-masing.”

“Ayah ditemani temannya yang juga termasuk jajaran preman di pasar kodim ini. ‘ado apo bang?’ sergah ayahku dengan logat padang pekanbaru yang fasih yang sudah berhadap-hadapan pandang dengan mereka, ayahku sudah siap siaga dengan apapun situasi yang bakal terjadi. Teman ayahku yang ikut menemani ayah langsung mengalihkan pandangan mereka kearahnya., ‘bang, ko orang minang juo, asli pariaman, kawan den’. Untungnya, karena teman ayahku ini adalah kawanan mereka juga, sehingga mereka percaya bahwa ayah adalah anak minang juga. ‘maafin kami yo diak’ ujar salah satu mereka ke ayahku. Ayah langsung menjawab, ‘samo-samo bang! Den urang awak juo!’ Alhamdulillah setelah saat itu, nenek menjadi tenang nggak khawatir lagi, kalau si denai, panggilan nenek ke ayahku, pergi kemana-mana.”

Sekarang, muka etnis cinanya hampir tak kelihatan lagi, wajahnya yang dulu putih bersih kini berwarna sawo matang. Anak-anaknya lah yang bermuka etnis cina, seperti wajahku, kakakku, dan kedua adikku, Refi dan Lani. Badannya kurus dan tinggi, alisnya tipis, matanya sipit, keriput ditulang pipinya terlihat jelas menggambarkan perjuangan yang tak kenal henti, terlihat berwibawa ketika berbicara sungguh kharismatik menurutku.

****

Bersambung….

-Insan Konayuki-

Iklan

10 thoughts on “[Cerbung] Dua Kuas Episode 1 Part 1

      • Linda J Kusumawardani berkata:

        owh…sipplah…baru baca sampe part 2 nya episode 1.

        hari ini alhamdulillah habis muter2 yokohama dan suhunya naek lagi jadi 17 derajat. Kemaren turun sampe 11 derajat, hujan pula…dingiiin bgt.

        bsk mau diajak jalan2 ke tokyo. mau nitip sesuatu kah?hehe…mumpung dijepang 😀

        • Aldo Al Fakhr berkata:

          tapi, salju belum turun kan? setau ane, sekarang lagi peralihan season menuju winter. CMIIW

          sebenarnya sih ada.. :malu
          pengen titip beliin raket badminton, tapi nggak jadilah..uangnya disimpan aja untuk yg lain 🙂

          • Linda J Kusumawardani berkata:

            yup…anda benar. Salju blm turun. baru daerah hokkaido aja yg udah,krn itu bagian atas. katanya biasanya awal desember baru turun utk area yg lain.minggu depan prediksi suhunya sampe 9 derajat… gak kebanyang sedingin apakah itu… 😦

            owh…raket badminton. setiap jln2 blm pernah liat itu..coba nanti klo ketemu, diliat dulu harganya yak 😀 . emang knp pengen itu dr sini? Indo kan bnyk…

          • Aldo Al Fakhr berkata:

            owh ngono…

            di jepun keasliannya lebih terjaga, terus harganya sedikit lebih murah..:)
            perkiraan untuk yang yonex nano speed 2000 sekitar 1.5-2.5 juta (kalo di Indo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s