Amplop Merah Maroon

sebenarnya nih cerpen dah lama, rencananya waktu itu mau diikutin lomba cerpen, karena sesuatu hal nggak jadi deh dikirim 🙂

Amplop Merah Maroon

By: InsanKeadilan

Pemuda itu tampak murung dan kecewa -mengerenyitkan dahi- pendapatnya terus ditentang habis-habisan, ia sama kerasnya, tak mau kalah, selalu memberikan argument-argumen yang mematikan, namun perdebatan tiba-tiba itu terhenti, ketika pemuda itu tertegun, seseorang lawan diskusinya mulai sesegukan, suara yang tak ingin didengarnya, suara yang membuat hatinya terenyuh kesakitan pula, suara yang membuatnya seperti orang bersalah. Suara itu lama-kelamaan semakin merendah sembari menjauhkan ganggang telpon sekitar beberapa centi saja, seperti ingin menyembunyikan tangisannya dihadapan pemuda itu, perlahan-lahan air mata itu keluar, pemuda itu dapat merasakannya walau jarak mereka sangat jauh, ribuan kilometer. Tak terasa air mata pemuda itu pun mengalir jua, ia juga tak tahan melihat seseorang wanita menangis, yah..lawan diskusinya itu adalah seorang wanita, dan terlebih lagi wanita itu adalah orang yang melahirkan diri pemuda itu dengan penuh kasih sayang dan cinta, tanpa pernah merasa mengeluh dan meminta balasan kepada pemuda itu. Keduanya hanya diam mematung, mulut mereka terpaku untuk melanjutkan berbicara, keduanya sama-sama  tak tahu harus berbuat apa, si pemuda itu pun tak berani untuk sekedar menanyakan seperti “ibu kok nangis?” kata-kata itu hanya terbesit dan tersimpan dalam hatinya.

***

Angin malam bertiup lembut menyapu malam.

Malam beranjak datang. Pemuda itu selonjoran diteras kamar kosnya memandangi langit, kali ini langit terlihat begitu cerah. Gemintang menunjukkan berjuta formasi. Disana ada Pisces, Aquarius, Leo, Gemini, dan lebih banyak lagi rasi yang tak memiliki nama. Indah. Suara burung hantu dari kejauhan dan derik jangkrik yang bernyanyi merdu ikut menghiasi malam ini. sebuah nasyid yang distel dengan nada yang rendah oleh pemuda tersebut juga tak mau kalah menghiasi malam ini, dari kejauhan terdengar lirik;

When you feel alone

When you have no strength

You have down in your heart

Troubles around you

Just remember Allah

Indahnya malam ini tak terlalu berpengaruh banyak bagi pemuda itu. Pemuda itu terus merenungi setiap kata-kata yang keluar pada diskusi mereka kemarin malam, obrolan yang lebih cocok dibilang diskusi.

Wi, carilah cewek dari sekarang, kan katanya mau menikah satu tahun lagi?

Ibu, Piwi nggak mungkin bisa pacaran dan nggak akan bisa pacaran!”

jangan beli kucing dalam karung Wi!” dengan nada agak mengeras, tampaknya ibunya mulai naik emosinya, “kalau bisa nikah itu cuma sekali, jangan sampai nanti menyesal..! Gimana kamu mau dapet istri yang baik kalau nggak pacaran dulu?

Loh Bu…. justru cewek yang mau dipacarin itulah cewek yang menurut Piwi nggak baik!” dengan nada sedikit menekan.

Bla..bla..bla..

Dan seterusnya, pemuda itu sibuk menjelaskan panjang lebar…ia yakin dengan prinsipnya dan disisi yang lain, ibunya pun tetap berserikeras agar anaknya mencari istri melalui pacaran.

***

Malam yang meniupkan angin dingin membuatnya sedikit kedinginan dan ia pun beranjak dari selonjorannya keatas tempat tidur, dengan posisi terlentang. Bersiap-siap untuk tidur. “Aku lelah” ujarnya dalam hati…

Dalam posisi terlentang itupun pemuda itu tetap tak merasa nyaman. Kasihan sekali melihatnya, air mukanya sangat lelah, lelah tak berdaya memikirkan diskusi kemarin malam itu. Fikirannya kusut tak mampu menerima tema fikiran yang lain, padahal ia terkenal sebagai seseorang  pemikir, suka menganalisa, dan cerdas. Namun, saat ini ia betul-betul tak berdaya untuk berfikir lagi, semua fikirannya penuh berkelebat dalam satu tema, jika saja bisa ditumpahkan, ia benar-benar ingin menumpahkannya sedikit atau semuanya dengan sempurna. Dalam kelelahannya itu, tak terasa entah bagaimana caranya pemuda itu tertidur. Yah.. ia tertidur, tidurnya sangat pulas sekali. Terlihat wajahnya yang kian hari kian menggoreskan kelelahan yang sangat, namun air mukanya menunjukkan keoptimisan dan penuh percaya diri dalam menjalani hidup. Terlihat lagi rahang yang begitu kokoh mengisyaratkan keteguhan dalam memegang prinsip.

Dalam tidurnya, ia bermimpi, mimpi yang akan (mungkin) menjadi solusi atas permasalahan yang ia hadapi saat ini. insya Allah.

Dalam mimpi itu:

“dalam kamar yang sempit itu, terlihat seorang pemuda yang sibuk memikirkan sesuatu, tampaknya ia seperti orang linglung, ia lupa meletakkan penanya dimana. Padahal kamar itu sangat tertata rapi, buku-buku, pakaian, sepatu, alat-alat tulis, semua rapi. Pena yang hanya satu itu entah gimana caranya bisa hilang. Setelah lima belas menit mencari, akhirnya pena itu ditemukan juga, terselip diantara tumpukan kain, pemuda itu juga heran kenapa bisa-bisanya tuh pena nyelip ditumpukan baju. “Ada-ada aja” ujarnya.

pemuda itu mengambil kertas beberapa lembar yang sudah dibelinya tadi sepulangnya dari kantor, lalu mulai menggoreskan pena ke kertas tersebut. Penanya bergetar namun ia paksakan untuk mantab.

‘Yang tersayang Ayah dan Ibu

Maaf Yah, Bu.. aku tak berbicara langsung melalui telepon seperti biasanya, tetapi melalui surat, agar semua dapat tersampaikan dengan baik dan runut. Maafkan anakmu yang lancang ini.

Terima kasih ayah, karena engkau mencintaiku dengan segenap kekuatanmu, memberi kesempatan belajar memahami kehidupan, mengajariku sepeda untuk pertama kalinya (pemuda itu sedikit tersenyum membayangkan kejadian ia yang merengek karena jatuh dari sepeda), memberikanku kesempatan bersekolah yang tinggi, bersedia memberikan seluruh energi dikantor untuk kami anakmu.

Ibu…(rasanya pemuda itu tak sanggup melanjutkan kata-katanya, bulir-bulir air mata tertumbah begitu saja). Terima kasih ibu atas semua cinta yang engkau beri untukku. Engkau rela mati untuk melahirkanku, engkau menaruhkan nyawa untuk hidupku, engkau lelah karena rengekanku setiap saat, engkau teduhkan aku dengan badanmu ketika matahari menyengat kulitku dan ketika hujan mengguyur deras menghantam bumi. Terima kasih telah selalu memberikan nasehat-nasehat yang luar biasa untukku…aku tahu engkau sangat sayang padaku…

Rasanya tak layak pena ini menggoreskan tinta-tinta perjuangan kalian kepada anakmu ini, karena begitu besarnya andil kalian dalam membimbingku. Terima kasih dengan rasa cinta dariku Ayah…Ibu…

Ayah Ibu.. jujur aku ingin sekali pacaran dari dulu, siapa yang tak mau diperhatikan, siapa yang tak mau dimanja, siapa yang tak mau pula dicinta, siapa yang tak mau Bu! Tapi aku tahan. Aku tahan keinginan itu, karena apa Yah..Bu..? Karena aku tak mau menggantikan posisi Allah, ayah, ibu, abang, dan adek-adek sebagai sumber motivasiku dalam belajar dan berkarir hingga saat ini. aku tak mau seseorang yang baru hadir dan bukan muhrimku tiba-tiba menjadi sumber penyemangatku. Aku tak mau itu. Kalianlah yang menjadi sumber penyemangatku bukan dia karena ia tak pantas menyandang gelar sumber penyemangatku. Lain halnya pabila ia adalah istriku, seseorang yang akan kunikahi nanti, karena seorang suami berkewajiban dalam menafkahi istri dan anak-anaknya, oleh karena itu boleh dijadikan sumber penyemangat dalam mencari rezeki dari-Nya.

Ayah.. Ibu.. aku ingin pacaran setelah menikah, karena apa Yah.. Bu? Karena aku ingin cinta itu bersemi dengan halal, karena aku sangat yakin bahwa segala sesuatu yang halal akan berbuah manis dan indah. Setiap apa yang akan kami lakukan nanti semua bernulai ibadah. Tidak seperti pacaran yang hanya menampakkan kesemuan belaka –kebanyakan seperti itu- yang hanya merusak hati, karena dalam setiap aktivitas selalu teringat dia padahal belum ada kehalalan dalam memikirkan si dia.

Janganlah takut aku salah pilih Yah.. Bu.. insya Allah aku sangat yakin Allah lah yang akan memilihkannya untukku, memilihkan yang terbaik buatku dunia dan akhirat. Jangan takut pula aku bakal tak mencintainya karena sesuatu hal apalah itu. Aku mencintainya, karena Allah telah mengizinkan cintaku terpaut pada dirinya. Sehingga tak ada alasan aku tak mencintainya. Dan pula menurutku sebuah pernikahan itu tak hanya dilandasi oleh cinta saja melainkan visi misi menikah dan komitmen dalam mengharunginya. Visi-misi itulah yang akan kami wujudkan bersama dalam komitmen yang penuh rasa cinta dan tanggung jawab. Betapa indahnya itu Ayah… Ibu…..

Memang, pengalamanku dalam kehidupan tidak ada apa-apanya dibanding kalian yang telah lama mengecap pahit dan ketirnya kehidupan. Tapi menurutku, sudah saatnya aku dewasa, sudah saatnya aku mengambil sikap untuk kehidupanku sesuai dengan kaidah-kaidah syar’i  yang kupelajari tiap pekannya bersama lingkaran ilmuku, dalam kajian-kajian yang kuikuti, dalam buku-buku yang kubaca, dan dari apa-apa yang kudiskusikan dengan teman-temanku. Insya Allah.

Ayah.. Ibu.. proses  menuju pernikahan yang akan aku jalani nanti insya Allah takkan merugikan anak kesayanganmu ini, seperti yang kalian takuti “membeli kucing dalam karung”… sungguh tidak.. Sungguh inilah proses yang sangat luar biasa, saling kenal satu sama lain, mengutarakan latar belakang keluarga masing-masing, visi misi yang diusung dalam mengarungi bahtera rumah tangga, mengutarakan kelemahan dan kelebihan masing-masing secara jujur. Dan jangan pula kalian meragukan apakah seseorang itu akan tidak jujur. Insya Allah dia adalah seseorang yang terbina sepertiku Yah.. Bu..! dan sejelek-jeleknya pabila ada kata tidak jujur darinya, biarlah Allah yang mengatur scenario-Nya, aku yakin scenario-Nya sangatlah indah. Mungkin saja itu adalah bagian dari ujian cinta keistiqomahanku nantinya.

Setelah merasa cocok dan mantab satu sama lain, dan tentunya proses menuju kemantapan ini membutuhkan waktu dan tentunya melibatkan Allah didalamnya., Setelah itu, barulah aku datang kepada keluarganya untuk berkenalan dan mengutarakan niatku untuk menikahi anak putrinya, dengan terlebih dahulu si dia telah mengkomunikasikan perihal lamaran ini kepada keluarganya, perihal siapa aku. Begitu pula denganku, aku akan mengkomunikasikannya dengan Ayah dan Ibu perihal lamaran itu dan perihal siapa si dia itu dengan seksama tanpa berlebihan, dan ini juga butuh waktu. Semua proses ini terbuka insya Allah. Dan pabila ayahnya menyetujui niatku, oh Ayah.. Ibu.. betapa senangnya diri anakmu ini. Akan ku ajak kalian tuk melamar si dia untukku. Dan sekalian menentukan hari pernikahan hingga hari itu pun tiba…Semoga Allah meridhoi langkah kami berdua.

Sampai disini saja suratku kepada kalian wahai dua insan yang kucintai dan kurindui. Kuharap kalian dapat mengerti maksudku kenapa aku tak mau pacaran atau apalah namanya itu. Karena aku ingin itu bersemi indah pada waktunya Yah.. Bu..

Sebelum surat ini berakhir, kukirimkan puisi dibawah ini untuk kalian berdua…:

tirai malam menyelimuti sunyi

gerlap bintang menyemangati malam

berkilau bertahta berseri

nafas rindu berhembus halus

merana resah gelisah dibuatnya

memacu api gelora dalam jiwa

dingin malam kian hilang ditelan kehangatan

terlena akan menghangatnya jiwa

bagaikan mentari menghangatkan pagi yang kabut

jari jemari tergelitik menggoreskan pena

terbiarkan kata-kata yang mengalir

beriring-iringan dengan nafas cinta, rindu, dan kasih

Oh.. Ayah.. Ibu,,

tak terbatas ingatanku kepada kalian

Jakarta, 25 November

Yang lemah tak berdaya

Piwi Bukhori

Pemuda itu menulis surat itu dengan berlinangan air mata tapi penanya sangat mantab, sesekali bulir-bulir air matanya membasahi kertas, cepat-cepat ia menyekanya dengan lengan bajunya. Ia tidak ingin merusak kertas suratnya. Ia lipat kertas itu dengan seksama, dimasukkannya dalam amplop merah maroon yang sudah dipersiapkan sebelumnya sembari melafadzkan do’a-do’a kepada Allah, semoga surat itu dapat membuka mata hati orang tuanya agar mengerti apa maksud sejati anaknya.

Ia bersiap-siap ke kantor pos untuk mengirimkan surat itu. Gagang pintu kos itu dibukanya sembari melafadzkan

bismillahi tawakkaltu ‘alallah”

Pemuda itu pun terbangun dari mimpinya, semuanya berjalan seperti nyata. Mata yang masih sayu dan tubuh yang masih mengumpulkan nyawa berusaha bangkit dari tidurnya, melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 02.30 WIB…

Ia yakin mimpi tadi adalah solusi atas permasalahannya yang diberikan Allah kepadanya. Tidak menunggu waktu lama, malam ini juga. Pemuda itu lekas menyiapkan kertas, segera menggoreskan tinta penanya dengan mantab, kali ini ia tidak sibuk mencari-cari pena.

Namun tiba-tiba lampu kamarnya mati.

Gelap

****

Iklan

26 thoughts on “Amplop Merah Maroon

  1. Syamsuar berkata:

    Walau harus memicingkan mata membacanya, aku menangkap satu kalimat yang menyejukkan hati,

    “biarlah Allah yang mengatur scenario-Nya, aku yakin scenario-Nya sangatlah indah. Mungkin saja itu adalah bagian dari ujian cinta keistiqomahanku nantinya.”

    Karena kita percaya……:)

    Nice story…

  2. Pipi berkata:

    cukuplah Allah yang mendatangkannya disaat kita memang sudah benar-benar mem”butuh”kannya, dimana Allah merasa kita memang sudah “siap” dan “pantas” menjalani itu..

    nice story..

    keep writing, ditunggu crita piwi2 brikutnya..

  3. mira berkata:

    ceritanya bagus ,,full hikmah dan banyak nilai kebaikannya,,semoga menjadi ladang amal untuk penulisnya,,cara supaya bahasa tulisan bisa bagus dan penuh pesan kebaikan kaya gitu gimana sih??boleh bagi” tipsny??/lg belajar menulis..tapi tulisanny asa belum segreget tulisan yang di blog ini..jazk sebelumny kalo mau ngsh tips”ny..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s