Hikmah dalam Cerita

Himah dalam Cerita

First of all…

Seneng bisa nulis lagi \^^/, terlepas dari penjara kemalasan dan kurungan aktivitas padat yang mungkin sengaja dipadat-padatkan 🙂

Oke deh, hari ini diriku ingin berbagi cerita yang saya dapet dari kajian motivasi dari sebuah siaran radio daerah Jakarta, lupa frekuensi berapa 🙂

-sambil dengerin depapepe-

Ceritanya begini:

Semilir angin yang berhembus cukup membuat anak gembala itu males-malesan menjalani tugas sebagai penggembala kerbau. Tidak tanggung-tanggung, kerbau yang digembalainya berjumlah 10 kerbau padahal usianya baru 12 tahun, yah.. sekitar kelas 1 SMP lah.

Sudah 3 jam berlalu

Semilir angin yang dengan lembut menerpa nih anak, membuat lama-kelamaan anak tersebut mengantuk, terbuai oleh kelembutan angin yang menyentuhnya. Akhirnya nih anak nggak tahan akan kantuknya, eh.. tertidurlah dia.

2 jam kemudian.

Anak itu terbangun, ia lihat arloji kura-kura ninja yang menempel ditangan kanannya  (yang berarti kalau ditangan kanan menunjukkan “KEREN”) pemberian majikannya. “Waduh, astaghfirullah..pake acara tertidur lagi, mana dah jam segini lagi, jam segini teh aku dah seharusnya balikin kerbau-kerbau ini ke kandang.”

Si anak bersiap-siap untuk mengembalikan kerbau ke kandangnya. Ia hitung satu persatu kerbau-kerbaunya. “1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9… waduh kok 9 kerbau” gelisah nih ceritanya. Ia hitung lagi sampai beberapa kali “1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9..iya tetep 9 kerbau”

Dari arah yang berbeda, seorang kakek tua melintasi padang rumput tersebut. Si anak menaruh curiga pada tuh kakek tua karena dari penampilannya yang sangat-sangat mencurigakan. Terlihat seperti pencuri. Kemudian dengan sekonyong-konyongnya tuh anak ngomong:

“Eh.. Kek, kakek yang nyuri kerbau saya ya??” dengan nada yang sinis dan mata yang penuh telisik kepada kakek itu.

Kakek tua itu hanya tersenyum melihat anak itu. “mana mungkin aku mencuri kerbaumu anak muda, fisikku lemah begini mana kuat membawa kerbaumu yang berat gitu” jawab kakek itu dengan tenang, “emang kerbau hilang berapa?”lanjutnya

“satu Kek!” masih dengan mata yang penuh selidik

“dan jumlah kerbaumu ada berapa?” Tanya kakek itu dengan sangat tenang

“10 Kek.!” Kali ini udah agak tenang nada bicaranya

“owh…” kakek itu pun menghitung dalam hati dan kemudian tersenyum geli kepada anak itu.

“hei anak muda, tahukah engkau dimana kerbau yang hilang itu?”

“mana ku tahu lah Kek! Kakek ini ada-ada saja, kalau aku tahu mana mungkin aku kehilangan!”

Kakek itu tersenyum lagi lalu dengan setengah tertawa ia berkata, “Hei .. anak muda, kerbau itu ada dibawah pantatmu!!”

Sontak saja tuh anak kaget, langsung melihat kebawah, memastikan apa benar kerbau yang hilang itu ada dibawah pantatnya. Ternyata oh ternyata saudara-saudara, si kerbau “bandel” yang hilang itu memang berada di bawah pantatnya, yah.. kerbau yang hilang itu sedang ditunggangi oleh si anak tersebut.

Dengan wajah melas kemerah-merahan, tuh anak tersipu malu dan kemudian meminta maaf kepada kakek tersebut karena telah menuduh yang bukan-bukan.

Ya.. segitu saja ceritanya…So what? Intinya dari cerita ini kita belajar beberapa hal:

  1. Tidak boleh lalai dalam amanah, karena amanah adalah tanggung jawab. Ini pelajaran berharga bagi kita semua, terutama diri saya sendiri.
  2. Teliti. Sikap teliti itu hati-hati dengan penuh perhitungan dan cermat dalam menentukan.
  3. Tidak boleh asal menyalahi orang lain. Koreksi diri sendiri dulu, apakah aku yang menyebabkan kesalahan ini, jangan mencari-cari kambing hitam atas kesalahan atau kelalaian yang kita buat sendiri. Sungguh tak pantas menyalahkan orang lain diatas kesalahan sendiri.
  4. Sikap sopan santun kepada yang tua. Dalam bersikap kepada orang tua harus memiliki akhlaq yang santun. Matinul khuluq. Jangan seperti anak gembala diatas yang seenaknya dalam bertutur sapa kepada yang lebih tua.
  5. Sabar. Ini ditunjukkan oleh kakek tua itu, bagaimana ia bisa bersabar atas kelakuan orang lain kepada dirinya.
  6. Meminta maaf dan memaafkan. Untuk lebih jelas hal ini bisa dibaca ditulisan saya yang judulnya Mengakui Kesalahan Dan Memberikan Maaf Itu Sunnah, linknya https://menulisaja.wordpress.com/2010/10/21/mengakui-kesalahan-dan-memberikan-maaf-itu-sunnah/
  7. Dan banyak lagi. cobalah berfikir kritis untuk mencari makna dari sebuah cerita jangan hanya mengandalkan penulis saja..:)

-diakhiri dengan lagunya depapepe yang judulnya Wedding Bell-


Semoga bermanfaat, Wallahu’alam

Jakarta, 3 Maret 2011

InsanKeadilan

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Iklan

5 thoughts on “Hikmah dalam Cerita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s