Kembali Ke NOL lagi..

Kembali ke NOL lagi..


Bismillahirrahmanirrahim

Seorang ikhwah yang telah lepas dari kampus dalam artian sudah lulus, sejatinya kembali ke NOL lagi. apa sebab? Sebabnya adalah lingkungan dan pergaulan yang baru akan lama-lama kelamaan akan menggoresi kepribadian kita, seperti yang sering saya katakan bahwasanya tiap orang itu berpotensi untuk berkarakter apa pun.

Ketika dikampus yang sebenarnya kita adalah KADER INSTAN, bagaimana tidak instan. Lembaga tarbiyah ada, tastqif ada, Murabbi difasilitasi, mutarabbi dikasih, tartil materi ada, semua serba enak. Apa tidak instan tuh? Namun masih banyak saja dari kita yang males-malesan dan banyak termakan media. Istilahnya gini: terkecoh media karena ilmu yang masih sangat dangkal. Dah difasilitasi begitu masih aja ada yang males-malesan datang pekanan, datang ngisi pekanan, datang tartil, dll. Pantas saja banyak yang termakan media-media berbau busuk, ilmu tuk menelaah berita pun tak ada. Akhirnya banyak yang kecewa dengan jama’ah lah, kecewa dengan dakwah lah (hebat banget nih anak kecewa dengan dakwah :mad), kecewa dengan system lah (* saya tantang antum yang kecewa untuk buat system yang bagus berdasarkan interpretasi antum.. saya mau lihat), dan lain-lain. Biasanya para kecewa-kecewaers itu punya tabiat:

  1. Ngajak yang lain untuk kecewa juga. Perhatiin aja…!
  2. Udah males dakwah dalam artian individual dalam ibadah.
  3. Budaya tabayun dah nggak ada lagi tuh. Semua info ntah fitnah atau bukan dimakan (kasarnya ditelan, kalau dimakan mah masih ada yang dikunyah) bulat-bulat.

Pasca Kampus

Pemilihan lingkungan kerja yang kondusif adalah sebuah keniscayaan, begitu pula lingkungan Kos-kosan, karena ini sangat-sangat akan berpengaruh. Bukan dalam artian pilih-pilih, tapi mengukur kapasitas diri untuk bilamana tercemplung nantinya ke lingkungan tersebut.

Saya pernah menemukan sebuah kasus seorang ikhwan (identitas dirahasiakan :D, dan tentunya bukan saya), kita bertemu dalam suatu waktu yang mana dah cukup lama tidak bertemu dengan ikhwah tersebut. Kemudian saya merasa ada sesuatu yang berbeda dari ikhwah ini, dari segi bicara, style, nada bicara, dan sikap cukup berubah dari sebelumnya.. sebagai contoh, si ikhwah ini mengucapkan *njritt..ketika kagum/benci terhadap sesuatu (ex. *njritt tuh anak bandel banget..), padahal sejatinya kan mengucapkan subnallah ketika indah dan astaghfirullah/ta’awudz ketika buruk. Itu salah satu contohnya, setelah saya selidiki dan beranikan untuk bertanya kepada si ikhwah tersebut, ternyata lingkungan kerja lah yang menjadikannya seperti itu. Nah loh…

Saya sangat bersyukur kepada Allah menghantarkan saya kepada lingkungan kerja yang lumayan kondisif dalam artian pasti adalah gesekan-gesekan yang menggesek idealis, namun kuantitasnya tidak terlalu tinggi seperti yang dialami ikhwah2 yang lain. Nggak tau kedepannya, semoga tetap kondusif, pabila tidak pun, semoga Allah memberikan kekuatan untuk mengkondusifkannya.

Problematika Akhwat

Terlebih bagi kalangan akhwat (sebenarnya bukan scope of work saya untuk menuliskan ini, ringkasnya aja lah..), sering kali idealis dan realitas berhadap-hadapan pandang.. betul ga akhwat?? Dan ini sangat menjadi problematika besar bagi para akhwat. Jujur, Saya sebagai ikhwan khawatir akan kondisi ini. tidak sedikit akhwat yang melepaskan izzahnya karena kondisi pekerjaan, sebagai contoh dilingkungan kerja tidak boleh pakai rok dan jilbab tidak boleh panjang dan harus masuk baju (ngertikan maksud saya..)

Silahkan dikomunikasikan ke Murabbiyah, Ummahat, dan senior-senior akhwat yang lain perihal ini. Insy Allah mereka lebih paham. 😀

Akhir

Alangkah sebaiknya kita sebagai ikhwah:

  1. Sebisa dan semaksimal mungkin mencari lingkungan kerja yang kondusif. Jika tak dapat, coba proaktif untuk mencari rekan (ikhwah juga), biar ada teman kala gesekan-gesekan terjadi.
  2. Harus cari kosan yang kondusif, TIDAK CAMPUR antara laki-laki dan perempuan, apalagi di Jakarta yang cukup susah untuk mencari kosan pisah. Caranya, kooperatif untuk mencari kontak ikhwah yang ada didaerah tersebut untuk membantu mencarikan kosan yang kondusif. (saya dulu begitu…terima kasih akh Bayu)
  3. Harus tetap liqo’. Karena liqo’ itu kasarnya hanya mengambil 2-3 jam waktu tidur kita dalam seminggu. Begitu naifnya diri ini, mengabaikan liqo’ gara-gara tidur, kasarnya begitu. Minta bantuan ke MR yang lalu untuk ditransfer ke daerah tempat kerja.
  4. Untuk yang belum lulus. Ayo akh, ukh persiapin diri antum di real world. Kampus Cuma persinggahan saja, keterlibatan masyarakat nyaris tak tersentuh pada saat dikampus.
  5. Bagi yang sudah didunia kerja. Ayo kita aplikasikan ilmu dakwah fardiyah yang sering kita dengung-dengungkan dulu, karena as per my observation, untuk scope dunia kerja dakwah efektif adalah dakwah fardiyah, tapi tidak tertutup kemungkinan lebih. Yah.. nggak usah neko-neko deh, yang sederhana aja seperti membudayakan salam dan ucapan salam ketika ketemu.
  6. Jangan terwarnai tapi berusahalah sedikit demi sedikit mewarnai. Ini sedikit berhubungan dengan no.5. sebagai contoh pergi karakoean walaupun itu karoke family. Dapat cerita dari MR ada seorang ikhwah yang pergi kekarakoean, biasalah entertaint. Si ikhwah ketika ditanya, ia jawab “karakoean family kok akh…” bukan family atau nggak masalahnya. Tapi, kedepannya loh akhi.. penilaian orang lain yang tahu kita ikhwah itu yang harus kita fikirkan. Sama seperti kasus bioskop (saya pribadi sangat tidak suka ada ikhwah yang nonton bioskop). Solusinya, cari lah alasan-alasan agar tidak menghadiri ajakan-ajakan yang seperti itu. Sakit perut kek, ada agenda lah (tilawah kan agenda juga), ada keluarga datang kek. Bukan maksud untuk berbohong, namun sepemahaman saya yang masih cupu ini, itu tergolong bohong putih. Wallahu’alam
  7. Untuk akhwat. Jangan ragu dengan identitas anti. Keep confident saja, nggak usah didengerin apa kata orang, toh saya yakin para akhwat juga tidak menjadikan karir sebagai destination-nya..

Semoga kita senantiasa diberikan kemudahan dalam beribadah kepada Allah, diberikan ast-tsabat dalam menjalani ujian didunia ini, diberikan komitmen terhadap siapa diri kita sebenarnya, dan diberikan keberkahan setiap jalan yang kita langkahi. Amin
komitmen
Wallahu’alam

Jakarta, 01 Februari 2011

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Iklan

24 thoughts on “Kembali Ke NOL lagi..

  1. meera_alasykar berkata:

    iya memang ketika berdiskusi dengan seorang teman yang sudah keluar dari kampus memang tidak senyaman di kampus lagi, yang mana tidak ditemui lagi diskusi-diskusi yang idealis yang ditemui di kampus, tapi yang ada hanya diskusi” yang bermuatan “pasar”,Adapula yang “pindah gerbong” ke “kereta” lain dengan alasan “kereta” ini tak lagi berada pada jalurnya. Adapula yang mulai menjauh dari “gerbong” dan ada pula yang sibuk dengan rutinitas sehingga kebosanan mulai hinggap sampai akhirnya merasakan lunturnya orientasi dari bekerja untuk ibadah menjadi sekedar mencari uang.mungkin bagi saya ini belum bisa saya rasakan karena masih dalam lingkungan kampus, dan semoga catatan ini dan note dari teman-teman tentang dakwah pasca kampus menjadi bekal buat para ikhwah yang masih di kampus mempersiapkan segala bekalnya untuk menghadapi semua itu, walaupun kadang menjadi sebuah ketakutan sendiri ketika mendengar” realita” di lapangan nanti seperti itu,, ketika berada di lautan yang sangat asin takut tidak bisa menjadi ikan tawar yang tetap tawar tidak terpengaruh asinnya laut,

  2. Reader berkata:

    betul sekali, saya sendiri mengalami, jangankan pasca kampus,saya yang masih berstatus mahasiswa , sekarang dilingkungan kerja pun saya dah dapat gambaran, salah seorang staff mengomentari kerudung saya,sembari menyindir, di depan banyak orang, hanya karena lebarnya kerudung, heummm saya pun membals dengan candaan.gambaran kecil di dunia kerja..padahal ini lingkungan yang ckup kondusif, dimana waktu kosong diiisi tilwah..ckckkc….
    sahabat saya yang ikhwan memohon padaNya minta agar disiapkan dalam lingkungan yang kondusif dan sedikit akhwat, dan ya . doanya terkabul.alhamdulillah terjaga, hingga gelar hafidz sebntr lagi di dpat…
    saya sendiri sering kali pulang kerja untuk meeting sampai malam …rasanya risih dan tak tahan, jika bukan ini adalah kepentingan banyak orang yang membutuhkan…maka tadhiyah itu selalu ada…dan berharp ada solusi lain..
    bismillah saja…

    • Aldo Al Fakhr berkata:

      syukran sharingnya..
      sangat perlu tadhiyah dalam dakwah.. karena itu, ath tadhiyah masuk dalam rukun ba’iat setelah al fahmu, al amal, al ikhlas, al jihad..
      karena setelah kita paham, kita amalkan, diamalkan dengan ikhlas, dan bersungguh-sungguh dalam ikhlas menjalaninya, barulah dibutuhkan pengorbanan terhadap jihad yang kita lakukan…

  3. Reader berkata:

    masih belajar, jauh sekali jika di banding yang tercantum dalam arkanul bai’at…

    ada buku menarik yang di cekal, perjalanan sayyid qutb..judulnya saya lupa..

  4. Meera_alasykar berkata:

    Ma’alim fit thariq mungkin ukh,,judul buku sayYID QUthb yg d cekal itU,,(MAaf jd ikt nimbrung)..smg kt semua dsatUKan dan dperSaudarakan dalam ketaATan,,walaupun tdk kenal secARa jasadiah,,

  5. Reader berkata:

    iya itu keren banget ukhti..ane bacanya ampe merinding…tadhiyah buat islamnya buat meriding sekujur badan ..wajib baca….
    heeee malu sendiri saya baca buku itu, belum apa apa sangat jauh sekali…
    padahal sayyid qutb dulu ga gitu, tapi setlah di sentuh islam ..wusss langsung berubah

  6. dewi berkata:

    Yupz…ane setuju dgn pndapat antum.Tantangan terbesar ketika qt telah tarbiyah slama d kampus adalah pasca kampus…Slama d kampus qt memiliki teman2 yg homogen (tarbiyah). Ketika Pasca kmpus, banyak teman2 kerja yg memiliki latar belakang yg berbeda (non tarbiyah).Pd saat pasca kampus kadang qt d hadapakan pd 2 pilihan istiqomah dgn jilbab qt/agama or pekerjaan.Sejauh mana pertahanan aqidah qt, insya Allah qt bs istiqomah…Tpi ane sedih kadang2 melihat saudari2 ane yg aktifitis dulunya tpi coz pekerjaan malah banyak yg berguguran…Smoga Allah tetep menjage keistiqomahan qt smua dan memberikan hidayahNya kpd saudari2 qt yg lain…smoga kembali k tarbiyah…amiin

  7. syamsa berkata:

    Mantabbbb !!!!

    anda betul sekali akh,

    maka dari itu sebiak-baik pekerjaan bagi wanita adalah ibu rumah tangga =)

    Semoga senantiasa istiqomah
    (yg coment jg masih belajar dg apa yg dia tulis)

  8. fitria malkun berkata:

    hm…tertarik..
    ana br mengalaminya… banyak hal ternyata..dan ku katakan dunia luar begitu kasar.. seburuk2 dunia dalam (ikhwah maksdnya)…tapi ternyata itu jauh lebih baik dr dunia luar yg ada…
    dan tanpa halaqoh…keistiqomahan itu sulit untuk diraih…
    bahkan yang sangad menyedihkan… kenyataan yg ada.. banyak ikhwah yang ketika pasca kampus.. tarbiyah tak bersuara.sunyi..adem ayem gt..
    hm..blm lg faktor kluarga yg menuntut kt u/ cpt kerja.. (yach.. nikmatnya anak pertama selalu jd perhatian yg pertama)
    smg Allah slalu menjaga ku.. ^__^
    thanks for all

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s