Mengakui Kesalahan dan Memberikan Maaf itu Sunnah

Mengakui Kesalahan dan Memberikan Maaf itu Sunnah


*pengen nulis yang serius euy..

Ingin menyapa pagi ini dengan salamnya umat islam yang luar biasa faedahnya dan tak ada tandingannya dengan dien-dien yang lain dimuka bumi ini…

Salam kemenangan dan kesejahteraan

Assalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu

Pagi ini pengen nulis sesuatu yang terkadang sulit untuk dilakukan oleh seseorang yang kebanyakan berkarakter cuek terhadap sesuatu termasuk mengakui kesalahan yang benar-benar telah dilakukannya. Yah.. judulnya Mengakui Kesalahan itu Sunnah..

Setiap manusia dalam dunia ini pasti pernah melakukan kesalahan, tak peduli apakah kesalahan itu besar ataupun kecil. Dan tak peduli memakai media apapun omongan, tulisan, perbuatan yang yang zhalim… tanpa sengaja baik disengaja..

Abi Hurairah (semoga Allah meridoinya) berkata, telah bersabda Rasulullah Saw., “Barangsiapa pernah melakukan kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya maupun sesuatu yang lain, maka hendaklah dia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). (Kelak) jika dia mempunyai amal saleh, akan diambil darinya seukuran kezalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudaranya (yang dizalimi) kemudian dibebankan padanya.” (H.R. Al-Bukhari)

Saudaraku, kita bukanlah malaikat, yang diciptakan hanya untuk taat kepada Allah, tidak ada sikap menentang. Kita bukan juga para Nabi dan Rasul yang ma’sum, terbebas dari dosa. Oleh karena itu pabila kita berbuat salah, maka segeralah untuk meminta maaf, seperti yang dilakukan para sahabat Abu Dzar terhadap Bilal

Pada suatu hari, Abu Dzar Al-Ghifari terlibat percekcokan dengan Bilal. Karena kesal, Abu Dzar berkata, “Engkau juga menyalahkanku wahai anak perempuan hitam?” Mendengar dirinya disebut dengan anak perempuan hitam, Bilal tersinggung, sedih, dan marah. Ia kemudian melaporkan hal itu kepada Rasulullah Saw. Beliau kemudian menasihati Abu Dzar, “Hai Abu Dzar, benarkah engkau mencela Bilal dengan (menghinakan) ibunya? Sungguh dalam dirimu ada perilaku jahiliyah.”

Mendengar nasihat Rasulullah Saw. itu, Abu Dzar tersadar dari kesalahannya. Segera ia menemui Bilal. Abu Dzar kemudian meletakkan pipinya di tanah seraya mengatakan, “Aku tidak akan mengangkat pipiku dari tanah hingga kau injak pipiku ini agar engkau memaafkanku.” Namun Bilal tidak memanfaatkan momentum ini untuk membalas dendam. Bilal malah berkata, “Berdirilah engkau, aku sudah memaafkanmu.” Begitulah Abu Dzar dengan mudah dan berani mengakui kesalahan yang ia lakukan bukan dengan sengaja untuk menghinakan Bilal.

Gimana saudaraku, sungguh luar biasa bukan sikap kedua sahabat diatas, ketika Bilal yang dihina oleh Abu Dzar, ia langsung pergi, ia tidak langsung menghardik Abu Dzar, ia tidak berbalas cacian dan makian seperti kebanyakan manusia saat ini, yah.. u know lah.., memang benar ia tersinggung, ia sedih, ia marah, dan itu menurutku adalah hal yang wajar. Ia langsung curhat, ia membutuhkan mediator yang tepat dan bisa melerakan amarahnya dan ketersinggungannya. Coba lihat saudaraku, Bilal pintar dalam mencari tempat curhat, tempat yang bisa menyelesaikan masalahnya dan kegundahan hatinya. Pelajarannya adalah jangan mencari tempat curhat yang tidak adil, yang tidak tepat, yang tidak bijaksana dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Setauku, orang yang sering shalat tahajjud, Allah memberikannya kebijaksanaan dalam menyelasaikan suatu permasalahan, nah.. carilah orang yang seperti itu, kebiiasaan qiyamul lailnya yang muanteb..

Then, Rasul lantas menemui sahabatnya Abu Dzar untuk mengklarifikasi masalah yang diadukan oleh Bilal. Lihat saudaraku, Rasul tidak lantas menasehati Abu Dzar, namun ia meminta kebenaran, terlihat dari kata-kata “Sungguh dalam dirimu ada perilaku jahiliyah.” Didahului oleh kata-kata “Hai Abu Dzar, benarkah engkau mencela Bilal dengan (menghinakan) ibunya” disini kita juga bisa belajar kepada Rasul dalam proses tabayun (klarifikasi) tidak semena-mena menerka dan menjatuhkan vonis terhadap seseorang.

And then, mendengar nasehat dari Rasul, Abu Dzar yang sejatinya tidak ingin lagi jiwa jahiliyah bersemayam dihatinya lagi, ia merasa tertampar, ia merasa malu pada dirinya, Rasul, dan tentunya pada Allah. Lantas ia tertatih-tatih menemui sahabat perjuangannya Bilal untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Ia lalu meletakkan pipinya ditanah dihadapan Bilal untuk meminta maaf. Lihat saudaraku, ia begitu merasa bersalahnya terhadap kata-kata makian yang sudah dibilangnya tadi.

Jujur, ketika membaca “Aku tidak akan mengangkat pipiku dari tanah hingga kau injak pipiku ini agar engkau memaafkanku.” Hatiku berdecak kagum akan Abu Dzar, sangat beda dengan kita sekarang, yang meminta maaf hanya melalui SMS, email, dan lain-lain.. yah.. begitu banyak manusia bermental cuek yang bergentayangan disekitar kita, mungkin saja kita juga bermental seperti itu..

And then, Bilal yang melihat pipi teman seperjuangannya menempel ditanah, ia tak tega dan memberikan maaf kepada Abu Dzar “Berdirilah engkau, aku sudah memaafkanmu.”, karena Rasulullah pernah bersabda “Barangsiapa menahan kemarahan, padahal ia mampu memuntahkannya, maka Allah kelak memanggilnya di hadapan para makhluk hingga Allah memperkenankan kepadanya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki.” (HR. Abu Daud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh al-Albani)

Semoga kisah Abu Dzar dan Bilal (semoga Allah merahmati mereka) menjadi inspirasi dalam berinteraksi terhadap sesama. Mengakui kesalahan dan Memberikan maaf itu adalah sunnah Rasul. Ayo yang lagi punya kesalahan terhadap temannya, segera meminta maaf kepadanya, jangan sampai kata maaf itu terlambat untuk diucapkan, karena pabila terlambat, hanya menjadi suatu yang percuma, dan segala yang telah menjadi percuma atau sia-sia hanya memunculkan rasa sakit dalam hati. Dan bagi yang mempunyai teman yang punya kesalahan padamu, ayo berikan maaf, jangan bersikap angkuh dan cuek, karena memberikan maaf itu lebih baik ketimbang meminta maaf. Selayaknya tangan diatas lebih baik dibandingkan tangan dibawah.

Terakhir taujih Rabbani insya Allah semakin meneguhkan sikap.

“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An Nuur, 24:22)

*kalau saya ada salah, mohon diberikan maaf. Dan pabila kamu ada salah, saya sudah memberikan maaf terlebih dahulu. Afwan Jiddan.*

Jakarta, 22 Oktober 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Iklan

5 thoughts on “Mengakui Kesalahan dan Memberikan Maaf itu Sunnah

  1. mustakim berkata:

    Sungguh indah saling memaafkan dan memulai sesuatu dengan semangat mencari keridhoan Allah SWT trima kasih Saudara tulisannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s