9 juni 2010

jujur… sebenarnya, aku malu untuk mempublish nih curhatan pada tanggal 9 Juni 2010.. tapi, insya Allah bisa diambil ibrahnya dari apa yang kurasa.. ente semua bisa pada belajar dari kehidupanku.. insya Allah

ceritanya agak panjang.. 9 halaman 2 spasi..jadi yg sabar ye mbacanye.. ^^

oh ya.. pada bingungkan kok ada gambar gitar.. nih gitarku.. nih die tersangkanye..

Cekiprot gan….

9 juni 2010

Bismillahirrahmanirrahim

Kakiku bergerak lincah hari ini, langkahnya melebar tak seperti biasanya, velocity-nya lebih cepat dari biasanya. Orang-orang yang melihatku berjalan keheran-heranan melihat polah tingkah berjalanku yang aneh. Betapa riangnya hari ini, semangat memuncak, bibirku tak henti-hentinya tersenyum kepada semua ciptaan-Nya,  hatiku tak lelah tuk melafadzkan hamdalah, dan raga yang jujur saja sakit 2-3 hari kemarin menyurut tertelan keriangan jiwa yang bahagia.

Kondisiku itu berirama dengan alam, matahari pagi ini memberikan sinar terbaiknya, menyengatkan sinar yang mengandung vitamin E yang banyak pada segenap penjuru bumi, ia tak kenal lelah menyambangi semua jiwa, dan kufikir kala itu adalah matahari sedang ikut bergembira akan kegembiraanku.

Kalian pasti bertanya-tanya, kenapa begitu sok puitisnya aku mendeskripsikan suasana hatiku. Maklumkan sajalah teman. Hari ini aku gajian. Setelah sekian lama hidup seperti orang miskin, kategori miskin yang sebenarnya mungkin hanya sebagai pelampiasan egoku saja yang sedang kalut dengan kondisi dimana tak punya uang dan dengan kondisi itu aku harus mengambil langkah yang paling aku hindari selama hidupku, UTANG. aku utang dengan abangku… (dah dibayarkan bang!) Yah.. utang adalah momok mengerikan buatku, karena ia bisa menjelma menjadi dua makhluk yang selalu menemani: khawatir dan aman. Akan tetapi ia cenderung pada satu makhluk yang sering muncul. Yaitu kekhawatiran.  Terkadang bahkan sering khawatir sering menghantui kita ketimbang rasa aman akan berhutang. Aku tak akan terlalu membahas hal ini, kita cukupkan saja ya…

Hore.. hari ini gajian… jarak tempuh yang biasanya kutempuh kekantor selama 15 menit kini hanya 10 menit saja. It’s special for me, you know!.

Sesampainya dikantor, aku memanglah tidak datang selalu awal, karena rekor selama ini dipegang oleh Mas Hendra (Drafter) dan Mbak Lia (QA), aku pasti tak bisa menyaingi mereka, bayangkan saja, secara normal kantor ini masuk jam 08.00 tepat, tapi mereka sudah datang jam 06.30. can u imagine that!.  Pernah waktu itu aku sengaja datang jam setengah tujuh juga, untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkan mereka, ternyata benar saja, ditengah perjalanan hatiku berdesir gembira, karena didepanku ada mas hendra, “wah.. alamat bisa paling awal nih…!” sengaja aku cepatkan langkah, biar bisa duluan dari pada dia, ia melihatku terheran-heran, “nih orang kenapa yah!” terkaku dalam hati.

Setelah masuk lift, nafasku ngos-ngosan karena terlalu bersemangat jalan cepat untuk secepatnya menghilang dari muka mas hendra. Alah.. ada-ada aja..! aku hanya bisa tersenyum-senyum tak karuan membayangkan kembali kejadian barusan. Kupencet nomor 18, sebagai petunjuk bahwasanya aku akan turun, ups.. naek yah.. kelantai 18 dan nomor lift dipapan digital yang terletak disebelah kanan atas lift semakin bertambah saja, semakin keatas semakin membuatku pede bahwa aku akan menang!… akhirnya papan digital lift menunjukkan angka 18, berarti aku sudah sampai, tinggal sedikit lagi mencapai garis finish, kuambil RFID yang ada disaku celana hitamku dan menyekanya di sensor dekat pintu, akhirnya terbuka juga nih pintu.

Kantor masih gelap, tanda-tanda kemanusian belum Nampak tentunya selain OB ya.. karena ini kompetisi antar karyawan.. he..he.. ngeles gue..betapa terkejutnya aku, ternyata eh ternyata mbak Lia sudah stand-By dikomputernya, membuka akun FBnya. Aku yang tadinya gembira menjadi luluh lantah,,, “ah.. besok-besok nggak mau lagi datang cepet-cepet!” gumamku dalam hati dan kesel. Percuma karena nggak ada manfaatnya juga datang paling dan paling awal. Kalau setengah jam sebelum yah masih normal, tapi kalau dah 1,5 jam sebelum, wew nggak kepirikin deh buat yang gituan lagi, cukup kali ini aja.. dengan nada menyapa, maklumlah karyawan baru.

“mba’, cepet banget datangnya?”

Dia jawab

“ ah.. biasa aja..!”

Tak lama kemudia mas hendra datang dengan santai dan kecium bau rokok dari kehadirannya, dengan nada sopan aku bertanya, sok-sok lugu..

“dari mana mas?”

Ia segera jawab dengan lugas.

“tadi gue makan dulu”

Dalam hati kungemeng, “wew.. nih bocah, cepet amir berangkatnya, kalau seandainya ia absen dulu terus makan, gimana coba’? certainly, aku telak kalah dengan dia dan tentunya mbak Lia yang mengagetkanku..Sungguh hari yang aneh pada saat itu…

Back to topic..

Semakin dekat jarak kantor dengan jarak berjalanku, semakin semangat rasa. Ada aura yang aneh, yang juju raja nggak bisa aku deskripsikan dengan jelas, hanya bahagia lah yang bisa deskripsikan, sejujurnya makna hatiku lebih dari kata bahagia. He..he..

Sesampainya dikantor, my workmate ngemeng, “woi.. cerah amat mukamu do? Giliran gajian aja sakitnya langsung hilang.” Ejeknya

“alhamdulillah dah lumayan baikan mas, lagi tahap recovery. Berkat do’amu juga!” jawabku dengan sederhana dan mematikan pertanyaan atau statement berikutnya. Ternyata benar, ia tidak bertanya dan berlalu saja tuk ngambil minuman dipantry. “Yes!” dalam hatiku.

Pengambilan gaji hari ini dijadwalkan jam 09.00 tepat di lantai 10, bagian finance dengan mbak Yuli. Aku siap dengan ke-4 teman sesame OJT (On Job Training). Akhirnya kami pun meluncur melalui lift ke lantai 15 dulu, karena tidak bisa langsung ke lantai 10, jadi harus transit dulu. “Dah kayak airport aja nih gedung!”  ujarku dalam batin pada saat awal-awal pertama masuk kerja. Kami sampai juga dilantai 10, dengan menyapa sang satpam yang kata anak-anak sok belagu, akhirnya ia membolehkan kami ke bagian finance khususnya ke mbak Yuli yang siap memberikan kami check gaji untuk ditukarkan di bank Danamon. Satu persatu nama kami dipanggilnya, aku yang duluan, dalam tiap pengambilan selalu aku yang pertama. “Ah.. senangnya jadi pertama! Be a number one, man!” setelah 5 anak OJT cupu ini dapat satu persatu check yang akan langsung kami tukarkan dengan uang di bank Danamon, kami segera meluncur ke bank Danamon yang letaknya Alhamdulillah nggak jauh, lokasinya dilantai dasar gedung ini.

Di Bank

Bank ini adalah bank yang cukup besar dalam hal ruang untuk transaksi saja menurutku, ornament-ornamen bagus sesuai dengan warna logo bank mereka, cat dinging diserasikan dengan indah dan artistic, tak luput juga dari penglihatan orang yang baru saja datang adalah logo mereka yang terpampang rapi yang ditempelkan dinding dengan ukuran yang besar. Cukup menyita interest para nasabah atau pun yang sedang punya hajat.

Lagi-lagi aku yang pertama masuk, dan tentunya dapat karcis pertama untuk transaksi diBank ini, nomor karcisku 366, dan kulihat dipapan digital bank, mengumumkan secara single-duplex bahwa nomor yang sedang dilayani adalah nomor 364. “wah.. tinggal 2 nomor lagi giliranku.” Senang.

Kami mencari tempat duduk yang nyaman, tak lama duduk, nomor dikarcisku dipanggil dan segera saja aku gerakkan langkah kakiku dengan cepet untuk mencairkan nih check. Tak lupa kuumbarkan senyum pada teman-temanku, untuk membuat iri mereka, mereka hanya tertawa melihat kelakuanku yang nggak normal dari biasanya, mereka yang mengenalku sebagai pribadi yang pendiam, idealis, tegas, dan strive. Melihat gelagat aneh, “jangan-jangan nih bocah kesurupan kali!” prediksiku dalam hati. Aku hanya bisa tertawa dalam hati dan segera sampai dibagian transaksi. Alhamdulillah dengan cukup cepat, uang sudah ditanganku, uang yang dinanti-nanti kehadirannya untuk menemaniku dalam keadaan sepi dari makan enak, dan tentunya membeli buku-buku yang aku sudah incar selama ini ditoko buku.

Kami pun pulang ke kantor untuk melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Maksudnya maen game,  plant vs zombie, Zuma, dll. Dan aku sendiri, ssstttt… diam-diam aja yah.. aku lebih milih baca novel, novel yang sedang ku baca adalah Novel Negeri 5 Menara. Aku sangat appreciate dengan nih novel, karena mengingatkan ku 9 tahun yang lalu mondok disalah satu pesantren ternama dipropinsi sumatera selatan. Wah.. ketahuan saya orang mana… ha..ha..uong kito galo lah

Tak terasa sudah jam 11.35, it’s time to nge-net.! Alah.. bahasanya.. biasanya, temen-temen dah pada hafal nih dengan jam segini dan jam yang juga dinanti-nanti kehadirannya. Nge-net ria pun harus dihentikan karena sudah jam 12.00 tepat, saatnya lunch-time, bagiku hari rabu ini jam 12nya adalah bukan untuk makan, melainkan ada pengajian rabu dzuhur rutin mesjid didekat kantorku, dan aku sering attendance dipengajian itu. Setelah shalat dzuhur berjama’ah ustadz langsung memulai kajiannya…

Minggu ini adalah mengenai tafsir, tafsir yang akan dibahas kali ini adalah tafsir kata “Ar-Rahman dan Ar-Rahim” dalam kalimat setelah hamdalah, setelah minggu yang sama dibulan sebelumnya membahas “Rabbul ‘alamin” beliau menjelaskan dengan bawaan seperti trainer, karena ustadznya adalah seorang trainer dan sering mengadakan training-trainingnya di Jakarta.

Berikut adalah petikan-petikan singkat dalam ceramah sang Ustadz, kurang lebih seperti ini –tapi kayaknya kurang deh.. ampuni hamba ya Rabb:

“jujur saya heran, ketika saya mengisi training untuk para eksekutif, pejabat, dan lain-lain mereka menangis saat muhasabah mengenai “IBU” akan tetapi kita lupa siapa yang memberikan kasih sayang itu kepada ibumu! Coba antum renungkan”

“ketika ada seorang pengemis menyodorkan kantungnya untuk diberikan sekoin atau secarik kertas ribuan, yang antum rasakan apa? Kami menjawab sedih, miris, kasihan, dll. Dan seketika itu antum memberikan uang kepadanya. Pertanyaannya adalah, untuk apa antum ngasih uang itu? Kami menjawab yah.. kasihan ustadz. ‘salah’ jawab ustadz tegas, antum memberikan recehan ataupun uang ribuan itu sebenarnya adalah untuk diri antum sendiri, untuk menghilangkan rasa sedih, miris, kasihan, dll itu yang ada dihati antum!”

“dalam bahasan cinta, jangan kita menggunakan kata jika, namun pakailah kata meskipun. Sebagai contoh, seorang suami mengatkan kepada istrinya, ‘wahai istriku, jika engkau setia kepadaku maka aku akan mencintaimu. Diganti dengan, meskipun engkau tak setia atau setia kepadaku, aku akan tetap mencintaimu dan akan selalu mencoba untuk membuatmu setia padaku.”

Dan banyak lagi yang disampaikan sang Ustadz. Aku seneng bisa hadir dalam majlis ini, karena sejatinya manusia itu butuh charge untuk memulihkan stamina imannya agar tetap fit untuk beraktivitas di bumi ini.

Sehabis dari masjid, waktunya makan, aku biasanya membungkus dan memakannya dikantor, dengan sigap bapak langganan tempat makanku menyendokkan nasi, lauk kebungkus nasi. Cep.. jadi dan segera bertanya harga dan langsung bayar tunai , he..he,, kutenteng deh tuh bungkusan sampai kekantor..

Pulang

Sebenarnya, hari rabu ini adalah jadwalnya maen futsal kantor, karena badanku yang masih kurang fit dan lagi tahap recovery, aku tak ikut, karena tak mau memaksakan diri untuk main futsal, “ntar tambah sakit,” hatiku membenarkan.

Aku tak pulang, seperti kebiasaanku. Aku pasti mampir ke toko buku, hanya sekadar melihat-lihat buku-buku baru, biasanya yang pertama kali kulihat adalah dikolomnya “New Arrival” setelah melihat-lihat puas pindah ke bagian novel. Nah.. disini nih yang lama, karena baru gajian pengen banget beli novel. Satu aja.. karena harganya yang mahal dan rata-rata 50 ribuan keatas, aku urungkan niatku karena aku lebih prefer beli di daerah atrium, aku juga nggak tau pasti tempatnya, katanya disitu ada toko buku semacam palasari di Bandung gitu.. insya Allah bener.

Jam menunjukkan jam 17.45, ini saatnya pergi dari toko buku, langsung kemesjid untuk shalat maghrib berjama’ah. Langsung pulang kekosan,nyampe dikosan, hajatku adalah langsung bayar kosan yang sudah molor 2 minggu buat dilunasin untuk bulan ini. Okelah kalau begitu. Akhirnya aku tak memiliki beban lagi. jujur selama 2 minggu kemarin, batinku merasa berat, dan kalau mau keluar, lihat-lihat dulu, ada bapak kos nggak ya? Terus-terusan seperti itu, bisa kamu bayangkan betapa kayak spy saja diriku ini.. Alhamdulillah semua itu berakhir sudah. Tenang dan Damai yang dirasa.

Adzan isya’ berkumandang, panggilan Allah menyapa semua makhluknya diseantero Jakarta untuk tegak dan jalan menuju masjid. Ketika membahananya panggilan suci itu, ada saja yang tak menanggapinya, dunia terasa indah baginya, dunia begitu melenakannya, aku yakin pasti ia takut mati, karena kata Rasul itu adalah penyakit al-Wahn, al Wahn itu cinta dunia dan takut mati. Kulihat mereka dengan santainya bertawa-tawa ria, masih menjajahkan barang dagangannya kebetulan kosan ku dekat pasar,jadi kalau mau kemasjid lintasi pasar dulu. Astaghfirullah, ampuni mereka ya Rabb, dan ampuni hamba-Mu ini yang hanya bisa menngerutu dalam hati dan lewat tulisan ini.

Setelah shalat isya’ dimasjid, tujuan selanjutnya adlah apa? Yah.. rumah makan, kali ini kakiku kubiarkan melangkah kearah yang tak pasti, mengarah kemana saja ia akan berbelok sesuai perintah otak dan disupport dari hati dan perasaannya. Alhamdulillah, kakiku mengantarkanku kepada warung soto betawi.

Kututup hari ini dengan tulisan 9 juni ini beriringan takbir, Allahu Akbar dan Hamdalah, Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Jakarta, diatas tempat tidur Jam21.58 WIB

CitsuocA (Nama Pena lainku)

Pencari Mata Pena yang Tajam

Iklan

6 thoughts on “9 juni 2010

  1. Rahayu setianingsih berkata:

    oke ana komen deh…

    wehh panjang benar…bahasanya melankolis banget..
    kejadiannya biasanya tapi pembawaannya yang ga biasa, menarik lah..

    ngmong2 gaji pertama buat siapa???buat ibu??buat tabungan haji??tabungan nikah???

    oh ya charger ya…
    kata aktivis di kampus sebenarnya kegiatan charger mencharger ga cuma tilawah atau pun pengajian, aktivitas yang sifatnya ammah pun mampu jadi charger tapi sayangnya kita ga sadar…segala sesuatu yang membuat kita merasa tak lelah melakukannya tapi menimbulkan semangat itu charger ..begitu…

    hutang..hahhh antum mengingatkan ana …bahwa ana punya hutang..kemaren gara-gara baca blog orang tentang mati jadi inget punya utang ihhhh..serem kalo ana mati bawa hutang lum di bayar , ntar nasib ana gimana,…memang hutang seperti di bur ketakutan..

    nah ntu komennya..oh ya sebenarnya hobi aku baca blog orang beberapa blog jadi favorit saya, karena kehidupannya kah, atau karena pembawaanya yang saya suka…
    dan salah satunya kang aldo diantara para blogger yang sering saya baca

  2. Aldo Al Fakhr berkata:

    @Ukh ayu..
    ant memberikan komen terpanjang sepanjang sejarah blog ini dibuat 😀

    Syukron krn sering baca blog ane

  3. Rahayu setianingsih berkata:

    ehmm..heheh biasa aja kok…tergantung berapa banyak dari yang di baca yang bisa di komenin…

    hehe tenang saja ..emang senang baca blog orang…biasanya klo nemu blog yang bagus aku lansung seruput semua tulisannya aku baca…
    dan ada kepuasaan tersendiri udah baca blog-blog itu…selain belajar dari orng lain..aku makin ketara dengan beberapa kerakter yang bisa di baca lewt tulisannya..

    oh ya asal up to date ntar ana baca dehhh heheh

    sipppp

  4. toto berkata:

    gan, ane masih bingung dengan gambar gitar itu? sebab, dari keseluruhan isi tulisan, gak ada penjelasan lebih lanjut kalo tuh gitar jadi tersangka..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s