Di Gerbong Itu (Episode Kereta)

Di Gerbong Itu (Episode Kereta)

Kereta itu menjejalkan rodanya dibatangan rel yang telah rapuh

Hujan membasahkuyupkan gerbong-gerbong kereta kelas ekonomi Jakarta-Depok

Kududuk hampa tak melakukan apa-apa selain duduk dan mengamati sekitar, ini adalah pengalaman pertamaku naik kereta kelas ekonomi, stasiun tebet kali ini tidak begitu ramai karena baru jam 16.00…

Sesosok tubuh mungil belari mengejar-ngejar pintu masuk kereta

Aku hanya terpaku dan terdiam sahaja melihat tingkah lucunya dari kejauhan sambil menunggu kereta benar-benar berhenti

Hujan masih berduyung-duyung membasahi bumi Jakarta, ketika kakiku melangkah dengan sigap masuk ke kereta, hujan mengenai jaket dan rambutku sedikit.

Tapi tidak dengan anak itu, ia begitu semangat menghantam hujan, peluh keringat terhapus air hujan yang membasahi, wajahnya tetap tersenyum sembari menenteng kardus yang sudah dipermak sedemikian rupa untuk menampung barang dagangannya..

Aku sudah masuk didalam gerbong yang tak layak disebut gerbong, bagiku ini adalah kaleng berjalan, sesak dan bising, munkin semua orang setuju akan pendapatku..

Dari kejauhan kulihat sesosok mungin yang telah lama tadi kuperhatikan perlahan-lahan mendekati tempatku berdiri, ia meneriakkan barang dagangannya, berusaha untuk tidak mengemis atau meminta-minta, ia berusaha, aku suka anak ini, ia terlihat keberatan mengangkat dagangannya itu, tapi terlihat tidak masalah berarti baginya..

Ketika akan 1 gerbong lagi menuju kearahku, kereta berhenti di stasiun cawang, ia turun tak berpamit dulu denganku, dengan sekonyong-konyong saja keluar gerbong…

Beberapa detik kemudian, kereta perlahan bergerak kembali, menjejalkan roda-roda besi “rongsokan” ke rel jaman belanda ini..

Aku hanya bisa merenung dan mengambil hikmah apa saja yang barusan kulihat, fikiranku focus pada satu sosok, yah.. anak kecil itu, memberikanku pelajaran luar biasa dalam menjalani hidup, walaupun banyak halangan tapi ia tetap tenang, dan berani menendang masalah, bersedia keluar dari cengkraman hidup yang mudah, yaitu dengan meminta-minta, ia tidak mau, kepercayaan diri, dan kesabaran ketika tidak ada yang mau membeli barang dagangannya, ia terlihat tetap senang menjalani hari-harinya..

Aku berdo’a untuknya, agar diberikan kemudahan dan kesuksesan dalam hidup didunia dan diakhirat.. bisa membawa dirinya, keluarganya, agamanya, dan negaranya kepada kemuliaan karena Allah…

Amin ya RABB

Nb: tulisan ini kupersembahkan untuk seseorang yang memintaku menuliskan hikmah orang-orang biasa yang mempunyai kerja yang luar biasa, diketahui atau tidak diketahui.. afwan tulisannya acak kadut kayak begene.. nggak terbiasa soalnya..

Jakarta, 16 Juli 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Iklan

8 thoughts on “Di Gerbong Itu (Episode Kereta)

  1. Rahayu setianingsih berkata:

    alhamdulillah…banyak hal bisa di lihat dan di ambil pelajarannya,..antum ru pertama kali ya naek kelas ekonomi..ana pernah akhi waktu itu dengan posisi berdiri, dekat toiletnya pula, tas besar.. dan shalat dengan keadaan seperti itu..tapi setelah itu allah berkehendak lain akhirnya aku bisa duduk dengan nyaman di kereta api kelas ekonomi..dalam perjalanan 14 jam…dunia luar yang jarang kita jumpai membuat kita bersyukur dengan kehidupan kita…contoh kecil anak tadi

  2. Aldo Al Fakhr berkata:

    oke.. insya Allah..
    sebenarnya.. ane lagi ngegarap novel.. baru 15 halaman..
    do’ain aj dimudahkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s