Disiplin Mengikis Kemalasan


Kita sama-sama tahu bahwasanya kedisiplinan adalah salah satu pintu menggapai kesuksesan dalam hidup. Berdisiplin dalam segala hal merupakan hal yang mesti dilakukan untuk menggapai keteraturan dan kenyamanan dalam kehidupan. Itu tak dapat dipungkiri.

Kedisiplinan juga merupakan gerbang bagi siapapun jua orang yang mau menggali-dan terus menggali potensi yang ada didalam diri. Siapa yang disiplin menggali potensi maka ia akan dapat hasil dari yang digali, kedisiplinan inilah yang menjadi buah bibir untuk melejitkan potensi menjadi sebuah atau lebih prestasi yang diingini.

Aa’ gym mengatakan bahwasanya untuk memaksimalkan potensi diri, kita mesti

  1. Berniat untuk terus belajar dan mengembangkan diri
  2. Membiasakan diri untuk tidak bergantung dengan orang lain
  3. Selalu berusaha untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan.

Disiplin dalam hal waktu menjadi sebuah fenomena yang penting dalam hal rapat/syuro’ misalnya. Seseorang yang datang terlambat ketika menghadiri syuro’, whereas sudah disepakati bahwa syuro’ akan dimulai jam 06.00, dengan sekonyong-konyongnya ia hadir 06.30. dengan pedenya memberikan alas an, “afwan, tadi ana kesiangan, malamnya ana bergadang ngerjain tugas besar dan besok harus dikumpulkan” dan banyak alas an-alasan yang bertaburan ketika seseorang terlambat menghadiri apapun acaranya. Mungkin sudah menjadi habit kali ya..

Absolutely, berbicara tentang kemalasan tidak sama dengan berbicara tentang kurangnya pengetahuan atau istilah bahasa inggrisnye..leak of knowledge. Mungkin aku yakin ia mengetahui duduk persoalan atau pengetahuan tentang suatu permasalahan yang sedang terjadi tapi tetap tak bisa melakukan yang seharusnya dapat dilakukan dengan dirinya walaupun sesederhana apapun yang bisa dilakukannya. Yang menjadi persoalan inti dari permasalahan ini adalah sikap enggan dan malas.

Kerugian dari perbuatan dan sikap terhadap permasalahn ini akan berdampak signifikan kepada siempunya. Sebagai contoh seorang yang tamat dari sebauh perguruan tinggi ternama, sudah beberapa bulan ia tidak dapat pekerjaan-pekerjaan juga, orang dikampung terus-terusan menanyakan ihwal pekerjaannya, dan begitu juga dilingkungan kampusnya ia terus digumami oleh para temannya, “dah kerja belum?” ini menjadikan ia stress berat dikarenakan desakan-desakan pertanyaan yang sebenarnya ia sudah muak mendengarnya. Karena desakan-desakan itu dan didukung kurang kemauan untuk dekat ke Allah, maka ia memposisikan dirinya kea rah yang membawanya kepada kesenangan-kesenangan sahaja, mulailah ia mengucilkan diri dan hanya bertahan dilingkungan kosannya saja, ia bermain game, nonton film, ga karuan deh pokoknya, sampai malem-malem keluyuran ntah kemana.

Padahal sebenarnya apabila ia berusaha untuk keluar dari zona zaman sedikit saja, dengan tekad dan niat yang bulat untuk mencari nafkah dan kerja, dan dibarengi dengan kedekatan yang intens dengan Allah dalam qiyamullail, shaum, sedekah, dan fasilitas lainnya, insya Allah ia akan bagaikan seekor burung yang keluar dari sarangnya pada fajar dan kembali diwaktu petang dengan membawakan cacing untuk anak-anaknya. Rasa empati yang luar biasa inilah yang menjadi burung tersebut rela untuk meninggalkan sarangnya mencari sesuap cacing (alah.. lebai bahasanye) untuk keluarga tercinta. Aku yakin mahasiswa pengangguran tersebut dapat berpenghasilan. Terlepas dari apapun yang dilakukannya yang penting halalan dan tayiban.

Ada sebuah cerita juga, lagi-lagi tentang mahasiswa (maklum.. rindu dengan status sebagai mahasiswa). Mahasiswa ini anak perantauan, orang tuanya bisa dikatakan mampu. Orang tuanya dengan baik hati memberikan si mahasiswa tersebut motor dengan kredit, dengan alas an antara kosan dan kampus jauh, kasihan kalau jalan kaki, ntar kecapekan dan kondisi belajar terganggu, (hm.. orang tua yang protektif sekali), kembali lagi, suatu hari sang mahasiswa yang memiliki motor baru ini dengan semangat dan rajin membersihkan dan  kalau parker dimananpun selalu menggunakan kunci ganda, sangking protektifnya ia dengan motor barunya dia.  Lama kelamaan, ia digandrungi penyakit malas, karena ia menganggap motornya aman-aman saja selama ini, mulailah ia tidak menggunakan kunci ganda dan meletakkan motornya disembarangan tempat dengan artian tidak tempat semestinya, seperti didepan kosan dengan alas an biar praktis ketika akan mau pergi ke kampus, karena penyakit malas tersebut, motor hadiah orang tuanya yang masih kredit itupun raib dimaling. Sungguh kemalangan tak jauh larinya dari kemalasan. Cam kan itu! (serius amat lu..)

Dari kisah-kisah diatas, aku yakin kamu sendiri bisa menyimpulkan bahwasanya kemalasan itu harus dihindari, dan satu-satunya cara untuk mengikis kemalasan itu adalah dengan menerapkan kedisiplinan. Disiplin adalah harga mutlak untuk mengusir kemalasan dalam jiwa kita. Dan pemilik jiwa ini adalah Allah, makanya kalau mau disiplin, disiplinlah dalam kedekatan kita kepada Allah, insya Allah, Allah akan memberikan kita sikap disiplin dalam berbagai hal, sehingga cita-cita sukses diawal bukan hanya akan menjadi sebuah utopia belaka, namun akan berwujud menjadi sebuah kenyataan. Insya Allah

Wallahu ‘alam

Jakarta, 01 Juni 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Iklan

3 thoughts on “Disiplin Mengikis Kemalasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s