Militansi Dalam Konsitensi

Militansi Dalam Konsitensi

Dua kata penuh ghirah, militansi dan konsistensi. Dua kata ini adalah bagian terkecil dari modal seorang da’i. pabila digabungkan, insya Allah membawa kepada perubahan besar dalam tubuh islam, apabila ini terpakaikan didalam tubuh kader itu sendiri.

Akhi wa ukhti, adakalanya konsistensi kita diuji dengan beberapa rintangan bahkan dalam setiap fase waktu terus-terusan diuji, seakan-akan lelah menempa “tubuh” seseorang da’i. justru itulah dibutuhkan sebuah militansi dalam membangun konsistensi, karena konsistensi tanpa militansi akan cepat tergerus seiring bertambah beratnya ujian. Kalau boleh bisa diibaratkan, militansi itu adalah seperti pundak yang kuat, yang mampu menanggung beban yang begitu berat.. sebuah sya’ir yang sering kita dengar adalah

Pabila ujian itu dating lagi, kutak minta itu berhenti, tapi kuminta pundak yang kuat untuk menanggungnya.

Luar biasa. Disni mengisyaratkan sebuah ke-tsabat-an yang luar biasa. Mohon kepada Allah adalah cara yang bijak selain berusaha menanggung beban tersebut, Allah akan melihat ikhtiar kita, dengan do’a-do’a yang selalu disematkan disetiap periode hentakan nadi dan jantung, insya Allah, Allah akan memberikan “punggung” yang kuat tersebut.

Menjadi seorang da’i/ah merupakan profesi yang luar biasa imbalannya dan juga berkorelasi dengan ujian yang akan dirasa.

Dimulai dengan banyaknya yang “ngincer” tuk jadi pasangan dan banyak yang terpikat, dengan alas an memiliki kepribadian yang baik, tutur bicara yang baik serta retorika yang mantabs mungkin karena sering orasi kali ye.. “tawaran-tawaran” yang sering datang, selanjutnya pujian dari masyarakat sekitar, dan banyak lagi ujian-ujian sepele yang terkadang tergelincir. Maka disinilah dibutuhkan sebuah militansi dalam membangun konsistensi agar tidak terlepas bahkan makin melekat dengan sempurna.

Kita bisa belajar dari sahabat Rasulullah yang luar biasa, siapakah dia? Dia adalah Ka’ab bin Malik, dengan peristiwa yang terkenal pada saat ia tidak ikut berjihad di perang Tabuk yang dikenal dengan perang dimasa-masa paceklik dan suasana yang sangat-sangat panas dan musuh pun seperti biasa lebih banyak ketimbang pasukan muslim. Ia tidak ikut berjihad. Sepulangnya pasukan muslim dari kemenangan dari perang tabuk, Rasul menanyakan kepada para sahabat-sahabat yang tidak ikut berperang, apa alas an mereka tidak ikut berperang, para sahabat pun ditanya satu per satu dan mereka memberikan alas an-alasan yang masuk akal dan dimasuk-masukkan akal, tidak dengan Ka’ab, ia berkata jujur, ia tidak memiliki alas an mengapa ia tidak ikut berperang. Sehingga Rasul pun meng-iqob beliau dengan iqop tarbawi, iqobnya adalah ia diasingkan dari penduduk dengan artian tidak boleh berinteraksi dengan penduduk yang lain, dan ia tidak boleh berhubungan dengan istrinya sebanyak 50 hari. Sungguh luar biasa, can u imagine that?

Raja Ghassan mendengar kabar bahwasanya ka’ab sedang diiqob oleh Rasul, ia memanfaatkan kesempatan ini, karena ia tahu bahwa ka’ab bin malik adalah salah satu kader terbaiknya Rasul, dan ia ingin memanfaatkannya. Ka’ab bin Malik ditawari Raja Ghassan untuk menetap di wilayahnya dan mendapatkan kedudukan yang menggiurkan dan raja ghassan memprovokasinya terus menerus bahwa Rasul sudah berbuat yang keji terhadap dirinya. Tapi semua itu ditolaknya sebab hal itu justru akan menimbulkan mudarat yang jauh lebih besar lagi.

Begitulah saudaraku, ini adalah kader inti dari Rasulullah yang senantiasa memiliki militansi dalam membangun kekonsistenannya. Ia tidak tergiur sama sekali karena ia tahu ini adalah bentuk konsistensinya terhadap islam, ia tidak mau pindah kelain hati karena pabila ia pindah kelain hati maka ia akan rugi, rugi diakhirat kelak karena tidak mampu menjaga kekonsistenannya dalam berisalam dan berjihad dijalan Allah. dan ia tahu janji Allah dan Allah tak akan mengingkari janji.

Taujih Rabbani

“Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (Q.S. Ali Imran: 194)

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (Q.S. Al-Baqarah: 80)

Jakarta, 30 Mei 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Iklan

2 thoughts on “Militansi Dalam Konsitensi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s