Militansi Itu Harus Dibangun

Militansi Itu Harus Dibangun

 

‘Aidh al Qarni menuliskan dalam bukunya yang berjudul Nikmatnya Hidangan al Qur’an. “Satu rakaat yang dikerjakan dengan khusyu’, tulus, dan ikhlas lebih mulia daripada seribu rakaat daru seorang hamba yang lupa, lalai, dan main-main. Membaca satu ayat al Qur’an sambil dihayati dan dipahami adalah lebih baik dari pada mengkhatamkan seluruh al Qur’an tanpa kehadiran fikiran dan tafakur. Menelaah satu halaman dengan teliti, lebih besar manfaatnya daripada membaca berjilid-jilid buku tetapi fikiran kemana-mana. Kualitas harus diutamakan daripada kuantitas.”

Ada yang mengatakan bahwa Satu itu bukanlah perkara yang sedikit asalkan bersama dengan kebenaran dan insya Allah kekuatan akan selalu bersama dengan kebenaran. Luar biasa. Terkadang kita tergopoh-gopoh dalam melangkah untuk memperbaiki diri kita, diri kita selalu terfasilitasi bahkan fasilitasnya mewah. Akhi Salim A Fillah pernah mengatakan bahwa, “ Bukan fasilitas yang menjadi soal, tapi jiwalah yang bermain” lebih kurang bahasanya begitu. Yah.. jiwa ini lah yang harus di install dan selalu diupgrade secara berkala agar tak mudah dimasuki virus-virus jahat yang akan merasuki diri.

Kunci dari jiwa yang selalu diupgrade adalah militansi. Karena militansi adalah inti dari pembentukan karakter jiwa, pembentuk karakter sikap tingkah laku kita dalam berbuat, karakter yang senantiasa membawa kepada kebaikan dan kemaslahatan umat dan bukan untuk memuaskan dirinya saja, karakter yang dengan rela mencurahkan rasa peluh, rasa kantuk, rasa capai, keringan yang mencucur deras, darah yang mengalir membasahi bumi, dan karakter yang selalu merindui syurga-Nya. Allahu Akbar

Militansi dalam hal ini harus dibangun, dengan proses tarbiyah (pendidikan) secara berkala/pekanan (tarbiyah Jama’i) dan juga tarbiyah setiap periode waktu yang dilakukan sendiri (tarbiyah dzatiyah) insya Allah akan terfasilitasi keinginan militansi. Sehingga militansi bukan hanya menjadi sebuah pemanis ucapan ketika orasi “ Mana Militansi Antum!”, bukan hanya sekedar omongan “ Aku harus militant!”, dan lain sebagainya.. tapi insya Allah Militansi Itu Akan Menjadi Keniscayaan.

Allah lah yang memberi militansi dan karakter militan kepada diri kita, selayaknya pula kita selalu berdo’a kepada-Nya.

 

Jakarta, 19 Mei 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s