Orang Manja tak Berhak Memikul Dakwah

tulisanku satu ini sebenarnya dah lama bersarang di hardisk-ku.. baru ada kesempatan tuk postingnya… semoga tercerahkan.. insya Allah.. saya juga masih belajar tuk tidak menjadi orang-orang manja…

Orang Manja Tak Berhak Memikul Dakwah


Wahai Saudaraku yang kucintai dan yang Allah cintai

Jalan dakwah yang ana dan antum lalui ini bukanlah jalan yang dipenuhi dengan kesilauan permata yang membuat mata mengagumi dan mendekatinya, bukanlah jalan yang dipenuhi keindahan pemandangan yang ketika melihatnya membuat takjud dan seketika berujar “Subhanallah”, bukanlah jalan yang ditaburi dengan kesturi yang wanginya sungguh membuat fikiran melayang kepayang, bukanlah jalan yang langitnya dipenuhi pemandangan indah dimalam hari yang mana firework bertumpah ruah dilangit-Nya dan ketika itu kita bisa berlama-lama melihatnya karena warna-warninya kembang api tersebut, dan bukanlah pula jalan yang disuguhi kesenangan yang pasti digerumuni manusia yang berebut akannya.

Namun jalan ini adalah jalan yang penuh akan hadangan dari para musuh, penuh duri ketika akan berjalan diatasnya, jalan yang penuh lika-liku yang menipu, jalan yang tidak semua mau menapakinya, dan pula jalan yang membutuhkan mahar untuk melewatinya, maharnya adalah energi, harta, peluh, darah, bahkan nyawa ana dan antum. Pertanyaannya adalah, siapkah kita?

Tahukah saudaraku yang kucintai dan yang Allah cintai dan mungkin antum telah tahu dan bahkan lebih faham ketimbang ana, bahwa telah banyak sejarah yang terukir dari para pendahulu kita, generasi yang mulia, generasi awal, generasi sahabat, generasi tabi’in, generasi tabi’ut tabi’in, dan seterusnya. Mereka telah merasakan manis getirnya perjalanan dakwah ini, jalanan yang sama yang sedang kita jalani pula. Ada yang disiksa dengan sekeras-sekerasnya dan sekejam-kejamnya oleh musuh kita. ada pula yang harus berpisah kaum kerabatnya. Ada pula yang diusir dari kampung halamannya. Dan sederetan kisah perjuangan lainnya yang telah mengukir bukti dari pengorbanannya dalam jalan dakwah ini. Mereka telah merasakan dan sekaligus membuktikan cinta dan kesetiaan terhadap dakwah. Kisah-kisah itu pabila dituliskan pada sebuah buku maka dapat dipastikan jumlah halamannya lebih dari ratusan juta dan tinta yang digunakan untuk menuliskannya berton-ton liter yang digunakan. Luar biasa. Pertanyaannya adalah, apa yang kita ambil dari berjuta-juta halaman itu? Apakah hanya sebagai penikmat dikala sepi atau hanya  sebagai pengantar tidur? Sadarlah saudaraku yang kucintai dan yang Allah cintai.

Cobalah kita tengok kisah Dzatur Riqa’ yang dialami sahabat Abu Musa Al Asy’ari dan para sahabat lainnya –semoga Allah swt. meridhai mereka-. Mereka telah merasakannya hingga kaki-kaki mereka robek dan kuku tercopot. Namun mereka tetap mengarungi perjalanan itu tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan, mereka malu untuk menceritakannya karena keikhlasan dalam perjuangan ini. Keikhlasan membuat mereka gigih dalam pengorbanan dan menjadi tinta emas sejarah umat dakwah ini. Buat selamanya.

Wahai Saudaraku yang kucintai dan yang Allah cintai

Pengorbanan yang telah mereka berikan dalam perjalanan dakwah ini seharusnya menjadi suri teladan bagi kita semua- ana dan antum-. Karena kontribusi yang telah mereka sumbangkan untuk dakwah ini tumbuh bersemi bagaikan bunga mawar yang mekar, wangi semerbak menggugah jiwa yang sepi akan bahagia. Dan, kita pun dapat memanen hasilnya dengan gemilang. Kawasan Islam telah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Umat Islam telah mengalami populasi dalam jumlah besar. Semua itu karunia yang Allah swt. berikan melalui kesungguhan dan kesetiaan para pendahulu dakwah ini. Semoga Allah meridhai mereka.

Renungkanlah pengalaman mereka sebagaimana yang difirmankan Allah swt. dalam surat At-Taubah: 42.

Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu. Tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka, mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah, “Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.

Mereka juga telah melihat siapa-siapa yang dapat bertahan dalam mengarungi perjalanan yang berat itu. Hanya kesetiaanlah yang dapat mengokohkan perjalanan dakwah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cobaan dan ujian. Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kesuksesan. Kesetiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa patriotik untuk berada pada barisan terdepan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya. Setia dalam kesempitan dan kesukaran. Demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan.

Wahai Saudaraku yang kucintai dan yang Allah cintai

Marilah kita telusuri perjalanan dakwah Abdul Fattah Abu Ismail, salah seorang murid Imam Hasan Al Banna yang selalu menjalankan tugas dakwahnya tanpa keluhan sedikitpun. Dialah yang disebutkan Hasan Al Banna orang yang sepulang dari tempatnya bekerja sudah berada di kota lain untuk memberikan ceramah kemudian berpindah tempat lagi untuk mengisi pengajian dari waktu ke waktu secara maraton. Ia selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain untuk menunaikan amanah dakwah. Sesudah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya, ia merupakan orang yang pertama kali datang ke tempatnya bekerja. Malah, ia yang membukakan pintu gerbangnya.

Pernah ia mengalami keletihan hingga tertidur di sofa rumah Zainab Al-Ghazali. Melihat kondisi tubuhnya yang lelah dan penat itu, tuan rumah membiarkan tamunya tertidur sampai bangun. Setelah menyampaikan amanah untuk Zainab Al Ghazali, Abdul Fattah Abu Ismail pamit untuk ke kota lainnya. Karena keletihan yang dialaminya, Zainab Al Ghazali memberikan ongkos untuk naik taksi. Abdul Fattah Abu Ismail mengembalikannya sambil mengatakan, “Dakwah ini tidak akan dapat dipikul oleh orang-orang yang manja.” Zainab pun menjawab, “Saya sering ke mana-mana dengan taksi dan mobil-mobil mewah, tapi saya tetap dapat memikul dakwah ini dan saya pun tidak menjadi orang yang manja terhadap dakwah. Karena itu, pakailah ongkos ini, tubuhmu letih dan engkau memerlukan istirahat sejenak.” Ia pun menjawab, “Berbahagialah ibu. Ibu telah berhasil menghadapi ujian Allah swt. berupa kenikmatan-kenikmatan itu. Namun, saya khawatir saya tidak dapat menghadapinya sebagaimana sikap ibu. Terima kasih atas kebaikan ibu. Biarlah saya naik kendaraan umum saja.”

Betapa luar biasanya mereka saudaraku. Adakah kita mengikuti mereka? Adakah kita ingin mengikuti langkah-langkah mereka? Langkah yang begitu mantap dalam melangkah seolah tak ada kata ragu ditiap langkahnya, dan itu terlihat.

Cobalah kita lihat diri kita yang banyak mengeluh akan amanah yang pabila diukur dengan orang-orang terdahulu tidak ada apa-apanya. Coba pula kita simak cerita seorang ikhwah palestina yang telah berlama-lama meninggalkan kampung halaman dan keluarganya untuk membuat mencari dukungan dunia dan dana diwawancarai. “Apa yang membuat Anda dapat berlama-lama meninggalkan keluarga dan kampung halaman?” Jawabnya, karena perjuangan. Dan, dengan perjuangan itu kemuliaan hidup mereka lebih berarti untuk masa depan bangsa dan tanah airnya. “Kalau bukan karena dakwah dan perjuangan, kami pun mungkin tidak akan dapat bertahan,” ungkapnya lirih.

Saudaraku yang kucintai dan yang Allah cintai.

Disini ana hanya ingin mengajak ana pribadi dan antum merenungi dan memutaba’ahi diri. Apa yang sudah kubuat tuk dakwah? apa bentuk komitmen ku terhadap dakwah? mungkin barangkali iltizam itu hanya sekadar omongan belaka biar ikhwah lain senang mendengarnya. Perbaiki orientasi kita yang jauh dari Robbaniyah. Perbaiki saudaraku.

Janganlah kita berleha-leha, yang hanya terpasung dikamar yang penuh akan fasilitas dan kenikmatan duniawi tanpa memperdulikan keadaan sekitar apalagi dakwah islamiyah. Ingat wahai saudaraku yang kucintai dan yang Allah cintai, dakwah ini tidak akan pernah berhak dipikul oleh orang-orang yang manja. Militansi aktivis dakwah merupakan kendaraan yang akan menghantarkan kepada kesuksesan dakwah yang korelasinya tentu ke kembalinya izzatul islam dimuka bumi ini. Semoga Allah selalu mengikat persaudaraan kita dijalan-Nya, tentu jalan yang diridhai oleh-Nya.

Bandung, 08 Desember 2009

Aldo Al Fakhr

Iklan

5 thoughts on “Orang Manja tak Berhak Memikul Dakwah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s