Biarkan Allah Saja yang Memilihkan

Biarkan Allah Saja yang Memilihkan

“Wah…wah… ngomongin apa nih akh aldo..!”

“Ane tau arah bahasan antum akh!”

“Ane tunggu undangannya ya akh!”

“Sedang proses atau mau akan akh..?”

aku yakin, ndak semua ngerti ketika saya menuliskan atau mengatakan kalimat sederhana namun padat makna seperti “Biarkan Allah Saja yang Memilihkan”. Hanya orang-orang yang berjiwa peka saja yang ngerti…semoga saya salah memberikan pernyataan..

ya..aku yakin bahwa Allah telah menggariskan atau memasangkannya dengan diriku, jadi apalah yang mau dirisaukan. Tak ade nye! Dan rasanya tidak berhak rasanya diri yang hina ini untuk merisaukan dan menerka-nerka… ketika diri ini merisaukan dan menerka-nerka maka si syetan masuk kecelah itu, membuat diri ini menjadi was-was, ngelantur pikirannya, dan lain sebagainya yang dibuat oleh si syetan itu. Dan si syetan merasa bangga karena telah memasuki celah yang seharusnya tak diberikan sedikitpun…

Aku ingin ia indah saat tepat pada waktunya

Pabila rasa itu mengepung jiwa yang sendiri

Biarlah rasa itu bersemi menjadi kebaikan

Pabila pernikahan itu belum ditangan

Please, don’t surrender!

Tetaplahkan ia bersemi dihati jiwa yang sendiri

Agar dapat melahirkan keshalihan pada diri

Mempersiapkan esok hari-hari penuh kejutan bersama dirinya

Dua hari yang lalu, aku memberikan intermezzo dalam halaqah yang kupegang…

Aku mengatakan:

“Akhi yang ana cintai karena Allah.. sesungguhnya pabila seorang aktivis dakwah orientasinya dalam berdakwah ini karena “akhwat”, maka itu bukanlah suatu kewajaran tapi kekurang ajaran (mungkin karena kurang diajari oleh murabbinya)”

Salah satu binaan ana bertanya: “maksdunya apa akh? Ana belum paham maksud antum!”

“Begini akhi.. pabila antum tertarik dengan seorang akhwat karena dalam bingkai dakwah, berjuang bersama, dan siap menggenapkan setengah dien padanya dengan syar’I maka itu adalah sebuah kewajaran.”

Dan aku lanjutkan dengan cerita si Bilal dan si Bolal…

“Akhi.. antum pernah dengar cerita si Bilal dan si Bolal lum?”

Binaan ku menjawab “ Wah.. belum akh..!”

“Kalau sahabat  Rasulullah si Bilal Ra antum tahu kan?”

“Yupz”

“Nah.. cerita si Bolal ga jauh beda sama dengan si Bilal.. . Suatu hari Bolal ketahuan majikannya telah mengikuti agama Muhammad. Oleh majikannya, leher bolal diikat kuat-kuat dengan tali dan tangannya dipasung, lalu dikeluarkan dari rumah dan dibawa kepadang pasir yang luas dan diterik matahari yang begitu panas. Sungguh, seandainya sepotong daging diletakkan ditempat itu, niscaya dalam beberapa saat keringlah daging itu.

Dipadang pasir itu, tubuh Bolal ditelentangkan menghadap matahari, diatas dadanya diletakkan sebuah batu besar. Lalu tuannya berkata, “Kamu tidak akan kulepaskan dari siksaan ini, kecuali jika kamu mau mendustakan Muhammad dan mengikuti agamamu yang dahulu, menyembah berhala Lata dan ‘Uzza! Mendengar perkataan sang majikan Bolal menjawab dengan tegas, tanpa ada rasa gentar sedikitpun:

“Akhwat! Akhwat! Akhwat!”

“Nah ikhwah fillah, apa ibrah dari cerita si Bilal dan si Bolal ini?”

“Ibrah dari cerita ini adalah bahwasanya si Bilal dan si Bolal memang sama-sama berada dalam satu jalan dakwah yaitu jalan yang terang-benderang, akan tetapi yang membedakan mereka adalah orientasinya, kalau Bilal orientasinya adalah Allah, sedangkan si Bolal orientasi bukan Allah.. nah sekarang, antum mau jadi si Bilal atau si Bolal?”

Dan aku melanjutkan: “ Pabila orientasi seorang itu salah maka dapat diibaratkan seperti sebuah mangkuk yang terlungkup dan ingin diisi air maka yang terjadi mangkuk itu tidak akan pernah terisi oleh air, dan bila diibaratkan pahala itu seperti air sehingga kita tidak akan pernah dapat pahala dari kerja dakwah kita.”

Pastinya semua ingin menjadi Bilal kan? Hanya antum dan Allah saja yang tahu isi yang terselubung dalam hati…

Semoga ini menjadi tadzkirah bagi aku sendiri dan antum semua……

Yah… seperti itulah. Sewajarnya saja ketika dalam wajihah dan kepanitian akan adanya koordinasi antara ikhwan dan akhwat, dan aku pribadi pun sering berkoordinasi ketika berada dalam wajihah… namun disinilah butuh manajemen koordinasi, dan ini seharusnya menjadi agenda bersama para ikhwah utk melaksanakannya… bagaimana pun caranya, apakah daurah, lailatul khatibab (MABIT), tastqif, dalam liqo’at masing-masing, dan lain-lain. Sehingga VMJ pun insya Allah akan berkurang.

Semoga Allah menguatkan tancapan kaki kita dijalan ini, memilihkan yang “terbaik” menurut-Nya, dan yakinlah itulah yang akan membawa mahligai R***H T***GA kita menuju mahligai syurga.. Amin..

Sekali lagi kuingin berujar: Biarkan Allah saja yang Memilihkan!

Jakarta, 11 April 2010

Aldo Al Fakhr

MM SKI IT Telkom

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

8 thoughts on “Biarkan Allah Saja yang Memilihkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s