Menulis Itu Pekerjaan Hati

Menulis Itu Pekerjaan Hati


menulis

“Karya-karya legendaris menyimpan makna dalam untaian kalimat sederhana.”

“Karya-karya sederhana menyembunyikan makna dalam kata-kata yang susah dikunyah.”

(Muhammad Fauzil Adhim dalam bukunya Inspiring Words for Writers)

Bagiku, seorang manusia yang mengabdikan dirinya kepada dunia kepenulisan. Insya Allah tetap istiqamah dalam dunia ini. Ingin hidup penuh kebermanfaatan. Memberi dan membagi. Bukan meminta dan mengemis. Dari dalam relung hatiku, kuyakin bahwasanya menulis itu adalah pekerjaan hati seorang pujangga. Melukiskan gambaran-gambaran indah kehidupan melalui kata-kata mengalir penuh makna. Menggoreskan tinta warna-warni kehidupan dalam sebuah huruf, kata, kalimat, paragraph, dan tulisan utuh. Pabila tulisan itu penuh makna, ia akan abadi, tak lekang dihadang masa, petang tak menyilaukan malam bahkan menurutinya, ia sebagai bukti cinta suci dihadapan sang Khalik. Sungguh beruntung pujangga itu. Tulisannya seharum setanggi  syurga. Sekali lagi kuujarkan bahwasanya menulis itu pekerjaan hati.

Segumpal darah. Qalbu. Hati. Apapun namanya. Ia penentu dari segala potensi yang ada pada manusia. Oleh karena itu, hati inilah yang harus ditujukan kepada kebersihan dari kotoran dan debu yang menghiasinya. Sungguh tak ada yang mau kaca hiasnya berlumuran debu, tentu akan menganggu pemandangan keindahan wajahnya, dengan penuh rasa syukur penuh takzim tatkala melihat anugerah Allah bernama wajah. Seperti itulah jua hati, pabila hati ini penuh debu, ia akan menghalangi dari pandangan iman dan islam. Buta akan kebaikan. Terlena akan kemaksiatan. Merasa nyaman akan dosa. Dan ironis bangga ada dosa. Na’udzubillah.

Hati akan menggerakkan seorang pujanggan menggoreskan penanya. Mengalirkan huruf-huruf penuh tanda, kata-kata penuh makna, kalimat-kalimat penuh hikmah, pargraf-paragraf penuh berkah, dan tulisan yang penuh manfaat perubahan. Hati akan membawa seorang pujangga kepada kemudahan dalam mengalirkan kata-kata yang indah. Tak kesusahan dalam merangkai kata, tak kepayahan memilah-memilih kata-kata yang pas untuk digoreskan. Karena hatilah yang akan menggoreskan. Ia langsung keluar dalam benak, tak perlu waktu lama untuk berfikir. Semua yang ada di outside dirinya adalah ide, ia merubah ide itu kepada tulisannya, sehingga menjadi lebih kaya akan gagasan dan kemampuan mempengaruhi. Dalam heningnya pun ia menggoreskan hikmah tuk dituliskan. Sakit yang dirasakannya pun menjadi  penuh kebermanfaatan. Intinya adalah ia mampu menggerakkan kepada sinar cahaya tulisan. Menerangi lorong-lorong penuh gegap gempita. Menjadi pelita dikala tak ada cahaya. Ia juga adalah lambang teman sejati sang pujangga. Menemaninya untuk tegar dalam meniti dunia kepenulisan. Ia tetap setia walau air mata berlinang membasahi. Bersama-sama mengenggam panji kemenangan kemuliaan islam (izzatul islam).

Setiap sudut dalam episode kehidupan ini menceritakan kisah. Kisah seorang pujangga yang memiliki hati bersih yang karyanya begitu luar biasa merubah arahan dunia dan jiwa manusia. Menjadi penuntun, peringatan, pencerahan, penggembira, dan lain-lain. Pujangga itu adalah Ibnu Sina yang menulis sebuah kitab kedokteran yang begitu mencengangkan dunia dan menjadi rujukan fakultas kedokteran seluruh dunia. Ibnu Qayim al Jauzi, seorang ulama yang tak henti-hentinya berdakwah termasuk lewat tulisan, karya-karyanya sungguh mengunggah, bahasa yang digunakan sungguh menyentil para pembaca untuk segera berubah. Diantara kitabnya adalah: Jangan dekati zina, Mawaridul Aman, Kunci Kebahagiaan, Tamasya ke Syurga, Samudera air mata, dan lain sebagainya. Pujangga kontemporer yang lain adalah Hasan al Banna dengan risalah-risalah dakwahnya, Sayyid Qutb dengan tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Dr. Yusuf Al Qaradhawi dengan ratusan karyanya yang berjiwa harakah, Sayyid Sabiq dengan fiqih sunnahnya, dan lain-lain. Mereka telah membawa islam muncul kepermukaan, tak takut apa lagi gentar berhadapan dengan musuh. Mereka tahu bahwa umat ini sudah jauh dari kesucian islam, sehingga mereka mengambil langkah perubahan melalui karya-karya mereka dengan mengajak tuh berjuang bersama-sama dalam memperbaharui dan meningkatkan komitmen, tsaqafah, fikrah, bahkan aqidah. Semoga Allah memuliakan mereka dengan tulisan-tulisan mereka. Yah.. mereka menulis memakai hati. Lalu, apa yang kita ambil dari mereka? Apakah hanya sebagai penggembira saja, penikmat saja, atau bahkan menjadi sang pengkritik ulung tanpa berbuat apapun.

Menulis itu pekerjaan hati. Seorang penulis yang memiliki qalbun salim. Hati yang bersih. Pastilah akan melahirkan karya-karya tulis yang memiliki pengaruh kuat dan makna yang mendalam. Tak usang dimakan usia. Tak merasa sendiri dikala sepi akan karya. Ia selalu tetap hidup. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah kita memiliki qalbun salim?

Menulis itu pekerjaan hati. Seseorang penulis yang tidak memiliki qalbun salim. Tulisannya tidak akan berpengaruh besar terhadap perubahan peradaban. Singkat dan tak mampu bertahan diinterversi keadaan. Lemah lelah tak punya gairah dalam merubah. Kalaupun merubah palingan Cuma bertahan sementara. Tidak mengakar dan berbuah.

Berubahlah saudaraku! Menulislah dengan hati yang bersih. Bersih dari orientasi yang melukai dan orientasi yang memprovokasi. Sudah saatnya menulis penuh kemanfaatan dan sudah saatnya menjadi penulis besar, besar bukan karena banyaknya pembaca, namun besar karena tulisan yang dilandasi oleh hati yang bersih.

Oh.. my friends

Take my hand and take my heart

We can change the world with our written

I believe, we can!!!

Insya Allah… Innallah ma’ana

Bandung, 1 Maret 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger dan Penulis Pencari Spirit yang Hilang

Iklan

11 thoughts on “Menulis Itu Pekerjaan Hati

  1. Kang Bondan berkata:

    hmm. seneng dengan kutipannya. memilih menulis sebagai bidang dakwah juga tergantung minat bakat pribadi masing2. teman saya ada yang ga begitu suka nulis. sukanya berorganisasi… maksudnya kalo ada pendakwah yang lebih menonjol kecerdasan bahasa nya, ia akan cenderung dakwah lewat tulisan. kalau dia golongan orang yang “can get things done,” ia cenderung terjun langsung ke lapangan. semuanya bermanfaat. berdekap dalam dekapan ukhuwah. “ngutip judul bukunya akh salim” hehe

  2. Qefy berkata:

    Aduhaaaai, benar tulisan ini terbit dari hati. Saya suka menulis, kalau ada kata yang kurang pas saya delete, delet lagi dan lagi sampai menemukan kata itu terbit dari hati. Akh Aldo, keren postingannya. Menginspirasi 🙂

    Salam Bloofers 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s