Nasehat ini yang kita perlukan

Nasehat ini yang kita perlukan


Sebuah pertanyaan yang pernah diajukan seorang shalih bernama Muhammad bin Wasi ’rahimahullah kepada orang-orang di sekelilingnya, “Apakah kalian heran, jika kalian melihat seseorang menangis di surga?” Orang–orang yang berada di sekitar Muhammad bin Wasi ’ menjawab pasti, “Tentu saja kami heran wahai Syaikh.” Lalu Muhammad bin Wasi ’ mengatakan, “Seharusnya kita lebih heran bila melihat seseorang yang masih hidup di dunia, tertawa terbahak, sementara ia belum tahu bagaimana akhir perjalanannya di akhirat kelak…”

Sungguh bijak apa yang dikatakan oleh Muhammad bin Wasi’ Rahimahullah. Membuat orang yang mendengar kata-katanya tersentak sadar atas apa yang ada dalam dirinya. Dan meyakininya. Sungguh luar biasa nasehat itu. Mengena dan menyindir orang yang hanya bisa mendoerkan bibirnya akibat sering berkata yang tak penting dan melebarkan mulutnya akibat tertawa terbahak-bahak yang berlebihan. Na’udzubillah.

Ya Allah lindungi hamba dari perkataan yang tidak berguna dan umur yang penuh kesia-siaan.”

Nasehat bagi seorang mukmin adalah sebuah pancaran kasih sayang dan curahan rahmat diuntaian kehidupan dan dalam mata usia kita. Nasehat itu bagiku adalah pengisi ruhiyah yang acap kali alpa mengingat-Nya, tamparan keras bagi muka masam yang malas untuk sedekah, sayatan bagi hati yang terkotori oleh maksiat yang selalu dikerjakan. Tapi nasehat itu juga adalah semilir angin kesejukan dikala panas mendera jiwa, jiwa tentram karenanya. Sungguh nasehat itu kurindui dan kunanti agar menjadi penghias diri dalam jenak-jenak kehidupan ini…

Sungguh keperluan yang mendesak bagi seorang mukmin agar diberikan nasehat. Ia sangat mengharapkannya dari seorang sahabatnya ataupun manusia yang lain. Karena ia tahu, ia tidak bisa sendiri dalam mengarungi samudera kehidupan ini, karena dakwah tak kenal kata lelah sampai kita sendiri yang lelah karenanya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, “Apakah kita sering meminta nasehat atau mencari nasehat?”

Tak disadari, kita sering bersikap egois, merasa paling besar, tak mau dengar kata orang, bersikap acuh dengan kondisi sekitar. Sejumput nasehat pun tak mau didengar. Na’udzubillah. Padahal dirinya rapuh tak berdaya, malas-malasan, dan tak punya gairah dalam berjalan menelusuri terjalnya jalan lurus. Apa lah jua mau diharapkan dari orang yang seperti itu, tak mau berkontribusi, tak mau mengeluarkan keringat bau’nya, secuil darah kotor penuh najis didalam dirinya, secuil rezeki halal dalam dirinya. Tak ada yang diharapkan betul. Maka mati sajalah kau!!

Renungkanlah firman Allah,

“…Dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapatkan petunjuk.” (QS.An Naml:24)

Sebenarnya nasehat itu banyak sumbernya, dasar kita saja yang tak mau ikhtiar mencari hidayah (nasehat) itu. Dari Al-qur’an, Al-Hadist, Sirah nabawiyah dan sahabat, sirah para salafusalih, ustadz atau guru, buku-buku, nasyid, dan lain sebagainya. Cobalah tengok saudaraku, pastilah disana banyak mengandung mutiara hikmah yang bisa diambil dan dipolesi dalam dirimu, sebagai perhiasan akhlaq, peningkatan iman, dan pemompa ghirah dakwah.

Dalam meminta nasehat, pintalah kepada orang yang diketahui memiliki keluasan ilmu khasanah islam yang luas yang tak tersekulerisasi. Mengetahui syari’at dan dalil. Agar tak tersesat dalam berjalan. Dan ketika engkau telah memiliki ilmu akan nasehat itu, sampaikanlah pula kepada saudaramu yang lain, agar dunia ini penuh nasehat, menjadi penerang dikala arus liberalisasi melanda, penyelamat dari fikrah yang terkotori al wahn, dan penentram dari keramaian aktivitas tak punya manfaat.

Dengarkanlah lagi, sebuah dialog penuh nasihat dan sindiran yang menyadarkan antara seorang shalih, Hasan Al Bashri, dengan seseorang yang ada di sampingnya. Saat pemakaman jenazah, Hasan Al Bashri rahimahullah bertanya pada seseorang, “Menurutmu, jika dia kembali hidup di dunia, apakah ia akan melakukan amal shalih?” Orang itu menjawab, “Ya, pasti.” Hasan Al Bashri menyambut perkataan itu dengan jawaban, “Jika ia sudah tidak mungkin hidup kembali di dunia untuk melakukan amal shalih, engkaulah yang seharusnya sekarang melakukan amal-amal shalih…”

Wallahu’alam

Bandung, 13 Februari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Iklan

2 thoughts on “Nasehat ini yang kita perlukan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s