Open Your Heard

Open Your Heard

Unzhur maa qaala wa laa tanzhur man qaala

Ada yang tau artinya?

Artinya adalah “Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang berkata”

Kata-kata diatas merupakan pesan dari seorang sahabat Rasul yaitu Ali bin Abi Thalib. Pesan yang sungguh bijak dari seorang sahabat. Terkadang kita jarang sekali mendengarkan suatu ucapan dari seseorang yang kita benci misalnya atau yang kita kurang senangi mungkin karena sifatnya, cara bicaranya, dan lain-lain walaupun itu adalah perkataan yang benar. Disini kita sepakati dulu bahwa perkataan yang benar dari seseorang itu datangnya dari Allah dan kalau tidak benar maka datangnya dari kekhilafan pribadi.oke.. sepakat kan? Aku yakin pastilah sepakat bahkan kita pun juga sering menggunakan kata-kata tersebut diakhir sesi presentasi, ceramah, “ngisi”, dan lain-lain. Nah.. kalau sudah sepakat bahwa perkataan yang benar itu datangnya dari Allah. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, kenapa kita tidak mau mendengarkan perkataan benar dari seseorang yang kita tidak senangi? Nah loh… ayo yang merasa begitu.. jangan Cuma senyam senyum. Ini adalah tamparan yang keras kepada kita yang sedemikiannya egois berlandaskan emosi dalam bertindak. Tahukan anda, bahwa yang anda lakukan itu dipengaruhi oleh syaitan yang tentu saja mengajak kita untuk membenci saudara kita, memprovokasi ukhuwah kita, dan menyuruh untuk tidak menghargai saudara kita, tidak adanya tabayun terlebih dahulu, maunya hanya menghakimi tidak mau mengevaluasi diri terlebih dahulu. Wah..wah.. ini namanya bukanlah pejuang sejati, karena

pejuang sejati itu adalah berani mengkoreksi dirinya.

Jangan mudah terprovokasi atas berita yang belum tentu kebenarannya apalagi menyebarkannya justru itu nantinya akan menjadi fitnah. Sama-sama kita tahu bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Oleh karena itu saudaraku telisik dulu kebenaran berita tersebut, apakah benar ia berbuat demikian? Tanyakan dengan teman dekatnya bahkan kalau perlu tanyakan kepada keluarganya. Sehingga ketsiqahan akan semakin terkikis, prestasi amal pun ikut-ikutan menipis. Janganlah ujung-ujungnya menangis. Na’udzubillah

Allah Swt berfirman

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS, Al-Hujurat: 6)

Ayat diatas menyuruh kita kepada sikap tabayun. Maka sudah sepatutlah bagi tiap-tiap diri manusia itu agar tidak bergosip/ghibah. Apalagi yang dibicarakan itu belum tentu benar perkaranya dan tentu saja dosalah yang akan kita dapatkan.

Cobalah dipikirkan perasaan saudara anda ketika anda tidak menghargai apa-apa yang telah dikerjakannya dan diucapkannya. Ini mengindikasikan bahwa kita belumlah sampai pada tahap tafahum, mungkin tahap ta’aruf pun kita belum lulus, belum begitu mengenal latar belakang keluarganya seperti apa, latar belakang organisasinya seperti apa. Karena kalau kita sudah mengenal latar belakangnya dengan sedetik mungkin –kalau bisa- maka insya Allah tahapan tafahum pun akan menjadi keniscayaan.  Dan pikirkanlah pula bilamana kita berada di posisi sebaliknya. Mungkin kita akan beremosi ria terhadap apa yang telah dilakukan saudaramu sendiri.

Sekali lagi saya ingin mengulang pesan dari sayyidina Ali, “Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang berkata” insya Allah dengan berbuat demikian maka segala ilmu yang didapat dari orang tersebut akan menjadi maksimal didapatkan dan tentunya ukhuwah pun akan semakin erat.

Jangan egois, pintalah maaf kalau bersalah dan tidak bersalah, mungkin kita merasa tidak pernah bersalah tapi mungkin kesalahan kecil acap kali kita lupakan, itulah yang harus kita pintakan maaf ke saudara kita. Bukalah pintu maaf yang sebesar-besarnya kepada saudara kita, Allah saja membuka pintu tobat selebar-lebarnya kepada para hamba-Nya. Kita yang begitu lemah dan hina tidak mau memaafkan saudaraku kita.

Teruntuk saudara/saudariku yang membaca tulisan ini, dengan segenap hati aku meminta maaf atas apa yang telah kulakukan selama ini, perkataan yang kasar, perbuatan yang tak berkenan dihatimu, dan sakitnya hatimu karena diriku yang hina ini. Dan tentu saja wahai saudaraku/saudariku, kesalahan-kesalahanmu pun telah aku maafkan. Kuharap ukhuwah tak layaknya batu, keras dan menyakitkan, tak mengantarkan kita ke syurga karena kerasnya ukhuwah itu.

Syaikhut Tarbiyah, Ustadz Rahmad Abdullah Rahimullah mengatakan bahwa, “ ada dua hal yang harus dilupakan yaitu kesalahan saudara kita dan kebaikan kita kepada orang lain. Dan ada dua hal pula yang harus kita ingat terus yaitu kebaikan saudara kita dan kesalahan kita kepada orang lain.”

Insya Allah ketika telah mengamalkan kata-kata diatas, yakinlah dan sekali lagi yakinlah hidup akan tenang tanpa ada perselisihan yang berarti yang dapat merusak tubuh ukhuwah islamiyah.

Angin kau nyanyikanlah lagu

Dayuhlah sampaikan berita maaf itu

Sampai dihatinya

Lalu selimutkanlah maafku itu dihangatnya malammu

Sehingga menjadi hangat dan bersahabat

Wallahu’alam

Bandung, 11 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s