Orang Bermental Buih

Orang Bermental Buih

Sungguh sedih ketika umat islam yang jumlahnya seperlima dari penduduk bumi harus dilecehkan dan dihinakan. Banyak tapi tak bergerak percuma dan bergerak namun tak berpengaruh adalah sia-sia. Kondisi ini diperparah dengan kehilangan akan basis identitasnya yaitu islam. Dan dimuka bumi ini ia diamanahkan dalam peran sebagai seorang muslim. Tapi kenapa banyak yang menyadari. Coba kita lihat dalam pementasan drama atau dalam sinetron-sinetron yang sering digemari mereka bahwasanya actor dan aktris yang main disana tahu dan ngerti akan perannya. Bagaimana jadinya apabila si actor atau si aktris tak memahami perannya dalam drama tersebut, yang sebenarnya ia berperan sebagai protagonist namun yang terjadi direalita ia menjadi antagonis. Ini sungguh berbalikan dari tujuan semula dan tentu saja akan mengubah bahkan merusak cerita yang dicita-citakan bersama. Seperti itulah pula seorang muslim. Ia berperan sebagai orang yang mengemban amanah dari Allah untuk menjadi khalifah (pejalan) dimuka bumi ini.

Banyaknya orang islam tidak membawa perubahan apa-apa terhadap dunia beberapa decade belakangan ini. Sebagian besar orang umat ini sibuk dengan urusan mereka masing-masing, malas untuk berkontribusi terhadap islam apalagi ke dakwah. baginya “ah… itu urusan ulama saja, bukan urusanku! Who’s Care!” begitu katanya. Bahkan yang terjadi ia taqlid (buta) dengan budaya nashoro dan yahudi la’natullah ‘alaih. ia seakan-akan seperti golongan mereka. Ia berpakaian seperti mereka, ia berstyle seperti mereka, dan ia berkelakuan seperti mereka, serta jangan-jangan pemikirannya sama dengan mereka.

Rasulullah Saw bersabda;

“Kalian (Muslimin) akan diperebutkan oleh umat-umat lain seperti orang-orang yang siap memakan hidangan yang ada dihadapannya.” Kami (para sahabat) bertanya.” Apakah karena jumlah kita yang sedikit pada saat itu, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tidak, bahkan jumlah kalian banyak. Namun seperti buih di air bah, sungguh Allah mencabut rasa takut dihati musuh-musumnu dan sungguh Allah akan memasukkan penyakit al wahn dalam hatimu.” Kami bertanya, “ Apa itu al wahn ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “ Cinta dunia dan takut mati.”

Ibarat buih yang tak berguna itulah yang digambarkan oleh Rasul melalui hadistnya. Sungguh aku merasa tergerak untuk kebangkitan izzah kembali. Aku tidak mau islam dicampakkan dalam peradaban dunia. Sungguh ngeri ketika itu terjadi. Aku berharap disetiap hembusan nafasku adalah dakwah, ditiap langkah kakiku adalah dakwah, dan ditiap aktivitas hidupku adalah dakwah. dan ini dilakukan hanyalah untuk mencari ridha Allah dan agar izzah islam kembali dengan ikutnya aku sebagai penyokong bangunan izzah tersebut. Bagaimana dengan kamu?

Sebenarnya kalau kita telaah lagi begitu banyak umat islam yang melakukan shalat, puasa, zakat, dan haji. Dan pada saat musim hajipun bisa kita lihat begitu banyak orang di masjidil haram. Tetapi esensi kita apa?

“umat ini hanya bergembira pada eksistensinya dan tak peduli akan esensi dari keberadaannya” (Aldo Al Fakhr)

Sudah barang tentu kita tidak akan diperhitungkan lagi oleh para musuh-musuh islam. Ya iyalah.. ga ada esensinya atau ga ada taringnya. Gampang untuk dimangsa. Dan benarlah sabda Rasulullah diatas bahwa. Musuh-musuh islam itu tidak lagi takut kepada umat muslim bahkan meremehkan bahkan menghinakan.

Tahukah kita, orang bermental buih yang disebutkan oleh Rasulullah dalam sabdanya diatas adalah muslim yang terjangkit penyakit al wahn, cinta dunia dan takut mati. Dunia menjadi indah dipandangannya, ia tidak mengetahui hakikat keindahan dunia sebenarnya. Padahal keindahan dunia itu hanyalah tetesan celupan tangan di samudera yang luas. Bisa dikatakan 0,00000…..1 persennya dari keindahan dunia. Allahu Akbar. Banyak dari mereka pula yang menuhankan dunia. Hanya mengejar dunia, baginya akhirat hanya sebagai tempat pemberhentian kehidupan untuk selama-lamanya, ia tidak mengetahui hidupnya didunia ini akan dipertanggungjawabkan kepada sang Maha Hidup dan Maha Tahu segala sesuatu.

Nggak usah jauh-jauhlah. Coba aja kita lihat dipasar-pasar, supermarket, taman wisata, dan tempat lainnya. Ketika adzan berkumandang, apa yang mereka lakukan! Dapat ditebak, kebanyakan dari mereka masih sibuk dengan perniagaannya, melobi, menawarkan harga kepada konsumen, melenggak lengggok tak karuan di mall, ngeceng, lihat yang tak semestinya, ngangguin orang, sibuk memilah-milih barang di toko, sibuk dengan canda tawa dengan keluarga di taman wisata, dengan tawa yang terbahak-bahak padahal itu sedang adzan, dan dari kebanyakan orang tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa ia belum mengetahu hakikat dirinya mengapa ia diciptakan dihidupkan didunia ini.

Sungguh luar biasa ketika kita melihat zaman kenabian dulu, jumlah mereka yang minoritas justru menjadi kekuatan yang luar biasa. Tidaklah penting seberapa banyak dan seberapa dikitnya umat islam saat itu dan saat ini, tapi yang terpenting adalah jiwa-jiwa yang tertabiyah itulah yang menjadi penting. Sungguh kekuatan ruhiyah akan mengalahkan kekuatan jasadiah.  Mereka dulu bisa bertahan bahkan berekspansi karena mereka tahu betul hakikat hidupnya, tahu amanah yang sedang diembannya, dan tahu konsekuensi ketika melakukan sesuatu perbuatan, sehingga yang ada adalah optimalisasi amal yang menjadi prioritas bukanlah intensitas.

Oleh karena itu, janganlah menjadi muslim bermental buih yang taqlid tidak melakukan improvisasi. Sungguhlah merugi orang-orang yang demikian.

Azzamkanlah dalam diri dengan pernyataan berikut:

Jikalau ada 1000 orang yang berjihad dijalan Allah, maka saksikanlah salah satunya adalah Aku

Jikalau ada 100 orang yang berjihad dijalan Allah, maka saksikanlah salah satunya adalah Aku

Jikalau ada 10 orang yang berjihad dijalan Allah, maka saksikanlah salah satunya adalah Aku

Jikalau ada 1 orang yang berjihad dijalan Allah, maka saksikanlah itu adalah Aku

Jikalau tak ada lagi orang yang berjihad dijalan Allah, maka saksikanlah bahwasanya aku telah syahid dijalan-Nya.

Sungguh ketika kita berazzam demikian, insya Allah kita bukanlah termasuk orang-orang yang bermental buih.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, ada Taujih Robbani terlebih dahulu

“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nur: 36-37)

Wallauhu’alam

Bandung 9 januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s