Membaca itu…

Membaca itu…

Membaca bagi sebagian orang adalah suatu pekerjaan yang sangat-sangat membosankan. Aktivitas yang bagi sebagian orang juga menghabiskan waktu. Kegiatan yang menjadi momok untuk dilakukan bagi sebagian banyak orang didunia ini. Dan bagi sebagian manusia yang hidup didunia ini membaca termasuk list ketidaksukaan dalam hobinya. Apalagi dinegeri

Sungguh ironis ingin mengharapkan Negara ini maju dan bisa punya nama didunia internasional dalam bidang sastra, teknologi, kedokteran, sipil, dan lain sebagainya jikalau tidak ada minat yang besar untuk membaca. Ingat bacaan itu adalah jendelanyanya ilmu, jadi kalau kita tidak membaca gimana mau menghirup udara segar sedangkan jendela kamar ilmu tidak dibuka lebar-lebar. Semakin banyak kau membaca buku, maka semakin lebar pula jendela itu, dan sebaliknya semakin sedikit kau membaca buku, maka dengan sendirinya jendela itu akan tertutup rapat dan kamar akan terasa sumpek, pengap, dan tidak ada selera untuk berlama-lama hidup didalamnya.

Aku banyak melihat ketika seseorang yang sebenarnya mempunyai waktu luang namun tidak memanfaatkannya dengan membaca buku, yang ia lakukan justru yang tidak bermanfaat banyak baginya, mungkin hal itu bermanfaat baginya tapi sejatinya perbuatan itu tidaklah bermanfaat baginya dan bahkan menghancurkan dirinya perlahan demi perlahan. Contoh yang sering kita saksikan adalah banyak insane yang hidup dibangsa ini mengisi waktu luangnya dengan merokok, padahal sudah jelas tertera di rokok yang hisap tersebut bahwa, “merokok bisa menyebabkan impotensi, gangguan kehamilan, kanker, dan lain-lain.” Ada dua kemungkinan ketika seseorang itu merokok. Yang pertama, ia buta huruf alias tidak bisa membaca. Tulisan segede bagong itu tidak bisa dibacanya dan ketika iklan-iklan diTV mengenai rokok pun ketika diakhirnya mengeluarkan kata-kata tersebut. Itu yang pertama. Yang kedua adalah ia sengaja untuk menghancurkan dirinya atau bunuh diri, mungkin saja dia sudah frustasi dengan apa yang telah didapatkan atau dikerjakannya dimuka bumi ini. Ia sudah tak punya harapan untuk maju lagi sehingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan penyakit yang banyak dengan merokok salah satunya. Yah.. seperti itulah ketika tak tahu diri maka akan kehilangan potensi diri. Potensi diri yang seharusnya menjadi prestasi. Prestasi untuk mengubah diri menjadi lebih baik lagi. Allahu Akbar. Allah yang mengetahui tiap-tiap kejadian dimuka bumi ini. Segala puji hanya untuk Engkau ya Allah telah memberikan kepadaku dan pembaca yang tidak merokok tidak terlibat dengan aktivitas menghancurkan diri sendiri.

Jauh banget bahasannya ya,…

Membaca itu adalah ibadah. Ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw adalah iqra, bacalah. Sudah jelas bahwa Allah menyuruh kita para manusia untuk senantiasa membaca apa yang telah tersirat dan tersurat dimuka bumi ini. Jangan malas-malasan. Yakinlah ketika kita membaca, tiap ilmu yang kit abaca itu adalah bernilai ibadah. Niatkan hanya untuk Allah maka keberkahan membaca pun akan kita raih dengan maksimal. Jikalau saja umat ini tahu bahwa membaca itu ibadah tentunya yang dibaca yang bagus-bagus bukan cerita-cerita ga jelas, berbau porno, dan ghibah. Itu malah membuat dosa bukan pahala yang didapat. Oleh karena itu sahabatku, pilihlah bacaan –bacaan yang sejatinya akan membawa perubahan yang berarti bagi hidup kita. Kalau tak punya duit untuk beli. Gampang. Tinggal ke perpus kampus, sekolah, dan lain-lain. Baca deh disana. Atau pinjam dengan teman. Tentunya kita akan dapat ilmu yang bermanfaat dari aktivitas membaca tersebut.

Dengan membaca juga, praktek atau amal yang kita lakukan tidak menyimpang dari seharusnya. Tidak jauh dari syari’at yang ditetapkan. Dan tidak jauh dari kerusakan amal karena tidak mempunyai ilmunya terlebih dahulu. Ilmu bisa diraih salah satunya dengan membaca. Dahulukan ilmu atas amal, seperti itulah yang sering kita dengar oleh beberapa ulama dan ustadz. Amal tanpa ilmu akan berujung kepada kesesatan dan ilmu tanpa amal juga akan berujung kepada ketidakberartian atau kesia-siaan. Nah.. ini menjadi pelajaran yang penting bagi kita untuk beramal setelah berilmu, jangan sampai kita udah capek-capek nyari ilmu kesana sini, ngabisin biaya bensin dan biaya beli buku, dan lain-lain tapi tidak dilaksanakan wah.. itu namanya tak ada hasil. Sama aja bohong. Satu lagi nih yang perlu diperhatikan juga bahwa ilmu yang kita dapatkan juga harus disampaikan kepada orang lain jangan hanya disimpan untuk diri sendiri. Yah kalau misalnya belum berani untuk berkata-kata maka solusi yang kemudian muncul adalah dengan menuliskannya. Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa “ikatlah ilmu itu dengan menuliskannya.” Ini adalah perkara yang jelas bagi kita, setelah kita membaca makan kemudian menuliskannya atau menyampaikannya kepada orang lain. Maka insya Allah ilu yang kita dapat akan full berkah dan manfaat. Dan itu juga termasuk amal jariyah yang tidak habis-habisnya hingga hari kiamat. Ga pernah terbayang oleh kita ketika nanti diakhirat melihat banyaknya amal baik yang bertumpuk-tumpuk sehingga timbangan amal condong ke amal baik. Tentu itu adalah keberuntungan yang tiada tara pabila dibandingkan ketika kita endapat 1 triliun dimuka bumi. So pastilah karena yang kita dapatkan insya Allah adalah surga. Itu bisa terjadi jikalau ilmu yang kita dapatkan dapat bermanfaat bagi orang lain dan kita pun tercap sebagai insan yang bermanfaat bagi insan yang lain. Nafi’un lil ghairi.

Membaca itu akan bikin pinter. Wah.. ini pastilah yang akan kita dapatkan manakala kita doyan untuk membaca. Pinter itukan proses dari tidak tahu menjadi tahu. Semisal kita belum tahu tentang tarbiyah, coba deh kit abaca buku-buku yang berkaitan dengan tarbiyah maka kita pun akan tahu apa itu tarbiyah, urgensinya, perangkat-perangkatnya, dan lain sebagainya. Atau tentang dakwah, pabila kita belum tahu apa itu dakwah maka bacalah buku-buku yang mengupas tentang seputar dakwah, insya Allah akan diberikan pencerahan tentang apa itu dakwah. pintar itu membutuhkan proses dan salah satu prosesnya adalah dengan membaca. Jangan malu-malu untuk membaca. Sungguh ironis ketika orang malu-malu untuk mengeluarkan buku yang ada ditasnya untuk dibaca dihalte bus, di stasiun, dikendaraan umum, dan ditempat umum lainnya. Ia sekan malu utk menjadi orang yang berilmu. Ia takut dikatakan sebagai kutu buku. Itulah yang menjadi permasalahan mendasar Negara ini menjadi tidak maju-maju yaitu perkara baik dimanipulasi menjadi perkara buruk, dan sebaliknya. Ini adalah paradigm yang salah, sehingga orang yang gemar baca buku namun belum memiliki PD untuk terbuka, ia kan malu untuk membaca buku didepan umum. Ini pernah terjadi pada diri saya pribadi. Ketika itu dosen belum datang, untuk mengisi waktu luang, saya ambil buku yang ada ditas saya. Eh.. ada teman yang baru datang. “Oi… rajin amat lu.. baca buku.. lihat judulnya. Ah.. manajemen menangis, mau nangis lu!” seperti itulah tanggapan teman saya kepada saya yang sedang membaca buku yang berjudul “Manajemen Menangis” seakan-akan ia meremehkan aktivitas membaca dan meremehkan arti dari menangis itu. Dan apa yang aku perbuat yah diam aja… males meladeni orang yang begituan. Lebih baik diam ketimbang memacu darah keluar (marah maksudnya).

YAH..begitulah saudaraku, ketika kita membaca banyak yang akan kita dapatkan. Kemenangan akan kita galang, kesulitan yang menghadang akan kita tendang. Dan semangat perubahan telah Nampak dalam dirimu. Sekarang tunggu saja, engkau akan menjadi tonggak perubahan dalam peradaban. Dan engkau adalah arsitek peradaban kalau kata ust. anis matta. Dengan perlahan insya Allah kita do’akan saja negeri ini akan tumbuh karena aktivitas membaca yang kita lakukan. Dan jangan lupa pula mengingatkan saudara kita untuk membaca, katakana urgensi-urgensi dari membaca. Aku yakin kau pasti bisa untuk membuat dirimu, saudara, keluarga,lingkungan, Negara, dan dunia untuk berubah kea rah yang lebih baik.

Membaca itu juga menguntungkan bagi siapa yang mau mengamalkannya. Karena apa? Karena dengan membaca fikiran kita akan diasah. Sungguh baca itu adalah vitaminnya fikiran. Jadi kalau fikirannya mau sehat maka harus diberi vitamin terus biar sehat. Tapi perlu diingat, jangan asal vitamin, vitaminnya haruslah vitamin yang baik. Jangan asal-asalan memberikan vitamin kepada tubuh fikiran kita, karena akan berdampak yang tidak baik bagi tubuh fikiran kita, semisal fikiran yang melayang-layang kemana-mana kerah yang jelek dan tak berarti tentunya. Keuntungan membaca adalah bagi seorang penulis dapat memperbanyak perbendaharaan kata untuk dituliskannya, sehingga tulisannya lebih kaya akan warna, tidak monoton dan kaku, tapi berirama yang indah dibaca dan menyenangkan serta memberikan perubahan yang berarti kepada para pembaca tulisannya.

Jangan pernah meremehkan hal yang kecil, justru yang kecil inilah yang akan menjadi penopang-penopang berseminya kembali izzah islam didunia ini.

Wallahu’alam

Bandung, 10-11 Januari 2010

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Iklan

3 thoughts on “Membaca itu…

  1. Aldo Al Fakhr berkata:

    akh.. antum kayak ga kenal sama blog an aja.
    dari namanya aja. menulisaja.wordpress.com
    makanya an tuh nulis aja.. ga usah pake mikir,,,

    ha..ha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s