Sebuah Pembelajaran yang Mahal

palestina

Sebuah Pembelajaran yang Mahal

Anak itu nyalakan api

Kini berkobar dan membakar

Diparasnya Agama memancar

Dan cahaya Al-Haq telah bersinar

Kedua tangannya menghunus pedang keberaniaan

Atau bom kaca yang menggelegar

“Ananda, telah kuserahkan engkau kepada Tuhan Penguasa Qadar

Berjihadlah dengan tegar

Karena kedzaliman pasti kan buyar

Esok semua algojo penyiksa akan jatuh terkapar

Dan bendera Tauhid akan berkibar

Nantikan dengan sabar.”

Kata-kata diatas adalah sebuah puisi dari Ghazi Khalid Alhajiji yang begitu memukau dan dalam untuk dihayati, bagaimana seorang anak peradaban yang lahir dari rahim seorang ibu yang mulia, begitu berkobar-kobar semangat jihadnya, dan juga seorang ibu yang mendukung atas ‘iradahnya itu.

Seorang anak tidaklah mati sia-sia. Dia bukanlah seperti yang banyak diumbar-umbarkan oleh media massa beberapa bulan yang lalu, dia bukanlah seperti para teroris-teroris yang ditangkap dan dibunuh beberapa bulan lalu oleh POLRI. Yang target dan tujuan syahidnya tidak jelas dan mengada-ngada, yang mengorbankan saudara seislamnya sendiri untuk berjihad, saudara yang terkena ledakan bom, luka bakar, dan lebam diseluruh tubuh saudaranya di beberapa gedung yang ditargetkan utk dibom. Kalla balla, sekali lagi bukan. Dalam konteks ini, seorang anak disini adalah pemuda palestina yang berjihad dengan tujuan yang jelas dan tidak mengada-ngada. Baginya jihadu fisabili. Jihad sudah menjadi jalannya utk menuju keridhaan Allah. Target yang dibom atau diserang pun bukanlah saudaranya seaqidah, melainkan zionis la’natullah ‘alaih.

Anak itu berteriak melafaskan takbir, “Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…” berkali-kali hingga suaranya habis dan kerongkongannya serak nan kering. Raganya dipenuhi peluh namun tak mengendorkan sedikitpun langkah juangnya. Baginya ucapan yang benar haram tuk ditarik kembali, tak ada kata bimbang sedikitpun didalam dialog hatinya. Sepertinya ia percaya betul akan akhirnya. Begitulah ketika orientasi seseorang itu benar, maka Allah akan menjaganya dijalan kebenaran itu, walaupun kemalangan, diskriminasi social yang terimanya, dan cacian makian yang kasar akan dihadapi dengan lapang jiwa dan tak kenal dengan kata give up. Baginya lagi, hidup ini akan indah jika diakhiri dengan indah pula. Indah karena syahid didapatnya. Khusnul kotimah.

Betapa bangganya sipunya rahim itu, anak yang dikandungnya tumbuh dan digelari sebagai syuhada di akhirat kelak, betapa cintanya ia kepada Allah dan ridha kepada Allah atas tadhiyahnya utk menyedakahkan anaknya. Sekali lagi, menyedahkan anaknya dijalan Allah. Seharusnya ini menjadi pembelajaran bagi bunda-bunda diseluruh dunia, untk mentarbiyah anaknya menjadi generasi robbani dan ketika telah menjadi generasi robbani, ridha dan ikhlas mengembalikan anaknya kepada yang sejatinya Pemilik Jiwa seluruh umat manusia. Bahkan keironisan pun terjadi ditengah-tengah masyarakat kita, para orang tua begitu takut kalau anaknya ikut pengajian, tarbiyah, dan lain-lain. Dan bahkan mereka memperbolehkan anaknya utk pergi ke mall, konser music jahiliah, juga menghalalkan pacaran. Sungguh begitu sedih melihat realita yang terjadi. Terkadang sedih diri ini, melihat tabligh akbar hanya dihadiri oleh balita dan para orang tua. Pertanyaannya, kemana yang muda mudi? Dan ketika dilihat dibelahan bumi yang lain, para muda mudi itu jingkrak-jingkrakan mendengar konser music. Naudzubillah. Akan jadi apa generasi islam selanjutnya, jika hanya begini saja yang mereka lakukan, makan, tidur, pergi kerumah teman, jalan-jalan, lupa shalat, pacaran, dan lain-lain. Tidak ada kemanfaatan dalam aktivitas mereka sama sekali.

Disinilah tugas kita sebagai orang tua dan kader dakwah. Inilah tantangan kita agar izzatul islam kembali menduduki tempatnya kembali dibumi ini.

Ada beberapa hal penting yang harus dilakukan oleh kita:

Yang pertama, Selalu perbaiki diri, karena nol besar ketika mau memperbaiki orang lain, namun tidak mau atau jarang memperbaiki diri sendiri. Kedua, Berikan teladan itu setelah memperbaiki diri . Segitiga pengaruh yang diajarkan didunia psikologi adalah, yang paling besar porsinya atau pengaruhnya yaitu keteladanan.  ketiga,  Selalu bermunajat kepada Allah, agar anak kita atau objek dakwah kita diberikan hidayah dan inayah, karena yang bisa membolak-balikkan hati manusia adalah Allah SWT. Dan keempat, bimbinglah dengan kelembutan dan kasih saying kepadanya. Karena Rasulullah mengajarkan utk bersikap lemah lembut.

“Muhamad itu adalah utusan Allah, dan orang-oang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih-sayang sesama mereka.” (QS al-Fath: 29)

“Hendaklah kamu bersikap lemah-lembut dan jangan bersikap kasar. Sesungguhnya, tidaklah sikap lemah lembut itu ada pada sesuatu kecuali menghiasinya, dan tidak pula ia lepas dari sesuatu kecuali mengotorinya.” (HR Muslim)

“Semoga Allah mengkaruniakan kepada kita anak-anak yang soleh dan soleha yang lahir dari ayah dan rahim yang soleh dan soleha pula. Sehingga izzatul islam kembali menduduki singgasananya yang telah sekian lama vakum dari kemuliaannya.”

Bandung, 30 November 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Iklan

One thought on “Sebuah Pembelajaran yang Mahal

  1. Lex dePraxis berkata:

    Hmmm, tulisan yang menarik. Terima kasih telah berbagi, karena jujur saja saya merasa jarang ada yang menuliskannya dalam perspektif seperti ini. Kesuksesan memang harus dimulai dari dalam, serta dilakukan dengan penuh komitmen.

    Saya pikir kita memang perlu saling mengingatkan satu sama lain tentang teori dan proses pengembangan diri. Dan sebagai referensi silang, Anda juga pasti bisa menemukan cerminan lainnya dalam tulisan saya yang berjudul Racun Pengembangan Diri. Sekedar untuk semakin menambah wawasan saja, semoga bisa membantu.

    Salam kenal, sobat, senang bertemu dengan sahabat baru yang juga memiliki semangat untuk menginspirasi orang lain.

    Lex dePraxis
    Unlocked!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s