Kecemburuan

Kecemburuan

Dikala kecemburuan hadir menyergap jiwa

Jenak-jenaknya ketahuan olehku

Kubertanya pada jiwa yang hampa

Apa yang harus kuperbuat wahai jiwa yang lemah?

Cemburu, kata yang tidak asing lagi terdengar oleh telinga sang manusia. Kata yang selalu dikait-kaitkan dengan kehidupan asmara dua atau lebih insan manusia. Kata yang selalu berkonotasi negative ketika ada seseorang yang mencurhatkan isi hatinya kepada seseorang, dan peliknya begitu ingin menonjoknya seorang yang membuat kecemburuan itu terjadi secara realita. Cemburu juga banyak menghantarkan jiwa-jiwa kosong akan robbaniyah kepada kematian konyol, seakan-akan memang ingin berakhir seperti itu. Alasannya Cuma sepele, namun terkadang dibesar-besarkan sehingga menjadi gamang lalu berakhir dengan sia-sia. Alangkah ruginya saudara kita itu, didunia tak bahagia bahkan di akhirat ketidakbagiaan pun akan siap-siap mendera dan menyambut kedatangannya. Sungguh aku dan kamu ingin terhindar akan hal itu…

Ditulisan ini, aku tidak membahas kecemburuan di rimba cinta, namun kepada rimba kehidupan realita yang lebih global yang tidak hanya sekadar pemanis dinovel-novel atau karya sastra.

Sebuah rumah tangga yang baik tentu dibangun dan dikokohkan dengan warga rumah tangga itu yang baik pula, jikalau saja ada salah satu diantara sendi keluarga itu yang tidak baik dan ketahuan di tengah-tengah masyarakat, aka sekejab saja keluarga itu dicap sebagai keluarga yang tidak baik.

“ seorang bapak yang menjual anak dan istrinya dengan gemerlap perangkat rumah tangga dan harta melimpah, sama sekali tidak berhak menyandang kehoratan anak seorang manusia, jangan lagi dalam ukuran hamba beriman.”(Ust Rahmat Abdullah Rahimahullah)

Dan juga bila kita tengok yang terjadi dilapangan pengambilan keputusan para penguasa yang terlihat tidak peduli akan harga diri dan martabat bangsa, bahkan mungkin lupa. Para penguasa lupa akan rakyat yang sudah memilihnya. Dengan sekonyong-konyongnya mereka bergaul dan bersahabat dengan bangsa predator, provokator, aggressor yang bahkan telah menghantui bahkan mendzalimi bangsanya. Dengan bangsanya sendiri tidak peduli, apalagi dengan bangsa satu perjuangan yang lain. Dan tentu pengambilan keputusan oleh sang penguasa dibayang-bayangi oleh para rezim dan zionis la’natullah ‘alahi.

Belajar dari alam

Bahkan ya sahabat… ketika kita ingin belajar kepada alam, maka insya Allah kita akn mendapat ibrah darinya, khususnya mengenai kecemburuan ini…

Simaklah kata-kata yg keluar dari jemari ust. Rahmat rahimahullah:

“ lihatlah kemarahan harimau atas hilangnya anak tersayang. Atau ingatan yang amat kuat pada seekor gajah sirkus merasakan pedihnya kehilangan seorang teman yang mati dibunuh pemburu dihutan. Ingatan itu muncul kembali disaat sang pemburu menonton sirkus beberapa tahun kemudian.”

“Hanya babi yang tak punya rasa cemburu. Seekor babi jantan baru saja menggauli betinannya. Lalu dengan dungunya menonton anak kandungnya menggauli betinanya.”

Sungguh begitu ironis yang terjadi.. jika saja boleh dikorelasikan, aku ingin berujar bahwa sang bapak dan para penguasa  yang kuceritakan diatas.. mereka semua bermental babi. Bagaimana tidak, sang bapak yang rela menjual istri dan anaknya sebagai pelacur hanya utk menumpuk harta kekayaan semata seakan telah buta akan ijab qabul yang diutarakannya diawal jalinan cinta keluarga mereka. Begitu pula para penguasa yang dengan keputusannya dan ditunggangi oleh diktatoris dan zionis telah ‘menelanjangi ’ rakyatnya sendiri, rakyat yang telah memilih dan berdo’a untuknya ketika pemilu dan ketika dilantik, dan juga seakan-akan lupa akan ikrar yg telah diucapkannya diatas kitab yang berasal dari Tuhannya. Seperti yang dikatakan ust Rahmat rahimahullah,” Ia hanya berfikir bagaimana bangsanya bisa dapat banyak uang dan selamat dari lapar jasad.”

Naudzubillah…

Semoga kita terlindungi dari fitnah kedzaliman. Dan harapanya masing-masing individu, institusi local, regional, maupun internasional dapat mengaplikasikan cemburu yang realistis, jangan sampai seperti babi, dan jangan mau tercap sebagai orang yang bermental babi.

Wallahu’alam.◊

note: kasus utk bangsa disini secara general tidak terdefinisi dimana negaranya

 

Bandung, 30 November 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger Pencari Spirit yang Hilang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s