Berkonstribusi atau Mati Sajalah…

Saya pribadi sangat suka dengan puisinya Ust. Anis Matta yang berjudul “Keluarlah Saudaraku”

Keluarlah Saudaraku

Saudaraku, kau tahu bencana datang lagi
Porak lagi negeri ini
Hilang sudah selera orang-orang untuk mengharap
Sementara jiwa-jiwa nelangsa itu
Sudah berbaris-baris memanggil-manggil

Keluarlah keluarlah saudaraku
Dari kenyamanan mihrabmu
Dari kekhusu’an i’tikafmu
Dari keakraban sahabat-sahabatmu
Keluarlah, keluarlah saudaraku
Dari keheningan masjidmu
Bawalah roh sajadahmu ke jalan-jalan
Ke pasar-pasar ke majelis dewan yang terhormat
Ke kantor-kantor pemerintah dan pusat-pusat pengambilan keputusan

Keluarlah-keluarlah saudaraku
Dari nikmat kesendirianmu
Satukan kembali hati-hati yang berserakan ini
Kumpulkanlah kembali tenaga-tenaga yang tersisa
Pimpinlah dengan cahayamu kafilah nurani yang terlatih
Di tengah badai gurun kehidupan

Keluarlah keluarlah saudaraku
Berdirilah tegap di ujung jalan itu
Sebentar lagi sejarah kan lewat
Mencari aktor baru untuk drama kebenarannya
Sambut saja dia
Engkaulah yang ia cari

Puisi diatas sangat mengandung sarat makna yang dalam. Bagi sebagian orang, puisi ini adalah sindiran bagi dia yang selalu sibuk akan dirinya sendiri dan tidak peduli akan orang lain atau yang lebih dikenal dengan sifat pragmatis. dan puisi ini juga dapat menyinggung dia yang sedikit berkontribusi untuk islam dan negaranya. ia terlalu zuhud sehingga melupakan dunia.

Kontribusi

Sebagai manusia kita dituntut dan diwajibkan untuk berdakwah atau  menyeru kepada jalan Allah, menyampaikan kebenaran walau satu ayat atau sedikit. sekali lagi walaupun itu sedikit. banyak sekali orang/ manusia yang saya ketemui malu dan belum siap untuk berkontribusi -alasannya-  “ilmu dan kapasitas saya masih dangkal”. ia menganggap dirinya adalah orang biasa. bisa ditebak ia tidak mau menjadi orang yang luar biasa. sedang-sedang aja lah…..itulah masalahnya….

sebenarnya hal ini akan dapat tereduksi jika saja terpenuhi dua syarat. syarat yang pertama adalah pada dirinya sendiri harus siap diribah dan pula harus siap mengubah, karena orang yang mau berubah tapi tidak mau mengubah , ia dicap sebagai orang yang sombong, oleh karena itu fren… bangun sikap mau diubah dan mengubah. tentunya sekali lagi dengan keikhlasan hati buka untuk materi dunia belaka, karena jika suatu perbuatan tidak didasari dengan niat yang ikhlas semata-mata untuk Allah SWT, maka dapat dipastikan hanyalah akan menjadi “sampah”di hadapan Allah SWT. Sia-sia.

syarat yang kedua adalah adanya dukungan yang penuh dari lingkungannya. dampak ini sangat berarti bagi seseorang yang ingin berkontribusi. caranya bagaimana? caranya adalah dengan melibatkannya kesuatu aktivitas dakwah atau sosial. tapi, tidak/jangan langsung memberinya porsi yang berlebihan karena secara tidak langsung akan menganggu psikologisnya dikemudian . “belum apa-apa sudah jadi ketua/ koordinator.” Dan jika dalam suatu diskusi , tanyakan kepadanya berupa pendapat, saran, tanggapan, dan lain-lain. agar ia terpacu untuk bersikap PD / percaya diri/ self confidence. dan insya Allah, jika PD sudah menjadi alter dalam kehidupannya dilingkungan sosial, maka tunggulah saat ia akan berkontribusi. sebentar lagi……….

Mati Sajalah…

Ungkapan yang sangat kasardan menyakitkan bila ditumpahkan kedalam lubuk hati seseorang, ” mati sajalah kau…!!!” sungguh akan membekas pekat dihatinya tertancap amat dalam dan sulit untuk dicabut kembali. memang seperti itulah fakta dilapangan yang berbicara.

orang yang tidak mau berkontribusi atau tidak pernah berkontribusi maka ia akan dianggap “tidak ada”. Karena ia ada namun tak bergerak, ia bergerak manum tak berpengaruh. untuk apa lagi ia hidup, orang lain disekitarnya tidak menganggap dirinya. ia menderita kesunyian dan kesempitan dalam kehidupan. ironisnya lagi, ia merasa senang dan tenang dalam kesengsaraannya itu. Ia terpasung lesu di mihrabnya, dikenikmatan mihrabnya tanpa memperdulikan keadaan sekitar. menjadi zuhud itu boleh, namun jangan lupa akan dunia…
Rasulullah SAW bersabda, “Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati esok hari.”
Rasulullah pun orang yang sangat zuhud, tapi ia masih mengurusi negara, politik, ekonomi, bersosialisasi dengan para sahabat dan masyarakatnya, berperang, dan lain-lain….

Kalau kau tak mau berkontribusi, mati sajalah….!


Duri, 29 agustus 2009

Aldo Al Fakhr

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s