Peran Serta Lembaga Pendidikan pada Konsep Diri

Peran Serta Lembaga Pendidikan pada Konsep Diri

Sangat disayangkan, ada persoalan yang asasi dalam pendidikan formal dan non formal di negeri tercinta kita ini Indonesia, yaitu pola pendidikan yang tidak baik untuk perkembangan peserta didik yang mana mereka memberlakukan peserta didiknya secara kolektif tidak individu. Hal ini tentu saja akan secara perlahan mengikis potensi-potensi unik yang ada pada diri peserta didik itu masing-masing. Tak dipungkiri bahwa setiap individu itu tercipta dengan perbedaan dan keunikannya yang subhanallah tercipta dari sebaik-baiknya Pencipta.

Allah SWT berfirman:

” Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari sari tanah, kemudian kami menjadikannya air mani pada tempat yang kukuh dan terpelihara (rahim) kemudian kami menjadikan air mani itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, lalu segumpal daging kami jadikan tulang-tulang, maka kami liputi tulang-tulang itu dengan daging, kemudian kami menjadikannya satu bentuk yang lain. Maha suci Allah sebaik-baik pencipta “.
(QS. Al Mu’minun: 12-15)

Formal

Hal ini terjadi, karena kurikulum pendidikan yang tidak sistematis dan tidak ada kurikulum yang mengarahkan kepada pengekplorasi karakter unik disetiap anak…. Hal ini akan membuat seorang yang berbakat menulis tidak bisa menulis lagi, yang punya bakat public speaking tidak tereksplor, dan yang punya bakat nyanyi tak tersalurkan.. hal ini justru secara ekstrim aku bilang telah mendzolimi peserta didik.

Kalau aku lihat, seandainya kurikulum ini masih dipelihara maka aku yakin akan melihat generasi kolestrol nantinya yang mana menumpuk tapi membawa keburukan…untuk itulah mulai dari sekarang ada baiknya dirubah alur dan kurikulum pendidikan kita…

Ironis juga terjadi di budaya kita yang menilai seseorang secara kuantitatif bukan dari kualitatif, mereka sibuk menanyakan “berapa nilaimu nak?” bukannya menanyakan pelajaran itu langsung, missal: pelajaran biologi, “nak, kamu tau epidermis itu apa sih?” nah… jika hal ini yang diterapkan pada masyarakat kita, tak menutup kemungkinan kita akan menjadi bangsa yang maju dan senantiasa menuju kearah yang lebih baik.

Aku yakin disekolah pasti ada BP (Bimbingan Psikologis) di SD, SMP, SMU. Sebenarnya adanya BP sangat berpengaruh penting bagi perkembangan keunikan individu tersebut. Namun, dalam realisasinya tak seindah tujuannya diawal. Banyak dari para siswa yang tidak memanfaatkan BP ini, banyak yang males tuk datang ke BP, banyak yang malu tuk menceritakan kelebihan serta kelemahan yang ada pada dirinya. Padahal ini justru membuat siswa semakin dewasa menjalani hidup. Kalau boleh usul nih ya…(1) ada baiknya ruangan BP tidak sullit untuk dijangkau oleh para siswa, artinya strategis dan tak menyulitkan , serta jangan pula dekat dengan UKS atau bahkan WC… wah… itu pasti ga ada yang datang (2) guru BPnya friendly, artinya si guru BP dapat menjadi teman bukan menjadi seorang yang lebih dewasa tapi juga harus wibawa karena hal itu penting. Ingat kewibawaan seseorang dapat mempengaruhi orang lain dalam bertindak loh….(3) Buat ruangan yang unik dan enak dipandang…artinya para siswa akan merasa nyaman ketika berada di ruangan BP

Oke…

Kita beralih ke pendidikan non formal

Hal yang aku soroti disini hanyalah pendidikan pada media, baik itu media cetak (Koran, majalah, buku, dll) dan media elektronik (TV, Radio, Internet, dll)

Menurutku informasi yang ditampilkan pada media banyak distorsinya atau dengan bahasa kerennya “distorsi informasi” yaitu informasi yang kotor. Tapi ga semua kok… salah satunya yang sehat adalah Blogku…(ha….ha… ngarep…). Tampilan informasi yang mereka sajikan terkadang membuat orang bingung menelaah informasi darinya. Bahkan kata anis matta yang berbicara masalah informasi, ada orang yang membaca Koran selama setahun, ia bukannya nambah ngerti namun jadi malah bingung…

Oleh karena itu.. bangunglah informasi yang non distorsi agar masyarakat menjadi pintar, cerdas, dan kritis. Bukankah hal itu yang dapat memajukan bangsa dengan cepat….

Konsep diri

Nah… konsep diri akan baik ketika input dari pendidikan dan informasi yang didapat baik pula.

Jangan pernah remehkan masalah pendidikan dan masalah informasu pada pembentukan konsep diri. Karena ini akan mempengaruhi geliatnya di waktu yang akan datang. Jika konsep diri yang dibuatnya salah maka konsep itu akan susah tuk dibersihkan membutuhkan waktu yang lama karena sudah melekat di sanubarinya… dan sebaliknya…

Oke friends… baik itu kamu menjadi penyedia di lembaga pendidikan, penyedia informasi di media massa maupun elektronik bersama  kita menjadi generasi pemberi informasi yang bermanfaat.

Salah satu muwashofat(karakteristik) orang yang mulia adalah Nafi’un bil ghoiri (bermanfaat bagi orang lain..)

Bandung, 29 Juli 2009

Aldo Al Fakhr

Blogger pencari spirit yang hilang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s