Di suatu kesempatan

Di Suatu Kesempatan

Di suatu kesempatan aku sering berkata pada diri sendiri. Apa yang telah aku lakukan selama didunia ini. Betapa banyak dosa yang aku lakukan, dan aku tak tau harus bagaimana, yang aku tau hanyala perbaikan diri yang konsisten di suatu harinya, permasalahannya adalah apakah aku bisa konsisten terhadap hal itu, mengingat ujian, gannguan, dan hambatan datang bagikan tsunami yang tak kenal dengan namanya kompromi. Dan mengingat diri ini begitu lemah, diri ini begitu rapu, diri ini begitu sombong tuk menerima kebaikan dari sekitar. Sekali lagi ijinkan aku mengatakan aku ingin konsisten, tapi apalah dayaku. Aku hanya meminta kepada Allah agar senantiasa memberikanku kekuatan tuk istiqomah dijalan ini, jalan yang di ridhoi oleh-Nya. Aku sangat tau bahwa jalan ini bukanlah layaknya jalan tol yang mudah tuk lalui, melainkan gang2 sempit yang banyak betul kelokannya, terkadang bingung tuk menapakkan kaki dimana setelah ini, dan aku tau pula jalan ini memiliki massa yang tidak begitu banyak, dari sekian itu, banyak juga dari mereka yang sama sepertiku yang angin-anginan. Aku tak tahu mengapa. Ya Rabb.. bantulah hambamu yang lemah lesu tak bermaya ini. Walaupun  pencapaian target dakwah ku belum maksimal, tolong berikanlah aku kekuatan tuk mencukupinya, berkahilah jalan kami ya Allah. Aku sangat yakin ini adalah jalan-jalan para nabi dan rasul terdahulu yang sekarang kami ikuti jalan tersebut, bersama-sama dalam keimanan, bersatu dalam ketaatan, berjuang menuju syurga-Mu, beramal karena ikhlas kepada Mu.

Di suatu kesempatan, aku sempat berfikir. Betapa indahnya dunia ini, langit yang begitu cerah, udara yang begitu sejuk, matahari yang menerangi bumi, cahaya bulan yang ayu ketika dipandang, air yang begitu segar tuk diminum, tubuh yang masih lengkap, tanah yang begitu subur, gunung-gunung yang menjulang tinggi menampakkan kekokohannya, sungai-sungai yang mengalir lembut, binatang yang hidup berdampingan. Hal itu membuat aku yakin bahwa Allah maha penyayang bagi hamba-hamba-Nya. Tapi aku sebagai manusia terkadang lupa dan terkadang tak sadar akan hal itu, membuat alpa mengingat-Mu. Pemberian-Mu yang begitu banyak kepadaku terkadang tak kusyukuri, apalah susahnya tuk sekedar mengucapkan “Alhamdulillah” hanya itu saja. Betapa sulitnya. Aku terkadang terpenjara nafsu dan dosa, ia begitu mengekang relung jiwa dan dibumbui dengan pikiran-pikiran keindahan dunia, membuat mata ini tertutup keindahan hakiki. Mata hati ini acap kali buta akan kemelapan dunia. Aku telah terjangkit virus keduniaan, virus itu sering dikenal dengan kata Al-Wahn. Sungguh aku tak mau hati ini terjangkit virus tersebut, karena aku sadar, jika virus itu menyerbak di hatiku, pastilah ia akan menyebar keseluruh aktifitasku, sehingga membuatku semakin alpa dalam mengingat-Mu dan Kematian. Sungguh aku tak mau bersama dengan orang-orang yang terjangkit dengan virus itu. ya Allah bentengilah diri ini dari virus itu, jauhilah diri ini dari orang-orang yang terjangkit virus itu, jikalau pun engkau mengkehendaki diri ini dekat dengan orang tersebut, berilah hamba kekuatan untuk menjaga diri dan berilah hamba kekuatan untuk mengeluarkan kata-kata nasehat yang ampuh tuk menyadarkannya. Aku ingin menjadi seorang yang muslih ya Allah. Aku tak tega melihat saudara-saudariku terkukung terpenjara nafsu syaitan. Sungguh setan adalah musuh yang nyata bagiku dan bagi saudara-saudariku. Tapi, terkadang diri ini egois, tak mau tuk berdakwah, tak mau tuk menasehati, tak mau tuk berjamaah. Aku bagaikan  terpasung dikamar kenikmatan tanpa ada seorang pun didalamnya. Berikan diri ini kekuatan dalam berdakwah, alaupun dakwah ku itu hanyalah sebuah tulisan pendek, tapi berikanlah kekuatan tuk mempengaruhi.  Walaupun dakwahku hanya beberpa kalimat saja, tapi berila kekuatan tuk mempengaruhi, apalah artinya banyak tak berkualitas, dan luar biasa pabila sedikit namun berkulitas. Berikan hamba kekuatan itu ya Rabb…

Di suatu kesempatan, aku berfikir, aku masih sedikit sekali dalam mengamalkan isi Al-Qur’an dan As Sunnah. Aku malu ya Rabb… aku malu sebagai orang yang begitu mencintai-Mu dan RasulMu, tapi amat jarang mengamalkannya. Terkadang tauladanku bukan Rasulmu, terkadang yang aku cintai melebihi cinta trhadap diriMu dan Rasul-Mu. Di suatu gerak hidup ini, masih berisi sendi-sendi jahiliyah dalam tubuh ini. Iman yang masih begitu rapuh yang belum kuat tuk melawan godaan syaitan. Terkadang belum bisa ikhlas tuk beramal dan bersedekah. Dalam hati ini sering menyebut-nyebut jumlah sedekah tadi. Betapa sombongnya diri ini. Aku malu ya Rabb….

Aldo Al FAkhr

3 thoughts on “Di suatu kesempatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s